
Ares dan Lyza masih asik bercerita tentang banyak hal, yang besar dan kecil. Tentang masa lalu mereka masing-masing yang kini mereka anggap sebagai sebuah dongeng yang menyenangkan untuk di ceritakan ulang.
" Ah Astaga aku melupakan sesuatu." Menepuk jidatnya
" Lupa apa sayang?." Menarik kembali kepala Lyza kedalam dekapannya
" Aku lupa mengatakan kalau Re itu sangat cengeng. Ah.. semoga Egi tidak membentak nya."
" Eh! Re sangat cengeng?." Ia sedikit tidak percaya
" Iya, dia sangat cengeng. Tapi bukan itu masalah nya, Re sangat susah di bujuk untuk diam. Apalagi suara tangisannya juga sangat besar."
Ares mengelus pucuk kepala sang istri " Tenang saja. Egi tidak mungkin membuat Re menangis."
" Aku harap seperti itu."
Di sisi lain...
'nyonya Lyza tolong aku ..' pekik Egi dalam hatinya. Ia masih tidak tahu bagaimana membuat Re berhenti menangis.
Mana suaranya yang sangat keras, belum lagi cara Re menangis yang memanggil-manggil kakaknya sangat mirip dengan anak kecil. Untung saja mereka ada di dalam mobil, jadi tidak ada yang memperhatikan mereka.
Egi juga sudah memarkirkan mobil di tempat yang sepi. " Sudah.. tenang maafkan aku, sumpah aku tidak marah padamu."
" Huaaa bohong.. tadi kau membentakku." Ia masih menangis " Padahal kak Kill tidak pernah membentakku. Tapi orang sialan seperti mu berani-beraninya membentakku huaaa hikss.. hiks.."
Egi di buat kalang kabut, sudah dari tadi Re menangis tapi ia sama sekali tidak bisa membujuk nya. " Hmm riasan mu jadi luntur gara-gara air mata loh." Bujuk Egi lagi. Namun bukannya berhenti, Re malah semakin mengeraskan suara tangisannya.
Srekk
Mau tidak mau Egi langsung memeluk tubuh mungil Re. Ia sudah tidak tahu harus apa, ia tahu hal ini seharusnya tidak ia lakukan. Tapi, memang nya apa yang harus ia lakukan sekarang
" Aku minta maaf... Okey." Mengelus Kepala Re
" Hiks.. hiks... Kurang ajar berani-beraninya kau memelukku hiks.. " ia berkata seperti itu, tetapi tidak menolak pelukan Egi malah ia semakin mengeratkan pelukannya
Egi terkekeh, menurutnya Re sekarang sangat menggemaskan. Bisa-bisanya ia masih mengumpat saat sedang menangis seperti ini! Yang benar saja! Apa masih ada wanita seperti Re di dunia ini!
Egi hanya bisa menepuk-nepuk punggung Re. Ia tidak menyangka seorang wanita keras kepala seperti Re bisa menangis tersedu-sedu seperti ini hanya karena di bentak? Ya mungkin untuk seorang wanita normal pasti akan menangis, namun masalahnya disini Re seorang anggota mafia! Apa ia seorang wanita normal? Jawabannya tidak!
Setelah tangisan Re sedikit mereda, Egi mulai kembali membuka suara. Sudah hampir sejam lamanya Re menangis. Egi mendesaah pelan, bagaimana jika mata Re sampai bengkak? Pastilah Egi yang akan di salahkan disini.
" Sudah jangan menangis, kamu sudah besar tapi masih cengeng seperti ini. Apa kamu tidak malu."
" Hiks.. kau yang salah karena membentakku." Masih tersisa segukan-segukan kecil dari bibir Re yang masih ada di pelukan Egi sekarang
" Tapi itu memang salah mu 'kan. Lain kali jangan membobol bank kalau ingin cari uang!." Tegas Egi. Ia tak akan melemah kepada seorang tindak kejahatan
" Selalin bank aku bisa membobol tempat lain?." Ia malah mengajukan banding, ia melepas pelukannya
" Tidak!." Dengan cepat ia menjawab
" Tapi bagaimana aku cari uang. Aku hanya tau mencuri di tempat-tempat yang bisa di bobol seperti bank atau perusahaan yang besar." Ucap Re dengan mata yang sudah membengkak
" Haisss bukannya besok kamu sudah mulai bekerja? Kamu pasti di gaji oleh nyonya Lyza. Kenapa harus pusing sih!." Ia sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran wanita di depannya ini
" Ta.. tapi bagaimana aku bisa makan sebelum dapat gaji. Huaaa aku tidak ingin mati kelaparan hiks... hiks..." Air matanya kembali luruh
Egi memegang kepalanya. Apakah ini yang dimaksud bahwa sekuat-kuatnya seorang wanita hatinya tetap lembut selembut sutra? Ada kalanya mereka harus menumpahkan air mata mereka!? Apakah yang seperti ini maksud nya? Pikir Egi
Lagi dan lagi Egi mendengus mengluarkan nafas kasarnya " Tenang saja. Bukannya Kill punya banyak uang, dia seorang dokter 'kan. Aku kira kamu juga punya banyak uang."
" Eh!." Tiba-tiba air matanya berhanti mengalir " Benar juga yah." Ia baru sadar.
Egi hanya bisa geleng-geleng kepala " Aku tidak mengerti bagaimana bisa orang seperti mu bisa menjadi seorang hacker."
" Tentu saja karena aku jenius." Ucapnya dengan bangga. Tiba-tiba moodnya berubah 180 derajat.
Egi hanya diam dan mulai melajukan kembali mobilnya. Apakah ini yang dimaksud, orang jenius sebelas dua belas dengan orang bodoh? 'haiss mungkin sangking jenius nya, dia sudah tidak bisa memakai otaknya dengan lebih benar '. Batin Egi
Keesokan pagi...
Seperti biasa Lyza, Ares dan juga Fatih akan sama-sama berangkat ke tempat tujuan mereka masing-masing. Ares akan pergi ke perusahaan, sedangkan Lyza dan Fatih ke Restoran.
Egi sudah menunggu di samping mobil " Nyonya juga akan ikut kita Ares?." Tanya Egi
" Iya. Memangnya kenapa?." Ares bertanya kembali
" Ah.. tidak." Jawabnya. Ia kira Lyza akan bersama Re, tapi sepertinya tidak. Dan Re juga belum muncul batang hidungnya
" Tapi Re kemana yah?." Tanya Lyza " Kamu tidak macam-macam dengan Re kemarin 'kan." Ia memicingkan mata melihat Egi curiga
Glek..
Egi menelan susah salivahnya, bagaimana jika ia ketahuan sudahh membuat menangis Re sampai tersedu-sedu kemarin. Bisa habis riwayatnya.
" Astagfirullah Nyonya, mana mungkin aku melakukan hal yang tidak-tidak pada asisten anda. Bisa-bisa aku yang di habisi olehnya." Mencoba membantah.
Tak lama kemudian sebuah mobil sport memasuki pekarangan rumah. Mereka semua melihat bingung Siapa yang datang dengan menggunakan mobil sport seperti itu.
Pintu mobil perlahan terbuka, lalu keluarlah Re dengan menggunakan jaket dan juga kaca mata hitam. Berbeda dengan penampilan nya yang amburadul kemarin, kali ini Re berpenampilan rapi dengan menggunakan celana seusai perkataan Egi.
Re melepas kecamatan hitam yang bertengger di hidungnya. " Selamat pagi bos." Sapa Re
" Pagi.. astaga kamu memang cantik Re." Lyza sama sekali tidak bisa berkata-kata
" Aunty Le memang cantik 'kan, Fatih sudah menduganya." Timpal Fatih.
Egi manggut-manggut menanggapi perkataan mereka. Ia juga tidak habis pikir Bagaimana bisa Re yang secantik ini merasa tidak percaya diri dengan penampilannya.
Sedangkan Ares, ia sama sekali tidak mengerti. Baginya Re yang kemarin dengan Re yang sekarang masih sama, hanya sekarang Re lebih rapi.
