
Pagi pertama dalam pengantin baru sangatlah di nanti-nantikan. Pagi yang membawa matahari dalam kehidupan baru, oksigen yang rasanya lebih segar dari biasanya.
Memandang wajah pasangan dikala bangun pagi pasti akan sangat menyenangkan. Tersenyum, dan dibalas senyuman. Ah.. rasanya dunia milik berdua.
Selamat pagi sayang, good morning, meet pagi, ciuman selamat pagi... Sapa-sapaan pagi yang sangat menenangkan, tidak akan ada kata yang lebih menyenangkan dari kata tersebut. Ya, begitulah normalnya pasangan pengantin baru, namun naas pasangan yang satu ini jauh dari kata normal.
Selesai joging Ares kembali ke kamar. Ia mendapati sang istri yang masih bergemul dalam selimut. Ia hanya geleng-geleng
Huhh
Ares memilih membersihkan badannya, semoga Lyza bangun setelah ia membersihkan tubuhnya.
Beberapa saat kemudian, Ares Keluar dari kamar mandi. Lagi, ia masih melihat gundukan selimut di atas kasur. Ares heran, apa mungkin ia yang terlalu cepat mandi atau memang sang istri yang kebo.
Tak ingin terlalu memikirkannya, Ares memilih memakai pakaian terlebih dahulu. Setelah nya barulah ia membangunkan Lyza.
Dengan baju kokohnya, Ares melangkah ke arah kasur. " Lyza.. bangun.. ". Tidak berani memegang Lyza.
" Za... ". Ulangnya, dan dibalas dengan punggung Lyza, ya Lyza malah memunggungi Ares.
Huhh!
Ares ingin memegang Lyza. Tanpa ragu Ares ingin memegang pipi Lyza untuk membangunkan nya. Namun belum juga di sentuh, tangan Lyza sudah lebih dulu mencengkram tangan Ares, dengan tatapan tajam.
" Akhirnya kamu bangun ". Mencoba untuk santai. Padahal dalam hati ia sudah jeder.. jeder.. melihat kepekaan Lyza.
Lyza menghempaskan tangan Ares kasar. " Jangan lakukan itu lagi, kalau kau tidak ingin meregang nyawa begitu saja ". Setelah mengatakan nya, Lyza hendak menarik kembali selimutnya. Namun tertahan oleh tangan Ares yang menarik selimut Lyza.
" Ini sudah jam delapan, ayo cepat bangun ". Menarik selimut
" Apa! Baru jam delapan subuh. Tidak aku masih mau tidur! ". Mempertahankan selimut nya.
" Subuh? Ini sudah pagi, bahkan hampir siang ". Menarik selimut sekuat tenaga. Namun dibalas lebih bertenaga dari Lyza. Pagi-pagi mereka malah berolahraga, saling tarik tambang. Eh! Tarik selimut.
" Pagi ku itu jam sepuluh tahu ". Ketus Lyza, ia masih kekeh. Tarik-tarikan masih terjadi di kamar dan kasur itu pemirsa, tak ada tanda-tanda mengalah dari kedua suami istri itu.
Ares cuman bisa menghela nafas panjang. Dengan sekuat tenaga, Ares menarik selimut tersebut yang akhirnya berhasil menumbangkan Lyza. " Itu dulu. Sekarang kamu sudah bersuami, ayo cepat bangun. Kita sarapan lalu siap-siap untuk pindah ".
" Berisik! Jangan ganggu aku. Aku bisa bertahan walau tanpa sarapan! ". Walau Selimut nya sudah ditarik, Lyza tetap tidak ingin bangun.
Karena tak ingin membuat orang-orang menunggu lama, akhirnya Ares menggendong Lyza ala bridal style.
" Ahkk.. ". pekik Lyza " apa yang kau lakukan sialan ". Sontak Lyza mengalungkan tangannya di leher Ares.
Dengan santainya Ares berjalan melangkah menuju kamar mandi dengan menggendong Lyza. " Aku sedang menggendong seorang kebo berkedok istri ku ". Ketusnya
" Sembarangan! Aku bukan kebo. Kau saja yang terlalu cepat bangun ". Balas ketus Lyza. Namun ia tidak memberontak.
Ares hanya diam dan tak ingin ambil pusing. Setelah sampai di dalam kamar mandi, Ares mendudukkan Lyza di dalam bathtub. " Mandilah, aku akan menunggumu di bawah. Jangan membuat semua orang menunggu mu ". Kata Ares
" Ck, kalau mau aku cepat kenapa tidak memandikan aku saja ". Tersenyum jahil
" Astaghfirullah Lyza... Kalau aku memandikanmu bukannya cepat malah tambah lambat. Aku tunggu dibawah, bersihkan tubuhmu ". Langsung pergi dari sana dengan wajah yang memerah karena malu. Ah ... Kenapa Istri nya sangat pandai menggoda.
