My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Misi Pendekatan



Flashback on


" Aku tidak percaya ". Sean menaikkan sebelah alisnya.


" Ck. Terserah kalian! ". Memutar bola matanya. Seandainya salah satu di antara Egi atau Sean adalah wanita, sudah dipastikan Zean akan menjodohkan mereka.


Keadaan kembali hening sampai...


" Hei ngomong-ngomong... Apa yang di lakukan nyonya dengan pak Ustadz semalam yah. Apa mereka melakukan.. itu.. kalian tahu lah ". Sean kembali buka suara


" Hmm kalau menurut aku, sepertinya tidak. Apalagi sifat Ares yang seperti itu ".


" Maksud nya? ". Zean juga ikut penasaran


" Ares tidak akan melakukan nya sebelum nyonya kalian menerima Ares... Ares itu sangat baik, kalian tidak perlu khawatir ". Membanggakan Ares


" Oh yah, pekerjaan mu kan sebagai asisten pak ustadz. Memangnya apa yang kau lakukan jika bersama pak ustadz? ". Mereka bertiga Memang sudah cukup akrab dari pembicaraan kemarin


" Aku membantunya di kantor. Memangnya apa lagi ".


" Kantor? Seorang ustadz butuh kantor? ".


" Tunggu dulu Sean! Jangan bilang, kamu tidak tahu pekerjaan sebenarnya Ares ".


" Pekerjaan sebenarnya? Maksud mu apa ".


" Astaga sudah ku duga ". Mengusap kasar wajahnya. " Ares itu seorang CEO di perusahaan Corp W, Bagaimana bisa kamu tidak tahu ".


Ckiitttttttttt...


Sean menghentikan mobil secara tiba-tiba. Ia berbalik menatap Egi dengan wajah terkejut. " What!!! ". Pekik Sean, dengan keterlambatan. " Kau tidak sedang bercanda kan, Gi? ".


" Jangan mengerem tiba-tiba bodoh! ". Maki Zean memegang kepalanya. Ia hampir saja terbentur dashboard mobil.


Lain halnya dengan Egi, yang sudah terbentur di kursi depan mobil. " Hei... Ini sakit, jangan berhenti tiba-tiba! ". Keluh Egi


" Hehehe sorry... ". Kembali melajukan mobil. " Tapi..___ ".


" Iya itu benar ". Seru yang di belakang


Sean melihat saudaranya yang nampak biasa saja. " Zean.. jangan bilang kau sudah mengetahui semuanya? ".


" Kau yang terlalu bodoh sehingga tidak bisa mengetahuinya ".


" Huffh.. kalian semua jahat! Seharusnya kalian memberitahu kan aku juga yang sebenarnya ". Mengerucutkan bibirnya


Mereka berdua hanya geleng-geleng kepala. " Ares sangat sibuk akhir-akhir ini, hahh sebenarnya aku ingin membantu pasutri baru itu agar saling terbuka satu sama lain ". Layaknya seorang orang tua, Egi memikirkan semua tentang Ares


" Iya kau benar, aku juga ingin membantu. Ah! bagaimana kalau kita membuat Misi untuk mendekatkan mereka berdua ". Sahut Sean bersemangat.


" Aku setuju!!! ". Seru Egi tak kalah semangat. Jika di bandingkan dengan semangat 45, mungkin mereka lebih bersemangat.


Egi dan Sean melihat kearah kulkas berjalan. Eh! Maksudnya Zean. Dan yang di lihat juga ikut memperhatikan mereka. " Aku ikut kalian ". Walaupun Zean merasa rencana ini kekanak-kanakan, namun untuk membuat sang young ms dan young mrs agar lebih dekat, maka ia akan lakukan.


" Bagus.. ". Pekik Egi dan Sean. Coba lihat mereka berdua memang sangat kompak.


Flashback off


" Res.. ini barang-barang Langsung aku bawa masuk, atau gimana nih? ". Egi membuka bagasi mobilnya.


" Iya langsung bawa saja. Sini biar aku bantu ". Hendak meraih salah satu koper


" Eiiitttsss tidak perlu. Biar Sean sama Zean yang bantu. Kamu ajak istrimu jalan-jalan, keliling lihat-lihat rumah barumu ". Memberikan kode lewat matanya. Awalnya Ares tidak mengerti, namun lama-kelamaan ia mulai paham maksud dari kode Egi.


Apalagi melihat Sean dan Zean yang juga nampak bersemangat, membuat Ares lebih paham lagi.


" Baiklah.. ayo Lyza aku akan mengajakmu berkeliling ".


" Tidak perlu. Aku bisa sendiri ". Masih memperhatikan bangunan di depannya


" Tidak apa-apa, kamu tidak akan merepotkan ku. Ayo ". Menarik tangan Lyza dan pergi dari sana. Lyza hanya menurut dan ikut dimana Ares membawanya. Ares membawa Lyza masuk kedalam rumah.


Ares melihat kebelakang, nampak Egi dan Sean memberikan tanda jempol dan mengatakan semangat melalui bibir mereka. Ares membalas dengan anggukan.


" Kamu kenapa? ". Heran melihat Ares yang nampak mengangguk-anggukan kepala


" Ah! Tidak apa-apa. Oh yah bagian mana yang mau kamu lihat dulu? ". Membuka pintu rumah


" Kenapa malah tanya aku. Kan katanya kamu yang mau menunjukkan bagian-bagian rumah ini. Dasar aneh! ". Gerutu Lyza. Aneh kan, bukannya suaminya itu yang ingin mengajaknya berkeliling, kenapa malah bertanya dengan dirinya yang bahkan belum tahu sama sekali dengan rumah itu.


" Ehemm.. baiklah aku akan tunjukkan semua tempat-tempat di rumah ini ". Kembali menarik tangan Lyza, seolah hal itu sudah biasa dan Lyza juga tidak menolak yang membuat Ares semakin senang.


Ceklek...


Pintu berdaun dua itu terbuka. " Nah anggap ini adalah langkah awal kita memulai kehidupan bersama ". Kata Ares. Lyza hanya manggut-manggut, ia tidak ingin terlalu memikirkan perkataan Ares.


Langkah Awal? Memulai kehidupan? Lyza? Haha hal yang sebenarnya ingin di tertawai Lyza. Bagaimana mungkin seorang Lyza akan menjalani hal normal seperti pada orang-orang umumnya. Pikir Lyza


Ares mulai memperlihatkan tempat-tempat dirumah itu. Ya walau sebenarnya Ares hanya ingin menggenggam tangan Lyza lebih lama. Dan Lyza tidak mempermasalahkan nya. Kenapa? Ya karena tidak ada getaran apapun di dalam diri Lyza.


Menyedihkan? Iya itu sangat menyedihkan dalam sudut pandang Ares. Dalam diri Ares sudah ada getaran-getaran saat ia berdekatan dengan Lyza, namun apa balasan dari sang empunya? Haha tertawalah sebelum tertawa itu di larang.


Walaupun demikian Ares tetap tidak ingin menyerah. Karena ia yakin dengan doa, ketulusan dan cinta nya, in syaa Allah pasti perasaan yang ia punya akan terbalaskan.


Hijau... Asri.. tempat yang menenangkan. Udara nya juga sejuk. Begitu lah pemikiran Lyza tentang taman belakang itu, ia sangat menyukainya. Namun saat ia menoleh pada samping rumah senyuman nya langsung redup.


" Bagaimana? Bagus bukan? ".


" Iya bagus. Sampai akhirnya aku sadar, kenapa kita harus punya tetangga?!! ". Ketus Lyza


Ares tersenyum mendengar perkataan Lyza. Kita? Itu artinya Lyza sudah mengakui dirinya. " Memangnya kenapa? Bukannya bagus kita punya tetangga ".


Lyza mencebik. " Bagus?! Kau tau kan aku tidak suka bersosialisasi. Haisss apalagi kalau harus berurusan dengan tetangga ". Geleng-geleng kepala. Mansion Lyza memang hanya berdiri sendiri tanpa ada tetangga atau pun perumahan di dekatnya.


" Yah kalau begitu biasakan. Jangan cuman jadi nolep. Memangnya kenapa dengan tetangga, kalau mereka tidak menggangu yah itu tidak masalah bukan? ". Enteng Ares.


" Haha pak ustadz kau terlalu lucu! Tetangga sangat mengganggu, dengan kehadiran mereka saja sudah mengganggu. Bagaimana lagi jika ada tetangga julid. Ah.. pengen langsung ku tembak, biar mati sekalian ".


" Haisss tetangga itu kerabat dekat. Jadi kita harus usahakan agar membuat citra yang bagus di hadapan mereka. Yah kalau Masalah julidnya itu, tergantung bagaimana kita bersikap ". Sebenarnya Ares Memang sengaja membeli rumah yang berada di sekitar perumahan yang tidak terlalu padat. Setidaknya agar Sang istri bisa bersosialisasi.


" Cih tinggal bolongin kepala mereka yang julid. Oke masalah selesai. Hahaha sangat gampang ". Wajah nya meremehkan


Ares geleng-geleng mendengar perkataan Lyza " Kamu belum tahu saja bagaimana kekuatan ibu-ibu.... Polisi saja sampai angkat tangan. Bukan hanya polisi, bahkan jalanan raya yang selalu padat mencoba mengabaikan ibu-ibu ". Celetuk Ares


" Hah???? Apa maksudmu?? Polisi sampai angkat tangan? Kenapa? ". Tanda tanya terlihat memenuhi kepala Lyza. Sekuat apakah ibu-ibu yang di maksud Ares, sampai-sampai polisi takut angkat tangan padanya.


" Yah karena mereka takut dengan kekuatan panci bin sapu ibu-ibu. Ihhh Siapa sih yang berani sama kekuatan the power of emak-emak ". Bergidik membayangkan dirinya pernah di lempari panci sama ibu-ibu saat masih sekolah.


Lyza semakin dibuat bingung dan penasaran. Apalagi saat melihat wajah Ares yang sepertinya mempunyai trauma sendiri dengan ibu-ibu. " Jadi penasaran. Apa aku cari masalah saja yah dengan the power of emak-emak yang kau bilang ". Wajah polos Lyza membuat Ares gemas dan langsung tertawa termehek-mehek.


Hahahahahaha


" Aku saranin mending jangan. Kalau kamu tidak mau merasakan kekuatan dari panci serba lima ribu bin sapu yang tidak pernah lepas dari ibu-ibu ". Melap air mata di sudut mata yang keluar akibat tertawa.


" ehem.. ".


Sontak kedua orang itu melihat kearah sumber suara dimana terletak di rumah sebelah nya. Ada seorang ibu-ibu berdaster melihat Ares dengan wajah garang. Mana bawa sapu lagi!.


" Ha.. ha.. ha.. ". Tawa Ares berubah jadi canggung.


Glek


'mampus!!'.


.........


Malam harinya, setelah makan malam Ares pergi keruang kerja bersama Egi. Ada beberapa urusan yang harus ia selesai kan.


Sedangkan Lyza bersama Zean dan Sean berada di ruang keluarga. Mereka tengah membicarakan masalah serius.


" Jadi pistol Revolver Georg von Reichwein Akan di lelang malam ini ? ". Aura ketua mafia dari Lyza akhirnya nampak lagi.


Revolver Gerog Von Reichwein adalah Pistol milik Georg von Reichwein, seorang perwira Jerman pada pertengahan abad ke-17, merupakan revolver tertua yang ada di dunia. Senjata itu dibuat untuk seseorang yang berstatus tinggi dan dihiasi dengan kuningan, tulang, dan Ibu Mutiara.


Tidak seperti revolver modern, senjata ini harus diputar secara manual.



Georg von Reichwein adalah pemilik terakhir dari senjata tersebut. Ia membelinya ketika diangkat menjadi mayor dan komandan pasukan di benteng Bergenhus Norwegia pada 1636.


Pistol tersebut saat ini berada di ruang penyimpanan Maihaugen Folk Museum di Lillehammer, Norwegia. ( Sekedari info~).


" Iya bos. Saya sudah menyiapkan tiket untuk bisa masuk kedalam lelang ". Ujar Zean tak kalah serius.


Lyza menyeringai. " Kita berangkat ". Hendak berdiri


" Tapi bos. Apa itu tidak melanggar perjanjian bos dengan ustadz bos? ". Seru Sean yang sedari tadi hanya diam.


Lyza mengurungkan niat untuk berdiri. Ia menyeringai. " Tenang saja. Perjanjian nya hanya aku dilarang melakukan transaksi ilegal, dan yang lainnya tentu masih bisa ".


" Wahh benar juga yah. Baiklah bos aku akan pergi menyiapkan mobil untuk mu ". Dengan semangat yang membara Sean berlari ke garasi untuk memanaskan mobil.


" Kalau begitu saya juga permisi bos ". Berdiri sembari membungkuk kan badan. Zean hendak melangkah, baru saja ia berbalik namun suara sang young ms menghentikan langkahnya.


" Jangan beritahu pak ustadz tentang ini ". Aura dingin menyeruak dari diri Lyza.


Glek...


" Ba.. baik bos ". Tanpa berbalik, Zean menjawab.


Lyza pun berlalu untuk siap-siap ke pelelangan gelap. Pelelangan ilegal yang hanya di hadiri para konglomerat, milyader yang ingin menghamburkan uang.


.


.


.


.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya 😘