My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Bertekad untuk belajar



Tiga hari sudah berlalu, Ares sudah di nyatakan koma. Semua nya berada di tangan Ares jika memang dia ingin bangun. Ares juga sudah di pindahkan di ruang perawatan VVIP.


Pagi-pagi sekali Lyza sudah ada di ruangan Ares. Lyza membawa buah-buahan. " Assalamu'alaikum pak ustadz ". Salam Lyza menaruh keranjang buah di atas nakas samping tempat tidur Ares.


Tak ada jawaban dari Ares. Hal itu sudah sering terjadi. Lyza hanya bisa menghela nafas pelan. Semua karena dirinya. Jika seandainya Lyza tidak pergi ke markas. Tidak! Jika seandainya Lyza tidak pernah bertemu dengan Ares, pasti Ares tak akan mengalami hal seperti ini. Ares akan bahagia dengan wanita yang setara dan pantas untuk Ares.


Lyza duduk di kursi samping ranjang Ares. Ia memegang tangan Ares. " Pak ustadz... Ayo dong bangun. Pak ustadz bisa melakukan apapun kepada ku jika pak ustadz bangun. Ayolah kumohon, ada banyak orang yang menunggu mu untuk bangun ". Tak ada jawaban dari Ares.


Lyza menghembuskan nafas nya pelan. Tak lama kemudian dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Ares.


" Bagaimana dok? Apa ada perkembangan? ". Tak ada kata kasar atau pun intimidasi dari nada suara Lyza


" Semuanya stabil nona. Walaupun tidak ada perkembangan, setidaknya tidak ada juga penurunan. Usahakan agar selalu mencoba berbicara pada tuan muda ". Jelas sang dokter


Lyza mengangguk. " Terima kasih dok ".


Setelah memeriksa Ares, dokter itu pun keluar.


Lyza selalu menjaga Ares biasanya dari pagi sampai sore. Tak ada yang di lakukan Lyza di ruangan Ares. Biasanya Lyza menceritakan apa-apa saja yang di alami nya satu hari ini. Tak ada yang istimewa, namun Lyza tetap bersemangat menceritakan nya.


Kadang ibu atau Ara datang untuk membantu Lyza menjaga Ares.


Jam 14.00....


" Nyonya.. sudah waktu nya anda pulang ". Zean tiba-tiba datang dari arah pintu. Jika malam hari, biasanya yang akan menjaga Ares adalah Zean atau Sean.


" Baiklah ". Berdiri. Ia mengelus kepala Ares. " Cepat sadar ". Mencium kening Ares sedikit lama.


" Assalamu'alaikum ". Lyza pun pergi dari sana. Di depan ruangan Ares, Lyza sengaja menaruh dua anak buahnya untuk menjaga Ares.


Di dalam mobil....


Akhir-akhir ini Lyza banyak diam. Walaupun sebelumnya Lyza memang tidak suka terlalu banyak bicara, namun kali ini ada yang beda dari Lyza.


Lyza memandang pemandangan dari balik jendela mobil, sampai Lyza melihat sesuatu.


" Berhenti... ". Lirih Lyza


Zean yang mempunyai kepekaan Indra yang hebat, mampu mendengar nya.


Zean menghentikan laju mobilnya. " Kenapa kau berhenti Zean? ". Tanya Lyza. Sepertinya Lyza tidak sadar mengatakan berhenti.


Zean berbalik melihat Lyza. " Bukannya anda ingin saya menghentikan mobilnya nyonya. Jika memang ada hal yang perlu anda lakukan, maka lakukanlah sekarang ".


Lyza melihat Zean lalu beralih melihat keluar jendela. Ia melihat toko buku yang pernah di singgahi Ares dan dirinya dulu.


" Baiklah tunggu disini. Assalamu'alaikum ". Keluar dari mobil, tanpa menunggu Zean membukakan pintu.


Zean mengangguk. " Wa'alaikum salam ". Jawab Zean pelan sampai tidak terdengar. Waw seperti nya ada perubahan pada Zean.


Dengan langkah pelan, Lyza masuk kedalam toko buku tersebut. Ada banyak orang yang memilih buku. Lyza berjalan menyusuri lorong-lorong rak buku tersebut. Ia terhenti pada buku yang selalu di baca Ares. Ralat! Bukan buku tapi. " Al-Qur'an ". Mengambil Al-Qur'an Tersebut.


Lyza membuka Al-Qur'an itu. " Ini dibaca apa yah ".


" Haisss sangat susah. Ini bersambung-sambung, bagaimana cara bacanya ".


" Kalau untuk pemula sebaiknya gunakan ini ". Memberikan iqro.


Lyza berbalik melihat sumber suara.


" Assalamu'alaikum ". Salam wanita itu


" Wa'alaikum salam ". 'diakan Humairah yah'.


" Lyza 'kan... Apa ada yang bisa aku bantu? ". Melihat Al-Qur'an di tangan Lyza


" Ah! Tidak... Aku hanya iseng datang kesini ". Menaruh kembali Al-Qur'an yang dipegangnya.


" Apa kamu tertarik belajar membacanya? ".


Lyza terdiam. " Apa tidak susah? ".


Humairah Terkekeh mendengar nya. " Kalau kamu bersungguh -sungguh, pasti gampang kok ".


Lyza kembali terdiam. " Aku akan memikirkannya, besok aku datang lagi ".


Lyza kembali ke mobilnya setelah berpamitan pada Humairah. Setelah sang young ms masuk, Zean pun melajukan mobil sampai ke rumah sang majikan.


Sesampainya di rumah, rupanya disana ada Langga yang sedari tadi menunggu kepulangan sang kakak.


" Sudah lama? ".


" Baru kok. Bagaimana kondisi kakak ipar? ". Dua hari yang lalu Langga telah menjenguk Ares. Ia juga sudah meminta maaf atas kesalahan anak buahnya yang sebenarnya di suruh oleh Clara. Langga sampai harus bersujud, ia takut Keluarga Ares tidak memaafkannya. Namun di luar dugaan, keluarga Ares malah menyambutnya dengan hangat.


" Yah .. seperti biasa ". Suara nya menjadi lemah.


Langga jadi bersalah menanyakannya. Keadaan menjadi canggung. " Oh yah Lang ... Ada apa kamu kesini? ". Mencoba mencairkan suasana


" Hmm aku kesini ingin minta izin untuk pulang ke negara ku ".


Lyza sedikit terkejut. " Sebaiknya kita bicarakan di dalam ". Melangkah masuk kedalam rumah diikuti oleh Langga. Sedangkan Zean telah kembali ke rumah sakit untuk menjaga Ares.


Kini kedua orang itu sudah duduk di sofa.


" Kenapa tiba-tiba kamu ingin kembali? ". Wajah Lyza serius


Lyza tersenyum. " Baiklah... Jika memang itu keinginan mu. Tapi! Kalau terjadi apa-apa hubungi kakak ".


Mengangguk. " Baik kak ". Sembari tersenyum. " Tadi aku ingin pergi setelah kakak ipar sadar. Tapi, sebaiknya aku menyelesaikan masalahku dengan cepat ".


" Lakukanlah... Setidaknya jangan sampai mengancam nyawa mu ".


Langga hanya mengangguk menanggapi. 'aku tidak yakin kak'.


" Baiklah kalau gitu kakak istirahat dulu. Kamu juga menginaplah ". Berdiri dari tempat nya.


Langga juga ikut berdiri. " Tidak, aku punya urusan setelah dari sini. Aku pamit kak ". Lyza hanya mengangguk. Ia tau Langga bukan lah seorang muslim. Malam itu juga Langga terbang kembali ke negara asalnya. Pake pesawat, bukan sayap.


Setelah kepergian Langga, Lyza naik ke atas kamarnya. Membersihkan tubuh lalu mulai sholat ashar yang memang baru saja telah usai.


Lyza duduk di balkon. Ia memandangi langit sore yang berwarna sedikit merah. Lama kelamaan berubah menjadi orange. Sangat indah. Lyza sering kali melamun di balkon sembari memandangi langit yang tak nyata.


Berharap agar sang suami cepat siuman dan menjadi imam Lyza suatu hari nanti. Kali ini Lyza memikirkan perkataan Humairah. Apa Lyza harus belajar membaca Al-Qur'an? Mungkin saja dengan membacanya di samping sang suami dapat membantu suaminya untuk bangun dari koma.


Lyza berdiri. " Baiklah... Aku akan belajar ". Semangat empat lima nya keluar.


..........


Keesokan harinya....


Lyza telah berada di ruangan Ares. Sekali lagi Lyza menceritakan hal-hal yang di alami nya.


" Pak ustadz... Aku ingin meminta izin mu. Kan kamu sendiri yang bilang, apa-pun yang akan aku lakukan harus minta izin pada mu ". Memegang tangan Ares.


Lyza menghirup nafas panjang, lalu menghembuskan nya pelan. " Aku ingin lebih mendalami tentang agama Islam. Membaca Al-Qur'an, yang sempat aku anggap bahasa alien, belajar menutup aurat seperti yang selalu pak ustadz katakan ". Tersenyum sumringah. Tidak ada yang melihatnya, pasti kalau pun ada. Mereka tidak akan percaya Lyza bisa tersenyum seperti itu.


Setelah mengatakan nya. Tiba-tiba jari telunjuk Ares sedikit bergerak. Refleks Lyza menekan tombol berwarna merah yang berada di samping kasur.


Dokter pun langsung datang.


" Bagaimana dok? Apa ada perkembangan dengan suami saya? ". Tanya Lyza harap-harap cemas. Ia bahagia, tegang dan cemas saat ini.


Dokter muda tampan itu tersenyum. " Alhamdulillah... Sedikit demi sedikit ada kemajuan dengan kesehatan tuan muda ".


Kebahagiaan Lyza tidak terbendung. Sungguh dia sangat bahagia, rasanya ia ingin menangis. " Alhamdulillah... ".


" Seperti biasa nona Lyza, sebaiknya anda selalu mengajak tuan muda berbicara. Karena pasti tuan muda mendengarkan nya ".


Lyza mengangguk. Setelah dokter dan perawat keluar. Lyza membuka ponselnya dan mengirimkan pesan pada ibu, tentang kemajuan kondisi Ares. Tentu yang di kirimkan pesan juga sangat senang.


Lyza menaruh kembali ponselnya di atas nakas. Ia mencium dahi Ares. " Apa ini tandanya pak ustadz mengizinkan aku? ". Ucapnya setelah mencium kening Ares.


Walaupun kali ini tidak ada respon. Lyza tetap bersemangat dan pastinya sangat senang.


Seperti biasa, Zean datang menjemput Lyza untuk pulang. Namun Lyza meminta Zean untuk berhenti di tempat Humairah.


" Apa ada buku yang anda cari nyonya? Biar saya saja yang mencarikan nya untuk anda ". Tutur Zean saat mereka telah berada di depan toko buku tersebut.


" Tidak perlu. Bukan buku yang aku cari, tapi pemilik toko ini ". Ucap Lyza


Zean sedikit bingung, tapi tidak berani bertanya lebih.


" Kamu bisa pulang lebih dulu. Nanti aku akan menelpon mu jika urusanku sudah selesai ". Titah Lyza


Sebenarnya Zean ingin menolak, namun melihat tatapan keyakinan di mata Lyza, membuat Zean tak dapat menolak. " Baiklah nyonya ".


" Assalamu'alaikum ". Masuk kedalam toko tersebut


" Wa'alaikum salam ". Jawab Zean setelah Lyza masuk kedalam toko buku. Zean kembali masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Lyza menghampiri salah satu karyawan yang terlihat bekerja disana. " Assalamu'alaikum ". Salam Lyza.


Wanita berhijab itu berbalik melihat sumber suara. " Wa'alaikum salam ". Jawabnya dengan ramah. 'wah... Bidadari'. Hanya dapat mengatakan nya di dalam hati.


" Ada yang bisa saya bantu? ".


" Ehmm Humairah nya ada? ".


" Maksud nya ustadzah Irah? ". Lyza mengangguk.


" Oh kalo ustadzah ada di ruangannya ". Menunjuk sebuah ruangan yang tertutup rapat.


'jadi dia ustadzah'.


" Apa saya boleh bertemu dengan nya? ".


" Apa anda sudah punya janji? ".


" Ehm... ". Lyza sedikit bingung harus menjawab apa. Kalau di bilang janji! Memangnya yang kemarin janji yah?


" Assalamu'alaikum... Wah ada Lyza. Ada apa nih ". Tiba-tiba yang di cari datang.


" Wa'alaikum salam ".


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️