
Satu bulan berlalu...
Hari-hari kedua pasutri itu kian dekat, walaupun belum ada iming-iming MP nya tetap membuat Ares bahagia. Entah bagaimana cara Ares menahan hasratnya selama ini untuk tidak memangsa sang istri.
Sedikit demi sedikit Lyza mulai berubah, walaupun ia masih tidak melakukan ibadah, namun Lyza selalu curi-curi dengar saat Ares mendengarkan ceramah.
Yap Ares sengaja menyetel keras suara ponselnya saat ia menonton ceramah ulama-ulama besar. Karena Ares tau sang istri pasti setia mendengarkan.
Lyza berniat untuk berubah, mendapati dirinya nyaman dengan kehidupan normal, membuat Lyza tertarik untuk menjalani kehidupan normal bersama sang suami. Apalagi mengingat sang suami adalah seorang ustadz yang banyak di kenal orang.
Lyza sangat ingin melihat saat Ares mengajar di pesantren, namun ia tidak berani meminta untuk ikut. Bukan karena Lyza tidak sudi, namun ia merasa dirinya masih belum pantas untuk bisa ke pesantren, mengingat dirinya yang seorang ketua mafia.
Walaupun Lyza bilang ingin berubah, namun tak segampang itu. Kata-kata kasar kerap kali keluar begitu saja dari mulut tipis nan seksi Lyza.
Malam ini, Ares sibuk seperti biasanya. Dan seperti biasanya juga Lyza tengah menonton tv.
Saat Lyza sedang asik seperti biasanya Tiba-tiba dari arah belakang sofa, datang Sean dengan nafas terburu-buru.
" Nyonya... ".
" Ada apa Sean ". Tanya Lyza tanpa berbalik melihat Sean, ia tetap fokus dengan tv di depannya.
" Nyonya... Gawat, Langga Seperti nya menyerang markas utama. Dan yang lebih buruknya di markas utama saat ini hanya ada orang-orang pemula nyonya ". Jelas Sean panjang lebar.
Lyza Langsung berdiri. " Stupid!! Kemana semua anak buah kita yang professional ". Geram Lyza.
" Maaf Nyonya, sepertinya kami telah di tipu. Anak buah kita semuanya sedang menjalankan misi di ufuk timur dan bahkan ada yang ke liar kota dan negri ". Jawab Sean sedikit gugup.
Brakk...
" Sialan!! ". Menggebrak meja. " Cepat siapkan mobil ". Bangkit berdiri.
" Ta.. tapi nyonya.. Bagaimana dengan pak Ustadz? ". Masih tidak bergerak dari tempatnya.
Lyza sempat terdiam. " Jangan beritahu pak Ustadz, kita Langsung berangkat ". Lyza tidak ingin membuat Ares masuk kedalam dunianya yang berbahaya.
" Baik ". Dengan langkah cepat, Sean pergi menyiapkan mobil, sedangkan Lyza pergi ke kamar untuk mengganti pakainnya.
" Zean kemana? ". Tanya Lyza saat ia sudah masuk kedalam mobil.
" Zean tidak ingin membebani anda bos. Makanya ia pergi sendiri ".
" Bodoh! Kenapa kamu tidak menahannya ".
" Maaf bos, Zean melarang saya Untuk mengatakannya pada anda. Tapi karena menurut saya kondisi sekarang sudah tidak stabil, maka nya saya mengatakannya pada anda ". Jawab Sean sembari melajukan mobil nya.
" Ayo cepat!! ". Titah Lyza dengan nada tinggi. Kembaran macam apa Sean yang meninggalkan kembarannya begitu saja!.
Sedangkan di sisi lain.
Ares yang tengah fokus dengan berkas-berkas di tangan nya, mendengar deru mobil yang datang. " Pasti Sean dan Zean ". Melanjutkan Kembali pekerjaannya.
Tapi belum cukup lama, kembali terdengar deru mobil. " Apa Zean dan Sean sudah pulang? Tidak biasanya ". Biasanya Zean atau pun Sean Memilih mengenap atau pun tinggal sebentar Untuk makan dan menemani Lyza.
