
Ibu memeluk Lyza dengan air mata yang membasahi wajahnya. Sungguh dirinya sangat terharu melihat perubahan yang dialami sang menantu.
Masih teringat jelas bagaimana sifat Lyza saat pertama kali mereka bertemu. Walaupun waktu itu Lyza tidak berbicara kasar ataupun memperlakukan mereka secara kasar, namun dari tatapan matanya saja sudah di ketahui betapa dingin dan cuek nya Lyza.
" Ada apa bu? ". Kedua kening Lyza terangkat. Ia melihat Ara dan ayah yang hanya tersenyum. Lyza memberikan kode 'ada apa ' namun hanya di balas dengan senyuman.
Ibu melerai pelukannya. " Kamu sangat cantik nak... ". Membelai pipi Lyza.
Lyza sedikit merona mendengarnya. " Hehe terima kasih bu ".
" Sejak kapan kak Lyza menggunakan hijab? ".
" Sekitar lima hari yang lalu. Aku hanya ingin menjadi istri yang baik untuk pak ustadz ". Melirik Ares yang masih tertidur di atas kasur.
" Alhamdulillah... Pasti Ares senang mendengarnya ". Timpal ayah. Ayah merasa Ares sangat beruntung mendapatkan Lyza, tidak hanya cantik namun juga punya tekad untuk berubah.
" Baiklah... Ayo ibu, ayah, Ara kita duduk ". Mempersilahkan keluarga sang suami untuk duduk di sofa yang tersedia disana.
Mereka berbincang-bincang dengan hangat. Dan berharap agar Ares cepat siuman dan berkumpul bersama mereka.
Sedangkan Egi yang di anggap keluarga juga, tengah berada di kantor untuk menjalankan tugas nya. Apalagi selama Ares koma dan tidak masuk kantor, tumpukan berkas siap menyambut Egi mengganti 'kan, Ares.
" Oh yah Ara ... Kalau tidak salah Zean mengajar di kampus mu 'kan? ".
Melepas cadarnya. Ara sudah tidak canggung lagi di depan Lyza, walaupun sebenarnya ia memang tidak pernah canggung. " Iya, memang nya kenapa kak? ".
" Apa kamu ada melihat Zean dekat dengan seorang wanita? Atau mungkin yang lebih dekat dari wanita-wanita lainnya?, Ada tidak? ".
Ara sedikit berfikir. " Entahlah... Aku juga kurang tau ".
" Begitu yah? Apa mungkin bukan mahasiswi yah ". Gumam Lyza, namun masih bisa terdengar.
" Memangnya ada apa dengan Zean? ". Ayah membuka suara
" Ah iya! Apa ayah tau kalau Zean sudah jadi mualaf? ".
" Apa?!! ". Ketiga orang itu nampak terkejut. " Benarkah? ". Lanjut mereka.
Dari reaksi ketiga orang itu, dapat di tarik satu kesimpulan bahwa mereka tidak tau kalau Zean sudah jadi mualaf. " Hmm iya... Aku juga baru-baru tau akhir-akhir ini, ia selalu menjawab salam ku. Saat ku tanya kenapa dia jadi mualaf. Katanya Zean ingin menjadi peribadi yang lebih baik demi seorang wanita ". Jelas Lyza.
Deg ....
Entah mengapa ada rasa tak rela di hati Ara mendengarnya. Ara langsung menggeleng pelan.
" A.. apa itu demi kekasih nya kak? ".
" Sepertinya belum. Zean masih berusaha ". Melirik melihat Ara yang entah mengapa wajahnya tiba-tiba berubah. " Apa kamu ada tau sesuatu Ara? ". Semua orang disitu beralih melihat Ara yang tadi hanya menunduk.
" Ah.. hmm ti.. tidak.. Ara tidak tau apa-apa ". Sangkalnya.
Sebenarnya Lyza sedikit curiga, namun ia mencoba untuk tidak memperlihatkan kecurigaan nya. Bukan hanya Lyza, namun ibu dan ayah juga curiga dengan perubahan raut wajah Ara saat Lyza mengatakan tentang wanita yang disukai Zean.
" Tapi kalau kamu tau sesuatu katakan pada ku yah. Aku hanya khawatir pada Zean. Kamu tau kan kalau Zean tidak berpengalaman dalam hal percintaan. Dia juga orang yang sangat dingin ".
'dia tidak bercermin'. Batin ketiga orang itu. Mereka menatap Lyza malas dengan perkataan Lyza. Padahal 'kan, Lyza juga tidak berpengalaman dalam hal percintaan.
Ara tersenyum. " Iya ". Sembari mengangguk.
Setelah beberapa saat...
Saatnya ketiga orang itu untuk pulang. Namun sebelum itu, mereka lebih dulu menghampiri Ares yang masih sedia tidur di atas kasur. Egi juga sudah tiba disana untuk menjemput ketiga orang itu
Ibu memegang tangan Ares. " Nak... Cepat bangun, istri mu menunggu mu. Kami juga menunggu mu disini ". Tatapan ibu berubah sendu.
" Iya bang.... Kami semua merindukan mu ".
" Iya Res, cepatlah sadar ". Ayah menyahuti
" Benar tuh ". Timpal Egi. Namun tak ada tanda-tanda akan kesadaran Ares, padahal Lyza berharap setidaknya Ares merespon jika keluarga nya yang datang menyemangati, namun sayang semuanya nihil.
Ayah dan Egi saling pandang. Mereka memberi kode lewat mata. 'sepertinya tidak ada cara lain'. Batin kedua orang itu. Lalu mereka mengangguk, Lyza yang melihat nya menjadi penasaran namun ia tidak bertanya.
" Haisss seperti nya Ares tidak merespon lagi. Pasti berat yah Lyza menunggu Ares ". Kata Ayah melihat Lyza dengan wajah memprihatinkan.
" Ah... Ti..__ ".
" Sudah tidak perlu mengatakan apapun. Kami tau kamu pasti resah ". Egi menimpali. Ia juga memberikan tatapan resah.
Lyza jadi bingung sendiri. Padahal ia sama sekali tidak lelah menunggu kesadaran Ares. Ibu dan Ara yang melihatnya hanya saling pandang dan mengangkat kedua bahunya.
" A..__ ".
" Bagaimana kalau kamu menikah lagi Lyza. Ayah punya banyak kenalan ustadz yang masih muda dan tampan ".
" Kalau kamu tidak ingin menikah dengan ustadz, aku punya banyak kenalan relasi bisnis yang masih muda dan tampan juga ". Egi menimpali
" A...___ ".
" Sudahlah Lyza nanti kami akan mencarikan yang terbaik untuk mu. Jangan berharap pada yang tak pasti. Apalagi Ares sepertinya ia sudah haiss... ". Wajah Ayah benar-benar frustasi. Ia menepuk bahu Lyza seolah-olah menyemangati nya, padahal Lyza sudah kalang kabut. Ia tidak ingin menikah lagi, walaupun harus menunggu sepuluh sampai berapa puluh tahun pun ia sanggup.
" E... Enak sa.. ja... A.. aku masih punya harapan ". Suara lemah terbata-bata itu membuat semua orang disitu beralih melihat nya.
Mereka semua tidak menyangka Ares akan siuman mendengar perkataan ayah dan juga Egi. Sedangkan Lyza mematung tak percaya, namun dalam hatinya ia sungguh senang. Tapi ada kekhwatiran yang tiba-tiba melanda.
Dokter muda nan tampan itu pun memeriksa Ares setelah di panggil oleh Egi. Setelah memeriksa Ares, ia tersenyum. " Alhamdulillah..... Kondisi tuan muda sudah lumayan membaik. Tinggal menunggu waktu pemulihanya ". Ujar sang dokter
" Alhamdulillah.... Terima kasih dok ". Ucap ayah.
