
Sudah satu Minggu ini Ares selalu lembur, pergi sangat pagi dan pulang sangat malam. Lyza selalu setia menunggu suaminya pulang.
" Assalamu'alaikum nyonya."
" Wa'alaikum salam. Egi, ada apa ini malam-malam? Dan suamiku mana?." Tanya Lyza. Celingak-celingukan mencari di belakang Egi
" Ares masih di kantor nyonya. Aku datang kesini cuman ingin mengambil beberapa berkas di ruang kerja Ares." Ucap Egi merasa tidak enak
Lyza mengerutkan keningnya bingung, kenapa bukan sang suami saja yang datang? Kenapa harus menyuruh bawahan nya?
" Ares kini sedang meeting dan tidak bisa di ganggu. Sungguh deh nyonya, perusahaan akhir-akhir ini sangat sibuk, bahkan kami harus lembur." Ia seperti tahu apa yang ada di pikiran Lyza
Lyza manggut-manggut. " Baiklah duduk dulu di sana disini, biar aku yang ambil. Oh yah map nya warna apa dan yang bagaimana? " Ucap Lyza, ia tidak mengizinkan Egi masuk kedalam rumah takut terjadi fitnah. Apalagi Lyza hanya seorang diri di dalam rumah, walaupun ada mang Asep yang berjaga di posnya sedangkan Fatih yang sudah tertidur. Walau begitu, Lyza tetap tidak bisa mengizinkan seorang pria yang bukan mahram masuk ke dalam rumah jika suaminya tidak ada
" Kata Ares map itu warna hijau tua dan sudah ada di atas meja dekat lemari, mapnya di tumpukan di beberapa buku." Kata Egi dan duduk di salah satu kursi di teras, ia menunggu Lyza datang membawakan berkas itu.
Lyza segera bergegas menuju ruang kerja Ares. Sesampai nya ia di sana, Lyza segera ke meja yang di maksud Egi tadi.
" Hmm yang ini 'kan." Mengambil map hijau di bawah tumpukan buku. Saat Lyza hendak menariknya tiba-tiba ada sebuah kertas yang ikut tertarik dan terjatuh ke lantai
Lyza memunguti kertas itu, ia tidak sengaja membacanya. Tiba-tiba Lyza mematung, ia bingung dan tidak percaya dengan kertas itu. Apakah kehidupan nya harus berakhir seperti sinetron ikan terbang? Pikiran nya sudah melanglang buana. Lyza segera menggeleng 'kan kepalanya lalu bergegas turun kembali membawa map hijau itu.
Sedangkan kertas yang tadi ia lihat, dia taruh kembali ke tempatnya semula tak lupa Lyza memotret kertas tersebut.
" Yang ini Gi?." Egi berdiri mendengar suara Istri sang bos
" Iya nyonya. Kalau begitu aku permisi yah."
" Iya, hati-hati di jalan."
Egi tersenyum " Kalau bos tahu nyonya mengatakan hal itu kepada aku, hahahha pastu sih bos akan langsung cemburu." Canda Egi, namun sesuai kenyataan
Lyza menggeleng kepalanya pelan mendengar perkataan Egi, ia tiba-tiba teringat dengan kertas tadi. Ingin sekali rasanya menanyakan hal itu kepada Egi, namun Lyza merasa tidak pantas mengatakan hal tersebut.
" Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikum salam." Setelah Egi benar-benar keluar dari pagar, Lyza pun memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah. Ia ingin menunggu sang suami pulang kerja.
.........
Kerjaan Ares yang terlalu banyak dan harus di kejar membuat waktunya dengan keluarga menjadi semakin sedikit.
Dengan meregangkan otot lehernya, Ares masuk kedalam rumah. Biasanya Lyza akan menunggu kepulangan nya itulah yang membuat Ares bersemangat. Sebenarnya Ares sudah pernah mengatakan pada Lyza agar tidak perlu menunggu nya, namun Lyza tetap keras kepala dan pasti menunggu kepulangan nya. Yah hal itu juga membuat Ares untung
Ares melihat istrinya yang terlelap di sofa, ia tersenyum lalu mencium kening Lyza. " Maafkan aku sayang." Setelah mengatakan hal itu Ares menggendong Lyza membawanya ke dalam kamar.
Ares meletakkan Lyza dengan sangat hati-hati di atas kasur, lalu ia beranjak dari tempatnya dan membersihkan badan. Setelah itu Ares ikut tidur di samping sang istri, namun sebelum itu Ares menyempatkan memberikan kecupan di dahi istrinya lalu ia pun terlelap.
Perlahan tapi pasti Lyza membuka mata. " Euhh." Ia memegang kepalanya. " Ini di mana, hah??! Aku di kamar. Astaga aku ketiduran." Menepuk keningnya. Padahal ia ingin membicarakan mengenai kertas yang di dapatnya tadi di ruang kerja sang suami, tapi malah ketiduran.
