
Keluarga kecil itu kemudian sarapan bersama. Fatih yang saat itu, sandwich nya hampir habis tiba-tiba mengingat sesuatu.
" Oh ya uma.." sontak Lyza mendongak
" Fatih, habiskan sarapan. Jangan berbicara selagi makan." Tegur Ares. Fatih langsung menunduk dan kembali melanjutkan sarapannya.
Lyza menyiku lengan Ares. " Jangan terlalu keras dengan putra ku." Ketus Lyza dengan berbisik. Ares menelan salivahnya susah. Ia tidak ingin sang istri marah lagi.
Yah mungkin seperti itu lah orang tua. Ayah akan mendidik anak laki-laki nya dengan sedikit kerasa namun tidak menyakiti, sedangkan sosok ibu akan mendidik anaknya dengan kelembutan yang dimiliki. Yang paling penting mereka melakukan nya demi kebahagiaan sang putra.
Tidak ada orang tua di dunia ini yang ingin melihat anaknya bersedih dan kesusahan.
Setelah sarapan. Lyza membersihkan meja makan. " Oh yah uma, kata nenek... Kalau Fatih tidak mengganggu uma sama Abi mesla-meslaan nanti Fatih bisa punya adik yah?." Tanyanya dengan wajah polos. Sebenarnya hal ini yang ingin di tanyakan Fatih sedari tadi
Lyza meremas piring yang sedang di pegang nya. Sudah hampir dua bulan Lyza kembali berkumpul dengan keluarga kecilnya, dan selama ini ia sama sekali tidak ber-KB, namun dirinya masih belum hamil-hamil juga. Malah sekarang Lyza sedang PMS.
Ares yang menyadari hal itu mencoba untuk menjawab nya " In syaa Allah." Ujar Ares
Lyza mencoba untuk tersenyum " Doa in saja yah sayang, semoga Uma di beri kesempatan lagi." Setelah mengatakan hal itu, Lyza pun mengangkat piring kotor ke wastafel.
" Abi, apa umi sedih gala-gala Fatih?." Entah mengapa Fatih bisa melihat raut kesedihan di wajah sang ibu
" Tidak. Tapi, kalau Fatih merasa bersalah. Seharusnya Fatih harus apa?." Ucap Ares lembut
Fatih turun dari kursi. Ia segera berlari ke dapur, tak sengaja Fatih melihat sang ibu yang nampak mengusap sudut matanya hal itu membuat Fatih tambah merasa bersalah.
" Kamu kuat Lyza. Aku yakin pasti aku masih bisa di beri kesempatan." Gumam Lyza menguatkan dirinya. Tiba-tiba.. bruk.. ada sesuatu yang menabrak kakinya dan memeluk erat.
Sontak Lyza menunduk ia melihat Fatih yang tengah memeluk kakinya, hal yang selalu ia lakukan selama ini. Lyza berjongkok mensejajarkan tingginya dengan sang putra.
" Maaf uma.." lirih Fatih dengan menunduk. Ia memainkan jarinya
Lyza tersenyum " Fatih tidak salah apa-apa sayang, jangan sedih seperti ini dong." Menangkup wajah sang putra dan mendaratkan kecupan di pipi
" Uma tidak malah?."
Lyza menggeleng pelan " Kenapa uma harus marah. Uma tidak marah kok."
Fatih menangkup wajah sang ibu. " Kalau begitu jangan sedih juga uma. Hati Fatih sakit melihat uma belsedih." Lirihnya dengan tatapan sendu.
Lyza terharu mendengar penuturan sang putra. Tangan kecil yang berada di pipi nya ia genggam dan mencium kedua tangan mungil itu. " Uma tidak sedih kok. 'kan ada Fatih disini." Ucapnya dengan tersenyum cerah
Fatih kemudian ikut tersenyum dan memeluk leher sang ibu. Lyza pun membalas pelukan sang putra.
" Ehem.. kalian jangan lupakan abi disini." Sedari tadi Ares sudah memperhatikan semuanya. Ia bersyukur Fatih cukup dewasa dan peka dalam memahami perasaan seseorang.
" Sini abi, nanti Fatih tidak mau bagi-bagi pelukan sama uma." Seru Fatih. Ares terkekeh lalu mendekati kedua orang tersayangnya itu. Ia berjongkok dan ikut dalam pelukan hangat itu.
Ia selalu berharap agar tidak ada yang mengganggu keharmonisan rumah tangga nya, kalaupun ada Ares tidak akan tinggal diam begitu saja.
Setelah acara berpelukan selesai. Kini Ares sudah siap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa Lyza dan juga Fatih akan mengantar Ares, namun kini tidak sampai keluar sebab Lyza tidak menggunakan hijab
Setelah berpamitan Ares pun keluar keluar dan langsung masuk kedalam mobil yang sudah menunggu dari tadi. Egi pun menjalankan mobilnya
" Oh yah Res, tentang lokasi warung yang kamu bilang waktu itu." Egi buka suara, ia masih fokus menyetir
" Kamu sudah dapat?."
Egi mengangguk " Tapi bukan lahan kosong, disana sudah ada kios kecil. Jadi mungkin perlu di renovasi."
" Terserah sih, apa tidak ada yang masih lahan kosong?."
" Ada, cuman tidak memenuhi syarat seperti yang nyonya mau." Jawab Egi " bagaimana kalau kamu melihat langsung?." Kalau pun bagus Egi tidak perlu mencari lagi
" Baiklah. Dari rumah jarak tempuh kira-kira berapa sampai ke lokasinya."
" Dekat, mungkin sekitar 30 menit-an." Ares manggut-manggut mendengarnya.
Melihat jam tangannya " Oke kita kesana dulu sebentar." Egi memutar haluan dan mengikuti perkataan sang bos
Sekitar 30 menit, mereka pun sampai. Ares Keluar dari mobil. Ia melihat-lihat lokasinya, benar saja ada kios kecil yang sepertinya sudah tidak beroperasi lagi, dan itu sudah lama.
Rupanya tempatnya berada di sebuah kampung kota, walaupun begitu lokasi kios itu masih berada di jalan utama. Di depan kios berdiri sebuah SMA dan mungkin tersambung dengan SMP.
" Di belakang SMA dan SMP itu ada SD."
Ares sedikit terkejut mendengarnya. " Wah paket komplit."
" Iyakan.. nah disana." Menunjuk sebuah pondok kecil di sampingnya ada sebuah pohon mangga besar yang menyalipnya. " Biasanya tempat anak-anak muda nongkrong. Misalkan anak SMA atau SMP yang pulang sekolah, atau anak abg yang sekedar nongkrong jika malam hari. Pokoknya tempat ini tidak akan sepi." Lanjut Egi " dan yang paling penting disini sama sekali tidak ada pedagang kaki lima."
Ares menyerngit bingung. Bisa-bisanya tidak ada pedagang kaki lima di tempat seperti ini. " Kamu yakin?."
" Yakin. Sekolah melarang pedagang kaki lima untuk berjualan disini, apalagi di sekitar sini banyak satpol." Ares manggut-manggut
Ia kemudian melihat kios kecil itu, di belakang masih ada lahan yang kosong. Serta di samping kanannya juga lahan kosong. " Kamu sudah membeli kios ini 'kan?."
" Tentu." Jawabnya bangga. Ia merasa kali ini yang di kerjakan nya terselesaikan dengan sempurna
Ares tersenyum " Bagus, kios ini harus di renovasi."
" Itu juga sudah aku pikirkan Res."
" Sewa Arsitek untuk mendesai warung nya. Ingat yang kecil saja."
" Baik."
Ares kemudian merogoh ponselnya dan merekam keadaan disana. Ia ingin mengirim rekaman itu ke sang istri.
Sedangkan di sisi lain, Lyza yang kala itu sedang membuat susu coklat untuk sang putra tiba-tiba di kejutkan dengan suara ponselnya. Awalnya ia mengabaikan, namun lama-lama terdengar kembali suara pesan masuk.
Lyza mengambil ponselnya dan memeriksa pesan masuk. " Hmm sepertinya menyenangkan juga." Rupanya pesan tersebut dari Ara yang mengajak Lyza untuk berbelanja pakaian bayi
Ting...
Satu pesan datang lagi. Ia membukanya " Video apa ini. Aku kira Hubby sedang di kantor." Karena penasaran Lyza pun membuka video itu.
Ia tersenyum, rupanya lokasi warung yang akan dia bangun nanti. Lyza kira akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencari lokasi seperti yang dia maksud. " Suamiku memang hebat." Gumam nya
Lyza membalas pesan dari sang suami dan juga adik iparnya. Ia kemudian membawa susu itu ke ruang keluarga. Disana ia melihat Fatih yang sedang asik bermain.
" Sayang ini di minum dulu susunya." Menaruh susu itu di atas meja
Fatih menghentikan acara bermainnya dan mendekati Lyza, ia kemudian meminum susu coklat kesukaan nya itu.
" Oh yah, tadi Ara mengajak kita berbelanja untuk adik bayi. Bagaimana? Fatih mau ikut tidak?."
Fatih terlihat berfikir sebentar. " Tapi nanti kita singgah di area bermain juga." Tawarnya
Lyza tersenyum " Tapi, jangan lama-lama." Fatih langsung mengangguk antusias.
" Fatih bisa siap-siap sendiri?."
Fatih mengangguk " Bisa dong uma." Jawabnya bersemangat. Kapan lagi bisa main bebas
" Baiklah, kalau begitu Fatih pergi siap-siap dulu. Nanti supir dari mansion datang menjemput kita." Lyza cukup mudah merawat Fatih, sebab Fatih memang anak yang mandiri dan cukup peka.
.........
Setelah menempuh jarak yang tak terlalu jauh, akhirnya mereka sampai di sebuah mall tersebar di kota itu.
Lyza, Ara dan Fatih pun keluar dari dalam mobil. Lyza memperhatikan mall di depannya, ia juga melihat banyak orang lalu-lalang. " Kamu yakin Ara. Aku takut kamu kelelahan." Ucap Lyza. Ia jadi tidka yakin masuk kedalam mall apalagi melihat mall yang sangat besar itu
Ara tersenyum dari balik cadarnya. " In Syaa Allah aku tidak apa-apa kak." Jawabnya
" Tapi Zean benar-benar mengizinkan mu 'kan?." Selidik Lyza. Perut Ara yang sudah besar, apalagi kehamilan Ara yang sudah 6 bulan itu, tidak mungkin Zean mengizinkan nya dengan sukarela.
" Sudah, tapi katanya harus ada pengawal." Ucapnya, nah Zean tidak mungkin mengizinkan Ara keluar tanpa pengawal
Mereka akhirnya memutuskan untuk masuk. Namun, Ara berhenti ia berbalik. " Tunggu, kenapa pengawal nya ada banyak?." Ia jadi merasa tidak enak. Ara kira hanya satu, tapi siapa sangka jika ada sepuluh orang di belakangnya dengan memakai seragam hitam dan menampilkan wajah yang seram
Fatih pun geleng-geleng melihat hal itu. Beda dengan Lyza yang malah merasa hal itu biasa. " Bukannya pengawalan nya kurang." Beo Lyza. Sontak Ara dan Fatih menoleh melihat Lyza
" Ada apa? Bukannya yang aku katakan benar?." Ucapnya dengan wajah polos. Lyza yang memang selalu di kawal saat pergi dulu tidak terlalu mempermasalahkan nya
" Tapi kak ini terlalu banyak. Kita akan susah untuk berbelanja." Ara mengerti keadaan Lyza saat itu, dimana Lyza yang memang mempunyai banyak musuh dulu selalu mengincar nya
" Iya uma." Sedangkan Fatih ia tidak ingin acara mainannya nanti jadi terbatas
Lyza sedikit berfikir. Benar juga apa yang di katakan Ara, akan sulit bagi mereka untuk berbelanja. Apalagi pasti para pengunjung lainnya akan merasa terganggu dan mereka akan menjadi pusat perhatian. 'jika seperti itu, kami akan mudah di kenali musuh'. Batin Lyza. Di dalam dirinya tetap mengalir darah seorang ketua mafia.
" Baiklah, kalian boleh pergi. Tinggalkan dua orang saja." Walau bagaimanapun Lyza tidak ingin kecolongan.
Sepuluh orang itu mengangguk dan pergi dari sana, meninggalkan dua orang saja.
" Kenapa harus dua orang kak?."
" Biar nanti belanjaan Kita ada yang bawa." Ujar Lyza enteng. Mereka bertiga cekikikan.
Mereka pun berbelanja kebutuhan bayi yang akan lahir dari rahim Ara. Karena jenis kelaminnya sudah di ketahui, maka hal ini tidak akan membingungkan. Mereka akan membeli yang menurutnya imut dan cantik.
Berguna? Berguna tidak berguna ketiga orang itu akan tetap membeli nya asalkan yang di lihat menggemaskan. Lagipula bukan uang mereka yang habis, tentu uang suaminya yang akan habis. Untung saja para suaminya punya banyak uang, jadi mereka tidak akan neko-neko untuk membelinya.
Setelah puas berbelanja, ketiga orang itu memutuskan untuk pergi ke area bermain anak-anak. Sesuai janji Lyza tadi. Fatih dengan semangat langsung pergi bermain bersama anak-anak sebayanya. Sedangkan Lyza dan juga Ara memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.
Belanjaan mereka di bawa oleh satu bodyguard ke mobil. Sedangkan bodyguard yang satunya menjaga mereka.
" Aku ingin ke toilet dulu. Kamu tunggu disini, jangan bergerak dari tenpat mu, oke!." Ujar Lyza
" Mau aku antar kak."
" Tidak perlu. Kamu sedang hamil, jadi harus istirahat." Ara akhirnya mengangguk
Sebelum pergi, Lyza memberikan kode untuk bodyguard disana agar menjaga Ara dan juga Fatih.
Lyza pun pergi ke toilet, mestinya seperti itu. Namun Lyza membelokkan tujuannya. Ia mensekap seseorang dan mengancamnya dengan tangan dan juga kukunya yang lumayan panjang. Lyza membawanya masuk ke dalam toilet, ia juga menendang kata-kata toilet rusak di depan pintu.
" Siapa yang mengirim mu." Tanya Lyza dengan aura mencekam. Sebenarnya sudah dari tadi Lyza merasa ada yang mengikuti nya. Namun ia tetap diam agar Ara dan juga anaknya tidak ketakutan dan panik. Hal seperti ini sudah biasa Lyza rasakan
Orang yang di sekap Lyza Langsung mengangkat kedua tangan nya. " Tu... Tunggu dulu.. bos.."
Serasa mengenali suara itu, Lyza pun melepaskan sekapan nya. " Keren." Lyza sedikit terkejut melihat salah satu orang kepercayaan nya saat dulu menjadi seorang ketua mafia
Keren berbelik. " Bos.. masih mengerikan seperti dulu." Ia merasa merinding hanya dengan merasakan aura sang bos.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️