
Saat Lyza dan Ares sedang melepas rindu, lain halnya dengan ketiga orang ini yang tengah menonton Lyza dan Ares.
Abi Soumad, Nurul dan juga Taufik, mereka tengah menonton drama haru Lyza dan Ares yang telah terpisah selama hampir 5 tahun.
Di balik tembok itu, mereka bersembunyi. Sedangkan Umi Sarah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suami dan juga anak-anak nya, sembari mengevakuasi Fatih agar tidak ternodai.
" Wah... Rupanya kak Lyza sangat manja." Uca Nurul. Ia sudah di beri tahu hubungan antara Lyza dan juga Ares.
" Yah tidak apa-apa 'kan, manja sama suami sendiri." Timpal Taufik.
Selama ini, Lyza memang tidak pernah memperlihatkan sisi manjanya. Saat masih menjadi ketua mafia, ia hanya selalu bersikap dingin dan tegas, sedangkan saat ia telah menjadi ustadzah. Lyza lebih bersikap lemah lembut dan dewasa. Namun, beda saat bersama sang suami, Lyza akan menjadi orang yang berbeda.
" Apa Fatih sudah bisa kelual?." Tanya Fatih, ia sudah tidak tahan memeluk kembali ibunya.
Nurul kembali melihat situasi. Dan terlihat Ares yang sedang bertelepon dengan seseorang. " Semuanya sudah aman, kamu sudah bisa keluar." Ucap Nurul membuat Fatih senang bukan main.
Ia langsung berlari. " Uma..." Teriak Fatih memeluk kaki Lyza.
Lyza berjongkok mensejajarkan tingginya dengan sang putra. " Anaknya uma, yang sangat tampan." Mencium seluruh wajah Fatih
Fatih tertawa geli. " Uma juga sangat cantik, lebih cantik dari yang ada di foto."
" Hmm anak uma, bicaranya sangat pintar." Lyza sangat gemas dengan sang putra. Ia tak henti-hentinya menciumi wajah Fatih
Ares menyerngit bingung mendengar Fatih yang fasih mengatakan huruf R. Ia terkekeh, mungkin sang anak ingin terlihat keren di depan ibunya. Sayang, Ares juga ingin terlihat keren. Namun sisi lemah nya selalu terlihat di depan sang istri.
Ares ikut mensejajarkan tingginya dengan Fatih. " Bagaimana? Abi pintar 'kan, cari istri?."
Fatih mengangguk cepat. " Iya, Fatih juga mau punya Istri seperti uma." Ucapnya antusias
Lyza menyenggol lengan Ares. " Kamu masih kecil sayang, nanti saja kalau sudah besar yah. Jangan dengarkan ajaran sesat abi." Ucap Lyza
" Hmm." Fatih memiringkan kepalanya, ia tidak tahu apa yang di maksud Lyza. Ares hanya terkekeh mendengarnya.
" Alhamdulillah, akhirnya kesalah pahaman nya bisa terselesaikan juga." Ucap Taufik yang sudah ada disana bersama abi Soumad dan juga Nurul
" Alhamdulillah... Terselesaikan dengan damai. Masa aku dikira nikah lagi." Ares hanya geleng-geleng kepala. Ia kembali berdiri di ikuti oleh Lyza
" By.." Lyza sunggu malu kali ini. Bisa-bisanya ia membuat kesimpulan seperti itu.
Mereka hanya tertawa melihat Lyza. " Jadi, kak Lyza akan ikut bang Ahmad dong?." Tanya Nurul, ia tidak rela harus berpisah dengan Lyza. Mereka sudah sangat dekat.
" Ahmad?." Lyza masih tidak tahu siapa itu Ahmad. Bukannya nama sang suami itu Ares?
" Itu aku sayang, nama ku kalau jadi ustadz." Ucap Ares melihat wajah kebingungan Lyza. Lyza hanya ber-oh ria saja, ia tidak ingin terlalu memikirkannya.
" Iya, pastilah aku akan membawa pulang Istri ku." Jawab Ares menjawab pertanyaan Nurul
" Yah.. jadi sepi lagi." Ia cemberut. " Tapi asalkan kak Lyza bahagia, tidak apa-apa deh." Ucapnya lagi
" Tapi bukan hari ini kita pulang 'kan by?." Tanya Lyza. Setidaknya ia masih ingin berlama-lama dulu disini.