Setelah memeriksa Ares, dokter yang entah siapa namanya yang pasti dia muda dan tampan, pergi dari ruangan itu.
Ibu langsung memeluk Ares di ikuti dengan Ara. " Alhamdulillah.... Kamu sudah sadar nak ". Tak terasa air mata ibu mengalir.
Ares tersenyum, kini ia duduk dengan menyandarkan tubuhnya. " Iya bu, Alhamdulillah.... ". Ucap Ares, mengapus air mata sang ibu
" Hahhaha akhirnya sadar juga kamu Res ".
" Iya benar, hampir saja tadi ayah nikahkan kembali Lyza ". Menimpali perkataan Egi.
" Jangan mengatakan hal-hal yang aneh! ". Ketusnya, Ares tak rela mendengar perkataan sang ayah, ia celingak-celingukan mencari sesuatu.
" Ada apa Res? ".
" Istri ku ".
Mereka yang ada disitu sadar, dan mengikuti Ares yang juga celingak-celingukan sampai akhirnya Lyza membuka suara.
" Hmm pak.. ustadz... ". Kekhawatiran Lyza kian membesar, bagaimana jika sang suami membencinya? Ah... Entah apa yang akan di lakukan Lyza.
Sontak kelima orang itu menoleh kearah Lyza yang tengah berdiri di ambang pintu.
" Lyza... ". Lirih Ares. Matanya berkaca-kaca saat melihat sang istri. Apalagi penampilan Lyza yang di luar dugaan.
Dengan ragu, Lyza membawa kakinya mendekati Ares. Matanya juga berkaca-kaca menahan air mata agar tak tumpah.
Ayah, ibu, Egi, dan Ara yang melihat interaksi kedua orang itu tersenyum dan keluar dari ruangan itu untuk memberi waktu berdua kepada pasangan suami istri yang pasti tengah dilanda kerinduan yang mendalam.
Saat tepat berada di samping Ares. Lyza menunduk, ia tidak berani menatap mata Ares. Mata yang sangat ia rindukan hampir sebulan ini. Sampai tangan Ares terulur memegang pipi Lyza dengan lembut.
" Ada apa hmm? ". Tanya Ares lembut.
Lyza yang di perlakukan seperti itu, tak bisa menahan air matanya keluar. " Hiks... Hiks.. huaaa... Alhamdulillah... Pak ustadz.. hiks.. sudah siuman hiks... ". Mengapus air matanya yang turun ke pipi seperti anak kecil.
Ares juga tidak bisa menahan air matanya untuk turun. Namun cepat-cepat dia mengapus nya agar tak dilihat oleh sang istri.
Cup.. cup.. cup.. Mengecup kepala Lyza yang tertutupi hujab. " Sudah jangan menangis lagi ". Mengelus-elus kepala Lyza.
Lyza mendongak melihat Ares. " Maafkan aku.. karena aku.. ka.. kamu harus..___ ". Perkataan Lyza terhenti saat Ares menaruh telunjuknya di depan bibir Lyza.
" Husstt jangan meminta maaf lagi. Sudah seharusnya aku melindungi mu sebagai istriku, okey ".
Lyza semakin terharu mendengar penuturan Ares. Hingga tak sadar ia memeluk Ares. " Terima kasih ".
Ares Terkekeh " tidak perlu berterima kasih. Tapi kamu sangat cantik memakai hijab begini ". Mengelus hijab Lyza.
Lyza melerai pelukannya. " Benarkah? ". Ares mengangguk. Ia gemas melihat wajah Lyza yang berbinar. " Sebenarnya.. ustadzah Humairah yang mengajarkan aku memakai hijab ". Memilin-milin ujung hijab nya.
