Perfect Duda

Perfect Duda
Mie Pedas



Semangat tiba-tiba lenyap. Tatapan sayu dan tak tentu arah. Air mata mengering membuat siapapun iba. Kakinya melangkah pelan menyusuri jalanan terjal. Ditemani dengan langit jingga, kesedihan masih bersemayam.


Tak peduli dengan alam sekitar dan penghuninya. Sakit hati membuatnya larut dalam bara kesedihan yang berkepanjangan. Mencintai terlalu dalam dan berakhir sebelum sempat memiliki. Seakan dipermainkan dengan takdir, hatinya hancur berkeping-keping.


Berbagai pertanyaan menghampiri, namun tak ada jawab darinya. Ia terus melangkah menuju tempat yang sunyi dan gelap. Dirinya butuh ketenangan. Lampu kamar dipadamkan, tirai jendela ditutup rapat, dia terduduk lemas di depan pintu yang baru saja dikunci.


"Pak Binar..." Isakan terdengar jelas. Isakan pilu seorang gadis yang tengah patah hati. Air mata pun masih saja keluar mewakili perasaannya kala itu.


Rasa kagum terhadap lelaki itu membuahkan cinta. Cinta seorang murid kepada gurunya— lebih dari itu. Sayang dan cinta melebur jadi satu. Teramat dalam dan tak akan mungkin pudar dalam waktu sekejap.


"Ailee... Buka pintunya, Sayang. Kamu kenapa?" teriak mamanya mengetuk pintu berkali-kali. Si pemilik kamar mendadak tak mendengar apapun, tak ada sahutan sama sekali darinya. Dan ini membuat mama ataupun papanya begitu khawatir dengannya, apalagi saat isakannya terdengar.


Hari ini adalah hari terakhir dirinya dekat dengan Binar, lelaki yang ternyata tak mencintainya dan hanya membuat luka dalam hatinya. Tak menyangka pula jika setahun bersama dan malah berakhir dengan mengenaskan.


Begitu banyak hari yang terlewati bersama. Hal indah nan menggelakkan tawa pun kerap tercipta. Terkadang rindu menyelip, khawatir menyembul, dan rasa takut kehilangan menyeruak. Dan mulai hari ini dirinya harus bisa melupakan lelaki yang sempat mewarnai hidupnya.


Malam menyapa, ia baru saja membeli mie pedas khas Korea di supermarket dengan jumlah yang begitu banyak. Direbus semuanya yang kurang lebih berjumlah lima itu. Dituang bumbu pedasnya ke dalam piring besar tak lupa dengan sumpitnya. Diaduk rata hingga mie kuning berwarna merah karena tercampur dengan bumbu. Taburan wijen dan nori turut menghiasi.


Disumpit begitu banyak dan dimasukkan ke dalam mulut. Belum dikunyah namun terasa panas dan membakar lidah karena saking pedasnya. Air mata mengiringi dirinya yang sedang menyantap mie pedas itu. Tak peduli dengan orang sekitar yang melihatnya. Yang terpenting adalah rasa sakit hatinya terbayarkan dan berharap lenyap malam itu juga.


"Jangan dilanjutkan, nanti perutmu bisa sakit, Sayang," seru mamanya mencegah. Ia takut terjadi apa-apa dengan putrinya yang tak terbiasa dengan pedas.


"Biarkan Ailee memakannya! Mama urus saja Kak Aiden!" seru Ailee menarik kembali piring yang sempat disingkirkan mamanya itu.


Aiden, lelaki yang berstatus kakaknya itu pun rupanya juga tengah mengalami sakit hati atas penolakan dari perempuan yang ia cinta dengan alasan teman jauh lebih baik daripada harus menjadi kekasih. Sungguh malang nasib anak kembar itu yang tak beruntung dalam soal percintaan.


...*****...


Rasa bersalah karena telah membohongi dirinya sendiri pun menyelimuti. Dia juga mencintai gadis lucu nan menggemaskan itu, namun entah apa yang ada dalam dirinya hingga dia pandai sekali berbohong dengan perasaan yang ada.


