My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Rencana Zean



Zean merenung di sofa apartemen nya. Ia duduk sembari memikirkan perkataan Lyza saat itu. Selama enam bulan ini, tak ada yang bisa mengunjungi Lyza, bahkan saat Zean pergi ia malah di beri surat oleh Lyza.


Isinya menyuruh Zean agar mencari kebahagiaan nya dan tidak menunda-nunda lagi rencana untuk melamar Ara.


Ia menyandarkan kepalanya di sofa sembari melihat langit-langit kamar. Sesaat ia tersenyum awal mula dirinya memperhatikan Ara, seorang wanita bercadar yang sangat misterius menurut nya.


Flash back on...


Zean memasuki kelas untuk mengajar, ini hari pertama dia menjadi seorang dosen. Saat ia masuk, terdengar bisik-bisik dari beberapa mahasiswa apalagi kaum hawa. Beberapa dari mereka mengangumi ketampanan Zean.


" Selamat pagi semuanya.... Perkenalkan saya Siangga Zean Ziangga Putra, mulai hari ini saya akan mengajar di universitas ini ". Katanya dengan wajah datar.


Beberapa mahasiswi terpekik saat mendengar suara Zean yang menurut mereka sangat seksi, walaupun Zean memberikan wajah datar.


'bang Zean!... Aku tidak tahu bang Zean rupa nya seorang dosen'. Batin Ara memperhatikan Zean. Tatapan Zean dan Ara tak sengaja bertemu.


'Dia... Ah! Bukannya dia Ara?'. Zean cukup terkejut melihat Ara di kelasnya. Ia bisa mengenali Ara hanya dengan melihat matanya yang besar dengan bulu mata yang lentik, apalagi warna mata Ara yang berwarna cokelat terang. Membuat Zean gampang mengenali Ara.


Kelas berjalan dengan lancar.


Dan hari itu adalah hari awal mula mereka yang akan selalu bertemu.


Hari ini, Ara mengambil kuliah malam. Jadi, ia harus siap pulang malam. Ara tidak memakai supir saat bepergian ia lebih memilih naik angkutan umum. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, tidak ada angkutan umum di jam segini. Ia akhirnya memesan taksi online.


Ara menunggu di sebuah halte yang tak jauh dari kampus. Ara lebih memilih bermain ponsel untuk menghilangkan jenuh.


" Wah.. ada ninja hahahahah ". Suara seseorang membuat Ara menengok ke sumber suara. Ia melihat ada dua orang pria dengan pakaian preman.


Apa mungkin mereka preman? Pikir Ara. Bahkan preman punya kostum tersedendiri.


Tidak ingin mencari masalah, Ara memilih pergi dari sana. Ia akan menunggu taksi online nya di depan pagar kampus.


Baru selangkah ia bergerak, tangannya di cekal oleh salah seorang pria yang tadi sempat mengejek nya. Namun dengan cepat Ara menepis tangann pria itu


" Wah... Tangannya lembut dan halus bro.. mantap! ". Ujar preman A dengan mata genit


" Wisss bener nih? Lumayan lah untuk satu malam ". Timpal preman B


Ara segera berbalik, namun langkah nya terhenti. Ia membanting preman B dengan cukup keras. " Kurang ajar kalian! ".


Zean yang saat itu juga baru akan pulang, ia tida sengaja melihat seorang wanita berhijab di jegal oleh dua preman. Zean tidak menyadari siapa wanita itu, karena lampu di sekitar halte temaram. Zean hendak menolong nya, namun ia terkejut saat wanita itu membanting salah satu preman disitu.


" Jal*ng... ". Pekik Preman B yang sudah berada di atas aspal.


Ara menahan tubuh pria itu agar tidak bangkit, ia sadar kalau kekuatan nya tidak sebanding dengan preman-preman itu. Apalagi ia cukup lelah hari ini, inginnya ia tertidur pulas di atas kasur empuk, namun sekarang malah ia harus menahan seorang pria di aspal.


" Dasar pela*ur ". Preman A yang sempat Ara lupakan hendak menarik Ara, namun ia Langsung terjengkang ke belakang.


Zean yang tadi menghentikan langkahnya, tiba-tiba berlari ke arah Ara saat melihat preman yang lainnya handak menyerang Ara.


Bugh..


Ia memberikan bongkeman mentah. " Bang Zean ". Kejut Ara. Preman B yang di tahan Ara mendapatkan celah dan hendak menendang Ara, Namun dengan cepat Ara memberikan beberapa bongkeman nya dan preman itu langsung pingsan.


" Ara ". Gumam Zean. Ia terkagum di buatnya. Ia menjadi semakin penasaran akan sosok Ara. Gadis tertutup, bukan hanya pakaian yang di pakai, namun sifatnya juga sangat tertutup.


Preman A kembali berdiri dan ingin menghajar Zean. " Berengsek... ". Tapi...


Bugh..


Bugh


Bugh..


Zean menghajarnya sampai preman itu pingsan. 'cuman kacung'. Ia menatap remeh kedua preman itu.


" Bang Zean... ". Ara berdiri dan menghampiri Zean.


" Kau tidak apa-apa? ".


Ara tersenyum di balik cadar nya. " Iya, saya tidak apa-apa bang. Abang sendiri bagaimana? ". Melihat seluruh tubuh Zean


" Tenang saja, saya juga tidak apa-apa ".


" Alhamdulillah... Terima kasih bang ". Ia sedikit menunduk.


" Hmm.. kau pulang dengan siapa? ".


" Sendiri bang, aku sedang menunggu taksi online nya datang ". Jawab Ara seadanya.


Zean nampak berfikir. " Ikut bersama saya. Tidak baik seorang wanita pulang sendiri tengah malam begini ". Perkataan itu keluar begitu saja.


" Tidak usah bang, lagian sebentar lagi taksi online ku datang ". Ara tidak ingin merepotkan Zean


Dan benar saja, sebuah mobil singgah di dekat mereka. " Nah.. sepertinya itu taksi online yang aku pesan tadi ".


" Kau tunggu disini ". Kata Zean lalu melangkah mendekati mobil tersebut.


" Eh!... Bang.. ".


Zean nampak berbincang dengan supir taksi disana. Lalu setelah nya ia kembali dan malah mengambil kedua preman yang sudah ia ikat dan memasukkan nya kedalam taksi. Zean memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi online. Setelah nya taksi tersebut pun pergi dari sana membawa kedua preman yang telah babak belur dan tidak sadarkan diri. Zean kembali mendekati Ara.


" Ayo ikut saya ".


" Tapi bang... ". Ia masih ragu


" Bukan! Ara percaya sama abang. Tapi, kita bukan mahram bang, tidak baik berduaan di dalam mobil ". Jawab Ara sejujurnya


Zean tertegun mendengar tuturan Ara. Ia menjadi semakin kagum dengan Ara. Zean tersenyum tipis. " Kau duduk di bangku belakang, kalau seperti itu tidak ada masalah 'kan, lagi pula sudah tidak ada kendaraan umum di jam segini ".


Ara mencebik dalam batinnya. 'karena abang yang sudah mengusirnya'. Ia menghela nafas " baiklah ".


Zean tersenyum tipis namun tidak ada yang menyadarinya. Mereka pun naik kedalam mobil Zean. Sesuai kesepakatan, Ara duduk di bangku kemudi sedangkan Zean ia yang sedang menyetir.


" Oh yah bang, bagaimana kampusnya? Abang betah? ". Tanya Ara saat keheningan menyapa mereka tadi.


Zean melihat Ara dari dalam kaca spion depan. " Yah bisa dibilang seperti itu ". Jawab Seadanya


Ara ber-oh ria " aku cukup kaget saat tahu abang jadi dosen, aku kira abang cuman jadi mafia ".


" Sudah lama saya dapat undangan untuk jadi dosen di beberapa universitas, tapi ada majikan yang harus saya layani ". Tidak mereka duga, mereka berbicara cukup santai.


" Jadi, kak Lyza sudah mengizinkan abang buat jadi dosen? ".


" Iya ". Tidak mungkin Zean akan masuk begitu saja tanpa seizin sang nyonya


Tak lama kemudian mereka pun sampai di mansion Warrent. " Terima kasih tumpangannya bang. Assalamu'alaikum ". Zean hanya mengangguk.


Ara pun masuk kedalam mansion. Zean memperhatikan Ara sampai Ara benar-benar masuk kedalam, ia tersenyum tipis. Ara membuat nya tertarik, padahal ada banyak wanita seksi di luar sana yang menginginkan Zean atau bahkan ada yang melempar tubuhnya ke ranjang Zean, namun Ia malah memandang jijik kepada mereka. Lain halnya dengan Ara yang malah membuat dia tertarik.


Semenjak hari itu, Zean selalu memperhatikan Ara. Bahkan ia terkadang menyuruh Ara untuk datang ke ruangannya membawa tugas-tugas sekelasnya hanya karena Zean ingin melihat wajah Ara.


Hingga Zean mulai berfikir untuk menjadikan Ara kekasihnya, namun ia tersadar saat menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai agama atau ateis, ia pun mulai belajar sedikit-sedikit tentang agama Islam. Yang tadinya ia ingin masuk agama Islam agar tidak ada penghalang antara ia dengan Ara, berubah saat lebih mengetahui tentang agama Islam.


Flash back off


Zean memperhatikan kotak berwarna peach di atas meja. Kotak itu berisi cin-cin yang sempat ia beli sembilan bulan yang lalu. Ia mengambil kotak itu.


" Baiklah ". Katanya dengan tegas lalu bangkit dari sofa, ia akan bertemu Ares untuk membicarakan hal ini, barulah ia melamar Ara.


.........


Selama enam bulan tidak pernah bertemu sang istri, awalnya ia merasa jenuh namun ia sadar. Dunia akan tetap berputar walau ada yang berubah di dalamnya, akan menjadi baik atau buruknya dunia itu tidak akan berpengaruh pada kehidupan nya.


Namun satu hal yang pasti, Ares lah yang menentukan jalan hidup yang akan ia lalui.


Ia sedang meminum kopi sembari membaca koran di ruang tamu. Hari ini akhir pekan makanya Ares lebih memilih untuk bersantai. Ares ingin menonton tv, tapi hal itu akan membuat nya mengingat sang istri. Bagaimana saat dirinya memeluk sang istri saat menonton! Bagaimana saat dia menyuapi sang istri dengan cemilan saat mereka menonton! Sungguh ia tidak bisa melupakan semuanya.


Saat sedang asik membaca koran, pintu rumah di ketuk. Ares sekarang tinggal sendiri, ia juga mempekerjakan bi Ijah hanya sekali seminggu untuk membersihkan rumah, kalau untuk makanan ia lebih memilih memasak sendiri atau memesan online.


" Siapa yang datang pagi-pagi begini? ". Gumam Ares lalu meletakkan koran yang berada di tangan. Ia pun berdiri dan melangkah menuju pintu.


Ceklek...


" Assalamu'alaikum tuan... "


" Wa'alaikum salam... Eh! Zean.. ayo masuk ". Mempersilahkan Zean untuk masuk kedalam


" Terima kasih tuan ". Ia pun masuk. Mereka kemudian duduk di sofa ruang tamu secara berhadapan.


Zean melihat kopi dan koran yang ada di atas meja. " Kau mau minum apa Zean, biar aku buatkan ".


" Tidak perlu tuan... Ada hal yang ingin saya sampaikan pada anda ". Ares tidak jadi membuat minuman untuk Zean saat melihat raut wajah Zean yang serius.


" Ada apa? ". Tanya Ares dengan wajah serius


" Hmm ". Zean menghela nafas panjang. Ka sedikit gugup untuk mengatakan nya. Ares tersenyum tipis melihat wajah gugup Zean, ia sekarang mengerti hal apa yang akan di katakan Zean jika wajah Zean menjadi gugup seperti itu.


" Apa ini tentang Ara? ". Sontak Zean mendongak melihat Ares.


" Iya tuan ". Jawab nya gugup.


Lihat 'kan, tebakan Ares memang benar. Sang adik sangat hebat dapat meluluhkan kulkas berjalan seperti Zean apalagi membuat Zean gugup seperti itu. Padahal saat Zean mengatakan ingin menyerahkan diri di kantor polisi, tidak terlihat kegugupan nya namun sekarang ia bagaikan seekor kelinci yang sedang di hadapkan dengan seekor harimau.


" Saya sudah memikirkan nya selama ini, sesui rencana saya yang awalnya ingin melamar Ara namun tidak jadi. Sekarang saya ingin mengabulkan rencana saya ini, tuan. Saya datang kesini untuk meminta persetujuan anda ". Ucap Zean panjang lebar.


Ares tersenyum. " Lakukanlah... Lyza pasti senang melihat nya ".


Zean tertegun melihat senyuman Ares. Apa mungkin suami sang young ms sudah tidak terpuruk lagi dan dapat menerima semua kenyataan inj? Benar, kehidupan tetap akan berjalan walaupun ada yang berubah.


" Terima kasih tuan... ".


" Tidak perlu seperti itu, kami akan menunggumu nanti malam ". Zean tersenyum mendengarnya.


" Kalau begitu saya pamit dulu tuan ".


" Eh! Nanti saja, kita ngobrol-ngobrol sebentar. Aku kesepian disini ". Tahan Ares. Zean berfikir sebentar dan akhirnya ia menyetujui nya


Calon saudara ipar itu pun berbincang-bincang untuk mempererat dan agar mereka akrab. Dua orang pria yang kesepian. Namun salah satunya akan segera mendapatkan kebahagiaan nya. Sedangkan yang satunya harus menunggu hingga lima tahun lagi.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️