" Hahahah wajah pak ustadz sangat menggemaskan. Eh! Astaga apa yang aku katakan! Menggemaskan? Hahah aku pasti sudah gila menganggap nya menggemaskan ". Lyza mulai membersihkan tubuhnya.
Tak berselang lama, Lyza pun turun masih menggunakan piyama. Bagaimana tidak tak, ada satu pun pakaian yang ia bawa dari mansion nya, dan pakaian yang ada di lemari semuanya gamis. Tentu Lyza tak akan menggunakan nya.
Ia hanya mengganti piyama dengan yang baru, menyisir rambut, hanya itu. Tak ada make up, ia terlalu malas memakainya.
Ares langsung berdiri, ia melihat penampilan Istri nya. Cantik? Tentu, walaupun tanpa make up wajah Lyza Memang sudah cantik dari sananya. Hanya saja melihat ia masih memakai piyama tidur, membuat Ares hanya bisa geleng-geleng kepala.
" Kok masih pake piyama? ". Tanya Ares
Lyza Melihat sekilas Ares dan duduk di sampingnya. " Aku tidak punya baju ". Jawabnya
" Kan ada gamis di dalam lemari ". Ikut duduk
" Ck berisik! Aku tidak biasa memakai baju panjang seperti itu ". Ketus Lyza. Ia langsung membalik piring.
" Dibiasakan nak Lyza ". Ibu menyahuti. Ya sedari tadi ada banyak tatapan yang melihat kedua pasutri baru itu adu mulut. Ada ibu, ayah, Egi bahkan Zean dan Sean pun ada. Sedangkan Ara sudah pergi kuliah
Lyza Melihat ibu mertuanya yang sangat lembut. Ia hanya mengangguk menanggapi, entah mengapa Lyza seperti tak tega untuk membantah.
" Aku ingin makan ". Seru Lyza.
Mendengar Lyza mengatakan hal itu, Zean langsung berdiri dan mengambil kan makanan kedalam piring Lyza, beserta lauk pauk nya. Hal seperti ini memang sudah biasa.
Mereka yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Sabar... Hanya itu kata-kata yang dapat mewakili keluarga Warrent. Mau bagaimana lagi merekalah yang membawa Lyza masuk kedalam keluarganya.
Ares yang melihat itu sebenarnya kesal, ia tidak tahu. Tapi Ares tak terima ada yang memperhatikan sang istri kecuali diri nya.
Zean hendak memberikan air putih Kepada young ms nya, namun tangannya langsung ditahan oleh Ares. " Biar aku saja ". Katanya, dengan aura-aura yang tak bisa di artikan.
" Tidak apa-apa tuan, biar saya saja ". Zean masih belum mengerti, kalau ustadz tampan itu sedang cemburu.
" Iya biar Zean saja pak ustadz. Memangnya kerjaan mu juga menjadi pembantu? ". Sahut Lyza yang sama sekali tidak peka
" Eiittss sudah Zean, biar pak ustadz saja. Iyakan Gi? ". Sean yang mengerti keadaan langsung ikut campur.
" Iya, biar Ares saja. Kamu tenang dan makan makanan mu saja Zean ". Sahut Egi.
Dengan sigap Ares menuangkan air putih kedalam gelas dan menyodorkan nya ke Lyza. " Aku tidak tahu kalau kamu juga suka melayani orang ". Seru Lyza menerima gelas air putih tersebut
Ares duduk " aku hanya melakukan nya pada istriku ". Kayanya dan kembali memakan makanannya.
Tidak tahu kenapa, namun hati Lyza serasa berbunga-bunga mendengar perkataan Ares. Ia sendiri tidak tahu kenapa, namun Lyza kembali tidak memperdulikan nya. Dan melanjutkan sarapan pagi yang sebenarnya sudah telat.
...***...
Acara pindahan dadakan Ares dan Lyza pun tiba. Ares sudah menyiapkan semua barang keperluan untuk dibawa ke rumahnya.
Sedangkan Lyza yang memang disuruh agar diam saja, yah akhirnya menurut. Bahkan piyama yang di gunakan belum ia ganti.
Dan disinilah sekarang mereka, tepatnya di halaman mansion Keluarga Warrent. Ibu dan ayah mengantar kepindahan anaknya hanya sampai di halaman.
Ada dua mobil yang telah siap. Mobil yang akan di supiri oleh Egi dan satunya lagi akan di supiri oleh Sean. Semua barang telah di pindahkan masuk kedalam bagasi mobil.
" Aku naik mobil bersama Zean dan Sean ". Ucap Lyza saat mereka telah berpamitan kepada ayah dan ibu.
" Tidak! Tidak baik satu mobil berdua dengan pria yang bukan mahram ". Tegas Ares.
" Memangnya kenapa? ".
