
Keringat bercucuran membasahi kening gadis yang sudah tergeletak di bangsal rumah sakit. Ia terpejam, namun ringisan tak henti-hentinya keluar– menahan rasa sakit di tubuhnya.
Beruntung sekali ada dokter yang masih praktek di UGD, jadi bisa langsung ditangani. Tangan Ailee terus meremas tangan Binar mencoba memudarkan rasa sakit. Tapi tetap saja tidak bisa, sakit yang ada sangatlah luar biasa.
Binar sangat kacau, ia panik tak karuan melihat Ailee pingsan tadi. Ia tak sanggup melihat orang yang dicintainya menahan sakit. Dan ia pun memang merasa Ailee tengah menyembunyikan sesuatu sejak makan malam tadi.
Bangsal Ailee kembali didorong keluar dari ruang UGD menuju ke ruang perawatan. Selang infus telah terpasang di tangannya, gadis itu masih terpejam dan pucat pasi masih menghiasi wajahnya.
"Di mana Tuan Aksa dan Nyonya Aza?" tanya dokter rumah sakit keluarga Sanjaya itu kepada Binar. Heran karena tak mendapati mereka dan hanya ada lelaki yang tak dikenal bersama Ailee.
"Saya sudah memberitahu mereka dan sedang dalam perjalanan, Dok. Apa ada yang serius dengan Ailee?" tanya Binar tak sabaran. Ia terus mendesak dokter itu untuk menjawab pertanyaannya.
"Saya dan beberapa dokter lain sudah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh, untuk hasilnya akan keluar besok. Dan kami merasa jika Nona Ailee bermasalah dengan ginjalnya." Perkataan dokter tersebut membuat Binar tercengang tak percaya, ia tak menyangka jika Ailee menyembunyikan hal yang penting seperti ini.
"Saya dengar Nona Ailee menetap di Jepang, apakah sebelumnya dia sudah melakukan pemeriksaan di sana?" Dokter tersebut kembali bertanya dan Binar hanya menggeleng karena ia tak tahu apapun tentang Ailee selama di Jepang.
Tak lama kemudian keluarga Ailee datang, mereka mungkin juga samar mendengar perkataan dokter tadi.
"Pemeriksaan apa? Ailee tak pernah sakit, Dok," seru Aksa dengan raut wajah panik. Sedangkan Aza dan menantunya langsung masuk ke ruangan Ailee.
Mereka pun berbincang sejenak membicarakan kondisi Ailee yang tak pernah diduga sebelumnya. Selama bersama Ailee, Aiden tak pernah mendapati adiknya itu sakit keras paling hanya demam saja. Tapi, selama beberapa bulan belakangan ini dia sudah tak mengawasi adiknya lagi, ia pun jadi khawatir.
Aiden memutuskan untuk kembali ke rumah sebentar mencari sesuatu yang kemungkinan disembunyikan Ailee. Bersama Binar, mereka menggeledah kamar Ailee. Satu koper milik Ailee belum dibereskan. Aiden yang tak sabaran pun mengeluarkan semua isinya. Dan ada kertas terselip di koper.
Sebuah laporan pemeriksaan di JCHO Tokyo Takanawa Hospital yang mengatakan jika ginjal Ailee mengalami kerusakan dan sudah stadium lanjut. Cuci darah pun ternyata sering Ailee lakukan. Tapi kenapa gadis itu menyembunyikannya kepada siapapun termasuk dirinya.
"Obat apa ini?" tanya Binar menunjukkan beberapa obat-obatan yang terletak di meja rias dan tadinya tertutup dengan make up milik Ailee.
Aiden tak menjawab. Tubuhnya langsung lemas mengetahui adiknya sakit dan tak ada dia di sampingnya. Ia merasa gagal sebagai kakak.
...*****...
"Sudah saya tebak jika ginjal Nona Ailee bermasalah. Saya akan membawa hasil pemeriksaan ini untuk mencocokkan dengan pemeriksaan di sini," ucap Dokter sebelum pergi meninggalkan keluarga yang masih tak menyangka jika Ailee menyembunyikan hal tersebut.
