My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Akira dan Atifa



Hari berlalu dengan cepat, setelah Ara di rawat di rumah sakit beberapa hari setelah persalinan akhirnya ia di izinkan pulang.


Setelah beberapa Minggu, Ara dan Zean mengadakan syukuran atas kelahiran baby Lisya.


Hari berlalu dengan cepat. Hari ke Minggu, Minggu ke bulan, dan bulan ke berbulan-bulan. Kini usia kandungan Lyza sudah memasuki 7 bulan. Karena ada dua makhluk yang hidup di dalam rahim Lyza membuat perutnya lebih besar di banding saat ia hamil pertama.


Trimester pertama telah di lalui, mual-mual Ares saat pagi sudah tidak ia rasakan. Namun Lyza tidak di izinkan selalu untuk ke restoran, hanya bisa tiga kali seminggu itu pun dalam penjagaan ketat. Biarlah orang-orang mengatakan Ares berlebihan, ia tak akana peduli. Karena Ares hanya ingin istri dan juga anak-anaknya terhindar dari bahaya


Saat Lyza tidak ke restoran, maka Re yang akan menggantikan nya mengambil alih restoran. Sebenarnya tugasnya hanya melihat buku keuangan tidak lebih dan tidak kurang. Atau biasanya juga membantu di kasir.


Lyza duduk di depan tv di atas karpet berbulu sembari menonton tv bersama Fatih. Sedari tadi tangan dan mulut Lyza tidak berhenti-henti mengemil sedangkan Fatih, bocah yang baru-baru berusia 4 tahun itu hanya bermain sendiri. Bermain menggunakan gadget nya.


Suara Lyza yang memakan cemilan dari tadi berbunyi. Fatih melihat sang ibu yang asik dengan cemilan dan juga layar lebar persegi panjang di depan. Saat Lyza hendak mengambil cemilannya di dalam toples, Fatih langsung menarik toples tersebut


" Waktunya makan nasi uma. Jangan makan cemilan banyak-banyak, nanti uma tidak berselera makan berat nanti." Ujar Fatih. Seiring bertambahnya usia, Fatih sudah lancar mengatakan R.


" Yah.. sedikit lagi yah sayang. Please.." bujuk Lyza dengan wajah yang di imut-imut 'kan. Ia seperti seorang anak kecil yang meminta jajan kepada orang tuanya


Fatih menggeleng " Tidak boleh! Nanti abi marah sama Fatih." Ia tidak ingin kalah lagi dengan keimutan sang ibu. Sebenarnya Fatih tidak tega, hanya saja ia melakukan semua ini demi kebaikan ibu dan juga calon adik-adiknya


Wajah Lyza cemberut. Tapi ia langsung sadar. Hahhh bisa-bisanya ia merengek kepada anaknya yang baru berumur 4 tahun, mau di taruh di mana mukanya!


Tok.. tok.. tok..


Pintu depan di ketuk


" Biar Fatih yang buka uma." Ujar Fatih.


Lyza hanya mengangguk. Fatih berdiri dan tak lupa ia membawa toples cemilan yang ada di tangan nya, jaga-jaga kalau ibunya khilaf dan kembali mengemil.


Lyza menatap nanar toples yang ada di pelukan tangan mungil putranya. Ia sekali lagi mengehala nafas panjang, entah mengapa saat usia kehamilannya semakin besar, ia semakin ingin mengemil


Lyza kembali menonton tv yang menampilkan para artis tanah air yang berbakat dalam akting. Sampai-sampai saat adegan menangis, para penonton pun ikut menangis.


" Assalamu'alaikum bos." Ujar seorang wanita di belakang Lyza


Lyza yang seperti mengenal suara wanita tersebut sontak langsung berbalik.


Srekk..


Mata Lyza membola sempurna, ia bergeming di tempatnya. Lyza memperhatikan wanita itu dari atas sampai bawah, sebuah lengkungan tipis terukir di bibirnya.


" Wa'alaikum salam... Masya Allah... Re, sejak kapan kamu memakai hijab seperti ini? Tidak, sejak kapan kamu masuk Islam?." Tanya Lyza, yah rupanya Re yang datang. Ia ingin melaporkan tentang perkembangan restoran yang sudah hampir satu bulan penuh Lyza tinggalkan


Re tersenyum kikuk di tanya seperti itu, ia sudah menduga akan di tanya seperti itu. " sudah hampir sebulan bos." Jawab Re jujur. Mereka memang tidak pernah bertemu selama sebulan ini, karena itu Lyza tak tahu kalau Re sudah mualaf


" Ayo duduk. Dan ceritakan padaku." Menepuk karpet di sebelah nya


" Tidak usah bos, biar saya berdiri saja." Walau bagaimanapun ia tetap hormat dan sungkan kepada sang bos


" Ini perintah Re! Ayo duduk di samping ku, biar kita lebih nyaman berbicaranya." Ujar Lyza sedikit tegas.


Karena ini adalah perintah akhirnya mau tidak mau yah Re harus duduk di sebelah sang bos. Setelah ia duduk di samping sang bos, Fatih pun ikut duduk di tengah-tengah kedua wanita itu


" Aunty Re sangat cantik. Dulu juga cantik, sekarang lebih-lebih cantik." Ujar Fatih terpesona melihat perubahan Re " Tapi uma lebih cantik dari siapapun di dunia ini." Tambahnya, walau bagaimanapun sang ibu tetap yang nomor satu


Re tersenyum " Terima kasih atas pujiannya bos muda."


Lyza mengelus kepala sang putra " Jadi, kenapa Re? Apa ada yang ingin kamu sampaikan?." Ia mulai ke inti pembicaraan


" Saya kesini untuk memberikan laporan keuangan bos. Biar anda periksa, jika ada yang mengganjal anda bisa mengatakan nya." Menyodorkan sebuah buku dengan tulisan laporan keuangan di cover buku


Lyza tersenyum " Tidak perlu. Aku percaya pada mu, Re." Menolak buku keuangan itu


" Anda yakin bos? Bisa saja saya menggelapkan dana, dan memakai uang itu untuk hal yang tidak berguna."


" Hm benarkah? Sepertinya hal itu tidak mungkin." Ia sangat percaya dengan Re. Apalagi melihat penampilan Re sekarang, tidak mungkin Re akan bermain curang


Re benar-benar bersyukur karena bisa melihat sang bos yang berubah seperti ini.


Setelah Re benar-benar melaporkan apa yang ingin di sampaikan, mereka kemudian mengobrol mengenai hal-hal yang dapat membuat Lyza senang, sebab ia sedang hamil. Re juga terpaksa tinggal menemani sang bos untuk bercerita.


.........


Hari berlalu dengan begitu cepat 3 bulan pun berlalu dari hari di mana Lyza mengetahui tentang Re yang sudah berubah.


Sekali lagi, mereka harus merasakan perasaan tegang ini, dan tempat yang tidak asing ini lagi.


Zean, ayah, ibu, Egi dan juga Re sekarang ada di depan persalinan Lyza. Tengah malam Lyz tiba-tiba merasakan ada yang ingin keluar dari dalam perutnya. Dengan perasaan panik Ares Langsung membawa istrinya ke rumah sakit, ia juga tak lupa menghubungi keluarganya.


Saat di luar ruangan mereka harap-harap cemas dan tak bisa berhenti mereka berdoa agar Lyza bisa melahirkan dengan selamat, lain halnya dengan yang ada di dalam ruang persalinan, Lyza malah dengan santainya memakan apel yang sudah di kupas Ares dengan khawatir.


" Dok, apa masih belum?." Tanya Ares untuk kesekian kalinya


" Tunggu sebentar tuan. Akan saya periksa." Salah satu perawa memeriksa jalan buka lahiran Lyza


" Hmm tinggal sebentar lagi tuan. Apa tidak sakit nona?." Tanya perawat itu, ia heran melihat Lyza yang sangat santai


Lyza menelan apelnya " Sakit. Tapi ini tidak terlalu sakit di banding saat aku melahirkan untuk pertama kalinya dulu." Ujar Lyza santai, mungkin karena ada suaminya di sampingnya yang sedari tadi menguatkan Lyza hingga ia sama sekali tidak meringis kesakitan


" Iya ini tid... Ahh euhh." Ia tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa. " A.. aduh i. Ini tiba-tiba sa.. ahh.. kit." Memegang perutnya yang tiba-tiba sangat sakit, lebij sakit dari apapun itu


" Sayang..!." Pekik Ares, ini pertama kalinya ia melihat wajah kesakitan sang istri. " Dok.." teriak Ares padahal dokter sudah stand by di bawah Lyza


" Sepertinya bayinya sudah mau keluar. Nona . Dengan saya baik-baik, tarik nafas.. buang." Ujar sang dokter dan Lyza pun mulai menurutinya


Lyza terlebih dahulu berdoa agar di lancarkan dalam persalinan nya, setelah nya ia mulai mengejan sekuat tenaga. Peluh membasahi keningnya, sedari tadi Ares memegang tangan sang istri menguatkan Lyza.


Melihat sang istri yang kesakitan seperti ini, ia akhirnya sadar kenapa Zean tidak ingin membiarkan sang istri hamil lagi. Rasa takut kehilangan menyeruak begitu saja di dalam hati Ares. Ia sudah di pisahkan dengan istrinya hampir lima tahun lamanya, ia tidak ingin kehilangan sang istri untuk selamanya.


" Sayag kamu bisa... Aku yakin... Kamu kuat." Mencium kening Lyza. Ares membersihkan keringat yang sedari tadi luruh di kening sang istri menggunakan tangannya.


