
Lyza masih bingung dengan kedua orang di depannya. Mantu? Apa jangan-jangan..
" Apa anda orang tua pak ustadz? ". Pertanyaan tersebut terlontar begitu saja.
" Haha iya... Ayo nak Lyza masuk, kita tunggu sampai Ares selesai mangijab mu ". Ibu beralih Melihat kedua pria tampan yang wajahnya mirip. " Kalian berdua juga, ayo masuklah kedalam masjid ".
Zean dan Sean saling pandang. Walaupun Zean tahu tempat itu adalah masjid, namun jujur ia cuman tahu sekedar itu saja, selebihnya ia tidak tahu. Bahkan pintu masuknya ia juga tak tahu.
Ibu tersenyum melihat wajah kebingungan mereka, ia langsung beralih ke Ara. " Ara.. tolong kamu pergi tunjukkan pada mereka jalannya nak ". Ara langsung mengangguk menyetujui nya.
" Ayo akhy... Biar ana antar ke tempat ijab qobul nya ". Sekali lagi, mereka berdua saling pandang. Akhy? Ana? Siapa lagi mereka. Pikir kedua orang tersebut.
" Maafkan saya.. maksud saya, anda berdua. Biar saya antar ke tempat ijab qobul ". Ara tersenyum dari balik cadar yang di kenakan.
Zean dan Sean beralih Melihat Lyza, mereka meminta persetujuan untuk meninggalkan Lyza. Entah mengapa kedua orang itu tidak tahu harus berbuat apa di sana.
Lyza yang mengerti tatapan kedua orang tersebut, pun mengangguk menandakan ia baik-baik saja jika ditinggal.
Ara pun menuntun kedua pria tampan tersebut untuk masuk kedalam masjid tempat Ares akan mengucapkan ijab qobul.
Di perjalanan, Zean selalu menatap Ara. Ia sangat penasaran kenapa Ara menutup wajahnya. Apakah wajahnya terlalu jelek? Atau mungkin rusak?. Namun ia tak dapat menanyakan nya. Zean hanya memandang ia dari belakang.
Lain halnya dengan Sean. Ia langsung lari ke hadapan Ara, membuat wanita itu Mundur.
" Hei.. kenapa wajah mu kau tutup? Apa kau terlalu jelek? Atau wajah mu rusak? ". Cerocos Sean. Ia memang tidak peka dengan keadaan.
Ara tersenyum di balik cadar. " Bukan akhy. Nanti ana jelaskan lebih baik sekarang akhy masuk ke dalam masjid, ijab qobul nya akan segera di mulai ". Tutur Ara
" Akhy? Ana? Sebenarnya yang kau maksud siapa? ". Menengok ke arah kanan dan kiri. " Nama ku Sean dan abang ku yang di belakang mu Zean. Tidak ada yang namanya akhy dan ana. Nama mu Ara kan?! ". Jelas Sean
" Hahah maaf akhy. Eh! Maksud saya bang Sean. Akhy itu artinya kakak laki-laki, sedangkan ana itu kalau bahasa Indonesia nya saya untuk perempuan ".
" Oh.. bahasa baru yah? Aku baru dengar ". Sungguh wajah Sean sekarang sangat polos seperti bocah sd yang tak tahu apa-apa.
" Hahah bukan akhy, ini bahasa Arab ".
" Kenapa harus berbahasa Arab? Kita kan ada di Indonesia ". Tak henti-hentinya Sean menggerogoti Ara dengan pertanyaan. Bahkan sampai Zean pun kesal.
Dengan langkah cepat, Zean menarik kerah baju Sean untuk segera masuk kedalam masjid. Karena pintu masjid Memang sudah di depan mata.
" Maaf.. kami masuk dulu. Dan terimakasih atas bantuannya ". Ucap Zean dan langsung menyeret Sean.
" Eh! Tu... Tunggu dulu Zean.. ". Suara Sean tidak terdengar lagi karena ia sudah di tarik masuk kedalam masjid.
Ara hanya geleng-geleng melihat kedua kakak beradik kembar tersebut. " Iya sama-sama. Wa'alaikum salam ". Walaupun seperti berbicara sendiri, yah itu lebih baik daripada tidak menjawab nya.
Ara pun segera pergi ke tempat ibu dan juga Lyza.
.........
Di dalam masjid, Sean semakin di buat bingung melihat semua wanita memakai jilbab baik yang muda maupun yang tua. Sedangkan para pria memakai baju kokoh, hanya beberapa yang memakai jas seperti dirinya dan juga Zean.
Yap Sean kali ini memakai jas karena paksaan dari sang kakak yang menyuruhnya memakai jas. Karena hari ini adalah hari yang spesial untuk sang nyonya muda.
" Wah.. pak ust hmm ". Hendak memanggil Ares yang terlihat tampan dengan balutan jas nya di depan sang penghulu
" Jangan berisik ". Bisik Zean.
Zean dan Sean pun duduk di antara para manusia disana.
Penghulu mulai menjabat tangan Ares. Ares dan Lyza akan dinikahkan walau tanpa ayah dari Lyza. Karena Lyza sudah tak punya Ayah dan ibu kandung. Kalau tiri masih ada, bahkan lengkap. Hanya saja mereka sudah memutuskan tali keluarga nya.
Dan perjanjian tersebut sudah di setujui oleh tuan Aran selaku kakek plus wali Lyza.
" Bismillahirrahmanirrahim... Ananda Muhammad Antares Warrent ". Menyalami tangan Ares.
" Iya pak! ". Jawab mantap Ares
" Saya nikah kan engkau dengan saudari Gerilya Lyza Anataran binti almarhum Bara Setiawan dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai ".
Ares menghirup nafas " saya terima nikahnya saudari Gerilya Lyza Anataran binti almarhum Bara Setiawan dengan seperangkat alat sholat tunai ". Ucapnya dengan sekali hentakan.
" Bagaimana? ".
" Sah.. ".
" Sah.. ".
" Alhamdulillah... ". Pak penghulu mulai memimpin doa.
" Alhamdulillah sayang.. sekarang kamu sudah sah menjadi bagian keluarga kami ". Ibu tak henti-hentinya mencium kening Lyza. Benar yang dikatakan Ares, pandangan kita akan berubah setelah berinteraksi dengan Lyza.
" Ehmm iya ibu Ustadzah ". Entah mengapa Lyza juga tak bisa berkata tegas atau membantah perkataan ibu, mungkin mengingat perjanjian yang dibuat Ares dengannya, atau mungkin ada alasan lain?
Ibu hanya tersenyum dan menuntun menantunya untuk keluar.
Sedangkan di luar sana, terlihat Ares sudah menunggu-nunggu kedatangan wanita yang baru saja ia ijab.
" Sabar Res.. bentar lagi keluar ". Goda Egi sembari berbisik.
" Iya.. iya.. ". Benar, Ares benar-benar gugup sekarang. Walaupun bisa dibilang pernikahannya karena taruhan. Namun ia yakin kalau suatu hari nanti pernikahannya akan benar-benar dilandasi dengan kata cinta.
Tak lama kemudian tirai yang menghalangi terbuka, dan keluarlah ibu terlebih dahulu sembari menggandeng tangan Lyza yang menggunakan kebaya.
Semua mata tertuju pada kedua wanita berbeda generasi tersebut. Lyza nampak cantik dan anggun dengan baju kebaya yang di kenakan, ia menampilkan wajah datar.
Orang-orang disana nampak kagum dengan wajah Lyza, sungguh sangat sempurna maha karya yang kuasa.
" Ehem.. ". Batukan yang disengaja oleh sang penghulu membuat mereka langsung beristighfar dalam hati dan menundukkan kepalanya.
'milik orang lain'. Batin mereka bersama.
Ibu menuntun Lyza untuk duduk di sebelah Ares. Wajah angkuh dan sombong Lyza malah menambah kesan anggun nya.