Semuanya masih terdiam di ruang perawatan itu menyaksikan seorang gadis yang tergolek lemah dan masih tertidur. Mamanya tak berhenti menangis mengetahui sebuah kenyataan yang memilukan.
Dan pagi harinya, gadis itu terbangun meringis kesakitan merasakan organ yang sangat penting itu sakit. Mengerjap sebentar dan memastikan dua orang yang tertidur di sampingnya dengan posisi duduk. Mama dan kakak iparnya berada di sana. Lalu terdengar samar suara air infus menetes, Ailee baru sadar jika dirinya tengah berada di rumah sakit.
Ia terkejut karena mendapati Binar, papa, dan kakaknya juga berada di sana masih tertidur nyenyak. Ia takut sekali jika keluarganya itu mengetahui hal yang selama ini ia sembunyikan rapat.
"Mah..." seru Ailee menggoyangkan bahu mamanya bermaksud membangunkannya. Dan wanita itu terbangun langsung mengambilkan air putih untuk Ailee. Semuanya jadi ikut bangun dan melingkar mendekati Ailee.
Aza mengecup wajah yang pucat itu dengan air mata yang menetes. Ibu mana yang tega melihat anaknya selama ini berjuang sendiri melawan penyakit yang sangat serius.
"Hey! Kenapa kalian menatapku seperti itu?" seru Ailee berpura-pura tak terjadi sesuatu. Ia pun menampilkan sifatnya yang riang seolah dirinya kini baik-baik saja.
Aiden mencengkeram kedua pipinya pelan, membuat Ailee takut. Sorot mata Aiden terlihat penuh amarah, dan siap meledak saat itu juga.
"Bodoh! Kenapa nggak pernah bilang sama aku! Sama mama atau papa?" gertak Aiden, ia lalu mendekap tubuh adiknya yang masih terbaring di bangsal. Tubuh lelaki itu bergetar pertanda menangis, Ailee pun jadi ikut menangis.
Ailee menutupinya karena tak mau menyusahkan yang lain dan membuat para orang terdekatnya sedih. Semua yang di sana nampak kecewa dengan Ailee, namun mereka juga tetap bisa menerima. Yang terpenting saat ini adalah kesembuhan gadis itu.
"Bertahanlah, kamu akan segera sembuh. Aku akan mendonorkan ginjalku," ucap Aiden penuh dengan kesungguhan. Meskipun mereka sering bertengkar dan tak akur, tetap ada rasa kasih sayang dan peduli satu sama lain.
Gadis itu terus menggeleng, "Kalaupun aku harus mendapatkan ginjal baru, itu bukan dari kamu ataupun anggota keluarga yang lain. Biar orang lain saja yang mendonorkan. Tenang saja dokter pasti akan segera menemukan donor ginjal untukku," ucapnya membuat semua terhenyak. Ada Binar, tapi ginjalnya tak cocok dengan Ailee kalaupun cocok sudah pasti Ailee akan menolak juga.
Tak ada yang membantahnya, semuanya segera memasang informasi kepada rekan mereka masing-masing supaya lekas mendapat donor untuk Ailee. Hampir dua bulan lamanya tak kunjung mendapat donor yang tepat meskipun imbalan yang akan diberikan sangat besar.
Gadis itu semakin kurus, dia sering melakukan cuci darah supaya tetap bertahan hidup. Sakit yang tak tertandingi dirasakannya selalu, bolak-balik di rumah sakit pun dilakukannya. Semangat yang diberikan dari keluarganya sangat besar, tapi tak cukup untuk menyemangati dirinya sendiri. Dia sudah lelah menjalani beragam pengobatan dan menanti pendonor untuknya. Berulang kali Aiden dan keluarga yang lain membujuknya supaya Aiden saja yang mendonorkan ginjalnya, akan tetapi gadis itu selalu menolak.
"Bertahanlah, sebentar lagi pasti akan ada orang baik yang akan mendonorkan ginjalnya untukmu, Lili," ucap Binar.
Lelaki itu duduk di kursi tunggu rumah sakit. Beberapa saat yang lalu tubuh Ailee kembali melemah, maka dari itu ia kembali dirawat untuk beberapa hari ke depan.