My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Cinta Pertama



Dalam perjalanan pulang Ares sama sekali tidak buka suara, ia takut malah akan membuat mood Lyza semakin buruk. Apalagi sekarang Lyza sedang PMS.


Lyza dan Fatih lah yang bersenang-senang di belakang sana.


Hingga mereka pun sampai. Lyza langsung turun dengan menggendong Fatih, sedangkan Ares memasukkan mobil kedalam basement terlebih dahulu lalu segera mengejar sang istri yang sudah terlebih dahulu masuk ke rumah.


Saat ia masuk, terlihat Lyza tengah membawa Fatih ke dalam kamarnya. Mungkin Lyza ingin menidurkan Fatih terlebih dahulu. Dengan cepat Ares menghampiri Lyza. " Kamu sudah mau tidur, Fatih?." Tanya Ares


Fatih mengangguk " iya Abi."


" Kalo gitu biar abi yang bawa masuk ke kamar yah. Kasian uma pasti lelah." Ares langsung mengambil alih Fatih. Lyza hanya diam


" Iya. Aku tidur duluan yah uma." Seru Fatih di pelukan sang ayah


Lyza tersenyum lalu mengecup kening sang putra. " Iya, tidur yang nyenyak yah. Mimpi indah." Ucapnya setelah melepas kecupan itu


" Good night."


" Good night dear." Balas Lyza


Ares tersenyum ia mengelus kepala Lyza. Lyza hanya diam, ia tidak ingin marah-marah di depan Fatih. " Kamu istirahat juga sayang. Nanti aku menyusul."


" Hmm." Setelahnya Lyza pun berlalu ke kamar sedangkan Ares membawa Fatih masuk ke kamarnya.


Lyza menutup pintu kamar, ia melepas hijab nya dan menaruh di atas sandaran sofa. Ia menghela nafas kasar. " Haisss apa aku berlebihan yah?." Ia sedikit merasa kasian kepada sang suami. Tapi saat mengingat tatapan Aisyah kepada suaminya ia kembali kesal. " Tidak! Siapa suruh dia tebar pesona. Sudah tahu tampan, masih saja tebar pesona." Ketusnya lalu berlalu masuk kedalam kamar mandi.


Setelah mandi Lyza segera memakai piyama dan menyisir rambut serta memakai scin care di wajahnya. Ia menunggu Ares namun tak kunjung datang.


Lyza kembali duduk di tepi ranjang memainkan ponsel sembari menunggu sang suami.


Tak berapa lama...


Ceklek....


Ares masuk kedalam kamar. Ia lama sebab Fatih yang tak kunjung-kunjung tidur. Namun akhirnya ia berhasil menidurkan sang putra.


Ia melirik Lyza yang bergeming di tempatnya, terlihat Lyza sama sekali tidak tertarik untuk sekedar meliriknya. Ares menghela nafas pelan, sudah pasti ia akan kena omel. Sebelum itu, Ares cepat-cepat masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Setelah beberapa menit, ia kemudian keluar kamar mandi namun lagi-lagi Lyza sama sekali tidak menoleh nya atau berbicara kepadanya. Hal itu membuat Ares sedikit bingung, namun ia harus segera memakai piyama. Ares pun masuk kedalam walk in closet


Sedari tadi Lyza memang tidak melirik sang suami, namun ia juga tidak fokus dengan ponselnya. Lyza men-csrool branda medsos tanpa memperhatikan apa isinya. Ia kembali kesal sebab Ares sama sekali tidak menyapa atau merayunya.


Ares keluar dari dalam walk in closet dengan memakai piyama. Ia memantapkan hati dan mentalnya sebelum kena omel dan amukan Istri nya. Pelan-pelan ia mendekati Lyza lalu duduk di samping Lyza


" Sayang..." Memegang pundak Lyza, sedangkan yang di pegang bergeming. Seakan tidak menghiraukan Ares.


" Sayang... Kamu marah?." Mencoba untuk tetap memanggil. " Sayang..." Ulangnya namun Lyza tetap tak menggubris Ares.


Ares sedikit bingung, biasanya Lyza akan marah-marah atau mengomel. Namun ini, bahkan untuk melihat nya saja Lyza seperti tidak sudi. Sebesar itukah kesalahan nya? Padahal ia sama sekali tidak menerima perjodohan itu!


" Yang... " Memeluk Lyza dari samping. " Jangan marah yah." Mengusel-usel hidungnya di tengkuk Lyza


" Hmm." Lyza berdehem. Ia sangat ingin tersenyum melihat tingkah manja sang suami, namun ia masih mode marah. Hati nya sudah berbunga-bunga.


" Sayang... Jawab aku dong.. yang..." Mengecup pipi Lyza. Lyza sama sekali tidak menggubris Ares.


Ares mengehela nafas pelan. Ia semakin mempererat pelukannya. " Jangan diamkan aku yang. Mending kamu marah-marah, keluarkan semua keluhan mu, asal jangan diamkan aku. Aku tidak sanggup, please.." suara nya berubah sendu dan semakin lemah


Ares lebih memilih di maki sang istri dari pada didiami seperti ini. Ia tiba-tiba rindu dengan suara istri nya.


Lyza terenyuh mendengar nya. Ia menghela nafas kasar lalu menaruh ponselnya di ranjang. " Tidak ada yang ingin kamu jelaskan, by." Ucap Lyza


Ares tersenyum, akhirnya Lyza angkat bicara. " Seperti yang kamu dengar tadi, sayang. Sudah lama kyai Rozak ingin menjodohkan aku dengan Aisyah." Jelas Ares masih memeluk Lyza dari samping


" Sejak kapan?." Tetap saja ada yang mengganjal di dala hati


" Sebelum aku bertemu kamu."


" Terus?."


" Awalnya sih aku berniat menerima tawaran kyai Rozak, namun waktu itu tiba-tiba ayah sama ibu menyuruh aku untuk melamar mu. Jadi, tidak..___" ceplos Ares, ia sama sekali tidak menyadari apa yang di katakan. Mungkin karena Ares sudah biasa berkata jujur di depan sang istri.


Lyza melepas pelukan Ares lalu berdiri. " Apa! Jadi, maksudnya aku yang menghalangi hubungan kamu dan Aisyah! Iya? Begitu!." Pekik Lyza. Hatinya sakit mendengar penuturan sang suami. Mungkin karena sekarang Lyza sedang PMS jadi moodnya terombang-ambing seperti ini.


Ares berdiri, ia kalang kabut. Ares memegang kedua pundak Lyza " Tidak sayang! Bukan seperti itu maksud ku. Maksudnya.."


Lyza mengangkat kedua tangan sampai dada " sudah... Aku tidak ingin mendengar nya lagi. Aku mengantuk dan ingin tidur." Ketus Lyza lalu langsung berbaring di ranjang dan menyelimuti tubuhnya. Ia memunggungi Ares


" Sayang dengarkan aku dulu." Naik ke atas ranjang. Ares memegang pundak Lyza


" Sayang..." Panggil Ares dan sama sekali tidak ada respon. Ares kembali panik, bagaimana jika sang istri mendiami nya lagi? Ia tak akan sanggup.


Ares ikut masuk kedalam selimut lalu memeluk Lyza dari belakang " Sayang..." Lirih Ares tetap di tengkuk Lyza


" Hmmm." Setelah lenguhan itu terdengar tiba-tiba suara ngorok ikut menimpali.


Sontak Ares memeriksa keadaan Lyza. Ia menghembuskan nafas kasar, Istri nya sudah tertidur. Mau tidak mau kesalahpahaman ini harus ia selesaikan besok pagi, jika perlu Ares tidak perlu masuk bekerja dulu sebelum semuanya menjadi lurus


Ares tidak suka jika ada masalah di antara mereka dan masalah itu di tunda-tunda, jika seperti itu sama saja jika ia memupuk masalah itu semakin besar dan berakhir di depan meja hijau, ia tidak ingin seperti itu.


Seharusnya Ares langsung sadar waktu itu, ia sangat tau istrinya itu pencemburu. Tapi bisa di bilang ini sudah tidak separah dulu. Ares masih ingat saat Lyza melihatnya tersenyum kepada wanita lain, waktu itu Lyza marah-marah tak jelas padanya. Tapi jujur saja Ares sangat suka hal itu, bukannya jika seseorang cemburu menandakan rasa cinta?


Adzan subuh berkumandang, Ares segera bangun dari tidur. Ia tidak sempat sholat malam karena terlalu larut memikirkan bagaimana cara menjelaskan kepada sang istri.


Ia bangun dan membersihkan tubuhnya, setelah itu ia pun sholat.


Setelah sholat dan mengaji, Ares kembali naik ke atas ranjang dan masuk kedalam selimut. Ia mendekap istrinya yang kini menghadap padanya.


Ares mengecup pucuk kepala Lyza, wangi dari rambutnya membuat Ares candu. Tiba-tiba Ares merasakan pergerakan dari Lyza dan lenguhan yang menandakan Lyza akan segera bangun.


Dan benar saja Lyza terbangun. Ia mendongak melihat Ares yang sedang mendekapnya. Ares tersenyum " Pagi sayang." Mencium kening Lyza


Lyza hanya diam, ia tidak menolak perlakuan sang suami. Lyza kembali melihat dada Ares yag tepat berada di depannya


" Kamu masih marah sayang?." Tanya Ares lembut. " Maaf..." Lirihnya kemudian


Lyza hanya diam. 'sudah tahu aku marah, masih nanya!'


" Dengarkan penjelasan aku dulu yah, jangan menyelany." Tutur Ares lembut. Ares mengelus surai panjang Lyza. Ia kemudian mengecup nya.


" Waktu itu aku tidak jadi menerima perjodohan yang di katakan kyai Rozak karena tiba-tiba ada seorang wanita sombong yang masuk tanpa izin kedalam hatiku." Lyza tersenyum mendengarnya, ia tau jika yang di maksud sang suami adalah dirinya.


" Kamu tau sayang, kamu adalah cinta pertama ku setelah ibu, wanita yang berhasil mendapatkan hatiku bahkan hal itu terjadi saat pertemuan pertama kita. Egi, ayah, ibu, dan Ara bahkan tau akan perasaan ku ini." Lyza semakin di buat kesemsem. Wajahnya sudah merona.


Apa memang benar Ares jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya? Tapi, waktu itu pertemuan mereka sama sekali tidak romantis dan baik-baik seperti orang lain. Pikir Lyza


" Yah mungkin kamu berfikir aku bohong, tapi percayalah sayang tidak ada seorang pun dalam hatiku selain kamu." Mengecup surai panjang Lyza bertubi-tubi


Lyza semakin di buat merona. " Ehem.." ia berdehem. Suaminya tidak mungkin bohong pada, satu hal yang Lyaa tau akan hal ini.


" Tapi, waktu itu kamu juga ingin menerima perjodohan nya 'kan." Lirih Lyza. Tetap saja ada yang mengganjal. Kenapa coba Ares ingin menerima perjodohan itu jika tidak memiliki perasaan khusus?


Ares menghela nafas pelan " Aku tidak mencintai Aisyah sayang." Seperti mengetahui isi pikiran sang istri.


" Semua nya aku lakukan untuk ayah dan juga ibu. Mereka sudah tua, seharusnya mereka sudah menggendong cucu-cucunya, namun baik aku atau Ara tidak pernah pacaran atau pun terlalu dekat dengan lawan jenis. Jadi, aku berfikir mungkin aku bisa menerima perjodohan itu, kalau urusan cinta itu bisa belakangan." Jelas Ares panjang lebar


Lyza manggut-manggut. Ia kemudian membelas pelukan sang suami erat, entah mengapa tiba-tiba ia merasa bersalah " Aku juga ingin minta maaf, tidak seharusnya aku marah-marah seperti tadi malam." Suara Lyza tenggelam di dada Ares.


Ares kembali mencium kepala Lyza. Sontak Lyza mendongak, ia tersenyum melihat sang suami. Pelan-pelan Lyza mengecup bibir Ares. " Sebagai permintaan maaf ku." Mengedipkan sebelah matanya.


Ares Terkekeh ia kemudian menarik tengkuk Lyza dan melumaat pelan bibir Lyza. " Sudah by, aku mau masak." Ucap Lyza dan turun dari ranjang


Ares juga ikut turun. Ia ingin berolahraga di ruang khusus olahraga milik nya.


Akhirnya kesalahpahaman yang terjadi bisa terselesaikan. Beban berat yang sedari tadi ada di kepala Ares langsung menguap hilang begitu saja.


.........


Sesuai perkataan nya, Lyza menyibukkan diri di dapur. Sedangkan Ares berolahraga pagi di ruangan gym di rumahnya.


Saat sedang asik di dapur, tiba-tiba sebuah lengan kekar melingkar di pinggang Lyza. Dan ia tahu siapa itu.


Ares mencium tengkuk Lyza. Ia sangat suka bermesra-mesraan dengan sang istri, hal ini akan membuat hubungan keduanya tidak akan renggang. Padahal keduanya sudah bukan pengantin baru lagi, namun semakin hari kelakuannya malah melebihi pengantin baru.


" Kamu wangi sayang." Masih mencium tengkuk Lyza


" Astaghfirullah by, jangan lakukan hal gila lagi." Ujar Lyza. Ia masih mengingat bagaimana dirinya di kendalikan sang suami tepat di dapur


Ares Terkekeh, waktu itu dirinya sama sekali tidak bisa menahan diri melihat tubuh sang istri. Ia kemudian mengecup pipi Lyza. " Kamu buat apa sayang."


" Sandwich." Singkat Lyza. " Kamu bau keringat by, pergi mandi sana."


" Nanti~." Ucapnya dengan nada manja


Fatih yang waktu itu sudah bangun dan hendak mencari sang ibu di dapur malah melihat adegan mesra antara ayah dan juga ibunya. Fatih masih menggunakan piyama, bahkan rambutnya masih urak-urakan. Fatih langsung berlari memeluk kaki Lyza


Sontak keduanya menunduk melihat Fatih. " Ayah sama Uma sedang mesra-mesraan?." Tanyanya dengan wajah polos.


Lyza segera melepas pelukan Ares. Sedangkan Ares hanya terkekeh dan menggendong Fatih, ia mengecup pipi sang putra. " Iya, ayah sama uma sedang mesra-mesraan dan Fatih mengganggu kami." Goda Ares


" Siapa suluh ayah nakal. Coba lihat ayah masih bau kelingat tapi sudah memeluk Uma." Ucapnya dengan nada mengomel.


Lyza hanya geleng-geleng melihat tingkah keduanya. Sedangkan Ares terkekeh dan mencium seluruh wajah sang putra dengan gemas.


" Kalian pergi mandi dulu." Ujar Lyza


Keduanya menoleh ke arah sang ratu. " Baik baginda." Seru bersamaan kedua pria berbeda generasi itu kemudian langsung pergi dari sana.


Lyza tersenyum. Ia Sangat menyukai keharmonisan keluarga kecilnya. Lyza berharap semoga hal ini akan selalu bertahan hingga ajal menjemput.


.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️