" Tunggu besok sore saja. Hari sudah malam, tidak baik untuk perjalanan." Timpal abi Soumad. Ia memberikan saran agar setidaknya mereka masih punya waktu bersama Lyza. Abi Soumad juga sudah menganggap Lyza sebagai anaknya sendiri
" Iya. Menginap lah disini." Ucap Taufik yang dari tadi hanya diam
" Baiklah. Jika tidak keberatan." Putus Ares. Tidak mungkin juga ia pulang malam-malam dengan membawa anak dan juga Istri nya. Apalagi angin malam sangat dingin
" Yeyyy, besok sore yah. Bukan pagi." Seru Nurul. Lyza dan Ares hanya mengangguk.
" Oh yah, jadi nanti kak Lyza sudah tidak akan mengajar lagi dong? Dan bagaimana dengan ustadz Fahmi?." Celoteh Nurul, ia mengatakan nua tanpa beban sama sekali. Taufik dan abi Soumad hanya geleng-geleng kepala.
Sebenarnya mengidam apa umi Sarah saat mengandung Nurul?
" Fahmi? Memangnya Fahmi kenapa?." Tanya Ares penasaran. Dahinya sudah menyerngit bingung. Kenapa malah bawa-bawa Fahmi?
" Ehmm itu..__"
" Ayo kita makan malam dulu." Umi Sarah berseru dari ruang makan. Walaupun Sudah jam 9 malam setidaknya, mereka tetap harus makan.
Mereka semua bernafas lega. Secara tidak langsung umi Sarah telah menyelamatkan mereka dari pertanyaan Ares nanti.
" Iya umi." Jawab Abi Soumad. " Ayo kita makan dulu." Ajaknya kemudian. Mereka pun pergi ke meja makan untuk makan malam yang sudah terlambat. Sedangkan Taufik lebih memilih untuk pulang, sudah cukup lama ia meninggalkan anak beserta istrinya.
Mereka makan dengan khidmat. Sesekali Ares membersihkan makanan yang ada di pinggir mulut Lyza, menandakan betapa besarnya cinta yang dimiliki Ares.
.........
Setelah makan malam, Kini mereka semua sudah masuk ke kamarnya masing-masing.
Di kasur ini menjadi tempat saksi bisu. Dimana Lyza harus mengurus dua bayi besar. Yang satu di pangkuannya yang sedari tidak ingin turun dan memeluk perutnya, dan yang satunya lagi berada di belakangnya yang juga sedari tadi mendekapnya erat. Ia di apit oleh dua pria tampan.
Kini mereka sedang bersandar di pan ranjang. Walaupun sebenarnya hanya Ares lah yang bersandar, sebab Lyza bersandar pada suaminya.
" Hmm Fatih tidur yah, sudah hampir tengah malam." Mengusap kepala Fatih yang sedang bersandar di dada sembari memeluk Lyza.
Fatih mendongak melihat wajah cantik ibunya " Iya uma, tapi tidak usah ganti posisi yah. Fatih lebih suka seperti ini." Ucap Fatih, sebisa mungkin mengeluarkan kata-kata R nya
Lyza mengangguk sembari mengelus kepala Fatih. Anak yang dulu ia lahirkan di dalam rutan kita telah besar seperti ini, ia sangat merindukan nya.
Lyza Terkekeh, ia mengelus rambut Ares yang yang sekarang ada di pundaknya. " Bagaimana apanya?."
Sungguh Ares sangat ingin meluapkan kerinduan yang selama ini ia tahan dengan berbagai peluh keringat di atas ranjang. Membuatnya bergoyang hingga subuh. Namun sebisa mungkin ia menahan, sekarang mereka tidak sedang berada di rumah nya sendiri. Lagi, ada Fatih disini
Ares mencium tengkuk Lyza. " Hmm by, ingat ada Fatih disini." Ucap Lyza. Sama, ia juga merindukan sentuhan sang suami.
" Iya sayang, cuman icip-icip." Katanya mengusel-usel di tengkuk Lyza
Lyza terkekeh dibuatnya. " Stop by, aku tidak akan tahan untuk tidak tertawa. Nanti Fatih bangun." Ucap Lyza
" Memangnya Fatih sudah tertidur?." Ia tidak percaya Fatih bisa tertidur begitu cepat. Biasanya ia harus mengeluarkan energi ekstra untuk bisa menidurkan Fatih. Memang ya, kekuatan seorang ibu tidak bisa tertandingi.
" Iya, malah dia sangat pulas. Kita juga tidur yuk, kasian Fatih nanti kepalanya sakit jika tidur dengan gaya seperti ini."
" Biar aku yang memindahkan Fatih." Ares dengan perlahan berdiri dari belakang Lyza, kemudian menggendong Fatih dan menaruhnya di pinggir kasur. Di sampingnya Ares menaruh guling disana.