Lyza berbalik, ia tersenyum melihat suaminya yang terlelap di samping. Lyza membelai pipi Ares lalu memberikan kecupan di bibir sang suami. Setelahnya ia memutuskan untuk kembali tidur.
.........
Mata nya perlahan membuka, Lyza mengedipkan mata berulang kali untuk membiasakan cahaya.
" Eh! Astaghfirullah aku kesiangan." Ia langsung terduduk. Lyza melihat jam ponselnya, brnar saja sudah jam stengah tujuh.
" Pasti hubby sudah berangkat kerja." Hendak turun dari kasur, namun tiba-tiba ada yang memeluk pinggang nya dari belakang sontak Lyza berbalik.
" Hubby??!." Bagaimana bisa sang suami masih belum berangkat bekerja, padahal sudah jam stengah tujuh.
" Hmmm kepala ku pusing sayang." Rengek Ares dengan mata terpejam
" Apa?! Bagaimana bisa??! Apa kamu demam by." Memegang kening Ares, namun sama sekali tidak panas
" Aku tidak demam sayang. Cuman sedikit pusing, terus aku juga mual." Masih memeluk Lyza. Bahkan Ares memilih duduk dan memeluk sang istri dari samping, dagunya ia taruh di pundak Lyza sembari menutup mata
" Aku panggil dokter saja yah." Tetap saja Lyza khawatir. Bisa saja 'kan suaminya mengidap sesuatu, namun semoga tidak terjadi.
Ares menggeleng pelan " Tidak perlu. Memeluk mu saja sudah membuat mual ku hilang." Masih memejamkan mata
" Ada-ada saja kamu by. Apa mungkin kamu sakit gara-gara lembur terus?." Itu bisa saja terjadi, dilihat dari padat nya jadwal Ares
" Entahlah sayang. Mungkin aku cuman masuk angin."
" Kalo gitu aku buatkan bubur yah." Hendak melepas tangan Ares yang masih di pinggangnya
Sontak Ares membuka mata, ia mengeratkan pelukannya " Jangan. Aku bisa mual lagi kalau jauh-jauh dari kamu sayang." Ia masih merengek
" By, jangan modus dulu deh. Aku buatkan teh hangat bagaimana?." Lyza masih Kekeuh. Aneh bukan? Mana ada penyakit yang obatnya seperti Lyza sendiri
" Tidak perlu sayang, benar ini mual nya langsung Hilang pas peluk kamu." Mereka sama-sama keras kepala, dan akhirnya Lyza pasrah.
Lyza menemani Ares di kamar, lebih tepatnya ia hanya jadi patung sedangkan Ares memeluk dirinya dari samping sembari memejamkan mata
Ceklek..
" Assalamu'alaikum Uma.. abi.." Fatih datang dari arah luar
" Wa'alaikum salam.. masuk sayang." Ujar Lyza
Fatih Melihat heran kedua orang tuanya, kalau ingin bermesraan-mesraan bukannya waktunya tidak pas.
" Ada apa sayang?." Tanya Lyza
" Tadi Fatih tunggu-tunggu di dapul tapi uma tidak datang-datang. Jadi Fatih naik ke sini deh."
Fatih naik ke atas tempat tidur " Abi kenapa uma? Lengket-lengket dengan uma." Tanya Fatih heran, tidak biasanya sang ayah seperti itu.
" Sakit?." Beo Fatih, ia mendekati Ares lalu menaruh tangan mungilnya di dahi sang ayah. " Tidak panas." Ucapnya
" Abi bohong yah."
" Memangnya kalau sakit harus panas? Tidak 'kan." Balas Ares.
" Sudah.. sudah.. aku buatkan teh hangat saja yah. Supaya perut mu hangat by, kalau memang itu masuk angin." Ucap Lyza
" Itu benal abi, nanti abi tambah sakit loh." Fatih juga ikut menasehati. Ia jadi tidak tega saat melihat wajah ayahnya yang pucat
" Baiklah, tapi jangan lama-lama. Cuman teh hangat." Mau tidak mau akhirnya Ares mengalah, ia melepas pelukannya di perut sang istri walaupun rasanya sangat berat untuk melepas 'kan nya.
" Iya tenang saja, cuman teh hangat. Fatih jaga abi dulu yah, uma mau buat teh hangat." Fatih mengangguk antusias
Setelah itu Lyza pun turun ke bawah untuk membuat teh hangat dan juga susu untuk Fatih. Setelah jadi, ia kemudian membawa kedua cangkir itu kembali ke kamar
Ceklek...