'Masya Allah... Cantik nya istri ku'. Ares
'sudah ku duga, pasti ada yang salah dengan pak Ustadz ini. Kenapa bisa dia sangat tampan, padahal banyak ustadz yang lebih terkenal dan wajah mereka biasa saja'. Lyza
Ares mengambil cin-cin kemudian memakaikan di jari manis Lyza, setelah nya Ares memberikan cin-cin yang lain untuk dipakaikan Lyza ke jari manis sang suami.
Dengan perasaan gugup Lyza mengambil cin-cin tersebut dan memakai kan nya ke jari Ares. Ares tersenyum lalu menyodorkan tangan sebelah kanan untuk di cium oleh Lyza. Namun, bukannya di sambut oleh sang istri, Lyza malah menyerngitkan dahinya.
Apa-apaan dia! Kenapa malah Menyodorkan tangannya. Pikir Lyza.
Tak kunjung tangan Ares di sambut, membuat Ares mengerti lalu memberikan kode lewat mulut nya agar mencium tangannya.
Lyza langsung di buat kesal. Belum pernah ada orang yang berani menyuruhnya menyalami tangan seseorang. Bahkan terkadang musuhnya lah atau orang yang ingin bekerjasama dengan Lyza lah yang terkadang menyalami dan mencium tangan Lyza.
Lagi-lagi Ares menyuruh Lyza cepat menggunakan bahasa bibir tanpa suara.
Kekesalan Lyza sudah di ubun-ubun. Ia berdiri " apa-apaan kau! Mana sudi aku mencium tangan mu sialan! ". Teriak Lyza membuat semua mata heran dan kaget dengan tingkah laku Lyza.
Sangat kasar. Bagaimana mungkin seorang ustadz yang terkenal lembut dan murah senyum menikah dengan seorang gadis bar-bar.
Keluarga Ares hanya tersenyum, mereka memaklumi tingkah Lyza. Sedangkan Sean juga tak kalah kesalnya dengan Lyza.
Ares berdiri ia membisik. " Memang seperti ini budayanya. Bisa kah kau tidak membantah kali ini, turuti saja kalau tidak kamu sendiri yang malu ".
Lyza menatap Ares dan yang ditatap tersenyum seperti biasa. Karena tak ingin malu dengan tingkahnya sendiri Lyza memilih kembali duduk.
Acara kembali di lanjutkan, Lyza sekarang benar-benar mencium tangan kanan Ares. Lalu Ares mencium kening Lyza. Sempat Lyza tertegun, bahkan seperti sesuatu menjalar di tubuhnya. Namun saat Ares membacakan doa sembari memegang kepalanya, membuat Lyza kembali kesal.
Memangnya ia kerasukan!! Sampai harus di ruqyah segala!. Yap Lyza sudah belajar tentang Islam di internet, walaupun mungkin ajaran yang menarik perhatiannya sangat tak masuk akal. Ia malah suka melihat seseorang di ruqyah, namun tak suka jika dirinya yang di ruqyah.
Ingin sekali Lyza menepis tangan Ares, namun ia tidak ingin membuat dirinya tambah malu dan seperti tidak tahu apa-apa.
Setelah berkomat-kamit, Ares melepas tangannya dan terseyum ke arah Lyza. Sedangkan yang di lemparkan senyumana memberikan wajah garang. Apa iyya dirinya benar-benar kemasukan setan! Pikir Lyza.
Lyza berbisik di telinga Ares. " Hentikan acara komat-kamit mu! Aku tidak kerasukan setan bodoh! ". Geram Lyza
Ares menyerngit. Acara komat-kamit? Kerasukan setan? Tunggu! Bukan itu, dia mengatai suaminya sendiri dengan bodoh!!!. Ares menghela nafas, ia mesti sabar dengan tingkah Lyza. Walau bagaimanapun dirinya sendiri lah yang memilih jalan ini.
Biarlah Lyza berfikir yang tidak-tidak, nanti kalau tahu sendiri pasti tambah malu. Asal sekarang ia sudah benar-benar menikah!
TBC
minal aidin wal Faizin 🙏
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya