
Ares menggenggam tangan Lyza untuk naik ke atas kamar. Dan hebatnya, Lyza sama sekali tidak keberatan. Nampak ia biasa saja.
Ting..
Lift terbuka, Ares kembali menarik Lyza.
" Pak ustadz tangan mu berkeringat! Apa kau tidak apa-apa? ".
" Ah.. hmm aku tidak apa-apa. Tidak perlu di pikirkan ". Gugup Ares
" Hahah kau gugup pak ustadz! Apa karena kau menggandeng tangan seorang wanita cantik seperti ku hmm? ". Menaikkan sebelah alisnya. Kali ini Lyza berniat balas dendam
" Ehem.. siapa yang gugup. Aku tidak gugup, berhentilah berpikiran seperti itu ". Mencoba menetralisir perasaannya. Bagaimana Ares tidak gugup, ini pertama kalinya ia menggandeng tangan seorang wanita kecuali Ara dan juga sang ibu.
" Hahahaha aku yakin kau gugup ". Mencolek pipi Ares. Lyza tambah semangat menggoda Ares.
" Astaghfirullah... Lyza... ". Terlonjak, sembari memegang pipi yang di colek Lyza
Lyza semakin mengeraskan tawanya. Sungguh jika di lihat, kedua pasutri itu adalah pasangan yang saling mencintai. Namun sayang, khayalan memang tinggal khayalan, hal itu bukanlah yang sebenarnya.
Sedangkan yang di bawah.
Zean duduk di samping Sean, ia tetap tidak enak hati jika harus duduk seperti ini bersama sang majikan, atau mungkin keluarga baru majikannya?
" Ibu sama ayah masuk kamar dulu yah, capek mau istirahat ". Berdiri, lalu menggandeng tangan suaminya.
" Kalian ngobrol-ngobrol saja. Kami pergi dulu ". Timpal ayah, mereka semua hanya mengangguk.
" AssAssalamu'alaikum ".
" Wa'alaikum salam ". Jawab Egi dan Ara. Sedangkan Zean dan Sean lagi-lagi hanya mengangguk.
Kini tinggallah mereka ber-empat, karena merasa canggung. Ara memilih untuk pergi namun langkahnya terurung karena suara Sean.
" Ada apa akhy? ". Kembali duduk di tempatnya
" Kamu belum mengatakan jawaban dari pertanyaan ku sebelum nya ". Ujar Sean. Nampak Ara berfikir sejenak.
" Ah iya benar juga. Apakah itu harus akhy? ".
" Yah iyalah... Aku sangat penasaran, dan tolong hentikan panggilan akhy nya. Panggil nama saja boleh kan ". Rasanya risih mendengar panggilan asing di telinga Sean.
Ara tersenyum dari balik cadar nya. " Baiklah bang ".
" Nah itu bagus. Ayo katakan jawaban nya ". Sean sungguh tak sabar
" Memang pertanyaan nya apa? ". Egi yang sedari tadi hanya diam akhirnya angkat bicara.
" Biar Ara jawab dulu yah. Jadi bang Sean coba bayangkan misalkan abang punya dua permen. Yang satu masih terbungkus sedangkan yang satunya sudah tidak terbungkus...___ ".
" Kenapa malah jadi bahas permen? ".
" Ck bisa kah kau diam Sean! Biarkan Ara melanjutkan perkataannya! ". Seru Zean yang tak suka jika apa yang di fokuskan menjadi buyar.
" Heheh lanjut Ra ".
Ara tersenyum lalu melanjutkan perkataannya. " Abang punya dua permen. Yang satu masih terbungkus sedangkan yang satunya sudah tidak terbungkus, nah Kedua permen Abang jatuh ke tanah. pertanyaannya abang pilih yang masih terbungkus atau yang sudah tidak terbungkus? ".
" Yah tentu yang masih terbungkus lah. Itukan masih bersih, sedangkan yang sudah tak terbungkus sudah kotor ".
" Nah itulah alasan di balik pakaian yang Ara gunakan sekarang bang ". Tutur Ara " apa sekarang abang sudah ngerti? ".
Zean yang mengerti membenarkan perkataan Ara. Ia sedikit terkejut dengan penuturan Ara, sungguh tak pernah ia bayangkan permisalan tersebut. Sedangkan Sean ia masih nampak bingung.
" Hmmm aku kurang mengerti, bisakah kau jelaskan tanpa harus berbelit-belit ".
" Jadi gini. Wanita diluar sana yang pakaiannya kurang bahan, sama dengan permen yang kotor itu. Sedangkan wanita yang memang pakaiannya tertutup sama dengan permen yang masih terbungkus. Artinya wanita yang pakaiannya kurang bahan, sudah kotor dan tak istimewa lagi. Semua aset berharga nya sudah terpampang jelas ". Kali ini Egi yang menjelaskan, ia bisa langsung menangkap arah pembicaraan.
" Yah seperti itulah bang ".
Sean nampak manggut-manggut. 'benar juga yah'.
Sedangkan di sisi lain.
" Aku masuk kamar mandi dulu ". Ujar Ares dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Ia masih gugup dengan kejadian tadi.
Lyza Terkekeh melihat sang suami gugup seperti itu. " Akhirnya aku tau kelemahan nya ". Entah sudah berapa kali hari ini Lyza tersenyum senang. Beda dengan hari-hari sebelum bertemu dengan Ares.
Lyza memilih untuk duduk di sofa, ia membuka ponselnya. Seharian ini ponselnya benar-benar ia sisihkan dan tak ada waktu untuk membukanya.
Tak berselang lama, kelurlah Ares dari kamar mandi sontak Lyza menoleh. Ia melongo. Apa benar orang yang ada di depannya ini seorang ustadz? Bukannya terlalu cool untuk seorang ustadz?.
Ares hanya memakai jubah mandi berwarna nafy, namun masih memperlihatkan dada yang mempunyai roti sobek. Di tambah dengan kepalanya yang masih basah dan terlihat tetesan yang terus keluar membuatnya semakin cool.
" Ada apa? Apa kamu tidak ingin mandi? ". Suara Ares membuat Lyza kembali ke real life. Ah.. mendengar suaranya saja membuat siapapun jadi ingin salto.
" Ah.. iya.. aku ingin mandi ". Menyambar handuk yang ada di sofa dan berlari kedalam kamar mandi.
" Ada apa dengan nya? Apa aku berbuat salah? ". Masih belum mengerti Dengan tingkah sang istri. Tak ingin ambil pusing Ares bergegas ke walk in closet untuk menggunakan pakaian. Hari sudah mulai gelap ia ingin ke masjid untuk sholat Maghrib.
Setelah menggunakan baju kokoh disertai dengan peci, Ares mendekat ke arah pintu kamar mandi yang masih belum ada tanda-tanda terbuka.
Tok.. tok.. tok..
" Aku mau ke masjid untuk sholat Maghrib. Kalau kamu lapar aku sudah siapkan di meja. Jangan sungkan langsung makan saja ". Dari dalam kamar mandi terdengar sahutan ber- hmmm yang terdengar.
" Aku pergi yah Assalamualaikum ". Tak ada sahutan Dari dalam. Ares pun pergi dari kamarnya untuk segera ke masjid.
Ia celingak-celingukan mencari Ares. " Ah.. sepertinya tadi dia bilang mau pergi ke masjid yah ". Dengan santainya Lyza berjalan ke arah walk in closet. Ia membuka salah satu lemari.
" Woww... Siapa sangka ada begitu banyak pakaian wanita disini ". Mengambil salah satu piyama panjang yang selutut berlengan pendek. Tanpa pikir panjang, Lyza memakainya.
" Hebat! Ini pas di tubuhku ". Memutar-mutar badannya di depan cermin.
Setelah puas, ia kembali ke sofa dan mengambil ponselnya. Di atas nakas terlihat ada makanan. " Apa ini makanan yang dk katakan pak ustadz tadi yah? ". Sama sekali tidak ada niatan untuk memakannya. Lyza kembali fokus ke ponsel.
Ceklek...
Refleks Lyza menoleh, rupanya suaminya yang pulang. " Assalamu'alaikum ". Salam Ares. Ia menampilkan senyuman manis di bibirnya untuk menutupi kecanggungan nya. Sungguh melihat sang istri memakai pakaian terusan sebatas lutut membuatnya ketar ketir.
Lyza berdiri. " Kenapa lama sekali? ".
" Balas dulu salam ku ".
" Hah? Memangnya apa yang harus ku katakan? ".
Ares geleng-geleng kepala. " Cari di dalam ponsel mu ". Pergi begitu saja ke dalam walk in closet Untuk mengganti bajunya.
Lyza dibuat bingung, dia mengambil ponselnya dan mulai men-share kata-kata yang harus di katakan jika seorang muslim memberi salam ke pada muslim lain. Benar, Lyza nampak bodoh dengan apa yang akan ia cari tahu, bahkan mungkin ponselnya ikut tertawa melihat kepolosan Lyza.
" Oh.. ". Lyza berlari dan masuk kedalam walk in closet.
" Astaghfirullah... Lyza apa yang kamu lakukan?! ". Untung Ares sudah mengganti celananya, walaupun piyama yang ia gunakan belum terkancing, dan memperlihatkan perut sixpack nya. Uhhh sungguh menggoda.
Glek..
Lyza menelan salivahnya. Dia hanya terpukau dengan roti sobek di depannya, belum pernah ia melihat roti sobek se seksi itu.
" Hei.. kamu kenapa ? ". Mendekati Lyza tanpa mengancing piyama yang ia gunakan.
" Ah! Heheh coba katakan salam mu lagi ".
" Salam? Untuk apa? ".
" Ayolah katakan saja ".
" Baiklah.. Assalamu'alaikum ".
" Ehem... Wa... " Lyza Melihat kembali ponselnya. " Wa'alaikum salam ". Jawabnya sembari melihat ponsel. Walaupun sedikit terbata, tak bisa mengalahkan kesombongan Lyza. Ia tersenyum kemenangan Melihat Ares.
Sedangkan yang di lihat terkekeh. Apa Istri nya rela masuk kedalam ruang ganti hanya untuk mengatakan itu? Manis bukan?. Pikir Ares.
" Hanya itu? ". Menaikkan sebelah alisnya
" Memangnya apa lagi? ".
" Yakin? Bukannya kamu sengaja melakukan nya hanya untuk bisa melihat badanku yang setengah telanjang bukan? ". Goda Ares. Ia mengerti kenapa Lyza selalu bengong saat melihat nya. Rupanya sang istri tertarik dengan tubuh atletisnya.
" A.. apa.. heh! Kenapa aku harus tertarik, aku sudah biasa melihat yang seperti itu ". Bersedekap dada, memperlihatkan bahwa ia tidak tergoda. Padahal dalam hatinya sangat ingin menyentuh roti sobek itu.
" Benarkah? ". Maju mendekat ke arah Lyza, sedangkan yang di dekati mencoba untuk bertahan di tempatnya. Tidak ingin di anggap lemah.
" I... Iya ". Mengalihkan pandangannya. Ares sudah ada tepat di hadapannya sangat dekat dengannya.
" Mi... Minggir.. ". Ingin pergi dari situ, namun lengan kekar Ares menahan pinggang Lyza dan menempelkan pada tubuhnya.
" Hei.. apa yang kau!!! ".
" Hmm memangnya kenapa? Bukannya kita sudah suami istri ".
Kali ini sepertinya Ares kembali menang dalam menggoda Lyza. Oh... Tidak semudah itu everybody. Lyza mengalungkan tangannya ke leher Ares.
'kali ini aku tidak akan kalah'. Tersenyum manis.
Sungguh pemandangan yang sangat indah di mata, mereka berdua sudah tidak punya jarak sama sekali.
Glek...
Niat Ares yang hanya ingin menggoda sang istri malah berbalik mengenainya. Ia tak tahan melihat mata sang istri, sangat menantang.
Lyza membelai dada Ares menggunakan sebelah tangannya, sedangkan tangan yang lainnya masih bertengger di leher Ares.
" Hei.. kau ".
" Apa? Bukannya kita suami istri? ". Mengembalikan kata-kata yang sempat di katakan oleh Ares. Tangan Lyza semakin turun ke perut Ares. Dengan cepat Ares memegang tangan Lyza yang ingin turun sampai ke bawah, sedangkan tangan yang satunya masih ada di pinggang Lyza.
" Lyza... Jangan lakukan itu lagi, aku tidak akan jamin apa yang akan aku lakukan ". Ares tak ingin melakukan hal lebih sebelum Lyza benar-benar sembuh dari cari lubang nya.
Lyza Terkekeh. Ia melepas tangan Ares dan kembali menaruhnya di leher Ares. Tanpa ba bi bu, Lyza mencium bibir Ares.
Membuat bola mata Ares membulat sempurna. Ia tidak percaya Lyza akan menciumnya, ini pertama kalinya bagi Ares berciuman seperti ini. Namun lain halnya dengan Lyza yang sudah sering berciuman, namun dengan sesama wanita.
Lyza melumaat kecil bibir Ares. Ares yang tak ingin kalah dan sudah terbawa suasana, membalas lumataan Lyza. Dengan insting seorang pria, Ares menarik tengkuk Lyza untuk memperdalam ciumannya.
Tak ingin berhenti, kedua orang itu benar-benar tak ingin berhenti. Entahlah mereka seperti baru pertama kali berciuman, bagi Ares sih iya. Namun bagi Lyza ini bukan pertama kalinya, tapi entah mengapa ini seperti pertama kalinya.
Rasaya sangat berbeda saat dia berciuman dengan wanita malam yang biasa ia gunakan. Bibir Ares yang tipis, lembut namun tegas dan sedikit keras membuat Lyza mabuk kepayang hanya karena ciuman ini.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya