My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Masa lalu Re



Kini kedua pasutri itu sedang duduk di pinggir ranjang sembari bercerita, sesuai kebiasaan mereka.


Tadi, Egi baru saja meminta izin membawa Re untuk di make over. Lyza hanya bisa menyetujuinya sebab Re juga tidak membantah


" Oh yah sayang, ini tentang Re. Sebenarnya dia siapa?." Tanya Ares


" Hmm Re itu adiknya Killiua."


" Killua? Maksudnya Adiknya Kill yang dokter itu?." Kejut Ares, mereka sama sekali tidak mirip


" Iya, anehkan. Mereka sama sekali tidak mirip." Ia juga merasa hal itu sangat aneh


" Apa dia juga bawahan mu?." Lyza mengangguk.


" Aku memasukkan nya di organisasi saat itu umur Killiua 15 tahun sedangkan Re berumur 11 tahun. Aku mengambil alih posisi ketua mafia saat berusia 15 tahun. Ya bisa dibilang dua orang itu adalah orang pertama yang aku rekrut." Jelas Lyza


" Awalnya aku tidak berminat merekrut mereka, tapi karena kasian mau bagaimana lagi, aku harus membuat hidup mereka jauh dari kata miskin."


" Tunggu... Kamu kasian sama mereka sayang? Itu tidak bercanda 'kan." Entahlah Ares merasa aneh mengapa bisa seorang seperti Lyza kasian kepada dua orang anak yang seumuran dengan nya.


" Hmm sebenarnya..." Menunduk


Ares menyerngit bingung " Sebenarnya?."


Lyza meremas celana yang ada di pahanya " Sebenarnya aku yang.. yang hmm mem.. membunuh kedua orang tuanya." Lirih Lyza


Tentu saja Ares terkejut, ia menggenggam tangan Lyza yang ada di paha " Tidak perlu di teruskan lagi." Ujar nya. Ia mengerti pasti sang istri merasa sangat bersalah saat itu. Entah apa yang telah di lakukan kedua orang tua Kill dan Re yang sudah membuat seorang Lyza marah.


Lyza menatap manik hitam suaminya " A.. aku tidak sengaja membunuhnya... " Dengan tatapan sendu ia mengatakan nya. Suaranya bergetar


Ares langsung memeluk tubuh sang istri, ia mengelus punggung Lyza " Iya, sudah tidak perlu di lanjutkan.."


" Aku tidak sengaja membunuh kedua orang itu hiks..." Air matanya mengalir. Hormon kehamilan membuat Lyza lemah dan cepat menangis


" Hei... " Memegang kedua pipi Lyza " Bukannya kamu sudah menebus semua nya sayang, jangan menangis lagi, okey. Ada bayi kita di dalam perut mu." Menghapus air mata Lyza


Lyza berhambur memeluk sang suami. Memang benar yang dikatakan Ares, ia memang sudah menembus nya. Namun, walau seperti itu tetap saja Lyza merasa masih kurang. Ia setiap hari selalu sholat taubat, membuat amal baik. Namun setiap mengingat bagaimana dirinya pernah menbunuh, ia tetap merasa bersalah dan tidak bisa memaafkan dirinya.


Sedangkan di sisi lain


Egi membawa Re ke sebuah salon kecantikan di sebuah pusat perbelanjaan. Ia sedang menunggu Re di make over.


Awalnya para karyawan salon itu sedikit terkejut melihat wajah dan tubuh Re yang sama sekali tidak pernah di rawat, hal itu membuat mereka semakin tertantang untuk merubah Re menjadi semakin cantik.


" Hmm nona, bagaimana kalau rambut anda kami potong sampai bahu." Tanya salah seorang karyawan


Re terdiam, jujur saja ia tidak tahu harus apa. Ia melihat Egi yang sedari tadi memperhatikan nya. Yang di tatap hanya mengangguk mengiyakan. " Baik." Ujar Re


Kemudian mereka mulai memotong rambut Re dan membuat nya semakin halus. Wajah Re di bersihkan lalu di dandani setipis mungkin.


" Anda rupanya sangat cantik nona. Seharusnya anda sedikit memperhatikan penampilan anda." Kata salah seorang karyawan wanita yang membantunya


Re hanya tersenyum kikuk mendengar perkataan wanita itu. Ia tidak terlalu memikirkan penampilan nya, karena ia memang tidak terlalu suka di perhatikan.


Sedangkan di sisi lain


Lyza yang saat itu sudah berhenti menangis melerai pelukannya. " Oh yah sayang, kamu bilang Re pernah mengurung diri di kamar sampai 6 tahun lamanya. Kenapa dia melakukan nya?." Mengalihkan pembicaraan


" Hmm sebenarnya itu semua salahku. Waktu itu Killiua aku kirim ke luar negeri untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, sedangkan Re tidak ingin ikut dengan Kill. Ia memutuskan untuk tinggal dengan ku saat itu."


" Tapi, aku yang waktu itu tidak memperhatikan Re tidak tahu apa yang telah ia lakukan. Aku bahkan tidak tahu Re mempunyai kekasih." Ares masih mendengarkan


" Kamu tahu apa yang terjadi dengan Re. Dia.. hamil waktu berusia 16 tahun." Lirih Lyza membuat lagi-lagi Ares syok.


" Waktu itu aku sama sekali tidak mengetahui tentang kehamilan Re dengan kekasihnya itu. Sampai Re masuk rumah sakit dan di nyatakan keguguran akibat stress yang di alaminya. Kekasih Re tidak ingin bertanggung jawab, karena Re sangat marah saat melihat kekasihnya yang telah memberikan benih kepadanya bersama wanita lain, tanpa pikir panjang Re Langsung membunuh Kekasih dan juga selingkuhan kekasihnya."


" Re yang depresi akibat kematian orang yang di cintainya, apalagi orang yang membunuhnya adalah dirinya sendiri. Membuat Re menyalakan dirinya sendiri akibat kebodohan nya. Saat itu aku sama sekali tidak tahu semua tentang Re. Aku sangat marah saat Re hendak bunuh diri langsung mengurung nya di kamar. Aku menyuruh Re Untuk instrospeksi diri terlebih dahulu. Tapi, di luar dugaan ia malah lebih suka di dalam kamar dan tidak ingin keluar lagi." Jelas Lyza panjang kali lebar


Ares terdiam, ie mengelus Surai panjang sang istri. " Semuanya sudah berlalu. Aku yakin Re pasti bisa bahagia nanti." Memang benar Area terkejut mendengar semua penjelasan Lyza.


Karena tidak di awasi oleh orang yang lebih dewasa, membuat Re yang masih masa pubertas membuat dirinya masuk kedalam lubang neraka.


" Hm karena itu aku cukup terkejut saat Re keluar dari kamarnya, aku merekrut Re agar ia bisa terbiasa dengan dunia luar ini. Agar ia tahu seberapa luas dunia yang harus ia tahu, aku tidak ingin melihatnya terpuruk lagi." Ucap Lyza menerawang masa depan, ia ingin melihat Re hidup bahagia.


" Pasti, aku yakin itu."


Kembali ke tempat Re yang masih di make over. Salon tempat Re di make over, terhubung dengan butik. Jadi Egi tidak perlu lagi repot-repot membawa Re mencari pakaian di toko lain.


Karena tubuh Re yang kecil membuat para karyawan lebih lama memilih pakaian nya. Egi yang sudah seperti pasangan Re hanya diam di kursi tunggu sembari membaca beberapa majalah dan koran.


" Tuan, sepertinya istri anda sudah selesai di make over. Apa anda ingin melihat nya?." Tanya seorang pegawai wanita yang menghampiri Egi


Egi mengerutkan keningnya. Saat pertama masuk, Egi malah di anggap kekasih Re. Tapi, kenapa jadi istri? Pikir nya. Namun karena ia tidak ingin terlalu memikirkannya Egi hanya mengangguk.


Srekkk ..


Tirai yang menutupi sebuah ruangan ganti terbuka. Perlahan Re keluar dari dalam ruangan itu.


Mata Egi membulat sempurna, majalah yang ia pegang jatuh. Egi sedikit menganga melihat tampilan Re, ia bergeming.


" Bagaimana tuan? Istri anda sangat cantik bukan?." Suara pegawai wanita itu menyadarkan Egi dari kagumannya


" Ehem." Ia berdehem untuk menenangkan perasaan nya. Egi tersenyum " Cantik. Walaupun ia sedikit kurus."


