My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Demi kebahagiaan



Sudah seminggu sejak Ares sadar dari koma. Ares dan Lyza juga semakin dekat membuat siapapun yang melihatnya pasti senyum-senyum sendiri. Apalagi kalau melihat keromantisan kedua insan tersebut.


Perawat dan dokter nya yang melihat saja ketar ketir. Apalagi yang memang harus siap siaga dua puluh empat jam menjaga ruangan tersebut.


Hari ini adalah hari kepulangan Ares dari rumah sakit. Ares sama sekali tidak merasa bosan saat harus terus berbaring di ranjang rumah sakit, bagaimana tidak? Disana selalu ada sang istri tercinta yang menemani dan melayani Ares.


Ares dan Lyza keluar dari dalam mobil yang di supiri Egi. Keadaan Ares sudah jauh lebih baik, ia sudah bisa berjalan sendiri.


Saat sudah di dalam rumah, Ares dan Lyza langsung ke kamar. Lyza ingin agar Ares istirahat pemulihan dulu, barulah ia mengizinkan Ares untuk masuk kerja.


" Pelan-pelan By. Nanti jatuh ". Tegur Lyza. Sungguh sekarang Lyza jauh lebih perhatian.


Ares terkekeh. " Iya, aku tidak apa-apa. Dan tidak akan jatuh ".


Lyza memutar bola matanya. Kemarin juga Ares mengatakan hal yang sama, namun apa yang terjadi? Ares malah jatuh. Untung refleks tubuh Lyza bagus dan langsung membantu Ares agar tak jatuh ke lantai.


" Sudah... Mending hubby baring di atas kasur. Aku akan ambil makanan ". Ujar Lyza membantu Ares bersandar di pan ranjang.


" Baik bos ".


Lyza terkekeh dan keluar dari kamar. Ia menuju ke dapur, saat menuruni tangga ponsel Lyza berdering. Lyza melihat siapa yang menelepon lalu mengangkat nya.


" Ada apa? ". Tanya Lyza tanpa basa-basi


" Semuanya sudah siap bos, jadi kapan anda akan datang kesini? ". Balas di seberang telpon


" Hmm nanti malam aku akan kesana. Katakan pada mereka agar menghentikan semua kegiatan yang di lakukan nya ".


" Baik bos ". Setelah mendapatkan jawaban, Lyza pun menutup sambungan telepon lalu kembali melanjutkan langkahnya ke dapur.


Sesampainya di dapur, Lyza mulai memasak makanan yang telah di rekomendasikan oleh dokter muda nan tampan tanpa nama.


Sedangkan Ares menunggu Lyza membawakan dirinya makanan sembari memainkan ponselnya. Ia harus mengecek kondisi perusahaan yang telah di tunggal hampir sebulan itu.


" Hmm seperti nya tak ada masalah ".


Ceklek...


" Assalamu'alaikum ".


Sontak Ares menoleh ke sumber suara, ia tersenyum. " Wa'alaikum salam ". Menaruh kembali ponsel di atas nakas.


Lyza mendekati Ares dan duduk di pinggir kasur dengan nampan makanan yang di pegangnya. " Bi Ija kemana? ".


" Aku menyuruhnya untuk libur, katanya juga dia ada kerabat nya yang menikah di kampung nya ".


Ares manggut-manggut. " Jadi ini buatan mu? ".


" Iya. Ini makanlah ". Menyodorkan nampan tersebut ke depan Ares. Namun Ares hanya diam dan tidak menyentuh sedikit pun makanan itu.


" Kenapa? Ayo makan ". Lyza kembali menyuruh.


Ares menghela nafas kasar. " Kamu tidak lihat aku baru keluar dari rumah sakit. Tangan ku sakit, jadi tidak bisa makan. Padahal saat di rumah sakit kamu juga yang menyuapi aku ". Wajahnya di tekuk. Sepertinya sang suami sedang cemberut.


" Oh.. tapi, tadi siapa yang bilang kalau dirinya sudah sehat? Yah ". Melihat Ares dan menaik turun kan alisnya.


" Kaki ku sudah sehat, tapi tangan ku masih sakit. Ayo suapi aku ". Akhirnya wajah memelas di keluarkan.


" Haisss baiklah ". Ucap Lyza dan mengambil piring yang ada di atas nampan, lalu menyuapkan makanan ke depan mulut Ares. " Seharusnya bilang saja kalau ingin disuapi ". gumam Lyza. Ares hanya terkekeh mendengar nya.