" Karena nanti yang ketiganya setan ". Ketus Ares. Entah mengapa dirinya masih kesal dengan kejadian tadi. Namun ia masih mencoba menahan diri, tidak baik juga memperlakukan istri seperti itu.
" Tapi kami bertiga. Ada Sean juga ". Tetap tidak mau mengalah
" Kalo gitu Sean adalah setannya ". Celetuk Egi
" Hei.. kenapa jadi aku ". Tak terima dikatakan setan. Walaupun kelakuannya sebelas dua belas mirip setan. Menurut dirinya sendiri
" Yah kan yang ketiganya adalah setan. Nah yang ketiga di dalam mobil nanti kan kamu ". Egi menyahuti
" Iya juga yah ". Manggut-manggut. " Eh! Tapi kalo nyonya duduk di dalam mobil bersama pak ustadz, kamu dong yang jadi setannya ".
" Eh benar juga yah ". Entah mengapa tapi perkataan Sean ada benarnya. " Res. Kalo gitu aku sama Zean dan Sean ajah yah ".
" Iya kita bareng ajah. Eh tapi nanti Zean dong yang jadi setannya ".
Tuk...
Zean menjitak dahi Sean. " Jangan banyak bicara. Pembahasan mengenai setan cukup sampai disini ".
Ayah dan ibu yang melihatnya mengulum senyum. Kehadiran ketiga orang itu membuat suasana menjadi hangat dan Harmonis.
" Kalian ini ada-ada saja. Baiklah aku dan istriku satu mobil, kalian mengikuti dari belakang. Assalamu'alaikum ". Menarik tangan Lyza. Ia tidak ingin berlama-lama disana.
" Hei.. tunggu dulu.. ". Lyza ingin protes, walaupun begitu ada rasa yang aneh di hatinya saat Ares mengatakan 'istriku'. Dalam diam Lyza mengulum senyum.
Ares tidak mengindahkan perkataan Lyza. Ia membuka pintu dan mendorong Lyza dengan lembut untuk masuk kedalam. Lalu Ares berputar dan masuk kedalam mobil tepat di belakang kemudi. Setelah nya Ares pun melajukan mobil menuju rumah baru.
Zean, Sean dan Egi pun masuk kedalam mobil dan mengikuti mobil Ares dari belakang.
" Jadi sekarang kamu setannya kan Zean ". Sean kembali membuka suara. Ia melirik Melihat Zean di sampingnya dan kembali melihat jalan raya.
" Hentikan pembahasan mengenai setan mu itu ". Ketus Zean. " Fokus saja menyetir! ". Ujarnya lagi
" Hahaha iya benar Sean, lagi pula kita bertiga disini pria semua. Jadi tidak akan ada orang ketiga, yah itu kalau di antara kalian tidak ada yang belok ". Melihat Zean dan Sean bergantian
Sean melihat Egi dari balik spion depan. " Isshhh amit-amit... Aku normal. Tapi yang di samping ku entahlah.. ". Melirik melihat Zean
Zean melihat tajam kearah Sean dan Egi, sedangkan yang di tatap memberikan senyuman manis yang pasti membuat Zean kesal. Dua orang bersamanya ini, sangat serasi. " Jangan bicara yang tidak-tidak! Aku juga normal! ".
" Benarkah? ". Egi mengompori.
" Aku tidak percaya ". Sean menaikkan sebelah alisnya.
" Ck. Terserah kalian! ". Memutar bola matanya. Seandainya salah satu di antara Egi atau Sean adalah wanita, sudah dipastikan Zean akan menjodohkan mereka.
.........
Ares menghentikan mobil dan diikuti mobil di belakangnya, tepat di sebuah rumah yang lumayan besar namun tak sebesar mansion. Rumah berlantai dua tersebut sangat indah dan nyaman di lihat.
Lyza turun dari mobil, ia memperhatikan rumah tersebut. 'bagus'. Batin Lyza
Ares juga ikut turun. " Bagaimana? Apa kamu suka? ". Berdiri di samping Lyza
" Hmm lumayanlah ". Katanya, ia tidak mungkin mengatakan suka dengan rumah yang akan ia tinggali ini. Mau di taruh di mana mukanya
Ares terkekeh, padahal sudah sangat jelas dari raut wajah Lyza yang mengatakan menyukai rumah itu, namun tetap saja di bantah. Sangat menggemaskan, pikir Ares
" Res.. ini barang-barang Langsung aku bawa masuk, atau gimana nih? ". Egi membuka bagasi mobilnya.
" Iya langsung bawa saja. Sini biar aku bantu ". Hendak meraih salah satu koper
" Eiiitttsss tidak perlu. Biar Sean sama Zean yang bantu. Kamu ajak istrimu jalan-jalan, keliling lihat-lihat rumah barumu ". Memberikan kode lewat matanya. Awalnya Ares tidak mengerti, namun lama-kelamaan ia mulai paham maksud dari kode Egi.
TBC
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya