
Mereka benar-benar berciuman panas, dan tak ada tanda berhenti. Sesekali mereka melepasnya untuk mencari udara, dan kembali melanjutkannya. Kecapan-kecapan terdengar dari mulut mereka berdua
Hingga kini Lyza sudah duduk di atas meja, namun tangannya masih ada di leher Ares. Ares bertumpu pada meja yang di duduki Lyza untuk menopang tubuh nya.
Namun tiba-tiba..
To'kek.. to'kek..
Suara sih kembar cicak menyadarkan Ares. Ia segera melepas pagutannya. " Astaghfirullahalazim ". Mengusap wajahnya kasar.
" Kenapa pak ustadz? Apa kau tidak ingin melanjutkan nya? ". Tanya Lyza santai, ia seperti tak ada beban.
" Aku sudah pernah bilang kalau tak akan melakukan hal lebih kepadamu sebelum kamu benar-benar mencintai ku dan sudah tidak suka sesama mu ". Ucapnya tanpa melihat Lyza.
" Keluar lah Lyza ". Lanjut Ares lagi
Karena tak ingin berlama-lama melihat Ares frustasi yang seperti telah memperkaos nya, Lyza pun keluar.
Lyza kembali duduk di sofa. " Aku sama sekali tidak terangsaang. Ck aku kira sudah sembuh rupanya belum ". Yap sebenarnya tadi Lyza hanya mengetes apakah ia akan basah atau tidak saat melakukan ciuman dengan seorang pria. Sebab selama bertemu dengan Ares, tubuh Lyza seolah menerima Ares. Namun ekspetasi tak selalu sesuai dengan kenyataan.
Jika Lyza sangat santai bahkan hampir melupakan adegan panasnya tadi, lain halnya dengan Ares yang sudah tidak bisa berfikir jernih. Sedari tadi dirinya beristighfar untuk menekan hasratnya.
Wajah Ares memerah setiap mengingat adegan penas yang terjadi tadi. Ares menyentuh bibirnya, sungguh dirinya seperti telah di perkaos namun ia suka.
Bak gadis perawan, Ares seperti ingin melabrak Lyza agar bertanggung jawab. Namun ia masih ingin merasakan sensi yang baru saja ia rasakan.
Ares cepat-cepat mengancing piyama yang belum sempat ia kancing tadi. " Oke Ares kamu pasti bisa. Allahuakbar ". Menyemangati dirinya. Ia tidak ingin khilaf lagi seperti tadi.
Ares keluar dari walk in closet dan mendapati sang istri yang dengan santainya memainkan ponsel di sofa, seperti adegan tadi memang tidak benar-benar ada.
Ares mendekati Lyza dan duduk di sebelahnya. " Ehem... Apa kamu tidak ingin makan? ". Berpura-pura seperti adegan panasnya tadi memang tidak ada.
Lyza mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Ares. " Aku menunggu mu ". Ucapnya lalu langsung mengambil makanan di depannya, tanpa permisi ataupun berdoa Lyza Langsung melahap makanan tersebut.
" Astaghfirullah, setidaknya kamu harus berdoa ". Padahal Ares sempat senang karena Lyza menunggu nya yang artinya Lyza juga memikirkan dirinya. Namun langsung buyar saat melihat ketua mafia cantik itu makan begitu saja.
" Sudahlah pak ustadz, cepat makan makanan mu. Aku tidak suka di ganggu kalau makan ". Mengunyah makanan
Ares hanya geleng-geleng. Ia mengambil makanan lain di atas meja depannya. Setelah berdoa Ares pun mulai menyantap makanan tersebut.
'apa tadi dia me-ruqyah makanannya? Tapi untuk apa? Memangnya makanan bisa di rasuki setan?'. Pikiran tentang ruqyah rupanya menjadi sangat luas di dalam pikiran Lyza.
Lyza tidak mengambil pusing, ia fokus dengan makanan yang ada di depannya. Tak ada suara dari kedua pasutri tersebut, tak ada acara saling suap-suapan layaknya pengantin baru pada umumnya, tak ada canda tawa di antara keduanya.
Yang ada hanya perasaan aneh masing-masing. Lyza yang tidak habis fikir Melihat Ares me-ruqyah makanannya, padahal sebenarnya tidak. Sedangkan Ares yang masih canggung dan kepikiran dengan adegan panas yang dilakukan tadi.
Hingga akhirnya acara makan malam sepi bak di kuburan dan khidmat nya layaknya acara Hening cipta saat upacara bendera pun selesai.
Ares merapikan piring kotornya ke tepi, sedangkan Lyza langsung mengambil sang ponsel yang sudah seperti teman hidup Lyza. Tidak akan bisa dipisahkan walau maut yang memisahkan, bahkan sampai masuk ke liang lahat pun mungkin bersama sang pujaan hati, sih ponsel.
Ares menghembuskan nafas terakhir, eh! Ralat maksudnya nafas perlahan. Ia tidak percaya dengan tingkah Lyza yang sebenarnya memang tidak aneh. Bukannya para muda-mudi zaman sekarang memang seperti itu ya?.
Ares merampas ponsel yang di pegang Lyza. " Hei kau... Kembalikan ". Mencoba meraih ponsel tersebut.
" Tidak, kita harus bicara. Suami mu bukan ponsel ini ". Menyembunyikan di belakangnya.
" Huffh ponselku Memang bukan suamiku, tapi ponselku sudah menemani aku lebih dari suami ku ". Ucap Lyza. Untung Ares tidak mengambil hati perkataan Lyza. Mau bagaimana lagi, perkataan Lyza Memang benar adanya.
" Lyza apa kamu tidak ingin mengajukan persyaratan pada ku? ". Mengalihkan pembicaraan
" Syarat? Hmm benar juga yah ". Terlihat berfikir. " Sepertinya belum ada, nanti aku katakan jika memang ada yang mengganggu pikiran ku ".
" Baiklah. Oh yah besok kita akan pindah ".
" Yah ke rumah kita lah ".
" Bukannya kita tinggal disini yah ". Lyza mengira kalau ia akan tinggal disini. Sebenarnya ia sama sekali tidak keberatan, dengan pindah itu artinya musuh-musuh tidak akan bisa melacaknya.
" Ini rumah ayah dan ibu, kita juga ada rumah sendiri ".
" Oh.. baiklah terserah. Tapi aku kira akan ada drama dimana sang mertua yang memperlakukan menantunya seperti pembantu ". Menyenderkan kepalanya.
" Pembantu? Hahaha aku tidak menyangka kamu nonton drama ". Seorang ketua mafia nonton drama, bukannya itu lucu.
" Cih, memangnya salah aku nonton drama. Tidak kan ".
" Hmm kalau misalkan yang terjadi di drama memang benar, apa yang akan kamu lakukan? ".
" Kalo biasanya di drama, menantu nya hanya akan diam dan menangis sambil meratapi nasibnya yang tidak akan berubah karena kebodohannya. Maka tentu saja hal itu tidak akan ku lakukan ".
" Jadi? ".
" Yah gampang tinggal lubangi kepala mertuaku. Oke selesai, happy end ". Menarik salah satu sudut bibirnya.
Ares hanya bisa mengulum senyum. Khayalan sang istri terlalu melanglang buana. " Tapi sayangnya mertua mu tidak seperti itu ".
Lyza melihat Ares. " Huffh benar juga ". Entah mengapa ada rasa kecewa namun juga rasa lega dan senang. Padahal Lyza sudah berharap akan ada adegan menantu yang tersakiti.
.........
Di tempat tidur ini hanya ada keheningan yang melanda. Bukan seperti pasutri baru pada umumnya yang pasti akan selalu ada gempa lokal, namun kedua pasutri ini malah diam-diam. Dan yang lebih parahnya mereka saling punggung-punggungan. Seperti akan dapat jack pot kalau sedang punggung-punggungan.
Tak ingin berlarut-larut mereka berdua pun memutuskan untuk tidur dengan saling punggung. Sungguh pemandangan yang tak enak di pandang.
Sayup-sayup Lyza membuka matanya. Ia terbangun tengah malam karena mendengar suara-suara yang belum pernah ia dengar. Menyeramkan? Sepertinya tidak! Hanya terdengar asing di telinga Lyza.
Lyza mencoba mengumpulkan semua nyawanya yang pergi traveling dunia mimpi. Hingga matanya sudah bisa ia buka dengan lebar-lebar, dan suara itu kembali terdengar, sangat merdu, menenangkan.
Lyza duduk ia celingak-celingukan mencari sumber suara akhirnya matanya tertuju pada seorang pria yang sedang duduk sembari membaca sesuatu yang tak pernah Lyza lihat sebelumnya.
Ia terdiam, terpukau mendengar suara sang suami yang sedang mengaji. Matanya melirik melihat jam di dinding. Jam tiga lewat subuh.
Lyza bertanya-tanya sebenarnya apa yang dilakukan sang suami subuh-subuh begini, disaat semua manusia ingin memejamkan mata, mengistirahatkan tubuh, tapi kenapa suaminya malah memilih bangun dan membaca sesuatu sembari di lantun-lantunkan.
Apa mungkin sang suami sedang melakukan pemujaan setan? Ah itu tidak mungkin. Suaminya seorang ustadz mana mungkin melakukan hal di luar nalar seperti itu. Pikir Lyza.
Tapi karena suara Ares yang mendayu-dayu itu sangat enak di dengar, ia tidak ingin memikirkan apapun selain mendengar kan suara Ares. Suara yang mampu membuatnya tenang, damai, rasa hangat menjalar di tubuhnya. Ia bagaikan seorang yang suci tanpa dosa saat mendengar setiap ucapan yang di katakan Ares.
Hingga lama Lyza memperhatikan Ares. Ares pun selesai dan mulai merapikan Al-Qur'an yang dibaca. Ia juga merapikan alas sholat yang digunakan nya.
Lyza yang menyadari Ares tengah merapikan segala sesuatu, ia langsung pura-pura tertidur. Mau di taruh di mana mukanya jika ia kedapatan Melihat diam-diam apa yang dilakukan Ares.
Ares tidak kembali tidur, ia turun ke bawah entah apa yang dilakukan nya. Menyadari Ares Keluar dari kamar, Lyza pun perlahan membuka mata.
" Huffh... Untung tidak ketahuan. Tapi dia mau kemana yah ". Melihat kearah pintu yang tertutup
" Ck kenapa juga aku penasaran. Itu urusannya bukan urusan ku ". Katanya lagi
" Buang-buang waktu saja. Mending lanjut tidur ". Dan benar saja, Lyza melanjutkan tidurnya. Seolah tak ingin memikirkan apa yang di lakukan sang suami.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya