
Gadis itu baru saja selesai mempelajari tes universitas Tokyo atau yang sering disebut UTokyo. Sejenak me-refresh otaknya, ponselnya pun dinyalakan. Dibukalah galerinya yang penuh dengan momen pelepasan kelas dua belas beberapa waktu lalu. Digeser terus hingga terhenti pada beberapa foto yang terabadikan ketika Binar dan dirinya bersama.
"Aku merindukanmu, Pak," lirihnya mengusap ponsel yang menunjukkan wajah Binar. Tersenyum, cemberut, dan berbagai ekspresi lucu lainnya. Akankah hal itu terulang kembali suatu saat nanti? Apakah akan ada takdir baik yang menghadirkan bahagia di antara mereka? Apakah semesta mempertemukan mereka lagi?
Kotak kado dari Binar saat acara pelepasan belum terbuka. Ailee segera mengambilnya. Kotak kado berwarna biru tua dengan pita abu muda tak terlalu besar dan berat. Dibukanya pelan, ada secarik kertas menutup barang di bawahnya.
Halo, gadis cantik nan menggemaskan...
Selamat ya sekarang sudah lulus. Banyak yang bangga atas prestasi yang telah kamu raih, begitu pula denganku. Maaf jika telah memberikan luka kecil pada hatimu, kumohon jangan membenciku karena kejadian beberapa waktu lalu.
Terima kasih telah hadir dan memberikan warna dalam hidupku dan juga Clarissa. Kamu sangat baik, beruntung sekali aku dan Clarissa dipertemukan denganmu. Dan terima kasih pula telah mencintaiku, tapi maaf aku tak bisa membalasnya karena banyak hal menyadarkan jika aku tak layak.
Aku selalu berdoa supaya kelak kesuksesan menanti, semoga diterima di Universitas Tokyo ya. Tetaplah tersenyum dan ceria seperti biasanya.
^^^Salam hangat,^^^
^^^Binar Arusatya^^^
Dipeluknya erat sepucuk surat yang ditulis pada kertas putih dengan tinta hitam itu. Dadanya kembali sesak, dia teringat akan pertemuannya dengan Binar, hari-hari setelahnya, hingga satu hari yang begitu singkat dan merubah segalanya.
Kembali dengan kotak kado itu, ternyata ada buket bunga kecil yang sangat lucu dan ada beberapa foto polaroid dirinya bersama Binar. Tak menyangka jika Binar juga menyimpan foto mereka. Dilihatnya satu persatu foto tersebut, sangat banyak. Dan gadis itu kembali terisak.
"Biar cintaku tetap melekat, Pak. Kamu tak perlu mengikat. Terima kasih atas semuanya..."
Aiden masuk ke kamar adiknya, didekapnya erat tubuh yang bergetar karena tangis menderu. Dibelainya rambut Ailee, ia turut merasakan apa yang tengah dialami.
"Jangan menangis lagi, ikhlaskan saja jika dia memang tak mencintaimu," ucap Aiden menenangkan adiknya.
Mereka berdua merasa yakin jika akan ada hal bahagia yang menanti setelah kesedihan menyapa. Hanya perlu menanti dan tak perlu cemas karena Tuhan tak pernah lupa akan bahagia itu.
...*****...
Sebuah motor matic berwarna hitam terparkir di halaman rumahnya. Binar yang kala itu tengah menatap langit malam pun langsung menghampiri. Tak asing rupanya, dan ternyata adalah satpam rumah Ailee yang sangat ia kenal. Tiga paper bag dijinjingnya, Mang Dudung memberikannya kepada Binar.
"Dari Nak Ailee, untuk Pak Binar, Bu Melati, dan Clarissa."
"Untuk apa, Mang? Dan kenapa harus Mang Dadang yang mengantarkan?"
"Nak Ailee sedang sibuk berkemas, maka dari itu dia menyuruh saya," jawab Mang Dadang sendu. Ia terlihat sedih mengatakannya, sepertinya dirinya juga merasa kehilangan jika Ailee harus pergi ke Jepang. Bagaimanapun juga Ailee sudah dianggap sebagai anaknya sendiri, yang selalu menghiburnya dan membuatnya tertawa pula. Rindu pasti akan menggebu.
