My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
MP Zera



Setelah acara pernikahan Zean dan juga Ara selesai, kedua pasutri itu kembali ke kamar. Tepat nya di kamar hotel tempat di adakan acara pernikahan itu.


Awalnya kedua pasutri baru itu sama-sama canggung, tidak ada yang berani mengambil star lebih dulu.


Zean dan Ara duduk di pinggir kasur bersama. Zean menarik nafas lalu menghembuskan nya pelan, ia memberanikan diri untuk melihat Ara yang sekarang sudah berstatus sebagai istrinya sedang duduk sembari menunduk.


Zean berdehem. " Ara ". Panggil Zean, dan yang di panggil sontak mendongak melihat Zean. Mereka masih sama-sama menggunakan gaun pengantin.


" I.. iya? ".


" Apa,... Apa aku bisa. Itu... ". Menunjuk cadar Ara


Ara tersenyum di balik cadar, ia mengangguk. Hal ini seharusnya tidak perlu di tanyakan, tapi meski seperti itu entah mengapa Ara sedikit malu untuk memperlihatkan wajahnya di depan orang lain selain keluarga nya.


Dengan perlahan Zean membuka cadar Ara. Ia gugup, bahkan tangannya sampai gemetar. Bukan karena takut tak sesuai ekspektasi, namun karena hal ini yang selama ini ia tunggu-tunggu. Wajah cantik sang istri, yah ini yang selama ini ia tunggu-tunggu.


Mata Zean melebar seketika, ini bukan hanya sesuai ekspektasi namun di luar ekspektasi. Ia tidak menyangka wajah sang istri yang rupanya baby face, sangat kontras dengan tubuh Ara yang mungil. Zean memegang pipi Ara, wajah Ara yang memerah karena malu membuat nya semakin menggemaskan di mata Zean.


Ara yang tidak pernah di perlakukan seperti ini, tak tahu harus apa. Ia hanya menunduk tidaka berani melihat wajah Zean yang sekarang sudah menjadi suaminya.


'halus... Sangat halus'. Batin Zean mengusap-usap 'kan jempolnya di pipi Ara. Entah dorongan dari mana, Zean maju dan mengecup kening Ara lama.


Memejamkan matanya, Ara menikmati sentuhan basah di keningnya. Zean turun mengecup kedua mata Ara.


" Kamu cantik." Ucapnya sembari tersenyum.


Membuat Ara semakin tersipu dan semakin menunduk. " Bang Zean juga tampan." Balasnya


" Bang?."


" Eh! I.. itu a.. anu." Ia tidak tahu harus berkata apa membuat nya gelagapan. " Maaf aku belum memikirkan nya."


Zean tersenyum, ia akan mencoba bersikap dewasa disini. Walaupun sebenarnya sikap posesif dia sudah terlihat jelas. " Jangan terlalu di paksa." Mengusap kepala Ara. Membuat Ara mendongak dan menatap Zean dengan wajah polos.


Cup..


Ah... Zean benar-benar tidak tahan untuk tidak mengcup bibir sang istri. Bibir yang sangat mungil. Ara yang mendapat serangan tiba-tiba dari sang suami bergeming, ia bengong. Ini pertama kalinya ia mendapat hal yang seperti ini.


" Tapi, aku menantikan jawaban mu." Lanjut Zean lalu melenggang pergi ke dalam kamar mandi meninggalkan Ara yang masih terbengong.


Setelah kepergian Zean, Ara baru sadar diri. Blusshh...


Ia memegang kedua pipinya yang memanaskan, semburat asap keluar dari kepalanya. Wajahnya memerah bak kepiting rebus. Ah.. ini kah cinta?


Sedangkan yang kini ada di dalam kamar mandi, ia bersandar di wastafel. Mencoba untuk menenangkan perasaan nya yang akan meledak. Tiba-tiba tubuhnya meremang mengingat kecupan yang ia berikan ke bibir sang istri, hal sederhana seperti itu saja sudah membuat sesuatu bangkit dari bawah tubuh. Zean segera melepas pakaian nya dan masuk kedalam bathtub, semoga dengan begitu sesuatu yang bangkit itu dapat tidur kembali.


Ara yang sudah dapat mengontrol perasaan nya mengambil ponsel yang berada di atas nakas. Di bukanya dan ia mencoba menghubungi kedua sahabatnya, Mira dan juga Sinta. Ia ingin mendapatkan saran untuk nama panggilan itu dari kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu berpengalaman.


Ara membuka obrolan di aplikasi berwarna hijau


"Hai... Guys...😊 Assalamualaikum". Ara memulai pembicaraan.


"Wa'alaikum salam... Eh! Pengantin baru kita ini kok masih sempat-sempatnya main ponsel🤔". Balas Mira


"Hallo too... Iya nih, aku kira sedang enak-enak 🤭". Balas Sinta yang memang non-muslim, makanya ia tidak menjawab salam Ara


" Ihssh apa-apaan sih mereka. Terlalu vulgar ". Ara merenggut kesal.


"Jangan bicara vulgar-vulgar dulu sama aku yang masih polos🙂."Mira membalas kata-kata Sinta.


"🤢🤮Hoekk masih polos bapa mu..."


"🤭😆😆😅.. kalian ini, sudah-sudah. Ada yang ingin aku tanyakan 🙏." Ara menengahi


" Apa tu?."


" Jadi menurut kalian, panggilan apa yang cocok aku gunakan untuk bang Zean?." Tanya Ara, ia benar-benar tidak mengerti dengan yang seperti ini.


"Hmm.. menurut aku bang saja sudah cukup✌️." Jawab Mira


" Aku juga berfikir seperti itu." Ia menghela nafas lalu menghembuskan nya kasar. Ara kembali melihat ponsel.


"Jangan! Kalau cuman panggil abang, tidak ada romantis-romantis nya😑." Sinta membalas Mira


"Iya, bang Zean juga tidak mau di panggil abang lagi😣."


"Hmm kalau gitu, bagaimana kalau mas?." Mira memberikan saran lagi


"Iya, mungkin itu bisa 👍." Sinta menimpali


"Tidak, bang Zean juga tidak mau di panggil mas😣."


"Yah pak Zean sungguh merepotkan 🙄." Entah mengapa tapi Mira yang kesal sendiri. Kenapa? Karena ia juga yang harus ikut memikirkan nama panggilan kesayangan yang cocok untuk kedua pasutri itu.


"Bagaimana kalau sayang? honey? Baby? Atau darling? ". Jawab Sinta


"Yah itu silahkan pilih Azzahra akifa Warrent 😌."


Ara yang membacanya hanya geleng-geleng kepala. Dia merasa jijik hanya dengan melihat kata-kata yang dikirim Sinta.


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka, sontak Ara melihat kearah pintu. Matanya melebar, wajah yang tadi sudah normal kembali berwarna merah. Ara segera memalingkan pandangannya.


Bagaimana tidak! Zean keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk sebatas pinggang. Masih ada air yang jatuh mengalir di dada bidangnya, rambut nya masih meneteskan beberapa air itu membuat Zean semakin seksi. Ah... Sungguh pemandangan yang indah di pandang.


Zean menyugar rambutnya ke belakang. Ia melihat ke arah sang istri yang masih menunduk sembari memegang ponsel. Zean mendekati Ara. Sesampai di depan Ara, Zean membungkuk 'kan sedikit badan nya.


" Ara, aku sudah mengenakan kamar mandinya. Sekarang kamu bisa pakai ". Suara barinton itu, membuat Ara mendongak.


Tatapan nya dan tatapan sang suami saling bentrokan. Mereka memandang mata pasangan nya masing-masing, wajah kedua pasutri itu sangat dekat. Bahkan suara nafas nya Zean dapat di dengar oleh Ara, sebaliknya Zean juga dapat mendengar suara nafas Ara.


Deg.. deg.. deg..


" Ah! I.. iya, aku juga ingin mandi." Segera berlari masuk ke dalam kamar mandi. Ara bersandar di balik pintu kamar mandi. Ia memegang jantungnya yang marathon.


" Jantung ku... Ahhkkk semoga bang Zean tidak mendengar nya ". Gumam Ara. Ia segera mandi untuk melepas penat.


Setelah Ara masuk kedalam kamar mandi, Zean mulai mengatur nafasnya kembali. Jantung nya juga tak kalah marathon seperti jantung Ara.


" Ahkk semoga Ara tidakk mendengar nya ". Memegang jantung nya yang masih terdengar keras. Zean segera masuk kedalam walk closet untuk memakai baju.


Sedangkan di sisi lain, Ara mematikan air yang jatuh dari shower, ia menyibakkan rambutnya dan mengering kannya menggunakan handuk yang di sediakan oleh pihak hotel.


" Aku lupa bawa masuk baju ganti." Menepuk jidat. Sangking buru-buru nya tadi, ia sampai melupakan membawa baju ganti.


Ara menyapu pandangan di dalam kamar mandi itu, matanya jatuh pada sebuah jubah mandi yang di sediakan pihak hotel. Tak butuh pikir panjang, Ara segera mengambil jubah mandi tersebut dan memakai nya.BSetelah itu ia pun membuka pintu kamar mandi.


Ceklek...


Zean yang sudah selesai mengenakan piyamanya duduk di atas sofa sembari main ponsel. Mendengar suara pintu terbuka, sontak Zean beralih Melihat sumber suara.


Tiba-tiba ponsel yang di pegang Zean jatuh ke lantai. Ia hampir saja menganga melihat tampilan Istri nya yang sangat seksi. Bagaimana tidak! Ara hanya menggunakan jubah mandi sebatas di atas lutut. Betis nya yang mulus dan putih terpampang jelas, belum lagi leher jenjangnya yang tidak tertutupi apa-apa, membuat Zean ketar-ketir sendiri.


Ia tidak menyangka bahwa tubuh Ara seramping ini, sangat kontras dengan wajah baby face yang dimiliki Ara. Selama ini Ara selalu menggunakan pakaian yang selalu melebihi batas tubuhnya.


Ara yang sama sekali tidak menyadari pandangan sang suami, dengan santai masuk kedalam walk closet. Zean tak bisa melepas pandangan nya, apalagi dari bokong Ara. Otaknya langsung traveling. Zean segera menggelengkan kepalanya.


Tak butuh waktu lama, Ara keluar dari walk closet menggunakan gaun tidur yang cukup panjang. Ia duduk di meja rias untuk menyisir rambutnya yang masih basah.


Sekali lagi, Zean hanya memperhatikan Ara. Ia tidaka menyangka rambut Ara sangat panjang sampai ke bawah pinggang.


Ara nampak mengeringkan rambut nya. Zean yang melihatnya segera berdiri dan menghampiri Ara, berniat untuk membantu Ara.


Ia merampas hair dryer yang di gunakan Ara. " Biar aku bantu." Ucapnya


Ara hanya mengangguk, karena memang hal ini tidak gampang walau ia sudah terbiasa melakukan nya.


" Kenapa rambut mu bisa sepanjang ini?."


" Aku sengaja memanjangkan nya." Jawab Ara jujur


" Untuk apa? Bukannya ini malah menghalangi mu." Apa ia akan memanjakan nya untuk memenangkan rekor dunia? Pikir Zean


" Abang tahu? Nanti kalau kita sudah di kumpulkan di Padang Mahsyar, tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuh kita. Jadi, rambut ku yang panjang ini akan membantu menutupi tubuhku." Jelas Ara


Zean tertegun, ia manggut-manggut mendengar perkataan Ara. Satu ilmu lagi yang ia dapatkan hari ini.


" Ini sudah selesai." Menaruh hair dryer itu di atas meja rias di depan Ara


" Terima kasih." Ucap lirih Ara, ia segera bangun. Namun karena tidak berhati-hati Ara hampir jatuh, untung saja Zean segera menangkap Ara dan membawanya masuk ke dekapannya.


Deg.. deg.. deg..


'suara jantung bang Zean..' tepat di depan telinga nya, Ara bisa mendengar suara jantung itu sangat kencang, tak kalah kencang dengan dirinya.


Ara ingin menjauh, namun Zean malah semakin memeluknya. Ia menjatuhkan kepalanya di pundak Ara. " Kau bisa dengarkan suara jantung ku." Ucap Zean lirih


Ara hanya mengangguk. " Ah... Aku tidak tahan lagi." Mengangkat kepalanya dan melihat Ara dengan tatapan sendu.


" Bolehkan?." Mengecup kening Ara


Ara tersenyum. " Kita sholat dulu yah sayang." Ucap Ara


Deg...


" A.. apa?." Zean sampai tidak bisa berkata-kata mendengar panggilan sang istri kepada nya " katakan sekali lagi."


" Yang mana?." Ara pura-pura polos


" Ara.."


Ara terkekeh. " Kenapa sayang?." Mengedipkan sebelah matanya. Sifat yang ini mungkin turun dari sang kakak


Zean mencium pipi Ara gemas. " Ayo kita sholat." Menarik tangan Ara dengan wajah sumringah. Ara hanya geleng-geleng melihat nya.


Setelah mereka sholat. Kedua pasutri itu duduk di tepi ranjang. Zean segera berdiri di depan Ara, ia membungkuk mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Ara yang sedang duduk. Ia menangkup wajah Ara.


" Bolehkan?." Ara mengangguk. Zean langsung sumringah mendapatkan persetujuan dari Ara.


Ia pun mulai membaca doa bersigma sesuai ajaran Islam. Setelah nya, Zean mengecup kening Ara, lalu turun ke kedua mata Ara, turun lagi ke hidung Ara yang tidak terlalu mancung, dan ke kedua pipi Ara dan terakhir di bibir Ara. Ia melumatt kecil bibir mungil Ara.


Lumatann itu lama-lama menjadi sangat menuntut, Zean mendorong pelan tubuh Ara sehingga Ara berbaring di atas kasur. Zean melepas piyamanya dan kembali meneruskan ciuman panas nya. Ciuman itu turun ke leher jenjang Ara.


" Eugh..." Desahaan yang berhasil keluar dari mulut Ara membuat Zean semakin bersemangat.


Dan terjadi lah yang memang harus terjadi, suara desahaan menggema di dalam kamar, ranjang yang berdecit dan harus menahan goyangan yang cukup keras. (Traveling sendiri yah guys🤭)


Setelah mencapai puncak kenikmatan dunia, Zean ambruk di sebelah Ara. Ia mengecup kening Ara. " Terima kasih." Katanya lirih


Ara mengangguk. " Tidak perlu berterima kasih." Ucapnya sembari tersenyum.


Zean menarik Ara dan memeluknya erat, ia beberapa kali mendarat 'kan kecupan-kecupan kecil di atas kepala Ara.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️