Lyza masuk kedalam kamar, ia menaruh nampan yang berisi teh dan susu itu di atas nakas " Abi kemana sayang?." Tanya Lyza, ia tidak melihat Ares di atas tempat tidur.
" Di dalam toilet uma. Tadi abi muntah-muntah." Ucap Fatih dengan raut wajah khawatir
" Apa!!." Dengan panik Lyza mengetuk pintu kamar mandi. " By.. kamu tidak apa-apa? Buka pintunya dulu by."
Hoek.. hoek..
Tidak ada sahutan dari dalam kecuali suara Ares yang sedang muntah. Mau tidak mau Lyza akhirnya membuka pintu kamar mandi yang tidak di kunci, di lihatnya Ares yang tengah bersandar di wastafel dengan raut wajah yang semakin pucat
" Astagfirullah... Kita panggil dokter saja yah by." Mendekati Ares
Ares membuka mata saat mendengar suara sang istri " Sayang." Ia langsung memeluk tubuh Lyza. Dan benar saja, mualnya langsung hilang " tidak perlu, aku sudah tidak mual lagi kalau memeluk mu." Ucapnya
" Tidak by, pokoknya kita panggil dokter!." Kali ini Lyza tidak ingin di bantah
" Baiklah sayang." Pasrah Ares
" Sudah tidak mual lagi?." Mengelus rambut sang suami
Ares menggeleng pelan di tengkuk Lyza. " Sudah tidak, kalau dekat kamu." Walaupun aneh Lyza hanya diam dan mencoba untuk percaya.
" Kalo gitu kita keluar duku, aku sudah buat teh hangat." Ares mengangguk, mereka pun keluar dari kamar mandi tapi tetap berpelukan. Lebih tepatnya, Ares yang menempel pada Lyza
" Abi tidak apa-apa?." Tanya Fatih yang masih ada di atas tempat tidur sembari meminum susu yang di buat oleh Lyza tadi
" Ayo baring disini abi." Menepuk kasur. Lyza pun memapah Ares ke tempat tidur.
" Fatih, tolong ambilkan ponsel uma di atas meja sofa sayang." Menunjuk sebuah meja disana. Ares tidak ingin di lepas, mau tidak mau Lyza harus menyuruh anaknya
Tanpa banyak bertanya Fatih turun dari tempat tidur lalu pergi mengambil ponsel Lyza yang ada di atas meja. Setelah itu ia pun memberikan nya kepada yang punya
Lyza menelpon dokter untuk datang ke kediamannya, setelah menelpon seorang dokter tiba-tiba dari arah pintu masuk rumah terdengar ada ketukan dan juga bel yang bunyi bersamaan
'tidak mungkin dokternya langsung datang 'kan' batin Lyza
" Biar Fatih yang buka pintu uma." Ucap Fatih, ia tahu sekarang sang ibu tidak bisa banyak bergerak karena ayahnya yang menahan
Lyza tersenyum " Iya sayang."
.........
Ceklek..
Pintu kamar kembali terbuka dan masuklah Fatih serta Egi di dalam kamar. Lyza sudah memakai hijab instan tadi.
" Assalamu'alaikum." Salam Egi, rupanya ia yang tadi mengetuk pintu dan menyalakan bel rumah secara bersamaan
" Wa'alaikum salam." Jawab Ares dan Lyza
" Kamu sakit Res?." Tanya Egi. Ia memang bisa melihat raut wajah Ares yang pucat, tapi kenapa sekarang Ares malah seperti mencari kesempatan dalam kesempitan?
" Hmm entahlah Gi. Kepala ku pusing, aku juga mual-mual terus." Balas Ares lemah
" Jadi, maksudnya kalau kamu dekat istri mu kamu tidak mual lagi?." Terkekeh, Ia tidak habis pikir apa yang di katakan nya.
" Bagaimana bisa kamu tahu?."
Seketika Egi berhenti Terkekeh " Hah!? Jadi benar?."
" Yah sepertinya seperti itu Egi." Kini Lyza yang menjawab, sebab Ares sudah kembali memejamkan matanya di pelukannya.
" Tunggu.. kamu seperti orang mengidam saja Res." Ucap Egi. Ia tidak sadar dengan apa yang dikatakan nya
" Eh!." Tiba-tiba Egi dan Lyza menyadari sesuatu. Lyza mengingat kembali jadwal bulannya.
" Apa jangan-jangan..." Egi sengaja menggantung ucapannya.
Lyza hanya diam, ia tidak ingin memberikan harapan palsu. Sedangkan Ares sudah tidak mendengar apa yang di katakan oleh Egi tadi, dan Fatih hanya menonton ketiga orang dewasa itu sembari meminum susu nya.
Yang pasti semuanya akan jelas jika dokter sudah tiba. Sampai saat itu semuanya masih teka-teki.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️