Dia juga mencintai Ailee, namun ia sadar tak akan layak untuknya meski gadis itu merasa jika dirinya layak. Biar takdir saja yang menentukan, jika dirinya memang berjodoh dengan Ailee suatu saat pasti akan disatukan kembali.


"Mama tahu kalau kamu itu mencintai Ailee, tapi kenapa selalu mengelak dan malah membuat gadis itu sakit hati?" ujar Bu Melati menghampiri anaknya yang tengah duduk di teras rumah.


Biar semesta menentukannya, kita hanya bisa menerima. Jika memang dirinya harus sendiri selama hidup, itu juga tak masalah. Yang terpenting adalah Clarissa dan Bu Melati.


...*****...


Kembali dengan gadis yang sedang menyiksa dirinya dengan mie pedas lima bungkus tadi. Sekarang wajahnya merah, air mata bercampur keringat menghiasinya. Tak ada yang bisa menghentikannya hingga mie itu lenyap tertelan olehnya. Susu satu liter sebagai penawar rasa pedas pun diteguk tandas, namun pedas tak juga lenyap.


Dan dirinya berakhir dengan bolak-balik ke kamar mandi karena sakit perut melandanya. Wajahnya tak lagi merah, namun pucat pasi seperti orang tak bernyawa lagi. Lemas tak berdaya, entah sudah berapa kali menyapa kamar mandi. Orang tuanya pun khawatir, obat sakit perut telah ditelan Ailee namun tak kunjung meredakan.


"Maahhh..." Ailee sedih melihat mamanya yang menangisi dirinya dan menunggu di luar kamar mandi.


"Jangan menangis..." ucapnya seraya menyeka air mata mamanya yang menetes. Wajah pucat itu berusaha tersenyum seolah dirinya baik-baik saja supaya orang sekitar tak mencemaskan dirinya. Tapi senyum itu tak mampu menyembunyikan, semuanya telah tahu jika Ailee sedang tak baik-baik saja.


Gadis itu pun tak bisa membohongi dirinya lagi. Air mata kembali menetes ketika bayangan lelaki itu mengais terang dan akhirnya terkubur dalam gelapnya malam.


Perut melilit hebat, seolah ada yang mencengkramnya. Tak kuat lagi, akhirnya ia pun tergeletak lemas diiringi teriakan dan tangisan mamanya yang pecah.


Dokter baru saja keluar dari ruang perawatan. Dirinya turut prihatin dengan kondisi Ailee yang benar-benar memprihatinkan malam itu. Infus telah terpasang di tangannya, jarumnya tak terasa sakit meskipun menusuk pembuluh darah. Rasa sakit atas cinta yang mengalami penolakan lebih mendominasi daripada jarum yang kini melekat.


Mamanya terduduk lemas di kursi samping bangsal rumah sakit, tangannya membelai gadis yang masih pucat pasi. Orang tua mana yang tak sedih tatkala melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan.


"Harusnya papa sama membiarkan Ailee mati!"


"Apa yang kamu katakan!" gertak Aza, sangat tak suka dengan ucapan anaknya itu. Suaminya langsung menenangkannya.


"Papa tahu apa yang terjadi. Patah hati memang terkadang membuat kita lupa akan segalanya dan bahkan tak memikirkan diri sendiri lagi. Tapi papa juga tahu jika Ailee adalah perempuan yang hebat, tak akan kalah meskipun telah disakiti lelaki. Ailee tangguh, dia tak mungkin terus menerus meratapi kesedihannya..." tutur Aksa begitu mengena di hati Ailee.


"Banyak yang masih sayang dan mencintaimu. Kami juga berharap supaya kamu tumbuh menjadi perempuan yang tangguh dan tak lemah hanya karena keadaan. Jangan pernah sedih lagi ya?" tambah Aza seraya mendaratkan kecupan di kening Ailee.


"Cepet sembuh sayang..."