
" jadi Lyza. Kamu datang kesini karena tawaran ku kemarin? ".
" Iya ".
" Alhamdulillah... Ayo kita ke ruangan ku ". Ajak Humairah. Tidak mungkin kan, Humairah mengajarkan nya di tempat terbuka seperti itu. Apalagi ada banyak orang yang lalu lalang mencari buku.
Lyza mengangguk. Ia mengikuti Humairah ke ruangannya.
Sesampainya di sana, Humairah mulai membuka suara.
" Jadi, mau mulai dari mana? ". Tanya Humairah saat mereka sudah duduk di sofa.
" Ehm.. bagaimana kalau membaca Al-Qur'an. Selama ini aku sangat penasaran ". Dari pertama melihat isi dari Al-Qur'an sudah membuat Lyza penasaran bukan kepayang, namun gengsinya masih tinggi untuk sekedar bertanya kepada Ares.
Humairah tersenyum. " Baiklah.. tunggu sebentar aku ambil iqro dulu ".
Walaupun Lyza tidak tahu apa yang di maksud dengan iqro itu, tapi ia tetap mengangguk. Humairah berdiri dan mengambil satu buku di sebuah tumpukan buku di atas meja. Setelah nya ia kembali duduk di samping Lyza.
" Tapi sebelum itu, bagaimana kalau kita wudhu dulu ". Duduk kembali di samping Lyza dan menaruh iqro tersebut ke atas meja.
" Baiklah ". Karena Lyza tidak ingin basa-basi, ia hanya mengangguk dan menyetujui nya.
Mereka pun bergegas untuk mengambil air wudhu. Setelah mereka kembali ke tempat duduk. Humairah mengambil kerudung sholat.
" Sebaiknya gunakan kerudung ini ". Memberikan kepada Lyza.
Lyza sedikit bingung, namun tetap mengambil kerudung itu. Tanpa bertanya apapun Lyza segera memakai kerudung tersebut.
Humairah tersenyum. " Ares tidak salah pilih istri. Sangat cantik ". Ujar Humairah.
" Iya? ". Dengan wajah bingung.
" Hahaha maafkan aku ... Hanya saja kamu sangat cantik. Kalian berdua memang sangat serasi ". Sebenarnya Humairah tau kalau Ares sedang berada di rumah sakit. Humairah hanya ingin mencoba mencairkan suasana hati Lyza yang pasti sedang sedih.
" Benarkah? Apa kami serasi? ". Matanya berbinar mengatakan nya.
" Iya. Sangat serasi ". Wanita bercadar itu tersenyum di balik cadarnya.
" Hehe ". Tersenyum sumringah.
'dia sangat polos. Lucu~'. Melihat wajah Lyza yang berbinar seperti anak kecil yang di beri permen. Menjadi hiburan tersendiri bagi Humairah.
" Emm .. apa kamu sudah lama mengenal pak ustadz? ".
" Pak ustadz? ".
" Ah! Maksud ku Ares ". Untuk pertama kalinya Lyza memanggil nama Ares.
" Kenapa kamu memanggil nya dengan sebutan pak ustadz? Ada banyak loh panggilan sayang kepada suami dengan menggunakan bahasa Arab ". Tutur Humairah.
" Memangnya harus? Aku hanya bingung ingin memanggil pak ustadz dengan sebutan apa ". Wajah Lyza nampak polos.
Humairah Terkekeh. " Nanti saja aku beritahu. Agar saat Ares sadar, ia akan terkejut mendengar panggilan sayang dari mu ". Mengedipkan sebelah matanya, yang membuat Lyza membulatkan matanya.
Humairah memang berbeda dengan wanita bercadar yang lainnya, yang kadang lebih kalem dan tenang. Berbeda dengan Humairah yang melepaskan begitu saja.
" Isshh.. bisa kah kau jawab pertanyaan ku? ". Menggeleng tak percaya. Perkataan itu keluar begitu saja.
Humairah tersenyum tipis, ia senang saat Lyza tidak terlalu kaku dan canggung dengan nya. " Baiklah... Aku mengenal Ares sudah sangat lama. Kalau tidak salah dari umur Ares 13 tahun, saat ia pertama kali masuk pesantren ". Jelas Humairah.
" Wah.. sudah sangat lama.. ". Entah mengapa, tapi ada rasa sedikit tak rela. Lyza sangat iri, seandainya ia juga bisa mengenal Ares lebih dulu dan lebih lama. " Emm apa kalian sering bertemu? ". Tanya Lyza hati-hati.
" Tidak juga. Kalau pun kami bertemu, suamiku pasti akan selalu menemani ku. Lagi pula Ares tidak datang menemui ku, tapi menemui suamiku. Kamu sudah kenal 'kan, ". Humairah seperti mengetahui apa yang ada di pikiran Lyza saat ini.
Lyza manggut-manggut. Ia lega mendengarnya.
" Baiklah.. sesi ngobrol nya kita hentikan sampai disini ". Ujar kemudian Humairah.
" Sesi ngobrol? ". Gumam Lyza.
Humairah mengambil iqro yang di taruh di atas meja tadi, kemudian membuka iqro tersebut. " Baiklah... Ayo kita mulai belajar nya ".
Lyza tersadar. 'astaga aku sampai melupakan tujuan ku kemari'. Sangking asyik nya ia ingin tau lebih dalam mengenai sang suami. Seharusnya dari dulu saja ia bertanya pada orang yang bersangkutan.
" Baik, aku sudah siap ".
" Baca bismillah dulu ". Memberikan iqro tersebut ke depan Lyza
Lyza mengangguk dan menerima iqro tersebut " Bismillahirrahmanirrahim ".
" Nah yang ini di baca Alif ". Menunjuk salah satu huruf di sana.
'alif?... Nama siapa tuh'. Wajah bingung Lyza membuat Humairah tersenyum.
" Ini bukan nama orang. Memang nama hurufnya seperti ini ". Celetuk Humairah.
" Eh?! Hhaha ". Tertawa canggung.
Mereka pun mulai kembali belajar mengaji.
.........
" Alhamdulillah... Wah hebat sekali.. ". Seru Humairah saat Lyza baru sudah menyelesaikan iqro 2. Padahal baru satu jam Humairah mengajar Lyza, namun Lyza sudah hampir mahir.
" Rupanya tidak sesusah yang terlihat ". Ucap Lyza dengan wajah polosnya.
'hahaha untuk mu'. Humairah Terkekeh.
" Ada apa? ".
" Ah! Tidak.. aku cuman teringat sesuatu yang lucu ". Masih menyisakan kekehannya.
Lyza hanya manggut-manggut dengan wajah tak tau apa-apa. Lyza merapikan kerudung yang ia gunakan tadi.
" Terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar berterima kasih ". Untuk pertama kalinya Lyza berterima kasih dengan sangat tulus.
" Tidak perlu berterima kasih. Kita sesama manusia memang harus saling berbagi ilmu yang kita miliki ".
Lyza tersenyum mendengarnya. Ia tidak menyangka akan di kelilingi orang-orang baik setelah menikah.
" Baiklah aku harus pulang ". Berdiri. Humairah juga ikut berdiri. " Lain kali mampirlah kerumah ku ". Walaupun Humairah mengatakan tak perlu berterima kasih, Lyza tetap ingin membalas budi.
" In syaa Allah , kalau ada kesempatan. Besok datang lagi kan? ".
" In syaa Allah. Baiklah aku pulang dulu ".
" Lyza.. semoga Ares cepat sadar ". Sudah dari tadi Humairah ingin mengatakan nya, namun selalu di tahan.
" Wa'alaikum salam ".
Lyza pun keluar dari toko buku tersebut. Dan rupanya Zean sudah ada di depan toko buku dengan mobilnya.
" Assalamu'alaikum ".
" Wa'alaikum salam ".
Lyza tersentak. " Zean.. kamu... ".
Membuka pintu mobil, tanpa menjawab pertanyaan Lyza atau pun mendengar kelanjutan perkataan Lyza. " Silahkan masuk dulu nyonya ".
Dengan kepala yang penuh tanya, Lyza masuk ke dalam mobil. Setelah Zean juga ikut masuk dan duduk di bangku kemudi, Zean pun melajukan mobilnya.
" Sejak kapan? Dan kenapa? ". Lyza membuka suara.
" Saat tuan Ares koma nyonya. Alasannya karena saya ingin menjadi lebih baik untuk seseorang ".
" Hah??! Seseorang? Siapa? Apa kamu sudah punya kekasih Zean? ". Cerocos Lyza. Pria dingin bak kulkas berjalan itu punya kekasih? Waw.
" Emmm belum jadi kekasih nyonya ". Tidak terlalu percaya diri mengatakan nya. Walau bagaimanapun, Zean biasanya selalu melakukan sesuatu dengan sempurna.
" Hahahaha kalau begitu semangat. Aku yakin dia wanita yang baik ". Yap, pasti baik dan luar biasa sampai bisa mengubah Zean.
" Iya nyonya. Terima kasih ". Ucap Zean. Sungguh tak akan ada yang percaya kalau Zean akan mempunyai seorang yang di sukai nya.
Sedangkan di tempat lain...
" Lyza nya sudah pulang? ".
Humairah berbalik melihat sumber suara. " Iya, baru saja ".
" Bagaimana? ". Tanya Raka. Suami dari Humairah.