Binar terduduk kembali di kursi teras rumahnya dengan tiga paper bag di pangkuannya. Paper bag bertuliskan nama masing-masing dari isi rumah itu. Dibukalah paper bag khusus untuknya. Ada sebuah buku planner, pajangan dinding minimalis yang sangat indah, sebuah foto bersama Ailee yang diletakkan di frame berwarna hitam, dan ada pula hiasan meja serta dinding yang cocok untuk kedai kopi miliknya.
Halo, Pak Binar...
Buku planner-nya supaya Pak Binar lebih terarah dan semua hal bisa nyata tanpa ada yang terlewat. Pajangan dinding dan hiasan mejanya untuk kedai kopi Pak Binar supaya lebih menarik dan pengunjungnya lebih banyak lagi. Oh ya, untuk foto kita berdua boleh dibuang kok kalau tidak suka, hehe.
Entah apa yang akan terjadi nanti, semoga bahagia selalu kita raih. Aku akan selalu berdoa supaya Pak Binar bisa mendirikan kedai kopi yang besar dan merambah ke seluruh negeri seperti yang diimpikan sejak lama. Dan semoga Pak Binar juga mendapat perempuan yang memang pantas.
Mungkin acara pelepasan kemarin adalah hari terakhir kita bertemu, karena mulai besok dan seterusnya Ailee sudah memilih untuk menetap di Jepang. Tak perlu risau bukan? Karena Ailee patuh dengan perkataan Pak Binar waktu itu yang menyuruh untuk menjauh.
Oh ya, Pak, sampaikan salam ku untuk Bu Melati dan Clarissa ya, aku tak bisa menulis banyak untuk mereka. Dan aku juga tak sempat berpamitan secara langsung dengan kalian. Semoga kalian selalu bahagia, sampai jumpa lagi suatu saat nanti jika semesta mempertemukan kita kembali.
Salam hangat dari Ailee yang cantik nan menggemaskan, eh bercanda...
Binar mengusap wajahnya kasar, matanya berkaca-kaca usai membaca tulisan tangan Ailee. Gadis itu sangatlah baik dan mencintainya. Sama halnya kepada Clarissa dan juga Bu Melati.
"Pap papapa..." seru Clarissa berjalan pelan menghampiri papanya yang berwajah masam.
Paper bag itu diletakkan di meja, Clarissa langsung digendong.
"Mama mam..." celoteh Clarissa menunjukkan bandana yang diberikan Ailee. Binar kembali sedih, ia pun memakaikan bandana itu di kepala Clarissa.
"Ann tikk..." seru Clarissa.
"Iya cantik..." jelas Binar.
Cukup lama Ailee tak berkunjung ke rumah dan menemui Clarissa, anak itu juga seringkali menangis ketika melihat mainan dan barang-barang pemberian Ailee. Mungkin dia juga merindu akan sosok pengganti mama kandungnya yang memang jauh lebih baik.
Anak-anak panti pun juga sering menanyakan Ailee yang sudah lama tak berkunjung. Binar selalu mencari alasan supaya bisa dipahami oleh anak-anak panti yang cukup dekat dengan Ailee. Sosok gadis itu sangat dinantikan lagi kehadirannya, namun Ailee tak akan kembali lagi meski sekedar berkunjung dan bertegur sapa.
"Dari siapa, Bin?" tanya Bu Melati yang baru saja keluar. Perempuan itu membuka satu persatu isi paper bag yang tergeletak di atas meja.
"Dari Ailee. Sebagai ungkapan perpisahan katanya..."
Bu Melati kembali menutup paper bag dan terduduk lemas di kursi kosong samping Binar.
"Ailee jadi kuliah di Jepang?" tanyanya memilukan.
"Jadi, dan sepertinya dia akan menetap di sana."
Perempuan paruh baya itu menutup mulutnya tak menyangka jika hari lalu adalah hari pertemuan terakhir dengan gadis yang sangat ia sayang dan sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Kehadiran Ailee selama ini memberikan banyak warna, canda, dan tawa. Kini tak akan ada lagi sesosok periang seperti perempuan itu. Kehidupan akan kembali hampa dan tak berkesan.
.
.
.
satu episode lagi untuk season 1
maaf jika alurnya lambat/ngga sesuai ekspektasi🙏