Wajah Ares Langsung berubah sumringah. " Buka mulut mu, by ". Kata Lyza. Ares membuka mulutnya.


Kehangatan yang seperti ini, yang di cari-cari Lyza sejak dulu. Wajah Ares nampak berbinar karena di suapi sang istri.


'semoga keputusan ku kali ini memang benar'. Batin Lyza.


.........


Matahari telah terbenam, waktunya ia tidur. Dan bulan beserta bintang muncul untuk menggantikan matahari mengawasi bumi.


Jam menunjukkan pukul 21.30, atas instruksi sang dokter, Ares sudah lebih dulu menyelami dunia mimpi. Sedangkan Lyza mengambil kesempatan itu untuk pergi ke markasnya sesuai apa yang di katakan di telpon tadi.


Lyza mencium kening Ares terlebih dahulu sebelum pergi. " Maafkan aku ". Gumamnya di sela-sela ciuman yang di berikan.


Lyza keluar dan menuju garasi untuk mengambil mobil. Setelah nya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Tak butuh waktu lama, karena jalanan memang sedang lenggang. Mobil Lyza memasuki bangunan yang nampak menyeramkan tersebut.


" Aku baru sadar, kalau bangunan ini memang menyeramkan. Pantas saja tahanan ku gemetar melihat markas ku ". Saat mengingat tahanannya, ada rasa bersalah yang menyeruak masuk ke dalam hati Lyza.


Lyza memasukkan mobilnya di parkiran setelah pagar di buka oleh salah satu bawahannya. Bawahan Lyza membukakan pintu mobil untuk sang bos. Lyza pun keluar


Betapa terkejutnya pria itu saat melihat penampilan Lyza yang menggunakan hijab. " B.. bos? ".


" Iya? Hahha jangan seperti itu, ayo kita masuk ".


" Ada apa Bagas? Kenapa kamu melamun! Ayo masuk ". Ucap Lyza dan melangkah duluan masuk kedalam bangunan tua itu yang berkedok sebagai markas nya.


Dengan wajah bingung dan penuh tanya, Bagas masuk mengikuti Langkah sang bos. Sesampainya di dalam terlihat semua anggota Dark Blood berada di sana sontak melihat Lyza yang baru masuk.


Di antara mereka ada yang terkejut melihat Lyza yang menggunakan hijab dengan celana kulot nya, namun ada yang nampak biasa saja seperti sudah biasa melihat nya.


" Selamat datang bos... ". Ucap serentak semua anggota Lyza, baik pria maupun wanita. Mereka semua menunduk hormat.


Lyza tersenyum melihatnya. Walaupun Lyza sudah berubah, tapi Anggota nya masih menghormati Lyza.


" Selamat datang bos... Silahkan duduk disini ". Sean datang dan mengambilkan kursi kebesaran Lyza.


Lyza pun duduk di kursi tersebut. Ia memperhatikan semua anggota Dark Blood yang ada di markasnya ini. Walaupun semua anggota Lyza tidak ada di sini, namun melihat masih banyak kelengkapan nya membuat Lyza senang dan juga lega.


" Sudah, angkat kepala kalian ". Kata Lyza dengan tuturan yang sedikit lembut. Berbeda dengan Lyza yang dulu.


Mereka sedikit kaget, namun tetap mengikuti perintah Lyza.


Lyza menghirup nafas nya. Ia memperhatikan wajah mereka masing-masing. Orang-orang kepercayaannya, Lyza mengingat mereka semua. Ada yang Lyza rekrut dan Lyza pungut di jalan ataupun di dalam penjara, ada juga yang memang sudah ada saat kakek Lyza yang memimpin.


" Sudah sangat lama yah... Kita semua berkumpul seperti ini ". Kata Lyza melihat langit-langit markasnya, ia seperti menerawang masa lalunya yang begitu suram.


" Keren... ". Suara Lyza kembali datar seperti dulu. Ia memilin hijabnya.


" Iya bos ". Yang di panggil maju.


" Bagaimana keadaan anak mu? ". Melirik sekilas wanita yang terlihat di wajahnya muncul keriput. Dia adalah salah satu orang kepercayaan sang kakek dulu, dan sekarang masih menjadi yang terpecaya.


" Sudah jauh lebih baik bos, dia sudah masuk sekolah ". Anak Keren menderita penyakit jantung dari lahir. Yang membuat ia tidak bisa hidup dalam kebar-baran atau pun keterkejutan yang hakiki.


