
Hai guys.😊 Othor disini pengen nanya nih. Menurut kalian cerita nya Lyza sama Ares, alurnya gak kecepatan gak sih? Soalnya kok aku ngerasa kecepatan yah😣
Atau yang kaya gini emang bagus? Mohon pendapat kalian🙏 lebih bagus di perlambat lagi gak sih🤔
note: tembus 2000 kata lagi😆
Happy reading 😘
Ares kembali di sibukkan dengan pekerjaannya di kantor.
" Bos ini rekap uang yang keluar bulan ini." Ucap Egi yang kini duduk tepat di hadapan Ares.
Ares yang memang sedang menunggu hal ini pun menerima laporan itu. Ia kemudian membuka dan memeriksanya. " Hmm sepertinya semuanya aman." Gumam Ares dan meletakkan berkas itu di meja
" Oh yah Gi. Tolong kau cari tempat strategis yang cocok untuk di bangun sebuah warung kecil-kecilan." Ucap Ares. Ia mengingat kembali perkataan sang istri kemarin
" Warung? Kamu tidak sedang bangkrut loh." Ucap Egi heran dengan sang bos. Padahal uang nya sudah sangat banyak untuk apalagi membuka warung. Apalagi yang kecil, kalau pun ingin berbisnis bukannya lebih bagus jika membuat restoran yang lebih besar.
" Sebenarnya bukan untukku, tapi untuk Lyza. Katanya dia ingin membuka warung kecil-kecilan, entahlah aku juga kurang tau maksudnya untuk apa. Mungkin karena dia memang bosan di rumah terus." Ares juga tidak mau terlalu bertanya lebih, ia tidak ingin sampai sang istri tersinggung.
" Apa nyonya ingin membuat acara prank yang mirip di tv-tv yah. Selamat anda kena prank. Coba lihat disana ada kamera, nah karena anda beruntung hari ini, maka saya akan memberikan makanan dengan cuma-cuma. Seperti itu?." Ucapnya dengan menirukan host yang biasa muncul di tv dengan semangat membara
Area Terkekeh sembari geleng-geleng kepala. " Kamu kira Lyza itu siapa! Dia tidak akan Melakukan hal itu."
" Hehehe iya juga yah. Tapi baiklah aku akan mencarikan tempat yang bagus."
" Oh soal itu. Lyza ingin tempat yang ramai orang, tapi bukan untuk kalangan atas namun untuk kalangan menengah sampai ke bawah. Katanya lebih bagus lagi jika di dekat sekolah atau universitas, dan harus yang tidak ada pedagang kaki lima yang menjual."
" Hah? Kamu yakin nyonya benar-benar tidak ingin membuat prank? Haisss aku harus cari dimana lokasi seperti itu." Ia membayangkan tempat-tempat yang pernah ia datangi. Sekolah dan universitas memang banyak, namun untuk pedagang kaki lima nya? Tentu pasti ada di setiap gerbang sekolah bukan.
" Yah pokoknya semangat!." Seru Ares.
Hari ini Ares pulang lebih cepat dari biasanya, sesuai janji ia ingin mengajak Lyza ke pesantren.
.........
Sedangkan Lyza dan juga Fatih telah bersiap, mereka hanya tinggal menunggu Ares pulang dari kantor.
Tak lama kemudian sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Lyza dan Fatih yang saat itu memang berada di luar menunggu Ares pulang langsung berdiri.
" Lihat Gi. Enak 'kan punya istri sama anak. Pulang kerja capek-capek, eh! Lelahnya hilang lihat istri sama anak, makanya kamu juga harus menikah." Ucap Ares memberikan nasehat. Entah sudah yang keberapa kali ia mengatakan nya
" Iya.. iya... Aku pulang dulu." Lelah sendiri mendengar perkataan sang bos
" Kamu tidak mampir dulu?."
" Lain kali saja, aku ada urusan setelah ini."
" Baiklah, aku turun kalau begitu. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikum salam." Setelahnya Ares pun turun dari mobil dan langsung di sambut dengan hangat oleh istri dan anaknya. Ah.. rasa yang tak akan pernah membuat Ares bosan
" Wah... Kalian sudah siap saja nih."
" Iya dong. Cepat abi kami sudah tidak sabal." Seru Fatih bersemangat
" Iya benar by, cepat." Timpal Lyza
Ares hanya terkekeh dan bergegas membersihkan tubuhnya.
.........
Ketiganya telah sampai di pesantren Jabal-nur, tempat Fatih belajar mengaji dan tempat Ares mengajar.
" Ayo kita masuk." Menarik tangan sang istri, sedangkan Fatih di gendong Ares
Lyza tersenyum dan menurut saat tangan nya di gandeng. " Banyak pohon." Gumam Lyza. Do pesantren An-Nur dulu memang banyak pohon namun tidak sebanyak di tempat ini.
" Itu sengaja, biar pemandangan lebih asri. Oksigennya juga lebih alami." Ucap Ares yang masih bisa mendengar gumaman Lyza
Lyza manggut-manggut. Sampai akhirnya suara adzan di masjid terdengar. Ares dan Fatih segera ke masjid untuk melaksanakan sholat Maghrib.
" Tidak apa-apa kamu, kami tinggal?." Ia khawatir pada istrinya yang masih belum mengenal siapapun di pesantren ini. Apalagi mereka juga baru tiba, dan Lyza sedang datang bulan
" Tidak apa-apa by. Aku bisa duduk di sana dulu." Menunjuk sebuah pondok-pondok kecil
" Baiklah, nanti kami segera datang setelah selesai sholat." Ujar Ares. Lyza mengangguk. Setelah salam, keduanya pun pergi dari sana, sedangkan Lyza sesuai perkataan nya tadi ia duduk di sebuah pondok kecil yang di sebelah nya ada sebuah pohon mangga yang lumayan besar.
Ia menunggu disana sembari membaca buku tentang agama Islam. Mau mengaji, tapi ia tidak bisa memegang Al-Qur'an. Jadi yah mending baca buku.
Sudah lama Lyza menunggu tapi suami dan juga anak nya belum datang, akhirnya Lyza memutuskan untuk berkeliling sebentar melihat-lihat pesantren ini.
Terlihat banyak anak-anak yang seperti nya akan memulai pelajaran tambahan. Lyza hanya melihat tanpa menyapa. Semuanya terlihat senang belajar.
'seandainya aku tumbuh di keluarga berbeda, apa mungkin aku juga bisa seperti anak-anak itu' ada rasa iri yang di rasakan Lyza, namun ia segera menggeleng.
" Tidak Lyza! Ini sudah takdir mu, seharusnya aku bersyukur." Katanya. Ia tidak boleh menyalahkan takdir yang tidak salah apa-apa.
Setelah cukup lama Lyza berkeliling, ia memutuskan untuk kembali ke pondok kecil tadi. Untung saja ia ingat jalannya.
Lyza memicingkan mata saat melihat ada sesuatu di pondok tadi. Ia semakin mempercepat langkahnya, dan benar saja di sana ada seorang anak perempuan yang masih kecil terlihat sedang mengaji sendiri.
Sepertinya anak itu masih belum lancar mengaji. Ia terlihat belajar sendiri dengan iqro nya. Lyza tersenyum melihat hal itu, ia mengingat dirinya saat pertama kali belajar mengaji. Tanpa ia sadari kakinya melangkah begitu saja ke tempat anak itu.
" Assalamu'alaikum." Salam Lyza
Anak itu mendongak. " Wa'alaikum salam." Jawabnya, sepertinya ia berumur 5 atau 6 tahun.
" Apa aku boleh duduk disini?." Anak itu hanya mengangguk. Lyza pun duduk di samping anak itu
" Apa ustadzah adalah ustadzah?." Tanya anak kecil itu. Lyza hampir tertawa mendengar bagaimana ia bertanya. Lyza tersenyum menanggapi pertanyaan anak itu.
" Siapa nama mu?." Tanya Lyza lembut
" Amira." Jawabnya " apa ustadzah bisa mengajari Amira? Ini sangat sulit." Katanya dengan wajah cemberut
Sekali lagi Lyza Terkekeh. Ia gemas dan mencubit pipi Amira. " Baiklah aku akan mengajari mu." Mata Amira langsung berbinar mendengar nya, ia sangat antusias.
" Terima kasih ustadzah." Serunya dengan sangat antusias. Lyza pun mulai mengajari Amira cara mengaji.
Mungkin karena Lyza terlalu fokus mengajar Amira, tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikan nya. Orang itu tersenyum dan mendekat ke kedua wanita berbeda generasi itu
" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu." Salam orang itu
Sontak Lyza berbalik. Ia sedikit menyerngit dan " wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatu." Jawab nya bersamaan dengan Amira
" Cuman jalan-jalan. Amira sendiri sedang apa?."
