
Mobil akhirnya sampai di rumah Ares. Egi dengan sigap membukakan pintu untuk sang bos. Ares dengan perlahan keluar sembari menggendong putranya. Sekali lagi, Egi menatap iba pada sang bos, matanya yang merah dan rambut Ares yang urakan.
Tanpa sepatah kata Ares masuk kedalam rumah, Egi mengambil keranjang dan juga tas bayi yang di tinggal di dalam mobil.
" Pak Egi." Panggil satpam yang menjaga disana
" Iya mang?."
" Bayi yang di gendong sama tuan Ares, itu bayi siapa pak?."
Egi tersenyum. " Yah anaknya lah mang, mana mungkin Ares nyolong bayi orang."
" Yah pak Egi mah, namanya juga nanya." Sebenarnya satpam itu sudah kesal, namun ia mencoba untuk menahan " anaknya nyonya Lyza sama tuan Ares 'kan, pak?."
" Iyalah Mang, masa anak saya sama Ares. 'kan tidak lucu." Satpam dengan nama tag Asep itu hanya bisa geleng-geleng.
" Jadi, nyonya Lyza mana pak? Dia tidak ikut?."
" Masih masa tahanan mang, mana mungkin saya berani ngajak kabur, bisa-bisa saya lagi yang ikut di tahan."
Mang Asep tidak terlalu mengindahkan candaan Egi. " Jadi? Artinya nyonya Lyza melahirkan di lapas pak?."
" Yah gitulah." Mengangkat kedua bahunya. Mang Asep turut prihatin mendengar nya.
" Sudah yah mang, mau masuk dulu. Assalamualaikum."
" Wa'alaikum salam." Egi pun masuk kedalam rumah Ares dan mengikuti langkah Ares yang masuk kedalam kamar.
" Bos ini tas dan keranjang bayinya."
" Taruh di sofa."
" Hmm bos, apa saya harus beritahu ayah sama ibu tentang bayi itu?."
" Tidak perlu, nanti aku yang beritahu sendiri." Menaruh putranya di atas kasur. Ia tersenyum manis melihat wajah sang putra. Walau bagaimanapun ia harus tetap kuat untuk sang istri dan juga sekarang untuk sang putra.
Ares kembali melihat Egi. " Gi, Terima kasih untuk semuanya. Kamu sudah menemani aku selama ini dalam keadaan susah dan senang." Ucap Ares tulus
" Tidak usah berterima kasih Ares, sudah kaya orang lain saja. Oh yah nama tuan mudanya siapa?." Mendekati ranjang. Egi melihat wajah putra Ares. Wajah yang sangat mirip dengan sng bos atau mungkin gabungan dari Lyza dan juga Ares.
Ares ikut memandangi wajah Putra nya yang masih tertidur, tangannya terulur mengusap pipi sang putra. " Fatih.... Al-Fatih Abdullah Warrent." Jawab Ares
" Fatih..." Gumam Egi. " Nama yang bagus."
Egi pun berdiri. " Aku pulang dulu Res, kalau butuh sesuatu telpon aku." Menaikkan tangan nya ke depan telinga
" Hmm baiklah." Setelah mengucap salam Egi pun pergi dari sana.
Kini Ares tinggal berdua bersama sang putra. Ia kembali memandangi wajah Fatih. Entahlah ia merasa selalu tidak puas memandangi wajahnya, ingin rasanya ia selalu memandangi wajah itu. Wajah yang sangat mirip dengannya dan juga sang istri, tidak perlu tes DNA Ares sudah bisa tahu itu anaknya.
Setelah puas memandangi wajah Fatih, Ares pun mulai membersihkan tubuhnya. Waktu sudah sore, ia ingin sholat Ashar terlebih dahulu.
Ia tidak ingin selalu terpuruk, apalagi sekarang ada Fatih, buah hatinya bersama sang istri. Ia ingin agar saat Lyza keluar dari penjara, ia bisa membanggakan dirinya kalau dia bisa membesarkan Fatih dengan baik.
Namun, Ares selalu merasa khawatir dengan keadaan sang istri. Satu bulan telah berlalu sejak kelahiran Fatih, berarti hari yang sama saat Zera menikah. Kebahagiaan yang bertubi-tubi itu seharusnya membuat Ares bahagia, namun ia malah merasa bersalah. Ingin rasanya Ares menarik Lyza dari rutan dan membawanya pulang ke rumah.
Di setiap doanya Ares berdoa agar sang istri selalu dalam perlindungan yang maha kuasa. Ia juga ingin ikhlas menjalani semua cobaan ini.