" Syukurlah ". Tungkas Lyza singkat. Ia yang selama ini memberikan biaya untuk perawatan anak Keren.


" Hidup memang tidak ada yang bisa tau yah ". Kata Lyza lagi dengan wajah sedikit sendu. Ia menatap ujung hijab nya yang sedari tadi di gulung-gulung. " Padahal waktu itu. Keyren sama sekali tidak bisa lepas dari alat-alat dokter. Namun sekarang ia sudah bisa masuk sekolah ". Semua anggota mengenal Keyren, anak Keren. Karena jujur saja, Lyza memberikan perhatian lebih kepada anak berusia 10 tahun itu. Mungkin ia melihat sosok Langga saat kecil dulu di tubuh kecil Keyren.


" Waktu umurku 10 tahun, aku sudah menjadi calon ketua mafia, untuk kehidupan ku ". Lyza terkekeh mengingat nya. " Dan sekarang, harus aku melepaskan nya untuk kebahagiaan hidupku ". Mendongak dan menatap wajah anggotanya masing-masing.


Tentu wajah-wajah yang Lyza lihat semuanya persis. Terkejut! Iyya sangat-sangat terkejut. Apa maksud sang bos? Apa dia ingin keluar dari Dark Blood? Tapi, siapa yang akan memimpin Dark Blood selanjutnya?


Mereka semua penasaran, namun tak berani bersuara sedikit pun. Mereka menunggu lanjutan Perkataan Lyza. Sean juga tak kalah Terkejut, karena yang ia dapat perintah hanya mengumpulkan beberapa anggota Dark Blood untuk Kumpul di markas.


Lyza berdiri. " Seperti yang aku katakan tadi, aku akan keluar dari Dark Blood. Lebih tepatnya, aku sudah tidak ingin berurusan dengan yang namanya dunia bawah ". Ujar Lyza


" Tapi bos... ". Sungguh kali ini Sean tidak tahu harus berkata apa. Dan dimana Zean di saat-saat seperti ini kenapa dia tidak menampakkan batang hidungnya?


" Diamlah Sean ". Perkataan Lyza mampu membuat Sean diam dan tidak ingin membantah lagi.


" Aku datang kesini ingin membebas tugaskan kalian semua. Sekarang kalian berhak untuk hidup sesuai dengan keinginan kalian ". Perkataan Lyza membuat lagi-lagi semua orang di sana tercengang.


Apa mungkin sang bos berfikir jika mereka mengikuti Lyza dan menjadi ketua mafia hanya karena keterpaksaan? Tidak! Bukan seperti itu.


" Ada apa? Apa kalian tidak senang? Tenang saja, aku akan memberikan kalian kompensasi ". Bukannya hal seperti ini yang di inginkan seluruh anggota Lyza.


Mereka semua menunduk.


"Jadi anda akan membubarkan Dark Blood? ". Salah seorang kepercayaan Lyza akhirnya angkat bicara.


Lyza terdiam sesaat, ia mengambil nafas. " Yah begitulah ". Jawabnya santai


" Tapi bos.. kita selama ini telah berjuang mempertahankan Dark Blood ". Yah ada rasa tak rela. Karena mereka semua sudah seperti saudara sendiri.


" Apa kalian tidak senang? Bukannya ini yang kalian inginkan? Kalian ingin kebebasan 'kan,? ".


" Tidak bos ". Semua orang menyahut membuat Lyza sedikit terkejut.


" Ma.. maaf ". Ucap kembali semua orang itu saat tanpa sadar berteriak seperti itu.


" Jadi, apa yang kalian inginkan? Aku kira kalian inginkan kebebasan? ".


" Sebenarnya kenapa bos ingin keluar dari dunia bawah? ". Tanya Keren


Lyza tersenyum. " Mungkin karena aku sudah mendapatkan pencerahan. Anggap saja aku seorang ketua mafia insaf ". Di akhir Kalimat Lyza terkekeh.


" Apa anda bahagia bos? ". Sebenarnya mereka tahu, alasan sang bos keluar pasti karena sang suami.


Lyza kembali tersenyum. " Aku melakukannya karena aku ingin kebahagiaan ". Tersenyum cerah, secerah matahari.


Senyuman yang tak pernah sekalipun terlihat itu, membuat semua orang disitu tercengang. Dan di antara mereka bahkan ada yang sampai menitikan air matanya, karena terlalu bahagia.


" Hei.. kenapa kalian menangis? ".


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️