" Re cantik 'kan By?." Tanya Lyza dengan wajah berbinar
Ares menggaruk kepalanya yang tak gatal " hmm bukannya semua wanita cantik ya? 'kan mana mungkin mereka tampan." Jawab Ares seadanya. Jujur saja baginya Yang paling cantik di dunia ini hanya sang istri seorang
Lyza berdecak " Bukan seperti itu by. Ah sudahlah ayo kita berangkat." Menggandeng tangan Fatih lalu Berjalan lebih dulu masuk kedalam mobil yang akan di kemudikan oleh Egi. Re juga ikut masuk ke dalam mobil di samping kemudi
Ares bergeming " Apa aku salah?." Tanyanya pada dirinya sendiri
" Hahaha kamu sih Res. Sepertinya semua wanita di dunia ini sama saja di mata mu yah." Ia hanya bisa geleng-geleng kepala
" Bukan seperti itu. Cantik itu 'kan Realistis. Definisi cantik bagi semua orang berbeda-beda. Dan menurut ku istriku yang paling Cantik. Itu tidak salah 'kan." Ucapnya yang menurut Ares memang benar
Egi memegang pundak Ares " Iya kamu benar. Ayo masuk ke dalam mobil." Ucapnya dan langsung masuk kedalam mobil di belakang kemudi sedangkan Ares duduk di bangku belakang bersama sang istri dan juga putranya.
.........
Satu minggu pun berlalu...
Sesampainya di depan ruangan sang adik, sudah terlihat ayah, ibu, Desi dan juga Sean disana. Mereka terlihat harap-harap cemas menanti apa yang terjadi di dalam sana, menunggu sampai pintu ruangan tersebut terbuka
" Assalamu'alaikum.. bagaimana keadaan Ara?." Tanya Ares saat baru tiba
" Wa'alaikum salam... Ara sudah di tangani dokter kandungan di dalam." Jawab ayah. Sedangkan ibu sudah duduk di kursi tunggu menunggu dan berdoa agar anaknya di beri keselamatan.
" Zean kemana?." Tanya Egi. Ia hanya melihat Sean di sana
" Ada di dalam." Ucap Sean
Tak.. tak.. tak..
Suara orang berlari menghampiri mereka terdengar jelas. Sontak mereka semua melihat sumber suara.
" Astagfirullah sayang... Jangan lari-lari. Jalan pelan-pelan." Menghampiri sang istri yang terlihat khawatir. Ares memapah sang istri. Di belakang Lyza ada Re yang sedang menggendong Fatih
" Bagaimana keadaan Ara?." Tanya Lyza dengan wajah Khawatir
" Ara sudah ada di dalam ruangan persalinan bersama Zean, dokter juga sudah masuk di dalam. Tenang yah sayang, ayo duduk dulu." Membantu Lyza duduk di kursi tunggu. Lyza menurut, ia duduk sesuai instruksi Ares
Re menurunkan Fatih dari gendongan nya. Setelah turun Fatih langsung berlari ke hadapan neneknya. " Apa dedenya akan kelual dali pelut aunty ala?." Tanya Fatih di depan sang nenek
Ibu tersenyum " Iya, sebentar lagi dedek nya keluar. Fatih doa 'kan aunty Ara yah." Fatih mengangguk antusias. Ia sudah tidak sabar menunggu dedenya lahir.
Ibu melihat Lyza yang sedang bersama Ares duduk. Ia melihat nya dengan tatapan sendu. Bagaimana dulu saat sang menantu melahirkan tanpa mereka?
" Nak Lyza, maafkan ibu yah." Ucap ibu tiba-tiba
Sontak Lyza melihat mertuanya dengan tatapan bingung " Minta maaf untuk apa bu?." Tanyanya
" Maafkan ibu karena waktu kamu melahirkan kami tidak ada di samping mu." Ucap ibu dengan bibir bergetar. Mereka semua pun merasa bersalah
Lyza tersenyum " Tidak apa-apa bu. Semuanya sudah berlalu. Kita harus fokus dengan yang ada di masa depan." Ucap Lyza " Jangan menatap ku dengan tatapan iba seperti itu." Lanjutnya, ia tidak suka di tatap iba seperti yang di perlihatkan mereka semua disana
Ares memeluk Lyza. " Iya, tapi sekarang katakan semua yang mengganjal hatimu. Jangan tutup-tutupi, kamu bisa bermanja-manja dengan ku." Ares mengelus perut Lyza
Lyza hanya tersenyum sembari mengangguk. Tiba-tiba
Brak..
Prang..
Bruk..
Terdengar suara gaduh di dalam ruangan persalinan yang di tempati Ara sekarang. Sontak mereka semua berdiri, kecuali Lyza yang di larang oleh suaminya.
