My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Jangan tinggalkan kami lagi



Setelah berpamitan Lyza, Ares dan Fatih akhirnya pulang. Lyza sudah tidak sabar bertemu dengan keluarga dan juga orang-orang terdekatnya.


Apalagi mendengar berita bahwa Ara hamil anak Zean membuat Lyza semakin tidak tahan untuk cepat-cepat pulang.


Lyza juga berpamitan pada santri-santri yang ia ajar membaca Al-Qur'an. Perasaan sedih pasti ada, namun ingat! Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tidak ada yang abadi di dunia ini.


Sampai akhir Lyza tidak bertemu dengan Fahmi lagi. Padahal Lyza ingin menegaskan penolakan nya lagi, namun sepertinya semesta sudah tidak ingin menampakkan Fahmi di hadapannya.


Di dalam mobil, Lyza duduk di samping Ares yang tengah mengemudi. Dan di pangkuannya ada Fatih yang sepertinya memang tidak ingin jauh-jauh dari sang ibu. Lyza tidak keberatan, sebab dia juga tidak ingin jauh-jauh dari putra nya.


" Fatih, sebaiknya kamu duduk di belakang. Uma pasti lelah memangku mu." Ucap Ares. Ia tidak ingin sang istri kelelahan. Apalagi perjalanan cukup jauh.


" Uma, lelah?." Tanya Fatih, ia mendongak melihat sang ibu


" Tidak sayang. Uma kuat kok." Hal seperti ini tidak akan membuatnya lelah


" Sayang, kamu yakin?." Melihat Lyza sekilas lalu kembali ke jalan


" Tenang saja by. Kamu lupa siapa aku, hal seperti ini tidak akan membuat ku lelah."


Ares menghela nafas pelan. " Baiklah, tapi katakan jika kamu lelah." Lyza mengangguk mengiyakan.


Tak berapa lama, Fatih tertidur di dalam dekapan Lyza. Ia tersenyum melihat sang putra, masih tidak percaya anak yang pernah ia lahirkan telah sebesar ini, bahkan sudah bisa memanggil nya.


" Ada pertanyaan yang sudah dari dulu ingin aku tanyakan." Ucap Ares membuka keheningan. Ia melihat Lyza sekilas dan kembali melihat ke arah jalan. Ia sudah menunggu timingnya


Lyza melihat ke arah samping. " Apa by?." Tanya Lyza


Ares mengambil nafas sejenak. " Ceritakan bagaimana saat kamu mengandung Fatih." Ucap Ares. Ia sekali lagi merasa bersalah karena tidak ada dirinya mendampingi sang istri saat itu


" Kamu yakin?." Tanya Lyza memastikan. Bukan apa-apa, tapi ia tidak ingin membuat Ares kembali merasa bersalah. Kalau Lyza sih tidak masalah, tapi beda halnya dengan sang suami. Dari tadi malam entah sudah berapa kali kata-kata maaf dilontarkan Ares


" Maaf." Ucap lesu Ares


" Tuh 'kan. Aku sudah bilang tidak perlu merasa bersalah, karena semuanya pasti ada hikmahnya. Malahan aku bersyukur hamil di dalam rutan, aku bisa merasakan bagaimana saat-saat sulit yang sesungguhnya. Banyak pelajaran yang aku dapatkan di dalam rutan." Ucap Lyza panjang kali lebar. Ia mencoba agar sang suami tidak merasa bersalah.


Ares Tersenyum mendengar penuturan Lyza. Istri yang dulu pembangkang dan sangat suka melawan perkataan nya kini berubah 360 derajat. Sudah tak ada Lyza yang sombong, angkuh dan berhati dingin. Sekarang ia sudah menjelma menjadi bidadari yang sangat indah dan cantik di mata Ares


" Apa waktu itu kamu mengalami kesulitan saat mengandung Fatih?."


" Alhamdulillah, Fatih anak yang kuat dari dulu. Aku sama sekali tidak mengalami morning sick. Bahkan mengidam ku juga sangat jarang, bahkan bisa di hitung pakai jari." Ucap Lyza. Ia menerawang kembali ke masa lalu. Masa-masa Sulit namun menyenangkan.


" Syukurlah kalau Fatih tidak merepotkan mu. Kamu mengidam apa saja waktu itu, sayang?."


" Apa yah? Tidak susah untuk mencarinya sih. Cuman nasi goreng buatan sendiri sama terkadang aku juga ingin makan mangga muda. Tapi untung lah tidak sulit mendapatkan nya, apalagi para penjaga dan teman-teman satu rutan ku semuanya baik-baik." Jelas Lyza


Ares tersenyum getir mendengar perkataan Lyza. Walau Lyza bilang tidak perlu merasa bersalah, tetap saja rasa itu tidak akan hilang sepenuhnya.


" Hmm sepertinya menyenangkan. Bagaimana kalau kita buat adik untuk Fatih." Goda Ares. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi sendu


Lyza membulatkan matanya. Ia sontak menoleh melihat Ares dan di berikan kedipan mata dari sang suami.


Lyza memukul lengan suaminya. " Mesum!." Sejak kapan sang suami menjadi seperti ini? Oh tidak, Lyza lupa jika suaminya memang orang yang seperti ini jika bersamanya.


Ares tertawa melihat wajah merah Lyza. Ia sangat merindukan wajah itu, wajah yang selama ini hanya ia lihat dalam bingkai foto atau mimpinya.


" By, jangan terlalu kencang. Nanti Fatih bangun." Perjalanan yang di iringi canda tawa dari kedua pasutri itu.


.........


Hampir tiga jam mereka berada di perjalanan. Sebagian waktu nya mereka gunakan untuk istirahat. Misalkan sholat, atau makan.


Mobil memasuki pekarangan rumah. Rumah tempat saksi bisu Lyza berubah. Kerinduan nya tidak bisa ia tahan. Di depan rumah terlihat keluarga Ares beserta Sean dan Zean disana menyambut kedatangan Lyza. Disana juga ada Desi


" By, kamu tidak menikah lagi 'kan?." Entah mengapa Lyza tetap khawatir


" Astaghfirullah, sayang. Berapa kali haru aku katakan. Kalau suami mu ini tidak akan menduakanmu!." Mengelus pipi Lyza. Ares memajukan wajahnya hendak mencium Lyza. Sedangkan Lyza langsung menutup matanya. Mereka sangat ingin meluapkan kerinduan yang di tahannya selama ini


" uma...." Sahut Fatih dengan suara serak khas bangun tidur. Sontak kedua orang itu terkejut dan segera menjauh.


" Kamu sudah bangun sayang? Ayo kita turun." Keadaan tiba-tiba menjadi canggung. Bagaimana tidak!? Mereka ketahuan hampir berciuman di depan anaknya sendiri.


Ares segera membuka pintu mobil. " Ayo kita turun. Sudah banyak yang menunggu mu sayang." Ucap Ares. Ia lebih dulu turun dan membukakan pintu mobil untuk anak dan juga Istri nya.


Lyza tersenyum, ia menggendong Fatih dan turun dari mobil. Ares mengambil alih Fatih ke gendongan nya


" Lyza..." Lirih ibu dan langsung memeluk Lyza dengan berderaian air mata. Lyza juga ikut menangis, ia tidak menyangka akan di sambut seperti ini.


Ibu melepas pelukannya lalu menangkup wajah Lyza. " Jangan pergi lagi nak, kami merindukan mu." Mencium dahi Lyza.


" Kak Lyza, kakak kenapa pergi begitu saja? Jangan tinggalkan kami lagi kak." Ujar Ara lalu memeluk Lyza. Lyza membalas nya namun tidak di eratkan sebab perut Ara yang sudah mulai membesar.


" Nyonya, apa anda baik-baik saja? Bagaimana keadaan anda? Kenapa anda pergi tidak bilang-bilang? Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anda?." Seru Sean menumpukan pertanyaan pada Lyza.


Zean menjitak kepala sang adik. Ia tidak menyangka bisa-bisanya hal itu yang di tanyakan pertama kali pada sang young ms.


" Selamat datang kembali nyonya." Menunduk hormat. " Kami sudah menunggu anda." Ucapnya saat ia menegakkan badannya. Sapaan formal yang di rindukan Lyza. Namun ia merasa aneh jika di sapa seperti itu.


Mereka hanya mengulum senyum melihat Zean memberikan salam kepada Lyza. Mau bagaimana lagi, kebiasaan tidak bisa di ubah begitu saja.


" Hai nyonya.. masih ingat saya 'kan?." Canda Egi mencairkan suasana.


