Perfect Duda

Perfect Duda
Air Terjun



Binar melanjutkan langkahnya, dan Ailee mengikutinya dari belakang. Tak peduli lagi dengan para sahabatnya jika sudah ada Binar di depan mata. Merasa ada yang mengikutinya, Binar pun berhenti dan menoleh hingga Ailee yang asyik memandang sampingnya pun menabrak tubuh lelaki yang berhenti di depannya.


"Sakit!" pekiknya memegang kening yang baru saja bertabrakan dengan dagu Binar. Ia mendongak menatap Binar yang sudah berkacak pinggang dan bersiap memarahi dirinya.


"Ngapain mengikutiku?" tanya Binar dengan nada tinggi.


"Siapa yang ngikutin Pak Binar sih? Orang aku juga mau ke sana kok," jawab Ailee menunjuk sembarang arah. Ia salah tingkah, lalu kembali berjalan ke arah yang ia tunjuk tadi. Dan sesekali dia menoleh ke arah Binar yang ternyata malah berbalik arah, ia pun kembali mengikuti Binar dari belakang karena takut tersesat.


"Jangan mengikutiku!" ucap Binar tanpa menoleh ke arah belakangnya.


"Ailee...Ailee takut tersesat, makanya ngikutin Pak Binar." Ailee mulai gemetar ketakutan karena Binar masih melototi dirinya.


Binar menghela napasnya sejenak dan kembali melangkahkan kaki serta membiarkan Ailee mengikutinya dari belakang. Ailee kewalahan mengikuti langkah Binar yang begitu cepat, mungkin satu langkahnya sama dengan tiga langkah dirinya. Gadis itu pun menggenggam erat baju Binar supaya tak tertinggal.


"Kamu lewat sana, terus belok kiri, nanti lebih cepat sampai ke tenda." Binar menunjukkan arah untuk kembali ke tempat perkemahan, dan Ailee mendengarnya tapi tak langsung melakukannya.


"Terus Pak Binar?"


Binar berbalik menatap muridnya itu, "Aku masih mau di sini, kamu kembali dulu sana."


Ailee menganggukkan kepalanya. Ia menuju ke jalan yang ditunjuk Binar tadi, tapi ia berbalik dan memilih untuk mengikuti Binar saja. Ngeri juga kalau harus kembali sendirian di tempat baru.


"Lili, kenapa masih mengikutiku? Aku masih mau di sini, kamu kembalilah ke tenda," ujar Binar. Ia sudah melepas sandalnya diikuti dengan Ailee. Jalanan bebatuan dan licin, Binar hendak turun menuju air terjun.


"Lili?"


"Memangnya siapa namamu?"


"Ailee..." Gadis itu berpikir sejenak. Lili? Terdengar lucu dan baru kali ini ia dipanggil seperti itu.


"Ailee susah manggilnya, jadi biar gampang Lili saja."


"Itu panggilan kesayangan ya, Pak?" Ailee kegirangan, Binar berhenti dan menoleh ke arahnya. Sentilan tak begitu keras mendarat di keningnya membuatnya memerah dan sedikit sakit.



Binar sedikit waspada dengan gadis yang terus saja mengikutinya. Untuk sampai ke dasar air terjun masih membutuhkan jarak dua meter lagi. Turun dan terjal, cukup sulit untuk ke sana. Jalan yang dilewati hanyalah setapak, dan jika kepleset maka akan turun langsung ke dasar.


"Aaaaaaa!"


Byuurrr!


"Lili!"


Baru setengah perjalanan tiba-tiba Ailee tergelincir dan akhirnya jatuh. Jatuh dari ketinggian 1,5 meter cukup membuatnya terkejut, ia kelabakan untuk berenang menuju ke tepi atau batu yang berada di dekat air terjun.


"Pak! Aku nggak bisa berenang," teriak Ailee, ia berusaha naik ke permukaan. Air terjun mengaliri kawasan tersebut begitu deras, dan ternyata sangat dalam hampir sepundak Ailee. Wajar saja jika gadis itu kelabakan.


"Kalau ada batu kamu berhenti dulu, pegangan yang erat!" teriak Binar panik tak karuan. Ia berlari turun lebih cepat supaya bisa segera sampai ke dasar dan menolong gadis itu. Takut sekali jika Ailee terseret air hingga jauh.


"Pak! Aku nggak bisa berenang!"


"Pakkk! Aku mau mati!"


"Jangan mati! Jangan nyusahin orang!"


"Sialan!" desis Ailee kesal.


Binar meletakkan sandalnya di atas bebatuan, ia lalu turun dan menolong Ailee yang terseret arus. Lelaki itu terus berteriak dan berharap supaya Ailee tetap baik-baik saja.