" Hmm seperti yang di katakan Ares, dia sangat jenius namun polos. Aku masih tidak percaya kalau dia seorang ketua mafia berdarah dingin ".
" Hhaha Ares memang tidak salah pilih istri. Huffhh semoga Ares cepat sadar ".
" Aamiin ".
...****...
Setiap hari Lyza selalu mampir ke toko buku milik Humairah. Ia selalu belajar banyak hal disana, dan Humairah juga menyambut Lyza dengan senang hati. hubungan Humairah dan Lyza juga semakin dekat.
Keadaan Ares kian membaik, walaupun belum ada tanda-tanda untuk siuman.
Sudah 14 hari berlalu...
Lyza sekarang, bukanlah Lyza yang dulu. Mungkin orang-orang yang melihatnya tidak akan percaya bahwa Lyza adalah seorang ketua mafia.
Kini Lyza berada di bangsal Ares. Seperti biasa, ia menjenguk Ares.
Tok.. tok.. tok..
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk. Lyza menoleh dan di saat bersamaan pintu pun terbuka. Terlihat ibu, ayah dan Ara yang masuk.
" Assalamu'alaikum ". Salam mereka.
Lyza berdiri sembari tersenyum. " Wa'alaikum salam ". Jawab Lyza.
Ketiga orang itu mematung. Siapa wanita di depan mereka saat ini? Apa benar dia adalah Lyza sang ketua mafia?. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala mereka.
" Ayah, ibu, Ara. Ada apa? Kenapa kalian diam saja ? ". Sampai suara lembut Lyza membuyarkan lamunana ketiga orang itu.
Ibu tersenyum, ia mendekati Lyza dan Langsung memeluknya. Tak terasa air matanya berlinang begitu saja. " Alhamdulillah... Lyza.. kamu sangat cantik menggunakan kerudung seperti ini ". Yap sekarang Lyza menggunakan kerudung, dan yang mengajarkan nya adalah Humairah.
Humairah tidak pernah memaksa, namun ini semua tulus dari hati Lyza yang ingin memakai kerudung dan menggunakan gamis seperti saat ini. Sudah hampir lima hari Lyza menggunakan fashion seperti ini. Lyza lupa kalau keluarga suaminya belum pernah melihat Lyza memakai fashion seperti sekarang.
Kita kembali ke beberapa hari lalu...
Flashback on
" Seorang wanita, harus pandai menjaga diri, tutur kata. Bahkan kalau orang bertanya kenapa aku memakai pakaian seperti ini? Karena dalam Islam, wanita tidak boleh memperlihatkan auratnya ". Tutur Humairah saat Lyza tadi bertanya hal-hal yang tidak boleh dan boleh di lakukan dalam Islam apalagi sebagai seorang wanita.
" Memangnya aurat wanita itu sampai mana? ".
" Sebenarnya aurat wanita itu, hampir semua bagian tubuhnya. Kecuali telapak tangan dan wajahnya. Kalau pria, bagian bawah perut sampai kebawah ".
" Oh.. tapi cadar mu? ".
" Ini hanya Sunnah, tidak di wajibkan kok ".
Lyza manggut-manggut. " Apalagi untuk seorang Istri, seharusnya tubuhnya hanya di perlihatkan untuk suaminya seorang. Karena, dosa istri juga di tanggung oleh suami ". Lanjut Humairah.
" Apa? Ka.. kalau begitu aku juga ingin memakai jilbab seperti yang kamu pakai ". Celetuk Lyza
Humairah sedikit terkejut. " Eh? Kenapa tiba-tiba? ".
" Beberapa hari ini, aku memang selalu memikirkan ingin memakai jilbab. Rasanya sangat sejuk di lihat jika seseorang pakai jilbab ".
" Karena itu kamu menanyakannya? ". Dan Lyza mengangguk. Humairah tersenyum, ia mengambil salah satu jilbab segitiga yang sudah tidak ia pakai di laci ruangannya itu.
" Apa ini? ".
" Itu jilbab segitiga ".
" Aku lebih suka memakai jilbab panjang seperti yang kamu pakai. Kalau tentang cadar, mungkin aku masih belum bisa. Tapi aku ingin memakai jilbab panjang seperti itu ".
" Kamu yakin? Ada banyak wanita bahkan artis yang melepas jilbabnya loh ".
Lyza mengangguk yakin. " Aku yakin! Aku bukan orang plin plan yang suka memainkan agama ". Jawab mantap Lyza. Dan semenjak saat itulah Lyza memakai jilbab. Walaupun kadang Lyza masih suka memakai celana dan di padukan dengan jilbab, tapi bukan celana jeans lagi namun celana kulot.
Flashback off
.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga agar othor tambah semangat nulis nya ✌️