" Menurut saya body istri anda sudah sangat bagus, mengingat seperti nya ia pernah melahirkan." Ujar pegawai itu. Ia memang tidak sengaja melihat bekas di perut Re


Tentu saja perkataan pegawai itu membuat Egi terkejut bukan main. Apakah Re sudah menikah? Dan dimana suami dan anaknya? Atau mungkin Re seorang janda? Tapi, bukannya itu terlalu muda untuk Re? Pikiran-pikiran seperti memenuhi kepala Egi. Namun ia tidak ingin terlalu mencampuri urusan orang lain


" Bagaimana? Tidak aneh 'kan?." Tanya Re mendekati Egi


Egi berdiri " Hmm tidak aneh, malah ini cantik. Sudah aku bilang 'kan kamu itu cantik. Jadi percaya dirilah." Menepuk pundak Re


" Baiklah ayo kita pulang, aku akan membayar nya." Ucap kemudian Egi.


" Tidak perlu! Biar aku yang bayar sendiri." Ia merasa tidak enak dengan Egi jika harus di bayarkan lagi


" Memangnya kamu punya uang?."


"Eh! Kok tidak ada." Gumam Re tapi masih di dengar oleh Egi


Egi tersenyum sinis " Aku sudah bilang 'kan, biar aku yang bayar. Lagi pula aku juga yang menyeret mu kesini."


Re mencebik mendengar penuturan Egi, ia lupa membawa dompetnya. Mau tidak mau ia harus mengutang dulu di Egi.


Setelah membayar semuanya, Egi langsung menarik tangan Re keluar dari salon itu. Re tidak menolak, ia takut akan dunia luar ini. Jadi Re sama sekali tidak keberatan di tarik-tarik seperti ini.


" Aku akan mengganti uang mu."


" Tidak perlu."


" Cih tenang saja aku punya banyak uang. Mana mungkin aku sudi berutang seperti ini." Ketus Re masih di tarik


" Banyak uang? Memang iya?." Tanyanya dengan nada mengejek


Re mencebik " Nanti berhentilah di sebuah warnet. Aku akan mengganti uang mu berkali-kali lipat."


" Untuk apa kita ke warnet?." Tanya Egi. Bukannya kalau ingin ambil uang seharusnya di atm? Pikir Egi


Re hanya diam tidak menanggapi pertanyaan Egi.


Sesampai nya di perkirakan, Egi membukakan pintu untuk Re. Setelah nya ia memutar mobil dan masuk kedalam mobil di belakang kursi kemudi. Egi pun melanjukan mobil nya meninggalkan parkiran.


" Besok kamu harus berpakaian rapi seperti ini." Ucap Egi " Tapi sebaiknya lebih baik kamu pakai celana panjang dari pada dress seperti ini." Lanjutnya


Re hanya manggut-manggut. Ia sedikit heran dengan Egi. Kenapa pria itu tidak menanyakan tentang Re yang katanya pernah melahirkan 'kan? Re mendengar saat pegawai wanita itu mengatakan hal itu pada Egi. Re mengira Egi akan bertanya tentang itu padanya.


" Ada apa? Kenapa kau diam saja?." Tanya Egi heran melihat Re yang hanya diam saja tidak seperti biasanya


" Apa kau tidak penasaran dengan perkataan pegawai wanita tadi?." Sebenarnya Re tidak ingin bertanya tentang ini, hanya saja ia tetap penasaran respon apa yang akan Egi berikan


" Hmm tentang kau yang sudah menjanda?." Canda Egi


Bugh


Re memukul lengan Egi " Sembarangan! Aku belum pernah menikah sialan."


" Heeeh jadi, kau hamil di luar nikah? Sekarang mana anakmu? Jangan bilang karena malu kau membuang anak mu sendiri?." Ceoroso Egi dengan banyak pertanyaan. Ia terlihat santai menanggapi nya. Padahal di dalam hati egi sudah ketar-ketir mengetahui wanita di sampingnya pernah hamil di luar nikah


" Aku bukan sampah yang akan membuang anak Ku sendiri! Aku keguguran saat itu. Dan ya aku hamil di luar nikah oleh kekasih yang sudah aku bunuh dengan tanganku sendiri." Jelasnya dengan santai. Ia Santai sebab Egi memberikan respon yang santai juga


Lagi-lagi Egi hanya santai dan tenang " Kenapa kau membunuhnya?." Tanyanya. Sebisa mungkin ia tetap tenang. Bagaimana kalau dirinya salah bicara dan berakhir didalam mobil? Kekasih yang di cintainya saja di bunuh! Bagaimana dengan dia yang sepertinya di benci?


Re heran dengan respon tenang yang di berikan oleh Pria di samping nya ini. Re mencoba memaklumi, mungkin saja karena Egi sudah melihat hal yang lebih parah! Pikir Re.


" Dia mengkhianati ku dan tidak ingin tanggungjawab." Ucap Re. Egi manggut-manggut


" Carilah pria yang lebih baik. Semua orang punya masa lalu, carilah pria yang bisa menerima masa lalu mu." Melihat kedepan tanpa menoleh


" Berhenti!." Pekik Re membuat Egi langsung merem mobil.


" Ck ada apa!?." Ia sungguh terkejut dengan suara Re yang tiba-tiba memekik. Dia yang tadi sudah ketar-ketir mendengar cerita Re, harus di buat senam jantung lagi


Re tidak menjawab, ia langsung keluar dari dalam mobil. " Hei.. kau.. Ah! Aku seperti harus menjaga abg!." Egi terpaksa mengikuti Re keluar dari dalam mobil


" Kamu mau kemana?." Tanya Egi


Re menunjuk sebuah warnet " Aku sudah bilang 'kan, akan mengganti uang mu berkali-kali lipat." Ia tersenyum sinis


Egi mengangkat sebelah alisnya " Memang nya bisa menarik uang dari dalam warnet?."


" Sudahlah ikut aku. Akan aku perlihatkan kemampuan ku." Ucapnya dengan percaya diri, ia langsung melangkah meninggalkan Egi.


Egi hanya bisa mengikuti dari belakang. Sesampai nya di dalam warnet, terlihat banyaj anak-anak remaja yang datang bermain. Bahkan masih ada yang memakai seragam sekolah nya.


Re menuju salah satu komputer dan mulai menyalahkan komputer tersebut. Egi hanya berdiri di belakang Re melihat apa yang akan di lakukan wanita di depan nya ini.


Re mulai mengutak-atik komputer tersebut. Semakin lama Egi merasa ada yang aneh, kode-kode itu ia tahu kode-kode itu adalah kode yang di gunakan hacker. Lalu... Mata Egi membulat sempurna.


" Hentikan!!." Mematikan komputer yang di gunakan Re dengan mencabut kabelnya


Re berdiri " Hei.. apa yang kau lakukan!." Pekik Re. Ia hampir saja berhasil tadi


Dengan menggebu-gebu Egi menarik tangan Re keluar dari warnet. Sebelum itu ia terlebih dahulu membayar sewa komputer nya.


Setelah sampai di parkiran Egi langsung memasukkan Re kedalam mobil. Ia membanting pintu mobil, setelah nya Egi pun ikut masuk kedalam mobil. Jujur saja ia sangat marah kali ini.


Re yang melihatnya tak bisa berkata-kata, kali ini ia takut melihat kemarahan Egi. " Apa yang ingin kau lakukan tadi!." Tanya Egi dengan nada penuh penekanan


" Aku 'kan sudah bilang akan menggantikan uangmu."


" Apa! Dengan cara meng-hacker bank! Itu sama saja kau mencurinya!!." Bentak Egi


" Lebih baik kau tidak usah menggantinya dari pada kau memberikan uang yang tidak halal seperti itu!." Nada bicara Egi masih meninggi


Re terdiam, ia takut melihat Egi yang marah-marah seperti ini padanya.


" Kenapa! Kenapa kau hanya djam!." Entah mengapa Egi sangat marah kali ini


Re menunduk " Hiks.. hiks.. " tiba-tiba terdengar suara isakannya


" Eh! He.. hei.. kau menangis?." Suara Nya mulai ia lemahkan


" Hei.. kenapa kau menangis." Ia jadi merasa bersalah. Tapi Egi bertanya-tanya, kenapa bisa seorang yang berani membobol bank bisa menangis seperti ini?


" Huaaa kau membentakku sialan huaaa hiks hiks.. kakak huaaa."


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️