Lyza tertawa pelan. " Terima kasih untuk sambutannya. Aku sangat bahagia." Tersenyum hangat. " Maaf sudah membuat kalian khawatir." Lirihnya. Ia mendadak merasa bersalah


Ares merangkul Lyza. " Jangan di pikirkan. Bukannya kamu bilang semua pasti ada hikmahnya." Tutur Ares.


" Iya benar. Asalkan kak Lyza baik-baik saja itu sudah cukup." Timpal Ara


Lyza kembali tersenyum. Ia tidak menyangka akan di sayangi oleh begitu banyak orang saat ini. Padahal mereka sudah tahu bagaimana watak Lyza dulu, namun mereka tetap menerimanya apa adanya.


Nikmat Tuhan mana lagi yang Lyza dustakan?


Lyza sangat bersyukur di kelilingi orang-orang baik seperti ini. " Terima kasih. Kalian memang orang-orang baik." Ucap Lyza, air matanya kembali berlinang. Air mata haru dan senang


" Sudah.. sudah.. ayo kita masuk, kalian pasti lelah dari perjalanan 'kan." Ajak ibu


.........


Mereka duduk di sofa. Fatih yang tadi selalu tertidur dalam perjalanan, kini sudah tidak mengantuk lagi. Malahan ia nampak segar


" Oh yah. Aku belum perkenalkan nama." Ujar Desi. " Hai kak, kenalkan nama aku Desi, sepupunya bang Ares sama Ara." Mengangkat dua jarinya


Lyza tersenyum. " Hai, kamu sudah tahu aku 'kan." Ucap Lyza. Lagi, ia merasa dirinya lelucon saat mengingat bagaimana sakit hatinya Lyza kesalah pahaman yang ia buat sendiri


Ares Tersenyum jahil lalu mendekat ke telinga Lyza " Ingat! Sepupu, bukan istri kedua ku." Bisik nya


Lyza berdecak. Kenapa harus selalu di ungkit-ungkit sih? Pikirnya


" Katanya selama ini kamu tinggal di pesantren An-Nur, nak?." Tanya ayah. Ia mendapat info dari Abi Soumad


" Iya ayah. Mereka semua baik padaku." Ucap Lyza. Rasanya rindu lagi kepada keluarga harmonis itu


" Syukurlah, mereka memang orang baik yang tulus." Lyza tersenyum dan membernarkan perkataan ayah. Abi Soumad, umi Sarah, Nurul, Taufik dan Tia mereka semua orang-orang baik yang tulus


Lyza beralih Melihat ke perut Ara. Sedari tadi, Zean tak henti-hentinya mengelus perut yang sudah sedikit membesar itu.


" Sudah hamil berapa bulan Ara?." Tanya Lyza membuat semua pandang mata beralih ke kedua pasutri itu. Pasutri yang sedari tadi berada di duania nya sendiri.


Walau begitu, Zean tak berhenti mengelus perut bumil yang satu ini. " Alhamdulillah jalan 4 bulan kak." Jawab Ara


" Mesra-mesraan nya di tunda dulu. Kalian tidak kasian sama kami yang jomblo ini." Ucap Egi


" Ya benar." Sahut Sean


" Setuju." Timpal Desi


" Mau bagaimana lagi, aku ngidamnya ingin di elus-elus sama suami ku." Ucap Ara membuat mereka semua bungkam, tidak ada yang berani membalas. Jika bumil sudah bertindak mereka hanya bisa menuruti


" Oh iya benar. Waktu aku hamil juga rasanya ingin di elus terus." Ucap Lyza. Ia tidak sadar apa yang dikatakan nya membuat semua orang disana merasa bersalah. Apalagi Ares


Inilah salah satu alasan Ares sangat bersalah pada sang istri. Ia selalu melihat Ara yang bermanja-manja dengan Zean ketika hamil. Dan bagaimana Istri nya waktu itu? Ia bermanja-manja dengan siapa?


" Emm kalian pasti lelah. Bagaimana kalau Kamu pergi istirahat dulu Lyza?." Ucap ibu mencoba mengalihkan pembicaraan


" Iya benar uma, pasti uma lelah 'kan. Nanti Fatih bantu pijat." Ujar Fatih. Mereka yang disana terkejut mendengar Fatih yang fasif mengatakan R.


Yah jika Fatih sudah fasih mengatakan huruf R, maka tidak ada lagi alasan untuk menjahili nya. Pikir Sean, Egi dan Desi


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️