'Irah? Terima kasih Irah. Kamu memang bisa di andalkan'. Beberapa hari sebelum Ares mengalami kecelakaan, ia sempat mampir ke toko buku kepunyaan Raka. Ia memberikan amanah untuk kedua orang itu, Raka dan juga Humairah. Agar membimbing sang istri jika terjadi sesuatu pada nya.
Dan karena itulah Saat Lyza singgah ke toko buku tersebut, Humairah datang menawarkan Lyza untuk belajar. Ares juga lah yang mengatakan kalau Lyza itu polos dan suka belajar hal baru. Ia juga mengatakan kalau Lyza sangat jenius. Dan itu memang benar adanya.
" Alhamdulillah... Kalau begini 'kan, cantik dilihatnya ". Mengelus pipi Ares.
" Hmm aku memang cantik ". Wajah angkuh Lyza memang sudah menempel pada dirinya. Ares terkekeh melihat Lyza, memang tidak gampang merubah seseorang. Karena tak ada yang instan di dunia ini. Kecuali mie instan:v
Wajah Lyza berubah sendu. " Apa kamu tidak membenciku? ". Tanyanya ragu-ragu
" Sudah aku katakan, aku tidak akan pernah 'bisa' membencimu ". Katanya dan di barengi dengan perkataan dalam hati.
Lyza menatap mata Ares lekat. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk mengatakan hal ini. Sudah beberapa hari yang lalu ia memikirkan nya, dan kali ini adalah kesempatan buat Lyza. Ia sudah siap menerima konsekuensi semuanya.
Lyza naik ke atas ranjang Ares dan duduk di sebelahnya. Ia mengambil nafas lalu menghembuskan nya perlahan. Ares sedikit bingung dengan tingkah Lyza, namun ingin Melihat apa yang akan dilakukan sang istri.
Lyza menatap lekat mata Ares. " Pak ustadz... Tidak! Ares Aku bukanlah orang puitis, tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan pada mu ". Ucap Lyza dengan wajah serius. Dan Ares juga menatap nya tak kalah serius. Ada apa gerangan dengan sang istri?
Lyza kembali menghirup udara dan menghembuskan nya perlahan. " Mungkin dibandingkan dengan orang lain, aku kurang bisa berekspresi, tapi aku sudah banyak berubah dan kedepannya pun akan semakin berubah, karena kau telah memperbaiki aku ". Ucapan Lyza membuat Ares tersenyum. Namun ia masih tidak ingin buka suara, sebelum Lyza mengatakan semuanya.
" Kalau mengingat mu, rasanya sakit... Lengkap, lucu, menakutkan, sesak.... ". Menjeda Kalimatnya, ia menatap sendu Ares dan tersenyum sembari melanjutkan perkataannya. " Tapi juga bahagia tanpa henti ". Kembali menatap Ares dan memegang pipinya. Lyza tersenyum hangat, ia melepas tangannya di pipi Ares.
" Kalau ini perasaan suka, aku sudah menyukai mu sejak lama sekali.. ". Ucap Lyza dan langsung menunduk. Ia terlalu malu untuk sekedar melihat reaksi yang akan di berikan Ares.
.
.
TBC
Untuk teman-teman, aku benar-benar minta maaf soalnya lama banget baru bisa update. Kesibukanku terlalu mendominasi dalam kehidupan ku😢. In Syaa Allah aku mencoba untuk update setiap hari. Karena itu komennya dong.. biar bisa jadi suplemen buat othor. Kemarin ajah ada yang komen, aku langsung semangat. Makanya komen dan jangan lupa like nya juga ✌️.
Dan terimakasih juga buat kak Indah Dwi yuli atas komentarnya kemarin. behhh aku langsung semangat nulis pas baca komentar kakak kemarin. Sama kak Anasih 11 yang juga selalu komen, setiap komen mu aku tunggu! Ralat maksud aku setiap komen kalian yang baca aku tunggu. Jaga-jaga buat suplemen 🤣.
Sekali lagi Terimakasih untuk kalian semua😘