My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Lembur



Awalnya Lyza yang hanya ingin sebuah warung kecil, namun sayang hal itu tidak terwujud sebab sang suami yang salah kaprah. Hal asil ia harus tetap menjalankan restoran yang di bangun oleh sang suami atas nama dirinya, walaupun nanti tetap Lyza menggunakan restoran itu sebagaimana niatnya dari awal.


Niat sebenarnya Lyza membangun restoran yang awalnya hanya warung itu untuk orang-orang menengah kebawah. Misalkan para pengamen tetap bisa makan di restoran itu walau hanya dengan uang yang tak seberapa, atau orang-orang yang menjual tissue juga bisa makan di restoran Lyza dengan syarat harus di barter dengan satu tissue yang ia jual.


Lyza tidak pernah memberikan nya dengan gratis, ia ingin agar mereka tidak hanya tahu meminta namun juga berusaha mencari rezeki nya masing-masing.


Para remaja atau abg juga menjadi langganan restoran itu, anak-anak yang pulang sekolah biasanya mampir ke restoran Al-Fatih, sebab harga makanan yang di jual sangat murah dan sesuai dengan isi kantong anak abg. Bahkan saat malam juga restoran Lyza sama sekali tidak sepi, para abg yang biasanya nongkrong di pondok kecil dekat restoran Lyza pindah tempat ke restoran itu.


Biasanya orang-orang yang lewat untuk makan di restoran Lyza terkadang terkejut melihat harga makanan yang dijual, padahal semua menu itu adalah menu yang hanya bisa di cicipi kalangan sultan.


Nama Lyza menjadi terkenal sebab hal ini, padahal Lyza sama sekali tidak mengharapkan kannya. Namun apa boleh buat. Bahkan terkadang ada stasiun televisi yang ingin Menayang 'kan tentang restoran Al-Fatih itu, tapi Lyza selalu menolak. Ia tidak ingin di anggap ria yang hanya ingin di lihat saja.


Hari-hari Lyza di isi dengan pekerjaan nya di restoran yang ia beri nama Restoran Al-Fatih sesuai dengan nama sang putra.


Fatih selalu ikut sang ibu ke restoran. Ia hanya main disana menamani sang ibu atau melihat-lihat para karyawan yang di pekerjaan sang Ayah. Sedangkan kerjaan Lyza hanya mengontrol dan mengawasi para pekerja atau biasa juga Lyza membantu di bagian kasir saat tengah ramai pelanggan.


Sekitar jam 4 sore Lyza pulang. Walaupun ia pulang lebih dulu, restoran tetap buka seperti biasa.


" Aku pulang dulu yah Gisell, Rangga" Pamit Lyza pada dua orang kasir yang menjaga


" Iya mbak, hati-hati dijalan." Tungkas Gisel yang masih berstatus mahasiswi


" Titip salam sama anak-anak yang lain." Gisel dan Rangga mengangguk.


" Assalamu'alaikum." Ucap Lyza dan Fatih bersamaan


" Wa'alaikum salam." Setelah mendapatkan jawaban, Lyza dan Fatih pun pulang dengan naik mobil pribadi yang di supiri oleh Lyza sendiri.


Lyza ingin mandiri, karena itu ia tidak ingin di antar jemput. Ia juga selalu sedia pistol untuk kemana-mana, jaga-jaga jika terjadi sesuatu di perjalanan pulang. Awalnya Ares menentang keputusan Lyza yang ingin bawa mobil sendiri, namun karena kegigihan Lyza meluluhkan hati sang suami dan itu berhasil. Dan pastinya Ares akan selalu memberikan pengawalan ketat dari jauh.


" Kita singgah ke supermarket dulu Yah, uma baru ingat kalau kulkas Sudah kosong


Fatih menoleh ke arah ibunya " Memangnya bi Ija tidak belanja uma?." Bukannya Fatih tidak ingin mampir, cuman ia tidak ingin sampai sang ibu kelelahan, apalagi mereka baru dari restoran. Dan nanti pasti sang ibu juga akan memasak


" Bi Ija pasti lupa sayang. Tidak apa-apa yah." Ucap Lyza memberi pengertian. Lyza tahu jika sang putra tidak terlalu suka keramaian, ia juga tidak suka keluar rumah jika tidak penting, dan satu hal yang Lyza sadari adalah sang putra bersikap dingin pada orang lain, mirip dengan dirinya.