Ares menghentikan pekerjaannya, ia merasa ada yang janggal. " Apa jangan -jangan... ". Berdiri dengan cepat dan langsung lari Keluar.
Di lihatnya, di ruang tv tidak ada Lyza disana. TV masih menyala tanpa ada tanda kehidupan yang menonton.
Deg...
Jantung Ares berpacu dengan cepat, Tiba-tiba ada rasa tidak nyaman yang ia rasakan. Ares berlari Keluar menemui satpam.
" Pak.. apa tadi bapak Melihat mobil yang di tumpangi istri ku Keluar? ".
" Iya tuan, tadi mobil yang di tumpangi Nyonya dan tuan Sean baru Keluar ". Jawab seadanya satpam Tersebut.
Ares berlari Kembali masuk kedalam rumahnya. Mengambill kunci mobil dan juga jaket, lalu kembali Keluar mengendarai mobilnya.
" Tuan, anda mau kemana? ".
" Mengejar istriku, Assalamualaikum ". Menancap gas meninggalkan rumahnya.
Satpam yang ikut panik, menelpon Egi dan mengatakan tentang keaadan sekarang.
Sedangkan Lyza dan Sean masih melaju menuju markas utama. Lyza mencoba menelpon salah satu kepercayaanya yang berada di markas utama.
" Maaf bos .... Kami sekarang berada di luar kota Untuk menjalankan misi ". Sahut orang itu dari seberang Telpon.
" Bodoh! Kalian benar-benar bodoh! Bagaimana bisa kalian meninggalkan markas utama kepada para pemula itu! Huh! Kalian masih wajarkan! ". Maki Lyza. Ia Sungguh dibuat kesal sekarang.
" Ma.. maaf bos... Kami mendapatkan perintah dari Arya kalau kami harus menjalankan misi dari luar kota ". Ucap pria itu dengan suara gugup.
" Sialan!!. Tahan Arya, jangan biarkan dia kabur ". Menekankan kata-katanya. Lyza tidak menyangka salah satu kepercayaanya akan mengkhianati dirinya.
Lyza mematikan telepon secara sepihak.
Dor...
" Naikkan gasnya ". Titah Lyza, ia merogoh pistol dibalik jaketnya.
" Tetap pertahankan laju mobilnya ". Ujar Lyza. Ia mengeluarkan sebagian tubuhnya dari jendela.
Lalu..
Dor...
Satu peluru di lancarkan Lyza mengenai tepat di atas kepala supirnya. Salah satu mobil yang mengikutinya ambruk.
" Masuk bos. Ada mobil lain yang menghalangi jalan di depan ". Teriak Sean.
" Shittt!! ". Kembali masuk kedalam mobil. Tidak ada anak buah Lyza yang tinggal, mereka semua pergi menjalankan misi kw yang Bukan di berikan oleh Lyza.
Ckittt...
Sean mengerem mobil.
" Bos, anda diam disini dulu. Biar saya yang Keluar, jika ada apa-apa segeralah pergi dari sini ". Ucap Sean. Sehebat Bagaimana pun Sean, dia tetap lah seorang manusia. Melihat banyaknya musuh yang mengepung mereka membuat Sean tidak yakin apa dia akan Selamat atau tidak.
" Kau meragukan kemampuan ku? ". Dingin Lyza
" Bukan Seperti itu bos, Tapi pikirkan bagaimana perasaan Pak Ustadz jika terjadi apa-apa pada anda? ". Menggunakan embel-embel pak Ustadz, Sean berharap Lyza mendengarkannya. Karena Sean tau dan sadar kalau Ares sudah menjadi spesial di dalam hati sang young Ms.
Dan benar saja, Lyza terdiam. Ia membenarkan perkataan Sean. Apa yang akan terjadi dengan pak Ustadz jika terjadi sesuatu padanya?
" Dan pikirkan juga perasaan Zean jika terjadi hal yang tak di inginkan pada mu, jangan lupa pikirkan bagaimana perasaan adik mu ini jika terjadi sesuatu pada mu ". Lyza membalas tak kalah tajam.
Walau bagaimanapun, Lyza sudah menganggap Zean dan Sean sebagai kakaknya.
