My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Ketemu



Ares memarkirkan mobilnya di parkiran pesantren An-Nur. Hari sudah mulai gelap. Suara masjid yang sedang mengaji terdengar menandakan waktu isya akan segera tiba.


Fatih lebih dulu keluar dari dalam mobil. Perjalanan yang hampir memakan waktu dua jam lamanya itu membuat punggung kecilnya sedikit sakit. Ia meregangkan otot-otot tubuh nya.


" Capek ya?." Tanya Ares melihat putranya yang seperti sangat kelelahan.


Fatih menggeleng pelan. " Cuman sedikit." Ucapnya dengan pelafalan yang sempurna. Fatih hanya belum bisa mengatakan huruf R


" Benar? Kamu bisa istirahat nanti setelah sholat isya. Tidak perlu ikut pengajian." Ares tidak ingin membuat anaknya kelelahan. Karena itulah tadi, dia tidak mengizinkan sang putra untuk ikut


" Aku tidak apa-apa. Tidak perlu khawatir!." Ia tetap kekeuh. Sifat keras kepalanya ini sangat mirip dengan ibunya.


Ares menghela nafas pelan. " Baiklah, tapi kalau kelelahan bilang."


" Siap!." Menaikkan tangan nya bergaya seolah hormat kepada bendera


Ares Terkekeh, ia lalu menggendong Fatih. " Kita mau kemana abi?." Tanya Fatih di dalam gendongan Ares


" Ke rumah Umi Sarah sama Abi Soumad dulu, setelah itu baru kita ke masjid." Tutur Ares dan mulai melangkah. Fatih hanya manggut-manggut mendengarnya.


Tidak sampai beberapa menit mereka berjalan, rumah yang cukup sederhana namun indah itu terlihat. Ares menurunkan Fatih lalu mengetok pintu rumah.


Tok.. tok.. tok..


Ketuknya dengan sebelah tangannya memegang tangan mungil Fatih. " Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu." Salam Ares sedikit berteriak.


" Assalamu'alaikum." Teriak Fatih


Ceklek...


" Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatu." Umi tersenyum hangat melihat siapa yang datang. " Eh! Nak Ahmad, ayo masuk."


Ares tersenyum lalu menyalami tangan Umi Sarah. " Ayo Fatih salam sama nenek Sarah." Fatih pun menurut dan ikut mencium tangan Umi Sarah.


" Ini anak kamu Ahmad?." Tanya Umi


" Iya Umi." Katanya dengan senyuman.


" Eh! Astaghfirullah ayo masuk dulu." Umi mempersilahkan keduanya masuk


" Duduk di sofa dulu." Ares dan Fatih mengikuti perkataan Umi Sarah dan duduk di sofa.


" Mau di buatkan minuman?."


" Tidak perlu umi, sebentar lagi waktu isya. Kami juga cuman mampir memberi salam." Jawab Ares dengan senyuman.


Umi Sarah pun duduk di sofa. Walaupun sedari tadi Ares tersenyum, namun ia bisa melihat kesedihan di mata Ares. Umi Sarah tidak ingin mencampuri urusan orang lain.


" Aduh, tapi semuanya sudah pergi ke masjid Ahmad."


" Tidak apa-apa umi, nanti sepulang dari pengajian aku singgah lagi."


Umi Sarah tersenyum. Pria di depannya ini sangat ramah senyum. Senyuman yang meneduhkan, dan membuat semua orang tenang melihatnya. Mata umi Sarah kembali melihat Fatih yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


" Anak kamu sangat mirip dengan mu yah." Sahut Umi. Ia sedikit heran melihat mata, hidung dan bibirnya yang seperti tidak asing di matanya.


" Namanya juga anak aku umi. Masa anak aku mirip Taufik, 'kan tidak lucu."


Umi Sarah tertawa mendengarnya. Benar apa yang di katakan Ares. 'mungkin cuman mirip' batin umi Sarah.


" Oh yah nama nya siapa nak?." Tanya umi Sarah pada Fatih


" Fatih nenek." Ucap Fatih


" Wah nama yang bagus. Oh yah, umi mau perkenalkan kamu sama Anggota baru keluarga ini."


Kening Ares berkerut. Anggota baru? Maksudnya ada orang lain lagi? " Apa umi telah melahirkan lagi?."


" Bukan, tidak sedarah. Cuman sudah umi anggap anak sendiri. Tapi sekarang dia sedang ke masjid sama Nurul. Namanya L..._"


Allahhu Akbar... Allahu Akbar


" Abi sudah adzan." Menarik lengan baju Ares


" Ah! Maaf yah Umi. Kami ke masjid dulu." Umi tersenyum sembari mengangguk.


" Nanti kami kesini lagi. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu."


" Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatu." Ares dengan menggendong Fatih pergi ke masjid tempat nya akan membawakan ceramah nanti.


Di masjid tempat berudhu bagi pria dan juga wanita di pisahkan. Pintu masuknya juga di pisah. Ada pembatas pada barisan pria dan juga wanita menggunakan tirai. Tapi, jika acara pengajian nya di mulai tirai itu akan di lepas.


