My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Perpisahan



Sekarang Ares mencoba untuk tenang dan tidak bertindak gegabah lagi. Ia membenarkan perkataan Sean yang tidak ingin menghancurkan tekad sang istri.


Namun bukan berarti Ares akan diam saja, Lyza sudah memberi izin untuk meringankan hukuman nya. Maka, Ares pastikan hukuman yang akan di dapat Lyza akan menjadi sangat ringan.


" Saya juga akan menyerahkan diri saya ". Ucap Zean saat semuanya sudah tenang, bahkan Egi juga telah menghubungi pengacara.


Perkataan Zean sontak membuat semua orang disitu melihatnya dengan tatapan terkejut. Belum selesai masalah Lyza, sekarang ia juga ingin membuat dirinya dalam masalah.


" Apa kamu yakin? ". Tanya ayah, ia tidak berhak melarangnya.


Zean mengangguk tegas. Padahal rencananya ia ingin melamar sang pujaan hati, namun takdir berkata lain. Mungkin hari itu tidak akan terjadi.


" Tunggu...!! ". Sean berdiri


" Apa lagi? ". Menatap Sean Dengan tatapan tajam. Zean masih belum bisa memaafkan perbuatan Sean.


" Jangan lakukan itu.. ". Ucap Sean, ia sudah tahu ia akan di amuk lagi jika mengatakan nya, namun ia tetap harus mengatakan yang sebenarnya bukan?


" Apa! Jadi, maksud mu semua kesalahan yang telah kita perbuat... Harus di limpahkan pada nyonya ". Zean kembali di gerumuni kemarahan.


" Apa benar begitu, Sean? ". Ares menatap tajam pada Sean dengan suara dingin. Sean sekarang yang sudah berdiri, ingin rasanya ia bersimpuh kembali melihat tatapan tajam dari kedua orang itu. Namun ia mencoba untuk mempertahankan harga dirinya yang sudah tidak seberapa ini.


" Bukan!!.. aku sudah membujuk nyonya, biar aku sendiri yang masuk ke balik jeruji... Namun nyonya menolaknya dengan keras, bahkan saat aku ingin menemaninya masuk kedalam jeruji, ia malah semakin menolak ". Kata Sean jujur.


" Jadi, kau ingin menurutinya begitu saja? ". Apakah janju yang di katakan Sean bisa di langgar untuk sekali saja?


" Maaf... ". Lirih Sean menunduk.


Zean tertawa remeh memandangi sang adik. " Kau benar-benar pengecut ".


Sontak Sean mengangkat kepalanya dan menatap Zean dengan tatapan tajam. Ia sangat tidak suka dikatakan pengecut! " Kalau begitu... Sana.. kau bujuk nyonya.. apa dia mau membatalkan semuanya atau paling tidak agar kita bisa masuk penjara bersama-sama ". Ucap Sean dengn sedikit terbawa emosi.


Tidak mengertikah mereka jika ia juga tersakiti disini?


Zean berdiri. " Kau memang pengecut... Hanya begitu saja dan kau tidak bisa melakukannya!! ". Bentak Zean


Sean semakin dibuat kesal dengan perkataan sang kakak. Ia tersenyum miris. 'ya ... Hidupmu memang enak .. aku yang harus menanggung semuanya agar kau bahagia'. Batin Sean, ia tidak ingin mengatakan nya dengan lantang.


" Jadi, apa kau bisa menolak jika nyonya sampai harus menohon pada mu? Apa kau bisa menolak jika nyonya sampai memberikan wajah memelas nya? Apa kau bisa menolak kalau nyonya sampai ingin berlutu di bawah kaki mu?? Hahh!!! ". Bentak Sean.


Mereka semua tercengang mendengar perkataan Sean. Apakah Lyza sampai harus berlutut?


" Sean, apa jangan-jangan... ". Egi yang dari tadi hanya diam saja, akhirnya buka suara.


" Iya, nyonya sampai ingin berlutut agar aku membantunya... Padahal jelas-jelas dia adalah Majikan ku sendiri... ". Menutup wajahnya menggunakan satu tangan, ia tertawa miris. Menertawai ketidakmampuan nya. " Mungkin benar.. aku adalah anjing yang menggigit majikannya sendiri ". Lirih Sean


Mereka semua terdiam. Iyya jujur saja, tidak ada yang bisa menolak tatapan dan wajah memelas Lyza. Apalagi kalau sampai Lyza memohon seperti itu.


Bahkan Egi yang tidak terlalu mempunyai hubungan spesial dengan Lyza, pasti tidak bisa menolak jika Lyza memohon dengan dirinya. Apalagi sampai bersujud.


" Baiklah..., aku akan mengatakan pada pengacara kita untuk mengusahakan hukuman nyonya Lyza di ringan 'kan, seringan mungkin ". Ucap Egi, mencoba mencairkan suasana.


Mereka semua mengangguk setuju.


" Ares, Zean dan kamu Sean... Sebaiknya istirahat lebih dulu.. kalian terlihat sangat lelah.. ". Ucap ayah melihat wajah yang disebut masing-masing. Dan memang nampak wajah lelah dari mereka bertiga, bukan hanya lelah.. namun wajah kesedihan juga tertuang jelas di raut wajah mereka.


Ares mengangguk. " Assalamu'alaikum ". Salam nya sebelum pergi, setelah mendapatkan salam barulah Ares kembali ke kamarnya. Tempat dimana seharusnya ia dan sang istri berbagi cinta, namun apalah daya jika takdir berkata lain.


Zean pun mengangguk. Ia berdiri, lalu menyalami tangan ayah. " Assalamu'alaikum ".


" Wa'alaikum salam ". Jawab mereka, kecuali Sean yang hanya diam saja.


Setelah kepergian Zean, kini Egi dan ayah melihat Sean yang masih berdiri dengan luka memar wajahnya. " Sean, sebaiknya kamu ke rumah sakit untuk mengobati memar di wajahmu ". Ucap ayah


Sean memegang memar yang terdapat di pipinya. " Baiklah.. kalau begitu aku permisi ".


Egi dan ayah mengangguk menanggapi. Lalu, Sean pun pergi dari sana, di perjalanan pulang Sean selalu mengingat hal yang terjadi tadi di rumah sang young ms.


Ia tertawa miris " Kapan aku bisa menjalani kehidupan normal juga ". Mengusap wajahnya, ia mencoba untuk fokus menyetir.


" Enaknya... Menjadi Zean... ". Ucapnya lagi menerawang kehidupan yang akan di jalani sang kakak, lalu membandingkan nya dengn dirinya.


Sean menggeleng keras " Ini sudah kewajiban ku! ". Katanya lagi.


Di kamar


Dengan langkah lunglai nya Ares masuk kedalam kamar. Ia menatap seluruh isi ruangan. Aroma sang istri tiba-tiba menyeruak begitu saja melalui hidung nya. Ia berjalan menuju ranjang.


Pasti, dirinya akan sangat merindukan sang istri. Ia tidak ingin mempercainya tapi, Lyza pasti akan di beri hukuman penjara. Setahun atau bahkan lebih. Ares mengusap kasar wajahnya.


Hufffff....


Ia berdiri. Sekarang bukan waktunya untuk bersedih seperti ini. Sang istri sudah susah payah membangun tekadnya, maka ia juga harus mempertahankan tekad tersebut. Sesakit apapun itu.


Ares kemudian berjalan ke dalam kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Sedangkan di tempat lain...


Setelah di beri izin, Zean pun di suruh duduk di salah satu ruangan dimana disana ada dua kursi dan meja sebagai sekat di antara kursi tersebut.


Tak lama kemudian, Lyza datang dengan di kawal oleh satu polisi. Sontak Zean berdiri.


" Zean!! ". Lyza terkejut melihat kedatangan Zean, padahal belum sampai dua jam ia di tahan disana, namun sudah ada yang mengunjungi nya.


" Nyonya... ". Lirih Zean


Lyza tersenyum melihat wajah khawatir Zean. " Duduklah, Zean ". Duduk di salah satu kursi disitu. Zean pun duduk sesuai instruksi sang young ms.


" Ada apa? ". Tanya Lyza to the point


" Saya sudah mendengar semuanya dari Sean... Nyonya, kenapa anda melakukan hal ini? ".


" Kalau kamu sudah dengar semua nya dari Sean, maka kamu pasti tahu alasan ku melakukan semua ini 'kan ".


Zean terdiam. " Kalau begitu.. izinkan saya juga untuk menemani anda disini ".


Lyza menggeleng " Jangan, bukannya kamu mau melamar Ara? Lamarlah Ara.... Cari kebahagiaan mu sendiri, dengan begitu aku juga bisa tenang ". Tersenyum manis


Zean lagi-lagi terdiam " Tidak nyonya... Saya akan menyerahkan diri saya! ".


" Zean!! Kalau kamu melakukannya, bisa kamu pastikan aku akan hilang di dunia mu ". Tegas Lyza dengan menatap tajam Zean.


Zean terdiam, ia tidak dapat melakukan apapun lagi. " Baiklah... Tapi, jangan keberatan saat hukuman anda di ringankan ". Lyza mengangguk setuju.


Setelah nya Zean pun pergi dari sana.


Tiga hari kemudian....


Sidang pun di mulai hari ini, mereka semua berdoa masing-masing untuk kelancaran sidang. Di balik meja hijau itu, semuanya di kemukakan. Namun Lyza terkejut, sebab tidak semua kejahatan nya di katakan.


Yah kejahatan Lyza bukan hanya perdagangan senjata ilegal, namun ada juga pencurian, bahkan pembunuhan berencana.


'pasti mereka semua yang melakukan nya'. Melihat tempat di mana ada keluarga sang suami, Zean dan Sean juga. Ia menghela nafas.


Tak lama kemudian, ketukan palu penanda Sidang telah usai. Lyza di fonis hukuman 5 tahun penjara serta denda sebesar satu milyar rupiah dan beberapa aset Lyza yang di sita. Itu bukanlah sesuatu yang berharga bagi mereka, namun tetap saja Lyza harus di penjara.


Lyza bengong, mendengar hukumannya di ringankan sangat ringan. Dari penjara seumur hidup atau bahkan hukuman mati, menjadi penjara lima tahu?? What!! Sungguh tidak ada keadilan disini!!


Ya, hakim disini saja bergeming di hadapan keluarga Warrent. Tidak ada yang ingin melawan nya. Keadilan Biarlah jadi mimpi semua orang.


Saat Lyza hendak di bawa kembali oleh seorang polisi ke sel nya. Ares beserta rombongan nya menghampiri Lyza.


" Sayang... Kamu yakin? Lima tahun loh ". Memegang kedua pundak Lyza.


Lyza menghela nafas. Bisa-bisanya hukuman yang di dapatkan hanya lima tahun penjara, dari kejahatan yang di lakukan nya. Namun, ia juga bersyukur dengan begini ia masih punya kesempatan untuk melihat mereka.


" By, aku sudah yakin... Jangan khawatir. Oke ". Lembut Lyza


" Kami akan selalu mendukung mu nak ". Ibu membuka suara, ia tidak bisa menahan air matanya untuk tak jatuh.


Lyza langsung memeluk ibu, dan mengelus punggung nya. " Jangan menangis bu, aku tidak tega melihatnya ". Padahal dia yang akan masuk penjara, namun mereka yang terlihat akan menangis.


" Sudah.. sudah.. cuma lima tahun, dan lima tahun ini ... Aku harap kalian semua berbahagia saat aku keluar ". Ia mencoba untuk tegar


Mereka hanya bisa mengiyakan, dan ber harap agar Lyza juga bahagia.


Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka semua pergi dari sana meninggalkan Ares dan juga Lyza. Bahkan polisinya di tahan oleh keluarga Warrent agar tidak mengganggu kedua pasutri.


Ares memeluk sang istri. " Aku akan menunggumu mu... Jangan khawatir.. ". Sebisa mungkin Ares tidak meneteskan air matanya. Namun tetap saja ada yang menetes, namun Ares Langsung menghapus nya sebelum turun ke pipi.


" Hiks... Hiks.. maafkan aku by, kamu pasti kecewa sama aku." Menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami.


" Tidak!! Kamu sangat hebat sayang... Aku sangat bangga pada mu." Mencium kepala sang istri bertubi-tubi.


" Hiks... Hiks.. berjanji lah pada ku by." Mendongak melihat Ares dengan mata yang basah dengan air mata. Ares menunduk dan kedua mata mereka saling menatap.


" Carilah kebahagiaan mu sendiri... ". Menangkup wajah Ares.


" Kebahagiaan ku adalah ketika kamu bahagia sayang... ". Memegang tangan Lyza yang ada di pipinya.


Lyza menggeleng. " Kamu pasti malu dengan ku. Carilah pengganti ku by ".


" Sayang... Jangan katakan hal seperti itu! Aku akan menunggumu... Aku sangat mencintaimu you k'now?! Percayalah ". Tegas Ares.


Lyza kembali menangis, ia berhambur kepelukan sang suami. Sungguh dirinya berat harus berpisah dengan orang yang di cintai nya.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️