Gadis itu malah tertawa lepas membuat Binar terheran-heran. "Pak, sebenernya aku tuh bisa berenang..." ucapnya membuat Binar langsung melotot.


"Seneng deh lihat Pak Binar khawatirin aku," tambah Ailee dengan kekehan kecil. Ia lalu berenang sendiri menuju ke batu besar kemudian duduk di atasnya– menyeka air yang membasahi wajahnya.


Lelaki itu terus saja merutuki gadis yang tengah duduk manis di batu hitam besar. Ia sangat tak suka jika dibohongi apapun itu alasannya. Binar menyipratkan air ke tubuh Ailee karena kesal.


"Kenapa sih, Pak? Jahat banget jadi orang!"


"Siapa yang jahat? Berani-beraninya ngebohongin guru sendiri, awas ya nanti raportmu aku bikin C semua!" ancam Binar.


Ailee berkacak pinggang, ia melototkan matanya sama seperti Binar.


"Utututu..." Ailee begitu gemas, ia menangkup kedua pipi lelaki yang tengah merajuk itu. "Maaf ya Pak Binarku sayang..." ucapnya membuat Binar jadi salah tingkah.


"Maaf nggak diterima!" Binar menepis tangan Ailee, ia lalu duduk di samping gadis itu. Rambutnya yang basah ia kibas-kibaskan, kaosnya dilepas dan peras supaya cepat kering.


Mulut Ailee membulat sempurna melihat tubuh Binar yang atletis, putih bersih, dan ototnya nampak sempurna. Meski tak ada roti sobek isi cokelat kesukaannya, Binar tetap tampan. Ailee memeluk tubuhnya yang dingin dan matanya tetap tertuju pada lelaki yang duduk di sampingnya.


"Kakimu berdarah," seru Binar ketika tak sengaja melihat kaki Ailee yang menjuntai itu terluka dan berdarah.


Sang pemilik kaki langsung menoleh, ternyata memang benar jika ada luka di kakinya. Tak sakit sama sekali, ia pun tak tahu jika Binar tak memberitahunya.


"Aaa!" Ailee berteriak sekencang mungkin saat Binar menarik kakinya yang terluka.


"Ada apa, Neng?" Pertanyaan itu terdengar begitu keras, ternyata adalah salah satu penduduk yang hendak mandi di sungai itu.


"Nggak papa, Bu. Maaf jika mengganggu," jawab Binar membuat ibu-ibu berbalut jarik beserta dua anaknya yang masih kecil itu lega.


"Ayo kembali ke tenda, mandilah terlebih dahulu baru ke posko kesehatan obati lukamu."


"Kayanya tadi kena batu pas kecebur. Nggak sakit ini, nggak usah diobatin. Paling juga besok udah kering," ucap Ailee.


"Nggak sakit tapi tadi pas aku pegang teriak."


Lelaki itu sedikit heran dengan Ailee, pasalnya lukanya cukup lebar, gadis lain pasti akan menangis dan kesakitan pastinya. Tapi Ailee tidak, ia malah santai dan tak menganggapnya sakit.


"Pak, sandalku ilang," teriak Ailee ketika sudah sampai di atas. Sepertinya sandalnya ikut terlempar saat dia terpeleset tadi.


Binar tersadar dari lamunannya, ia terkejut ketika mendapati Ailee sudah berada di atas lagi dan kebingungan mencari sandal jepitnya tadi.


"Udah ketemu belum?" tanya Binar ketika sudah berada satu titik bersama Ailee. Dan gadis itu menggeleng, tangan kanannya menenteng satu sandal saja.


"Sandalnya baru, sayang banget kalau ilang satu," gumam Ailee, ia lalu berjalan dengan satu kaki saja yang beralaskan sandal. Sandal jepit yang baru saja ia beli khusus untuk kegiatan ini akhirnya hilang satu gara-gara batu yang licin hingga membuat dirinya tergelincir.


"Selamat tinggal pasangan sandalku, sampai bertemu di surga nanti ya," tambah Ailee menengok ke arah sungai dan air terjun yang kemungkinan sandalnya masih berada di sana. Sudah tergelincir dan jatuh, ditambah sandal yang hilang. Aduh, malang sekali nasib gadis itu.


Sedangkan Binar meringis mendengar gumaman anak itu. Ia lantas berpikir hebat apakah benar jika sandal yang hilang akan dipertemukan lagi dengan sandal yang satunya di surga? Lalu, jika memang akan terjadi seperti itu apakah sandal yang dipertemukan kembali akan bahagia? Binar mendadak bodoh jika bersama Ailee.


"Sandal? Surga?"


"Sandal? Surga?"


"Sandal? Surga?"


Sandal dan surga terus saja memenuhi otaknya. Ia harus segera kembali ke tenda mencari ponselnya untuk browsing tentang hubungan sandal dan surga.