My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Serangan



Setelah acara ijab qobul, Keluarga besar Warrent kembali ke kediamannya. Bersama dengan mantu mereka. Dalam satu mobil, terdapat Ares, Lyza dan Egi sebagai Supir.


Sedangkan di mobil lain dihuni oleh ibu, ayah dan Ara beserta sang supir. Dan di ikuti oleh mobil yang di tumpangi Zean dan Sean.


Di dalam mobil yang disupiri Egi.


Diam-diam Egi mencuri pandang ke belakang. Ia memperhatikan kedua pasutri baru tersebut. Satu kata. Perfect, wanitanya cantik, prianya tampan. Jika dibandingkan dengan fisik memang mereka sangat cocok, namun jangan ditanya jika sifatnya. Bagaikan langit dan bumi.


Lyza asik dengan dunia nya di balik jendela mobil. Ia memperhatikan jalanan, sedangkan Ares sesekali bernegosiasi dengan Egi di depannya. Entah apa yang mereka bicarakan.


" Oh yah pak ustadz, berapa yang harus aku bayar untuk pernikahan ini? ". Melihat Ares.


Ares beralih melihat Lyza. " Tidak perlu. Semuanya sudah aku bayar ".


" Hei.. kau kira aku tidak punya uang, sampai-sampai kau harus membayarkannya untuk ku ". Biasanya untuk wanita lain akan senang, namun berbeda dengan Lyza yang selalu menyalah artikan apa yang dilakukan oleh Ares. Ia berfikir Ares merendahkannya.


" Tenanglah.. kan aku yang memulainya tentu aku juga yang harus bertanggung jawab ". Kata Ares, ponselnya sekarang benar-benar ia sisihkan. Rupanya istri barunya ingin di perhatikan.


" Ck tidak perlu! Nanti aku ganti ". Tungkas Lyza. Ia tetap kekeh


" Tidak perlu, uang suami artinya uang istri juga, jadi tidak perlu repot-repot mengeluarkan uang mu ". Sebisa mungkin Ares memberikan pengertian.


" kau.. ".


" Sudahlah ". Ares tersenyum sembari mengelus pucuk kepala sang istri. Sungguh dirinya dibuat gemas dengan tingkah Lyza


Lyza menepis kasar tangan Ares. " Jangan sentuh aku ". Rasaya aneh saat kepala Lyza di elus-elus. Ini pertama kalinya lagi ia diperlakukan seperti itu, sebelum granpa meninggal.


" Cantik tapi galak ". Gumam Egi yang sedari tadi hanya mendengarkan pertengkaran pasutri baru tersebut. Padahal pernikahan nya baru berjalan beberapa jam yang lalu, tapi mereka sudah cek-cok. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


" Hei.. apa yang kau katakan!! Dasar tidak sopan! ". Lyza mendengar gumaman Egi. Tentu, sebagai ketua mafia ia harus peka terhadap apa yang ada di sekitarnya.


'Eh! Di dengar! Ketua mafia Memang beda'. Egi menggaruk kepalanya. " Hehe maaf nona... ". Nyengir tanpa melihat ke belakang, bisa habis Egi melihat tatapan mematikan dari Lyza.


Ares hanya terkekeh melihatnya.


" Jangan terkekeh seperti itu pak ustadz. Dan juga jangan pernah me-ruqyah aku lagi. Pokoknya jangan pernah lagi! ". Tegas nya.


" Ruqyah? Apa kamu ingin di ruqyah? ".


" No!... Maksud ku seperti yang kau lakukan tadi, yang memegang kepalaku dan berkomat-kamit. Jangan lakukan itu lagi! Aku tidak kemasukan setan ".


Ares dan Egi saling pandang dari kaca depan. Daj selanjutnya.. " hahahaha ".


" Kenapa kalian tertawa? ".


" Hahah bukan apa-apa, itu bukan ruqyah ".


" Iya tenang saja nona. Tanpa di ruqyah pun, kelakuan anda memang sudah seperti setan ". Sahut Egi. Sumpah sebenarnya ada berapa nyawa Egi, sampai berani-beraninya dia berkata seperti itu.


" Kau.. benar-benar sudah bosan hidup ". Geram Lyza. Ia mencari pistol, namun sayang kebaya yang digunakan tak bisa menyembunyikan pistol.


" Gi jaga mulut mu! ". Tegur Ares dengan wajah serius. Ia juga ikut kesal dengan candaan Egi.


" Maaf pak... Hanya bercanda ". Nyali Egi langsung menciut.


" Jadi itu bukan ruqyah? ".


" Bukan Za.. ". Tutur Ares lembut. Yang membuat degup jantung Lyza berdetak cepat.


Dengan cepat Lyza membuang wajah ke arah jendela samping. " O.. oh ". Gugupnya.


Ares tersenyum melihat wajah gugup Lyza. Ah.. sangat manis semanis madu.


Sedangkan di mobil yang di tumpangi oleh dua twins.


" Zean seperti nya ada yang mengikuti kita ". Ujar Sean melihat kaca spion depan. Terlihat ada dua mobil hitam mencurigakan.


" Aku tahu. Perlambat kecepatan mobil ". Tanpa basa-basi Sean menuruti apa yang dikatakan Zean. Ia memperlambat kecepatan mobil.


" Tunggu sampai mobil yang di tumpangi nyonya tak terlihat ". Seru Zean. Sean hanya mengangguk.


Setelah beberapa saat. " Selanjutnya? ".


" Berbeloklah pada persimpangan di depan. Cari tempat sunyi dan jarang di lewati orang. Usahakan agar tidak ada rumah penduduk di sekitar ".


Seperti yang dikatakan Zean, Sean berbelok dan mencari tempat yang sepi.


" Mereka mengikuti kita. Apa kita harus turun dan menghajar nya ".


" Tidak perlu. Jangan kotori tangan mu untuk cecunguk seperti mereka. Hari ini adalah hari spesial untuk nyonya. Kita harus memberikan kesan yang bagus untuk mertua nyonya ".


" Hahah benar juga yah ". Sean menambah kecepatan mobil. Dua mobil yang mengikuti nya juga ikut menambah kecepatan mobil mereka.


Ketiga mobil tersebut saling mengejar. " Sean tambah kecepatan mobil ". Ujar Zean, Sean langsung menambah kecepatan mobil.


Yang di belakang juga menambah kecepatan mobil mereka. Saat ada tikungan tajam, Sean tidak memperlambat kecepatan mobil sehingga terlihat bahwa di depannya hanya jalan lurus padahal terdapat jurang disana.


Saat hampir mencapai jurang tersebut, Sean memutar stir melewati nya. Ia berbelok mengikuti arah jalan raya. Sedangkan mobil yang mengikuti nya terjatuh ke jurang karena tak sempat mengerem. Skill mereka terlalu rendah.


" Hahaha benar apa katamu Zean. Mereka hanya cecunguk ". Tawa Sean. Entah apa yang di pikirkan orang yang mengejar mobil mereka.


" Jangan senang dulu. Masih ada satu mobil ".


Dor..


Terdengar tembakan dari belakang dan mengenai bagian belakang mobil.


" Hindari tembakan! ".


" Baik ".


" Awas arah jam 10, 45 derajat ". Sahut Zean. Sean mengikuti arah yang di berikan Zean.


" Jangan sampai mobil kita terkena tembakan lagi ". Sahut Zean


" Kau meremehkan ku? Hei.. tenanglah bung kau tau aku kan ". Sean menambah kecepatan mobil. Zean berpegang pada pegangan atas mobil.


" Bersiaplah Zean.. ini akan menjadi menarik ". Seutas senyum licik terlepas dari bibir Sean. Zean memutar bola matanya, ah.. hari ini ia sungguh sial harus satu mobil dengan Sean.


Dan benar saja, Sean tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Hingga ia melihat sebuah pohon besar di area tikungan tajam.


Sean memutar stir sampai ada asap keluar dari ban mobil. Mobil yang mengikuti mereka, tak dapat melihat jalan disebabkan oleh asap yang berasala dari ban mobil Sean.


Hingga...


Brukkk... Mobil tersebut menabrak pohon besar itu hingga bagian depannya penyok, pohon besar tersebut tumbang mengenai atas mobil. Dan tak lama kemudian....


Duarrr...


Mobil tersebut meledak, bersamaan dengan keluarnya mobil yang ditumpangi Zean dan Sean dari kumpulan asap.


" Hahahahh dasar amatiran!! ". Tawa Sean.


Zean geleng-geleng kepala. Ia merogoh ponselnya dan menghubungi anak buahnya untuk membersihkan kekacauan yang dibuat, ia juga menyuruh anak buah untuk memberi saksi palsu pada polisi.


Yap begitulah kedua twins itu, selama ada mereka tak akan ada musuh yang bisa melukai Lyza. Semua organisasi hitam takut akan kekompakan dan kemampuan mereka. Bahkan kesetiaan nya juga jangan ditanya lagi, bagaikan ekor sapi yang akan selalu mengikuti kemana pun sang tubuh bergerak. Saat tubuh sapi mati, maka ekor pun tak bisa hidup lagi.


Sean kembali melajukan mobil mengejar mobil Lyza dan mertua Lyza.


.........


Sesampainya di halaman mansion... Nampak Lyza biasa saja melihat mansion di depannya. Ia memang berubah pikiran, bahwa ustadz yang menikah Dengannya bukanlah orang miskin.


Egi keluar dan membukakan pintu untuk Lyza, sedangkan Ares keluar sendiri.


Ares menghampiri Lyza dan menggandeng tangan nya. Sontak hal itu membuat Lyza Terkejut dan refleks ia menepis tangan Ares. Namun sayang genggaman tangan Ares tidak mudah untuk lepas.


" Hei.. lepaskan tangan ku sialan! ". Geram Lyza. Ini pertama kalinya ada pria yang menggandeng tangan Lyza kecuali granpa dan sang adik tiri.


" Bisakah kau berhenti berbicara kasar. Dan turuti saja apa perkataan ku, kita ini suami istri tentu tidak masalah kita bergandengan tangan. Oh.. apa kau mulai tertarik padaku ". Menaikkan sebelah alisnya.


" Ck.. dasar modus! Siapa yang tertarik dengan mu. Cepat lepaskan ".


" Berdosa loh istri yang membangkang dengan suaminya. Kamu mau masuk neraka? ". Ares mencoba mengancam dengan senyuman khasnya yang mampu membuat kaum hawa jungkir balik, kecuali mungkin Lyza.


Lya tersenyum mengejek. Lalu terkekeh " aku tidak percaya dengan neraka. Dan selama hidupku Memang sudah seperti neraka ".


Ares geleng-geleng mendengarnya. Ia bertekad untuk memperbaiki pikiran Lyza dan juga tingkah laku yang dimiliki sang istri.


" Kenapa kau diam pak ustadz? Memangnya neraka seberbahaya itu bagi mu? ".


" Tentu! Beristighfarlah Lyza! ".


Lyza membuang muka. Ia kesal dengan Ares. " Memangnya orang seperti apa yang akan masuk neraka? ". Entah mengapa tapi Lyza seperti tertarik dengan pembicaraan kali ini.


" Tentu seperti anda nona ". Sahut Egi yang sedari tadi hanya memperhatikan. Egi seperti tidak kapok.


" Hei.. kau... ". Geram Lyza


Egi menggaruk kepalanya yang tak gatal. " Heheh maaf nona ". Nyengir memperlihatkan gigi nya.


Dam bersamaan dua mobil masuk kedalam halaman mansion. Tentu mobil tersebut adalah mobil yang di tumpangi keluarga Warrent dan mobil di tumpangi twins.


Ibu keluar, ia tersenyum melihat tangan sang Putra dan menantu nya saling terkait. Walaupun terlihat Ares lah yang menggenggam tangan Lyza. Namun hal itu sudah menjadi langkah awal yang baik.


Lyza Memang melupakan tangannya yang di genggam Ares karena perdebatan kecil mereka tadi.


Lyza menyerngitkan dahi, ia memandang mobil yang dibawa oleh Zean dan Sean, ia heran sepertinya ada yang berubah dengan mobilnya tersebut. Lyza hendak menghampiri mobil nya, namun sayang tangannya lebih dahulu ditarik oleh sang ibu mertua untuk masuk kedalam mansion, mau tak mau akhirnya Lyza mengikuti sang ibu mertua. Entahlah tak ada rasa kesal di hatinya dengan perbuatan wanita paruh baya tersebut.


Ayah keluar dari mobil, dia menghampiri Zean dan Sean. Ayah menepuk pundak Zean. " Kalian tidak apa-apa? ". Rupanya ayah juga melihat mobil yang mengikuti mereka.


Zean yang di tepuk. Hanya mengangguk. Ia sedikit terkejut saat mendapati pertanyaan tersebut, namun detik kemudian dirinya sadar akan siapa di depannya.


" Alhamdulillah... Ayo kita masuk ". Mereka pun masuk.


Di dalam Mansion, mereka duduk di sofa. Kecuali Zean dan Sean yang memilih berdiri. Mereka sadar akan posisinya.


" duduklah Zean, Sean ". Ujar Ares. Ia juga mengorek informasi tentang kedua ajudan Lyza.


" Maaf tuan.. tapi kami tahu batasan kami ". Jawan Zean sopan.


Ehem.. Egi berdehem. Ia sedikit tersinggung dengan perkataan Zean. Karena dia juga ikut duduk, bukan berdiri seperti kedua twins itu.


" Ayolah duduk saja ". Egi menyahuti


" Hahaha bang Egi tersinggung yah ". Ara terkekeh


" Haha ". Tawa canggung Egi.


" Sudah-sudah... Ares bawa istri mu ke kamar. Untuk istirahat, kamu juga perlu istirahat ". Ujar ayah


Ares mengangguk, lalu menarik tangan Lyza dan membawanya ke atas kamar menggunakan lift. Zean dan Sean juga ikut melangkah mengikuti kedua pasutri itu.


" Hei.. apa yang kalian lakukan? ". Menghadang kedua pria itu.


" Maaf tapi kami akan memastikan nyonya baik-baik saja ". Sungguh ekspresi Zean sangat datar. Namun tak ada intimidasi atau kedinginan disana.


" Ahhahah tenang saja.. Ares bukan setan yang akan membawa istrinya sendiri ke alam gaib ". Tawa Egi pecah.


Sean nampak berfikir dan. " Hahahaha benar juga yah ". Ia ikut tertawa.


" Haha ayolah kalian abang bertiga duduk ". Menengahi, dan menyuruh mereka bertiga duduk.


Zean terlihat ragu, namun berbeda dengan Egi dan Sean yang langsung duduk sesuai apa yang dikatakan oleh Ara.


" Sean apa yang kau lakukan!! Tidak sopan ".


" Ayolah Zean.. kita sudah di persilahkan untuk duduk. Lagi pula nyonya juga sudah tidak ada ". Seru Sean santai.


" Iya benar.. anggap saja rumah sendiri ". Sahut Egi. Dirinya sungguh seperti tuan rumah disitu. Sedangkan si tuan rumah hanya tersenyum melihat ketiga pemuda tampan di hadapan mereka.


" Iya duduklah nak ". Ibu juga angkat bicara.


Akhirnya Zean pun ikut duduk. Di samping Sean


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like, komen, dan votenya