" By, taruh di tengah. Kalau jatuh bagaimana?."
" Tidak perlu sayang. Fatih tidak akan jatuh, ayo sini kamu yang ada di tengah." Ia tidak akan mau jika tidak tidur berdekatan dengan sang istri
Lyza hanya geleng-geleng kepala. Namun sungguh hatinya berbunga-bunga melihat tingkah suaminya yang seperti ini. Lyza menurut dam tidur di samping anaknya, ia juga menghadap ke sang putra. Walau bagaimanapun ia tetap Takut jika Fatih jatuh, walaupun di sebelah nya sudah ada guling.
Ares tidur di samping Lyza, ia memeluk Lyza dari belakang. " Besok kita pulang, Fatih titip di mansion dulu yah." Bisik Ares di tengkuk Lyza
" Kenapa by?."
" Aku mau makan kamu besok, dan tidak mau di ganggu. Pokoknya tidak bisa di bantah, siapa suruh kamu kabur-kaburan. Ini juga hukuman sebab kamu sudah menuduh aku menduakanmu." Mengeratkan pelukannya
Lyza Terkekeh. " Iya.. iya.. haiss kamu ada-ada saja by, palingan Fatih juga tidak akan mengganggu kita."
" Tidak, Fatih pasti mengganggu kita. Aku yang selama ini membesarkan nya jadi aku tahu."
" Hei.. tapi aku yang mengandung dan melahirkan nya, jangan katakan yang aneh-aneh tentang putra ku."
" Putra kita sayang." Mencium leher sang istri. Ah.. ia harus bis menahan hasratnya. " Tapi jangan pergi-pergi lagi yah. Ingat! Kamu sudah dua kali loh salah paham seperti ini, waktu kamu mukul-mukul dadaku saat cemburu aku tersenyum sama klienku dan sekarang, kamu malah salah paham aku menduakanmu."
" By jangan bahas lagi, aku malu." Entah mengapa, tapi Lyza tidak bisa menggunakan akal sehatnya jika bersama sang suami.
" Oh yah sayang, kamu punya hubungan dengan Fahmi?." Tanya Ares, sudah dari tadi ia menahannya.
" Ustadz Fahmi?." Lyza memastikan
" Hmm."
" Katakan, apa hubungan mu dengannya?." Ucapnya lagi
" Sebenarnya..." Lyza tak tahu harus mulai dari mana
" Sebenarnya?."
" Sebenarnya, Ustadz Fahmi sudah melamar aku." Ucap Lyza hati-hati. Tentu, Ares terkejut di buatnya. Sontak saja ia terduduk
" Kamu menerimanya sayang?." Tanya Ares dengan nada sedikit tinggi.
" Tidur lagi by, aku tidak mungkin menerimanya." Ucap Lyza membuat Ares lega. Ares kembali tidur. Ia memeluk Lyza sangat erat, hampir saja ia kehilangan istrinya
" Aku sudah menolaknya, namun ia masih kekeuh ingin mengejarku. Tapi semoga dengan melihat kita bersama, ustadz Fahmi bisa menyerah." Ucap Lyza menjelaskan. Ia berharap agar Fahmi tidak lagi berharap padanya
" Hmm tenang saja, Fahmi tidak akan merebut istri orang." Ucap Ares memejamkan matanya
" Kamu sudah kenal dengan ustadz Fahmi by? Sepertinya kalian cukup akrab."
" Dia junior ku saat aku masih menuntut ilmu di pesantren." Lyza hanya ber-oh ria. " Sudah jangan membahasnya lagi." Entah mengapa, tapi Ares sungguh tidak ingin membahas nya lagi
" Katanya sekarang kamu mengajar yah sayang?."
" Hehe iya, aku membantu abi Soumad untuk mengajar beberapa santri yang usianya masih di bawah 10 tahun." Jawab Lyza
" Cie... Yang sudah jadi ustadzah. Kita jadi cocok dong, kamu ustadzah sedangkan aku ustadz." Ares Terkekeh sendiri dengan perkataan nya
" Memang dari dulu kita cocok 'kan. Kamu yang seorang CEO dan aku hanya ketua mafia. Mirip di novelkan."
" Hahah iya juga yah."
Hal yang paling di rindukan oleh Lyza dan juga Ares yaitu ini, saling bercerita dan berbagi kisah sambil berpelukan. Obrolan-obrolan ringan yang selalu mengisi malam mereka.
.
.
TBC
besok aku gak tahu bisa update apa enggak. soalnya besok udah sholat idul adha, kalau di kota othor😊 tapi bakalan aku usahin ajah deh😅
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️