Setelah sholat isya, acara pun di mulai. Pembawa acara dengan fasih membuka pengajian itu di atas mimbar masjid.


Ares duduk di barisan paling depan. Ia harus lebih mendongak untuk melihat orang yang berada di atas mimbar. Sedangkan Fatih berada di barisan paling belakang bersama anak-anak sebayanya.


Entah mengapa sedari selesai sholat tadi, jantung Ares berdetak kencang. Ia tidak tahu kenapa? Tapi perasaan nyaman tiba-tiba menyeruak di balik dada.


Hingga tiba dimana pembawa acara memanggil orang yang akan membawakan ayat suci Al-Qur'an pada pengajian malam ini.


" Acara selanjutnya yaitu pembacaan auat suci Al-Qur'an yang in Syaa Allah di bawakan oleh Ustadzah Lyza, kepada beliau di persilahkan."


Deg...


Ares membeku. Lyza? Lyza yang mana? Apa mungkin itu istrinya? Nama Lyza bukanlah nama yang pasaran.


" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu." Salam Lyza dari atas mimbar. Ia tidak melihat pada barisan pria, namun lebih fokus pada barisan wanita.


Deg..


Suara ini, Ares sontak mendongak melihat ke atas mimbar. Deg.. deg.. deg..


'Lyza ketemu'. Air mata Ares seakan ingin tumpah melihat siapa yang ada di atas mimbar. Ia ingin berlari memeluk sang istri, namun sebisa mungkin ia menahannya.


Perkiraan nya tidak salah, Lyza memang ada di pesantren ini. Ares tersenyum melihat sang istri yang mulai membaca Al-Qur'an. Suara yang mendayu-dayu dan merdu itu sangat di rindukan Ares.


Ares mengusap air mata yang menggenang di sudut matanya. " Kenapa Ustadz?." Tanya Fahmi di samping Ares.


" Ah! Tidak Fahmi, hanya saja suaranya sangat merdu." Ucap Ares. Fahmi adalah adik kelas saat di pesantren dulu.


" Iya, memang sangat merdu." Timpal Fahmi dengan tatapan menatap Lyza yang entah...


Taufik yang berada tepat di samping Ares melihat tatapan yang di berikan Ares kepada Lyza yang juga entahlah, namun Taufik tahu arti tatapan itu.


'apa Ahmad tertarik pada Lyza? Bukannya dia sudah beristri? Tapi tatapannya seperti seseorang yang di rindukan! Apa maksudnya?' Taufik menggeleng pelan. Nanti ia pikirkan lagi, yang penting sekarang dia harus mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibawa oleh Lyza.


" Uma?." Fatih bertanya-tanya saat melihat Lyza mengaji. Ia mengingat wajah Ibunya yang selalu di peluk setiap malam.


" Kenapa de?." Tanya Akbar, anak dari Taufik


" Itu uma Fatih." Menunjuk Lyza


Akbar yang baru berumur 6 tahun itu, tidak terlalu paham apa yang di maksud Fatih. Bukannya Lyza adalah ustadzah dan juga bibi barunya?


" Bukan. Dia bibi Lyza, bukan uma mu." Kata Akbar. Fatih hanya diam dan mereka pun melanjutkan main yang sempat tertunda tadi dengan bisik-bisik.


Setelah Lyza membawakan ayat suci Al-Qur'an. Ia pun turun dari mimbar. Lyza tidak pernah melirik ke arah barisan pria, dia mengikuti ajaran sang suami yang mengatakan agar selalu menundukkan pandangan kepada pria atau wanita yang bukan mahram.


Ares tak bisa lepas memandang Lyza yang pergi dari sana tanpa memandang nya. Ia ingin sekali berdiri dari sana dan menemui sang istri, namun Taufik memegang pundak Ares. Agar segera naik ke atas mimbar untuk mengisi ceramah.


Sedangkan Lyza yang baru keluar lewat pintu samping masjid, ia hendak ke toilet. Tiba-tiba dirinya ingin pup.


" Eh! Nurul kamu sedang apa disini?." Tanya Lyza Melihat Nurul di depan pintu toilet wanita. " Pup juga?."


" Tidak kak. Aku tiba-tiba datang bulan." Jawab Nurul menutup pintu toilet


" Jangan di tutup, aku mau masuk." Menahan tangan Nurul


" Tidak ada air kak. Pipa nya rusak." Ucap Nurul yang pasti membuat Lyza syok. Ia sudah tidak tahan, namun mencoba bersikap tenang.


" Yang benar saja?." Gumam Lyza


" Aku mau pulang kak, mau bersihin bagian bawah ku. Sepertinya aku tidak akan kembali lagi ke sini." Ia tidak bisa masuk kedalam masjid juga.


" Eh! Tunggu aku juga mau pulang. Sudah tidak tahan, pamit ke umi dulu." Lyza segera berlari berpamitan pada umi, sedangkan Nurul lebih dulu pulang. Nurul merasa yang di bawah tiba-tiba banjir.


Setelah berpamitan Lyza segera berlari pulang. Ia sungguh sudah tidak tahan, perutnya juga tidak bisa di ajak kompromi, sangat sakti. Sayup-sayup di perjalanan Lyza mendengar suara orang berceramah.


Ia berhenti, lalu berbalik melihat masjid tempat sumber suara. 'suaranya tidak asing. Seperti suara hubby' batinnya. Ia menggeleng 'itu tidak mungkin'. Lyza kembali berlari.


Sedangkan di sisi lain


Setelah pengajian selesai, Ares celingak-celingukan mencari keberadaan Lyza.


" Ada apa Ahmad?." Tanya Taufik. Ia datang bersama abi Soumad


" Eh! Itu, tadi yang mengaji Lyza 'kan?." Tanya Ares.


Taufik dan abi Soumad saling pandang. " Ayo kita duduk dulu." Ujar Abi Soumad. Mereka pun duduk di karpet masjid


" Iya, memang Lyza. Kenapa? Ingat loh kamu sudah beristri." Ucap abi Soumad. Ares hanya tersenyum mendengarnya.


" Itu dia abi." Kata Ares


" Kenapa? Kamu kenal sama Lyza?." Tanya Taufik.


" Dia istriku." Dua kata yang di katakan Ares membuat kedua orang itu syok. Mereka terkejut. Fahmi yang tidak sengaja lewar disana sempat mendengar perkataan Ares, ia juga ikut menegang.


" Bagaimana bisa?."


" Lyza kabur dari rumah. Entah kenapa, aku juga tidak tahu." Ia menghela nafas di akhir kalimat. Ares tidak ingin membongkar aib sang istri.


" Kamu yakin?." Tanya abi memastikan. Cerita Lyza dengan Ares sangat bertolakbelakang. " Jujur saja apa adanya."


" Iya, kalau punya istri dua itu jujur saja." Timpal Taufik, sifat ini sangat mirip dengan sang adik.


Ares terkejut mendengarnya " Astaghfirullah, fitnah dari mana itu. Aku cuman punya satu istri, satu saja bikin kelimpungan bagaimana dengan dua." Ia tidak terima di fitnah seperti itu, dirinya tidak mungkin mengkhianati Lyza


Ares kemudian menceritakan yang sesungguhnya. Ia menceritakan saat Lyza keluar dari penjara namun mereka sama sekali tidak dapat info. Ares juga menceritakan bahwa sekarang ia sedang mencari keberadaan sang istri, dan benar saja rupanya disini ia berada.


Setelah mendengar cerita Ares. Abi dan juga Taufik saling tatap. Cerita yang di katakan Ares benar adanya, seperti yang di ceritakan Lyza. Namun ia terkekeh saat mengingat kesalah pahaman yang di buat Lyza sendiri.


" Aku sendiri Bingung kenapa tiba-tiba Lyza tidak mau pulang." Ujar Ares.


" Kamu tanyakan sendiri padanya." Taufik kembali ingin tertawa. Ia tidak sabar melihat ekspresi Ares saat mengetahui apa yang akan di katakan Lyza nanti


" Jadi, Lyza tinggal dimana selama ini?." Tanya Ares. Dasar jodoh memang tidak akan kemana. Lihat saja Ares dan Lyza.


" Istrimu ada di rumah." Ucap abi. Ares sedikit terkejut mendengarnya.


Ares kemudian berdiri. " Kalau begitu aku mau langsung bertemu istri ku." Katanya antusias. Ia tidak menyangka rupanya Lyza sedekat ini dengannya.


Taufik dan abi juga ikut berdiri. Mereka mengulum senyum melihat Ares yang sangat bersemangat, wajahnya seperti anak abg yang akan malam mingguan bersama pacarnya.


" Abi..." Teriak Fatih menghampiri Ares. Ares segera menggendong Fatih


" Abi, tadi Fatih lihat Uma disana." Menunjuk ke mimbar


" Benarkah?." Tanya Ares memastikan. Dan dijawab dengan anggukan cepat dari Fatih.


" Tapi dia bibi Lyza." Timpal Akbar, anak itu memegang tangan Taufik, ayahnya.


" Itu memang benar, bibi Lyza umanya Fatih." Ucap Taufik mengelus rambut sang putra.


" Benar abi?." Tanya Fatih dengan wajah berbinar. Ares mengangguk menanggapi. Taufik dan Abi Soumad baru sadar saat melihat Fatih, rupanya mata, hidung dan bibir anak itu sangat mirip dengan Lyza.


" Ayo kita ketemu sama uma." Ucap Ares antusias. " Kami duluan yah, Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikum salam." Setelah mendapat salam Ares pun langsung pergi dari sana. Ia cepat-cepat berjalan sembari menggendong Fatih.


Sedangkan dua orang yang di tinggalkan itu hanya menggeleng melihat nya. Padahal mereka juga akan pulang ke rumah, namun sepertinya kedua orang itu tidak ingin mengganggu Ares yang sedang bersemangat.


.


.


TBC


Dikit lagi nih Ares ketemu sama Lyza😣 tanganku udah pegal ngetik nya😌


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️