Setelah Beberapa kali Lyza mengejan akhirnya satu anaknya pun keluar. " Alhamdulillah... Seorang putri." Ucap dokter tersebut, ia kemudian memberikan bayi perempuan itu ke salah satu perawat di sana untuk membersihkan nya.


" Kamu berhasil sayang, anak kita perempuan." Mencium kening Lyza berkali-kali.


Lyza tersenyum sembari mengangguk " Ah.. ada yang ingin keluar lagi dok." Pekik Lyza, ia meras ada yang mendorong di bawah sana


" Yang satunya ingin keluar juga nona. Ayo seperti yang pertama tadi, ejankan dengan sekuat tenaga." Seru sang dokter


" A.. apa." Ares sampai terbata-bata. Ia lupa kalau istri nya sedang mengandung anak kembar. 'satunya baru akan keluar. Aku baru ingat ada dua orang di rahim Istri ku.' batin Ares


Lyza kembali mengejan, tidak sesusah Yang pertama, hanya dengan sekali mengejan akhirnya yang kedua keluar juga.


" Alhamdulillah.. putri lagi." Ucap sang dokter menggendong bayi kedua yang lahir dari rahim Lyza.


Ia kemudian memberikan bayi kedua tersebut kepada perawat untuk di bersihkan juga.


Ares kembali mencium wajah sang istri. Kedua anak kembarnya berjenis kelamin perempuan, ah.. Ares langsung mendapatkan dua bidadari lagi.


" Dua-duanya perempuan sayang." Ujar Ares dengan bibir bergetar. Ia menahan tangis, sungguh dirinya benar-benar bahagia sekarang.


Dengan masih keadaan yang sangat lemah Lyza hanya mengangguk. Tak lama kemudian dua orang perawat datang membawa kedua twins itu untuk di adzani dan melakukan scin to scin dengan sang ibu.


Dengan tangan yang bergetar Ares menerima salah seorang bayinya. Ia pun mulai mengadzani kedua putrinya itu secara bergantian.


Setelah itu kembali salah seorang perawat menaruh kedua baby twins cantik itu di atas dada Lyza agar mereka mencari sumber makanan nya sendiri.


" Kalau begitu kami permisi dulu tuan." Ujar dokter yang menangani Lyza tadi. Ia tidak ingin mengganggu acara bahagia kedua orang itu.


Ares mengangguk " Iya. Terima kasih."


" Itu sudah tugas kami. Dan sekali lagi selamat atas kelahiran baby twins nya." Sekali lagi Ares mengangguk. Setelahnya dokter dan beberapa perawat di sana pun keluar dari ruangan.


Ares kembali beralih Melihat kedua putrinya yang sedang menyusu di kedua gunung Lyza. " Ah.. mereka menggemaskan sayang." Ujar Ares dengan wajah yang berbinar


Lyza terkekeh " Iya. Mereka berdua menggemaskan. Syukurlah keduanya mempunyai wajah yang hampir sama dengan ku."


Ares ikut terkekeh mendengar penuturan Lyza " Walaupun mata, hidung, dan bibirnya menuruniku." Timpal Ares


Keduanya tertawa bersama. Kedua anak kembarnya kombinasi yang sangat pas.


Setelah beberapa saat...


Ayah, ibu, Zean, Egi dan Re masuk kedalam ruang persalinan Lyza.


Mereka melihat Ares yang sedang menggendong salah seorang bayinya dan satu lagi berada di gendongan Lyza yang kini terduduk sembari bersandar di pan kasur.


Ibu mengambil alih baby yang sedang di gendong Ares. " Wah.. sangat cantik seperti umanya." Ujar Ibu. Mereka langsung berkerumun melihat baby yang sedang di gendong ibu


" Apa keduanya perempuan?." Tanya Zean


" Iya. Lucu-lucu 'kan." Jawab Lyza dengan wajah berbinar


Fatih tidak bisa datang sebab sekarang masih tengah malam, lebih tepatnya sekarang sudah hampir subuh, dan kebetulan sekali Fatih sedang menginap di rumah Ara, katanya ia rindu dengan baby Lisya. Sedangkan Ara tidak bisa datang, sebab ia harus menjaga baby Lisya yang baru berusia lima bulan.


" Siapa nama mereka?." Tanya ayah


Lyza dan Ares saling pandang lalu tersenyum. " Yang kakak bernama Akira nur Warrent." Ujar Ares dan mereka sama-sama Melihat baby yang sedang di gendong ibu


" Sedangkan si adik bernama Akifa nur Warrent." Lanjut Ares sembari mengelus pipi buah hatinya yang sedang di gendong Lyza.


" Nama yang bagus." Seru ayah


" Baby Kira dan baby Tifa." Timpal ibu


.


.


TBC


Detik-detik menuju tamat~πŸ™‚


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya juga ✌️


Follow ig othorπŸ€­πŸ˜…πŸ™ \=> HimaSun_05