Fatih akhirnya mengangguk. Tak lama kemudian Lyza memarkirkan kendaraan nya di sebuah minimarket terdekat, ia lebih memilih yang tidak terlalu ramai dan besar sebab jujur saja Lyza juga tidak terlalu suka keramaian sama seperti sang putra.


Setelah berbelanja kebutuhan dapur, mereka pun kembali pulang.


Sesampai nya di rumah, Lyza langsung turun dan menuju dapur untuk memasak. Sedangkan Fatih di suruh membersihkan badan terlebih dahulu.


Biasanya Ares akan pulang sekitar jam 5 atau sesudah Maghrib. Setelah menyiapkan makan malam, Lyza pun naik ke atas kamar untuk membersihkan tubuhnya.


Kini kedua orang itu duduk di meja makan sembari menunggu Ares pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 19.30 namun Ares masih belum kelihatan batang hidungnya.


Perut Fatih dan juga Lyza sudah keroncongan minta di isi.


" Abi kemana yah uma. Fatih sudah lapal." Air liurnya hampir menetas melihat lauk yang ada di atas meja


" Hmm uma juga tidak tahu. Ponselnya tidak bisa di hubungi." Ia sudah mencoba menghubungi sang suami namun tidak ada hasil, Lyza juga sudah menghubungi satpam di sana dan satpam mengatakan kalau Ares memang belum keluar dari kantor


" Kalau Fatih sudah sangat lapar. Makan saja sayang." Ia merasa bersalah Melihat anaknya yang sepertinya sudah kelaparan. Jujur saja ia juga sudah lapar


Fatih menggeleng " Nanti kalau uma juga mau makan bersama." Ujar nya, tidak mungkin ia makan sedangkan sang ibu tidak


Ting..


Satu pesan masuk kedalam ponsel Lyza. Ia mengambilnya dan melihat siapa yang mengirim, berharap agar sang suami yang mengirim pesan itu.


Lyza membacanya. Setelah itu kembali meletakkan ponsel di atas meja. " Abi sedang lembur, Bagaimana kalau Fatih makan dulu saja."


" Fatih tidak mau makan kalau uma juga tidak makan." Ia masih kekeuh terhadap pendiriannya


Lyza yang tidak sampai hati membiarkan sang putra kelaparan akhirnya mau tidak mau ikut makan juga, padahal ia ingin menunggu Ares dan makan bersama-sama.


Lyza membalik piring yang ada di depan " Baiklah ayo kita makan, nanti uma sisakan lauknya untuk abi."


Fatih Tersenyum senang, ia mengangguk antusias. Sudah dari tadi perutnya berbunyi.


Lyza mengambilkan makanan kedalam piring Fatih setelah nya ia juga mengisi piring nya dengan makanan yang telah ia buat.


.........


Sudah hampir tengah malam namun sang suami masih belum pulang juga, Lyza semakin khawatir. Tidak biasanya Ares lembur, sebab Ares lebih mengutamakan keluarga nya di banding perusahaan, karena itu Lyza menjadi khawatir. Ada apa sebenarnya?


Lyza menggeleng keras, ia tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh. Ia duduk di sofa ruang tamu memainkan ponsel untuk menghilangkan rasa bosan dan jenuh sembari menunggu sang suami.


Sudah lewat tengah malam akhirnya Ares sampai di rumah. Ia langsung masuk kedalam rumah dengan pelan-pelan takut membangun orang-orang rumah.


" Assalamualaikum." Salam Ares dengan berbisik, ia heran Melihat lampu di ruang tamu masih menyala, dengan langkah pelannya ia menghampiri seseorang yang sedang ada di sofa.


Ares tersenyum melihat sang istri yang tertidur di sofa dengan masih memegang ponsel. Ares berjongkok di depan wajah sang istri, ia mengecup seluruh permukaan wajah Lyza, ahh ia benar-benar rindu dengan wajah istrinya yang tidak ia lihat seharian ini.


" Hmm euuh." Merasa terganggu, Lyza perlahan membuka matanya. Ia mengucek-ucek matanya


" Assalamu'alaikum."


" Jangan di kucek terus sayang." Menahan tangan Lyza, ia kemudian mengecup kedua mata sang istri dan turun ke bibir


Lyza tersenyum " Mau makan dulu by? Aku sudah memasak makanan kesukaan mu." Tanya Lyza, ia mengambil jas dan juga tas sang suami


Sebenarnya Ares sudah makan tadi, namun ia tidak ingin membuat kerja keras sang istri tak di hargai, ia juga tidak ingin sampai Istri nya tersinggung. Ares mengangguk


" Kalo gitu hubby bersihkan badan dulu, aku mau panaskan makan nya." Lagi-lagi Ares Hanya mengangguk.


" Sini biar aku yang bawa tas dan jas ku. Sayang panaskan makanannya saja."


Lyza mengangguk dan memberikan kembali jas dan juga tas milik Ares, lalu ia berlalu ke dapur untuk memanaskan nasinya.


Setelahnya Ares pun kemudian memakan makanan yang telah di panaskan sang istri untuk nya. " Kamu tidak makan sayang?."


" Sudah tadi." Jawab Lyza yang duduk menemani sang suami makan. " Kerjaannya banyak yah by?."


" Yah begitulah."


.........


Lyza tengah membuat sarapan pagi ini. Ia ingin agar sang suami tidak kelelahan jika harus lembur lagi.


" Eh! By mau kemana? Sudah rapi begini." Heran Lyza melihat sang suami yang sudah lengkap dengan jasnya


" Mau ke kantor sayang."


Lyza Melihat jam dinding " Tapi ini masih jam 6 pagi loh."


" Urusannya mendadak sayang."


" Kalau begitu setidaknya sarapan saja dulu." Mengisi piring Ares dengan nasi goreng. Mau tidak mau Ares pun akhirnya memakannya


" Pagi uma... Abi.." Fatih datang dengan masih menggunakan piyama, bahkan ia juga masih menggunakan topi dari piyama nya


" Pagi sayang." Mengecup kening sang putra.


Lyza menggendong Fatih naik ke kursi meja makan. " Abi sudah mau pelgi kelja?."


Ares meminum air putih " Iya, banyak kerjaan."


Fatih hanya mengangguk. " Uma, aku juga mau makan nasi goleng."


Lyza tersenyum dan mengisi nasi goreng kedalam piring Fatih. " Setelah ini mandi sendiri yah, jangan lupa gosok gigi."


" Woke!." Hormat layaknya menghormati bendera


" Jangan nakal yah, bantu uma di restoran." Mengelus rambut sang putra, Fatih mengangguk sembari memakan makanannya


" sayang aku berangkat dulu. Mungkin nanti lembur lagi." Menghampiri sang istri dan memberikan kecupan di kening


" Jangan terlalu berlebihan by. Baru kali ini loh kamu lembur terus pergi nya juga pagi-pagi lagi." Merapikan jas sang suami


" Iya sayang, kamu juga jaga diri jangan terlalu lelah. Kalau sudah tidak sanggup bersandar sama hubby yah."


" Seharusnya aku yang mengatakan itu."


Ares Terkekeh lalu mengecup bibir sang istri sekilas. " Aku berangkat, Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikum salam." Mencium tangan sang suami dan di hadiah 'kan kecupan di kening Lyza


" Abi berangkat dulu, ingat! Jangan buat uma susah." Fatih hanya mengangguk menanggapi, ia tengah fokus dengan sarapan nya. Seharusnya seperti itu, namun dari tadi ia selalu curi-curi pandang terhadap ayah dan juga ibu nya yang selalu bermesra-mesraan.


Setelah Ares pergi, Lyza baru ikut bergabung bersama Fatih untuk makan pagi. Walaupun mungkin ini masih terlalu pagi


" Hmm nanti kita olahraga pagi dulu yah sebelum berangkat."


" Iya uma."


Setelah sarapan mereka pun olahraga ringan seperti yang di katakan Lyza tadi. Lalu setelah nya kedua orang itu pergi ke restoran.


Setiap hari Ares selalu lembur. Pergi pagi pulang tengah malam. Bahkan Fatih hanya bertemu saat pagi hari dengan ayah nya, sebab kalau malam sudah tidak bisa.


Lyza hanya bisa mendoakan semoga suaminya selalu di beri kesehatan. Ia tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️