Mereka semua saling pandang. Ada apa gerangan di dalam sana? Memang nya jika melahirkan akan segaduh ini? Pikir mereka
Sedangkan ibu dan Lyza yang sudah berpengalaman juga merasa aneh. Saat mereka melahirkan dulu tidak ada acara banting-banting barang seperti yang terdengar sekarang
Seorang perawat wanita keluar dari dalam ruangan dengan wajah panik. " To.. tolong." Ucapnya terbata-bata
" Ada apa?." Tanya mereka bersamaan
" Tolong.. tuan Zean sedang mengamuk di dalam. Kami tidak bisa menghentikan nya." Ujarnya
" Apa!!." Lagi-lagi mereka berteriak bersamaan
" Bagaimana bisa?." Tanya Ayah. Ah .. mereka akhirnya sadar kalau yang di dalam sekarang mempunyai suami yang tingkat posesifnya melebihi rata-rata.
" Tuan Zean marah sebab nona Ara masih belum dapat di tangani. Pembukaan nona Ara sudah 8 tapi, tuan Zean tetap tidak sabar dan merusak beberapa fasilitas di dalam." Ujarnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
" Astagfirullah... " Mereka beristigfar, tapi bukannya Zean berlebihan? Pikir mereka
Sedangkan Re terbengong, bagaimana bisa seorang seperti Zean yang selalu tenang melakukan hal di luar nalar? Pikirnya tidak percaya
" Biar aku yang masuk." Ujar Egi
" Aku ikut." Timpal Sean
Mereka hanya mengangguk dan membiarkan kedua orang itu masuk kedalam. Setelah kedua orang itu masuk tiba-tiba mereka keluar kembali dengan menarik Zean.
" Astagfirullah istigfar Zean... Istri mu akan melahirkan dan lihat dirimu." Ujar Egi menepuk-nepuk punggung Zean
" Ada apa Zean?." Tanya ayah
Zean menarik nafas sebentar, ia menormalkan nafas nya yang memburu " Jangan terburu-buru Zean. Katakan pelan-pelan." Ucap Ares
" Mereka terlalu lama menangani Ara. Padahal Ara terlihat kesakitan seperti itu." Ia menutup wajahnya " Aku tidak sanggup melihat istriku kesakitan seperti itu." Menyeka air mata yang sudah menggenang di sudut mata nya
Lagi-lagi Re di buat termangu. Seorang seperti Zean yang tidak meringis kesakitan saat lukanya du jahit tanpa obat bius, bisa menangis dan terpuruk seperti sekarang!!? Waw pikir Re
'benarkah itu Zean si kulkas berjalan'
" Tenang Zean, semuanya memang sudah ada prosedur nya." Ucap ayah menenangkan
" Benar Zean, kasian Ara kalau kamu membuat keributan saat Istri mu sedang akan melahirkan." Timpal ibu mengelus-elus lengan Zean. Mereka semua memang khawatir akan kondisi Ara, tapi sepertinya yang paling khawatir disini adalah Zean sendiri.
Zean akhirnya tenang. Ares menyuruh Zean duduk di kursi tunggu sebentar untuk menenangkan diri. Takut nya ia kembali kedalam ruangan dan semakin membuat keributan.
Zean melihat ms young nya. " Maafkan saya nyonya... Pasti sangat berat melahirkan tanpa ada seorang di sisi anda." Ia mengucapkan nya dengan suara parau.
Sekali lagi Lyza mendesaah pelan. Ia heran melihat mereka yang selalu merasa bersalah padanya, padahal Lyza sendiri tidak apa-apa. " Sudahlah.. jangan meminta maaf. Kamu harus fokus dengan keadaan Ara sekarang." Ujar Lyza
" Bagaimana? Apa kamu sudah tenang?." Tanya Ares.
" Lumayan bang. Aku sudah bisa masuk kedalam 'kan." Kali ini ia semakin khawatir dengan kondisi sang istri
" Tunggu, masih lumayan. Tunggu sampai kamu benar-benar tenang." Ujar Ares.
Zean Hanya mengikuti apa perkataan kakak iparnya. Hingga ia merasa benar-benar tenang, dan seorang perawat datang mengatakan kalau Ara sudah akan melahirkan.
" Jangan buat keributan lagi." Kata ayah sebelum Zean masuk kedalam kamar persalinan
" Akan aku usahakan." Setelah mengatakan nya Zean pun masuk kedalam kamar persalinan. Mereka hanya bisa pasrah dan berharap agar Zean tidak membuat keributan lagi.
.
.
TBC
Apa sih Zean tingkah mu berlebihan 🤣🤣😭
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️