" Amira sedang belajar mengaji, dan di ajar sama ustadzah."
Kening kyai itu berkerut. Ustadzah? Ia sama sekali tidak mengenal wanita ini! " Ehem maaf pak kyai. Tadi saya melihat Amira kesusahan membaca nya jadi saya hanya membantu. Apa itu tidak diperbolehkan?." Ia langsung berdiri
Pria paruh baya dengan rambut yang sedikit beruban itu tersenyum " tidak masalah, malah saya bersyukur. Sekarang Ustadzah yang biasa mengajar sakit, jadi mereka tidak ada yang mengajarinya." Tutur kyai itu
Lyza manggut-manggut " Syukurlah kalau tidak masalah."
" Oh yah saya baru melihat anda. Apa yang Anda lakukan disini?." Tanya kyai itu, ia tidak pernah melihat Lyza dan sepertinya wanita itu juga baru pertama kali datang kesini
" Saya sedang menunggu seseorang pak kyai. Dia sedang sholat." Ucapnya. Kyai tersebut manggut-manggut mengerti, memang biasanya akan ada orang-orang yang di perjalanan singgah ke pesantren untuk melaksanakan sholat. Kyai itu mengira Lyza juga sama
" Kalau boleh tahu nama anda?."
Lyza tersenyum, mungkin dulu ia akan menatap curiga pada orang yang menanyakan namanya, namun sekarang hal itu sudah tidak di perlukan. " Lyza pak kyai." Kata Lyza jujur
" Assalamu'alaikum." Saat kyai itu hendak berbicara tiba-tiba terdengar suara dari belakang kyai itu.
" Wa'alaikum salam." Jawab mereka. Lyza kemudian mencium tangan sang suami. Yah rupanya Ares yang datang, namun cuman sendiri.
Pak kyai itu menyerngitkan dahinya. Ia terkejut melihat Lyza mencium tangan Ares. Ustadz yang biasa mengajar dan juga berceramah di pesantren Jabal-nur ini.
" Eh! Pak kyai juga disini. Ada apa nih rame-rame?."
" Bukan apa-apa Ahmad. Tadi nak Lyza hanya mengajar Amira mengaji." Ucap kyai itu
" Iya ustadz Ahmad." Seru Amira. Ares tersenyum dan mengusap kepala Amira. " Kalo gitu Amira pamit yah Assalamu'alaikum." Ia langsung berlalu dari sana.
" Wa'alaikum salam." Ketiganya hanya bisa geleng-geleng.
" Oh yah pak Kyai. Saya belum perkenalkan, kenalkan dia Istriku." Ucap Ares sembari melihat istrinya penuh cinta
Kyai itu sedikit terkejut, dan akhirnya ia tersenyum. " Rupanya dia Istri mu." Ia memang sudah tahu jika Ares sudah menikah namun belum tahu rupanya istri Ares.
Ares hanya tersenyum. " Dan sayang, kenalkan Dia pak Kyai Rozak. Pemilik pesantren ini." Ucap Ares.
" Senang bertemu dengan pak Kyai." Ucap Lyza. Ia memang sedikit curiga tadi, dan rupanya tebakan ia benar
" Senang bertemu dengan mu juga ustadzah." Ucap kyai. " Pantas saja selama ini Ahmad selalu menolak di jodohkan, ternyata Istri nya secantik ini."
" Ya?." Lyza sudah tidak mendengar perkataan terakhir kyai Rozak, yang ia dengar hanya kata-kata perjodohan. Ia langsung menatap tajam sang suami
" Haha itu sudah berlalu sayang." Canggung Ares. Ia sangat tahu kalau istrinya itu pencemburu.
Sedangkan Kyai Rozak hanya tersenyum geli, ia sengaja menggoda kedua orang itu. " Oh yah nak Lyza, kamu bekerja dimana?." Tanya pak kyai mengalihkan pembicaraan. Sepertinya ia terlalu berlebihan.
" Sekarang saya sudah tidak bekerja pak kyai. Yah hanya mengurus anak." Ucapnya
" Apa kamu pernah mengajar mengaji? Sebab terlihat jika kamu sangat fasih dalam mengajar."
" Iya pak kyai, Saya pernah mengajar anak-anak mengaji."
Seperti sebuah angin keberuntungan menimap kyai Rozak. " Wah.. bagaimana kalau kamu mengajar disini. Jika tidak keberatan." Hal ini seperti sebuah kesempatan bagi kyai Rozak Apalagi mereka sekarang kekurangan pengajar.
" Hmm bagaimana yah pak kyai. Bukannya saya menolak tapi, saya sudah punya rencana untuk hari-hari kedepan." Katanya. Ia memang senang mengajar, tapi Lyza tetap ingin mempertahankan niatnya
" Tidak perlu di paksa nak. Ini cuman tawaran, jika tidak bisa yah mau bagaimana lagi."
Lyza merasa bersalah, ia mendongak melihat suaminya dengan wajah sendu. Ares tersenyum lalu merangkul pundak Lyza. " Terserah kamu saja sayang. Yang mana menurut mu terbaik maka lakukan lah."
Lyza kembali tersenyum, ia sangat suka jika suaminya memberikan nasehat dengan tutur kata yang lembut. " Sekali lagi mohon maaf pak kyai."
" Tidak perlu sungkan."
" Uma... Assalamu'alaikum." Fatih tiba-tiba berlari dan memeluk kaki sang ibu.
" Wa'alaikum salam." Lyza berjongkok dan mencium dahi sang putra lalu kembali berdiri.
" Wah.. ada siapa ini?." Tiba-tiba suara lembut seorang wanita terdengar. Sepertinya ia bersama Fatih datang
" Aisyah, kapan kamu pulang?." Tanya Ares. Ia mengenal Aisyah sebagai anak dari dari Kyai Rozak
" Tiga hari yang lalu ustadz." Jawabnya ia nampak malu-malu melihat Ares. Dan Lyza bisa melihat itu, tiba-tiba ada rasa tidak suka dalam dirinya. Ares juga bisa melihat itu, ia juga bisa merasakan hawa tak sedap dari sang istri
" Oh yah Aisyah. Perkenalkan ini Istri ku. Namanya Lyza." Ares tidak ingin terkena amukan dari Istrinya nanti. Apalagi jika Lyza marah, hmm lebih mengerikan dari seekor singa
Lyza tersenyum, lalu mengangguk-kan kepala nya. " Perkenalkan saya Lyza. Istri ustadz Ahmad dan ibu nya Fatih."
Ada sedikit raut kecewa dari mata Aisyah, namun ia bisa menyembunyikan nya dengan sangat hebat. Bahkan Ares dan kyai Rozak tidak bisa melihat hal itu, namun berbeda dengan Lyza yang sudah sangat berpengalaman dalam membaca mimik atau mata seseorang. Entah mengapa ada senyuman kemenangan dari dalam hatinya. Ah... Rupanya Sifat mafianya belum sepenuhnya Hilang.
" Saya Aisyah mbak. Anak kyai Rozak." Ia tersenyum manis
" Apa kalian tidak ingin mampir?." Tanya kyai Rozak
" Sepertinya tidak bisa pak kyai. Setelah ini kami ada urusan." Bukan Ares yang menjawab namun Lyza yang angkat bicara. Dan jika sudah begini Ares hanya menurut.
" Yah sayang sekali. Baiklah lain kali mampirlah." Lyza dan Ares mengangguk.
" Yasudah kami permisi pak Kyai, Aisyah. Assalamu'alaikum." Ucap Ares dan diikuti oleh Lyza dan Juga Fatih.
" Wa'alaikum salam." Setelah mendapatkan jawaban, mereka pun pergi dari sana.
Setelah keluar dari pesantren dan masuk kedalam mobil, atmosfer sekitar telah berubah. Ares sudah harus memantapkan dirinya untuk menerima omelan dari sang istri.
" Uma kenapa kita langsung pulang tadi?." Tanya Fatih yang duduk di kursi belakang. Bersama Lyza, sedangkan Ares sendiri menyetir.
" Tidak apa-apa sayang. Uma ada urusan sama Abi nanti. Jadi, nanti Fatih cepat tidur yah." Fatih hanya mengangguk mengerti. Ia juga tidak ingin tahu urusan apa itu, asalkan tidak menyakiti sang ibu maka ia akan menurut.
Lyza tersenyum melihat anaknya dan kemudian melihat Ares lewar kaca spion depan. Kebetulan Ares juga tengah memandang ke arahnya, Lyza langsung memberikan tatapan tajam kepada Ares.
Glek..
'mampus aku'
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️