Perkataan Lyza menjadi tamparan bagi Sean. Ia senang karena sang young ms menganggap nya sebagai kakak, namun apa dia tidak mungkin membiarkan Lyza turun dan menghadapi bahaya.
" Tidak apa-apa bos. Kalau misalkan terjadi sesuatu padaku, Zean masih ada untuk anda ". Ucap Sean yakin. " Tapi tenang saja, saya pasti bisa menghadapi keadaan ini ". 'semoga'.
" Bodoh!! Kamu bukan Zean, sih kulkas berjalan. Sean hargai nyawa mu! ". Bentak Lyza.
" Maaf nyonya, tapi kalo terjadi sesuatu pada anda, saya tidak sanggup memperlihatkan diri saya ke dunia ini ". Sean mengatakan dengan wajah memelas. Ekspresi yang baru pertama kali Lyza lihat.
Lyza terdiam, dan diamnya Lyza membuat Sean mengambil kesempatan. Dengan segera Sean membuka pintu mobil lalu mengambil pistol di balik jaketnya. Dengan hati-hati Sean melangkah.
Dilihat nya di depan ada beberapa mobil yang mengepung mereka. Ada banyak pria yang asing bagi Seana. Dan Sean yakin mereka adalah anak buah dari adik tiri sang young ms.
Di antara orang-orang yang mengepung mereka, Sean tertarik dengan seorang pria yang terlihat berbeda. Dia yakin bahwa pria tampan di depannya itu adalah adik tiri sang young ms, Langga.
Sean memang belum pernah bertemu langsung dengan Langga, namun dengan melihat matanya saja sudah bisa di tebak bahwa dia adalah adik tiri Lyza. Mata Langga memang mirip dengan Lyza, yang turun dari sang ayah. Namun mata Lyza lebih tajam di banding dengan mata Langga.
Sean sekarang berada di depan mobilnya.
Langga tersenyum melihat ke depan. " Lama tidak berjumpa kakak ". Sapa Langga tersenyum manis.
Sean terkejut saat Lyza mendorong Sean kebelakang.
" Bos.. ".
Lyza mengangkat sebelah tangannya tanpa melihat Sean pertanda agar Sean diam.
" Hmm ada apa kak? ". Langga bertanya dengan suara mengejek.
Lyza mengambil nafasnya dalam. " Lang... " Lirih Lyza. " Lama tidak berjumpa Lang.. ". Tersenyum, dan membalas perkataan Lyza.
Membuat Langga terdiam sesaat. Senyuman Lyza tidak berubah dari dulu saat kecil, ia sempat terhanyut namun saat mengingat hal yang pernah di lakukan Lyza padanya dulu, membuat Langga malah semakin benci saat melihat senyuman Lyza.
Langga tersenyum sinis. " Kamu masih bisa tersenyum di saat keadaan seperti ini? ". Apa dia tidak berfikir jika sekarang Langga lah yang berkuasa disini.
" Apa maksudmu, bukannya kamu pria kecil, manis nan lugu ku ". Mencoba untuk santai.
Wajah Langga memerah, memendam amarah. " Tck, pria kecil lugu mus sudah tidak ada. Sejak 16 tahun lalu ". Ujar Langga dingin
Bagai tersambar petir, Lyza meringis mendengarnya. Ia menyesal, Lyza ingin memperbaiki hubungan nya dengan sang adik, walaupun berbeda ibu, tapi tetap mereka jadi dari kecebong ayah yang sama.
" Maaf... Maafkan kakak mu yang tidak berguna ini ". Suara Lyza bergetar, ia tersenyum getir. Apalagi saat mengingat wajah polos sang adik 16 tahun lalu.
" Bos... ". Sean tak tega melihat sang young ms seperti itu. Ia sempat terkejut saat mendengar Lyza meminta maaf, tapi saat mengingat suami Lyza adalah seorang ustadz membuat keterkejutan Sean sedikit berkurang.
Tak hanya Sean. Langga juga ikut Terkejut saat mendengar perkataan Lyza. Bukannya sang kakak nya sudah sombong? Dan tidak menganggap nya lagi? Pikir Langga.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️