Setelah sholat Ares menyempatkan untuk mengaji. Ia ingin mengucap syukur atas kelahiran sang buah hati, walaupun bukan Ares yang mengadzani Fatih saat lahir.
Oek... Oek... Oek..
Suara Fatih yang menangis membuat Ares menghentikan membacanya. Ia meletakkan dengan perlahan Al-Qur'an tersebut dan melepas pecinya.
Ares buru-buru menghampiri Fatih yang masih menangis. Ia segera menggendong Fatih.
" Cup... Cup... Cup... Jangan nangis yah sayang." Menimang-nimang Fatih. Walaupun sedikit kaku.
" Ini kenapa tidak mau berhenti menangis." Ares mencoba mencari susu di dalam tas yang di berikan Egi tadi sembari menggendong Fatih di tangan kirinya.
Setelah mendapatkan susunya, Ares ingin memberikan kepada Fatih namun Fatih malah menutup rapat mulutnya dan menolak susu tersebut.
" Eh! Kok tidak mau." Oke, Fiks Ares sudah kalang kabut. Mana Fatih malah semakin menangis.
Tiba-tiba...
" Bau apa ini?." Memeriksa bagian bawah sang putra. " Oh astaga, kamu pup toh." Ares kembali meletakkan Fatih di atas kasur lalu ia membawa tas tersebut naik ke atas kasur juga.
Di bukanya tas itu, Ares mengotak-atik mencari popok di dalam tas berharap yang di cari ada. Dan yah untung lah ada. Dengan perlahan Ares membuka celana yang menutupi bagian bawah Fatih.
Srek...
Bau menyeruak yang khas langsung menghantam hidung Ares. Ia menutup hidungnya mencoba untuk menahan bau tersebut. Dengan perlahan Ares melepas celana dan juga popok yang penuh dengan kotoran, lalu mencoba memasangkan yang baru.
Tapi, sudah dia ulang berulang-ulang tetap Ares tidak tahu dan tidak bisa memasang nya. " Susah... Ini sangat susah." Ia menyerah
" Bagaimana para ibu-ibu di luar sana melakukan nya dengan sangat gampang dan lihai." Bisakah sekarang Ares berteriak? Ini belum 24 jam ia membawa bayinya pulang, namun rasanya Ares sudah tidak tahan untuk segera mencari baby sitter.
Ares menggeleng cepat. Ia sudah berjanji akan menjaga Fatih tanpa bantuan seorang baby sitter. Istrinya sudah berjuang mengandung dan melahirkan sendiri tanpa dia di sisinya. Jadi, Ares juga ingin berjuang untuk membesarkan Fatih.
Sedari tadi Fatih hanya memperhatikan sang ayah yang nampak frustasi. Fatih sudah berhenti menangis, ia malah seperti terhibur melihat wajah frustasi sang ayah.
Fatih kembali tertawa melihat ayahnya yang sedang menyelimuti bagian bawah tubuhnya. " Eh! Senang yah melihat abi kerepotan seperti ini. Ngeledek nih hmm." Candanya dengan terkekeh. Ares merasa terhibur dengan keberadaan Fatih di sini, ia seperti mendapatkan sinar baru dalam hidupnya setelah Lyza di penjara.
Ares segera keluar dari kamar dan turun untuk mencari bantuan, ia tidak tahu saja setelah Ares pergi Fatih kembali menangis. Namun, Ares tidak menyadarinya.
Ares berlari keluar dari rumah masih dengan menggunakan baju kokoh dan juga sarung. Ia tidak sengaja bertemu dengan mang Asep.
" Tuan, ada apa?." Tanya mang Asep dengan wajah khawatir saat melihat wajah tuannya yang nampak khawatir dan panik.
" Apa kau bisa membantuku?."
" Kalau saya sanggup saya akan membantu tuan."
" Baguslah." Ucapnya seraya menarik tangan mang Asep. Ares sudah blank, ia tidak bisa berfikir jernih sekarang. Ada rasa tidak enak saat meninggalkan Fatih sendiri di kamar. Walaupun ia tidak menyadari Fatih sekarang sedang menangis, namun ia merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Apakah ini yang di sebut ikatan batih antara ayah dan anak?
Mang Asep hanya mengikuti tarikan tangan nya, tidak mungkin juga ia menepis tangan yang sedang menarik tangan nya. Kalau sudah siap dipecat silahkan ia menepis, namun mang Asep masih memikirkan keluarga nya.
Setelah sampai, Ares buru-buru membuka pintu kamar. Dan benar saja, Fatih sedang menangis disana. Ia segera mendekati Fatih.
" Ulululu.. sayang ... Cup.. cup.. cup.. " menggendong Fatih, seketika tangis Fatih berhenti. " Alhamdulillah."
" Ada yang bisa saya bantu tuan?." Tanya mang Asep. Ia sudah tahu siapa yang di gendong Ares. Egi yang memberitahu
" Apa kau bisa mengganti popok?." Mang Asep mengangguk.
" Benarkah?." Entah mengapa Ares merasa dapat jack pot
" Iya tuan, saya bisa sedikit."
" Baguslah." Ares kembali menaruh Fatih dengan hati-hati di atas kasur. " Pakaian popok pada Fatih." Mang Asep sempat bingung. Fatih? Siapa Fatih? Lalu ia tersadar saat melihat bayi tersebut yang tidak memakai celana.
" Baik tuan." Mang Asep pun maju hendak memakaikan pempers baru. " Anda sudah membersihkan bagian bawah tubuhnya tuan?."
Ares yang mendapat 'kan pertanyaan seperti itu menepuk jidatnya. " Belum mang."
Mang Asep tersenyum. Pria paruh baya itu dengan perlahan menggendong Fatih. " Kalau begitu saya akan membersihkan bagian bawahnya dulu tuan." Ares hanya mengangguk. Ia tidak tahu harus apa, biarkan yang pro menangani pikirnya.
Dengan telaten mang Asep membersihkan bagian bawah Fatih, setelah nya ia kembali ke atas kasur dan mengotak-atik dalam tas. Setelah mendapatkan minyak telon dan juga bedak serta losyen bayi. Mang Asep memakai 'kan nya pada Fatih lalu memakai 'kan popok nya dan terakhir menutup dengan celana.
Ares dengan teliti melihat semua yang di lakukan mang Asep. Ia terkejut melihat nya, bukan hanya sedikit namun mang Asep memang benar-benar pro. Ares memperhatikan setiap langkah yang di lakukan mang Asep untuk di pelajari.
" Sudah selesai tuan."
" Alhamdulillah, makasih yah mang."
" Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi tuan." Ares mengangguk dengan tersenyum.
" Assalamualaikum."
" Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatu." Setelah mendapat jawab dari salamnya Mang Asep pun keluar dari kamar sang majikan. Ini pertama kalinya ia masuk kedalam dan juga pertama kalinya ia kembali melihat wajah senang sang majikan selama di tinggal sang nyonya.
Ares kembali ke sisi sang putra yang sudah terlelap Kembali. Ares tersenyum melihat wajah Fatih, ada ketenangan dalam hatinya. Ia berharap agar masa tahanan sang istri cepat selesai dan ia bisa kembali berkumpul dengan keluarga nya.
" Hmm bangun tidur cuman buat repot." Ares terkekeh. Ia bangun dari tempat tidur lalu bersiap untuk melakukan sholat Maghrib
Setelah sholat Maghrib, Fatih masih belum terbangun. Ares memutuskan untuk turun kebawah dan makan.
.........
Ares sudah bersiap untuk tidur. Ia melihat wajah sang putra yang masih terlelap dalam tidurnya. Ares kembali tersenyum lalu tidur di samping Fatih.
Baru beberapa menit menutup mata, dengan terpaksa Ares harus kembali membukanya. Fatih terbangun dan kembali menangis.
Ares segera menggendong Fatih ia memeriks apakah Fatih kembali pup, namun semuanya masih bersih. " Apa kamu lapar nak?." Ia segera turun ke bawah untuk mengambil susu yang berada di kulkas.
Setahu Ares, susu itu adalah Asi hasil dari pompa. Ia bisa tahu itu. Pasti sang istri yang menyiapkan stok asi itu. Setelah mendapatkan apa yang di cari Ares kembali ke atas.
Ia segera memberikan nya kepada Fatih, dan benar saja Fatih meminumnya dengan lahap. Ares hanya menunggu sembari memperhatikan sang putra yang menyusu.
Lama, sangat lama. Setelah susunya habis tadi Fatih sama sekali tidak ingin kembali tidur membuat Ares harus terjaga untuk menemani nya.
Ares sudah terkantuk-kantuk. Ia ingin sekali tertidur, namun baru menutup mata. Suara tangisan Fatih kembali terdengar.
" Kuat Res, kamu harus kuat! Pikirkan bagaimana waktu Lyza harus terjaga untuk menemani Fatih saat di lapas. Ayo kuat!." Dengan mantra nya itu Ares berhasil menahan kantuk.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️