
Ares tengah fokus dengan laptop di depannya, sedangkan Lyza sedari tadi hanya duduk diam di sofa sembari memperhatikan Ares yang sedang bekerja, setelah tadi ia berkeliling melihat-lihat ruangan itu.
Sebelum tadi ia sempat berdebat dengan Egi yang tak ingin mengalah.
" Wow disini ada sebuah ruangan khusus. Bahkan ada tempat tidur nya ". Mata Lyza berbinar melihatnya.
" Tentu saja, hebat bukan. Kita harus berterima kasih pada author yang membuat kannya ". Egi membanggakan, seperti ruangan itu adalah punya nya.
Makasih kembali Gi✌️ tapi itu bukan untuk mu😂
" Hmm hebat, seperti dalam novel ". Ujar Lyza tidak mengalihkan pandangan dari ruangan tersebut. Ada kamar mandi, kulkas, kasur king size, bahkan ada lemari baju.
Apa ini sebuah kamar hotel? Lyza pikir kantor adalah tempat paling membosankan. Hanya ada laptop, kertas dan orang-orang yang bekerja tanpa kenal lelah. Makanya Lyza enggann untuk bekerja di perusahaan.
" Kamu baca novel? ". Ares cukup terkejut mengetahuinya. Ares Memang tau kalau sang istri suka nonton drama. Baik sinetron, drakor, Hollywood, Bollywood, ataupun anime. Atau mungkin Lyza menontonnya karena bosan?
" Memangnya salah! ". Ketus Lyza
" Hahah yang benar saja. Seorang ketua mafia baca novel. Aku tebak pasti novel romansa dewasa kan ". Gelagar Egi.
Lyza menatap tajam Egi. " Pak Ustadz apa kau sudah tidak membutuhkan ayam ini ". Menunjuk Egi yang masih tertawa. Egi sangat suka makan ayam, makanya Lyza memanggil nya ayam. Apalagi Egi juga selalu mengikuti Ares, layaknya anak ayam yang mengikuti induknya.
" Eh? ".
" Kalo sudah tidak, izinkan aku memotong kepala nya. Doggy ku sepertinya akan sangat suka dengan rasa kepala nya ". Dingin Lyza.
Seketika tawa Egi berhenti. Ia langsung bersembunyi di balik punggung Ares. Tatapan membunuh Lyza mampu membuat Egi tak berkutik.
" Hahah kalian ini... Sudah, jangan bertengkar lagi. Gi sebaiknya kamu kembali ke ruangan mu ". Berbalik melihat Egi.
" Heheh siap bos ". Terkekeh sembari hormat seperti pada upacara bendera. Dan langsung lari keluar menghindari tatapan tajam Lyza.
Dan kembali ke Lyza yang sedang asik memainkan ponselnya di atas sofa.
" Pak ustadz... Apa masih lama? ". Rengek Lyza.
Ares mengangkat kepalanya melihat Lyza yang sedang melihat nya dengan tatapan memelas. Sungguh perubahan sang istri membuat Ares Sangat senang. Sudah tidak ada perkataan dingin ataupun tatapan tajam yang dilayangkan, namun tatapan ramah dan akrab.
Ia tersenyum. " Sebentar lagi, atau kamu mau berkeliling melihat perusahaan suamimu? Bagaimana? ". Tawar Ares. Ia juga tidak tega melihat Lyza yang sedari tadi hanya duduk. Dan pasti itu membuatnya bosan.
" Hmm ". Lyza berfikir sejenak. " Baiklah, tapi aku ingin pergi sendiri ". Ucap Lyza sembari berdiri.
" Baiklah, tapi kalo ada apa-apa. Hubungi aku ".
Lyza memutar bola matanya, ia malas mendengar tingkah Ares.
" Assalamu'alaikum ". Kata Lyza dan langsung keluar sambil melambai-lambaikan tangannya dari belakang.
Ares hanya geleng-geleng Melihat Lyza. " Wa'alaikum salam ". Walaupun tidak ada yang menemani Lyza berkeliling, namun Ares tetap bisa memantaunya dengan cctv.
Lyza Keluar dari dalam ruangan Ares, ia berniat mengelilingi lantai paling atas dulu barulah ia turun kalau tidak capek.
Saat Lyza asik berjalan-jalan melewati lorong-lorong dan beberapa ruangan, banyak karyawan yang tau siapa Lyza menunduk hormat, sedangkan Lyza cuman melihat dan melanjutkan langkahnya.
" Eh! Nyonya, tour keliling perusahaan yah ". Tiba-tiba Egi datang dari arah depan Lyza.
Lyza memutar bola matanya. Kesalahan apa yang telah di perbuatnya di masa lalu, hingga kini ia harus mengenal makhluk ciptaan Tuhan yang bernama Egi ini. Eh? Kesalahan, bukannya banyak yah.
'karmanya keterlaluan'. Kata hati Lyza. Kenapa ia harus mengenal Egi?!
" Apa kamu tidak ada hal yang bisa di kerjakan selain mengganggu ku ". Geram Lyza melihat pria di depannya ini. Pria yang nota betnya seorang asisten dari sang suami.
" Hehe nyonya, kamu masih marah sama aku ". Tanyanya hati-hati
" Jangan bertanya kalau sudah tau jawabannya ". Ketus Lyza
Egi menggaruk kepalanya yang tak gatal. " Heheh maaf nyonya ". Nyengir kuda.
Lyza hanya menggeleng dan melewati Egi begitu saja.
Lyz asik berjalan, yah anggaplah dirinya sedang ada di taman bermain, para karyawan disitu adalah penjual di taman bermain. Hmm anggaplah seperti itu,
" Walaupun ini tidak menyenangkan, tapi anggaplah ini taman bermain hmmm ". Meyakinkan dirinya sendiri. Dari pada ia harus jadi patung di ruangan Ares.
Disisi lain, Ares senyum-senyum sendiri Melihat tingkah Lyza yang menganggap kantor Ares adalah taman bermain.
" Senyum-senyum mulu.. ". Egi mengejutkan Ares
" Yah gitu lah, makanya kamu juga harus nikah ". Tutur Ares
Egi memutar bola matanya, mentang-mentang sang bos sudah menikah, apa dia juga harus menikah? Oh.. tentu tidak. 'tapi kalo bisa dekat-dekat-in waktu nikah ku thor'.
Hmmm...
Kembali lagi ke Lyza.
Lyza yang masih asik tour halu nya, tiba-tiba tersentak saat seseorang menepuk pundak nya dari belakang.
" ah! Maaf aku kira tadi temanku. Kamu anak baru disini yah ". Sepertinya pria itu tidak tau siapa yang dia ajak bicara ini.
Lyza hanya diam menanggapi, dan berlalu pergi meninggalkan sosok pria yang jauh kadar tampannya dibawah sang suami.
Namum rupanya pria itu mengikutinya dari belakang. " Kamu dari devisi mana? Masih magang? ".
Lyza melirik sekilas pria itu lalu kembali ke depan. Ia tidak tertarik menjawab pertanyaan pria di sampingnya ini. Jika tidak memandang Ares sang suami sebagai pemilik perusahaan ini, sudah di pastikan Lyza pasti menembak mati pria di sampingnya ini.
" Oh.. kau mau ke pantry, sama dong aku juga mau kesana ". Seru pria tersebut. Lyza tersentak, sebab dirinya memang ingin ke pantry untuk sekedar minum.
Lyza memutar bola matanya. Ia membiarkan pria itu jalan berdampingan dengan nya.
Mata para karyawan lain tak luput melihat kedua orang tersebut, apalagi yang memang sudah mengetahui identitas Lyza. Mereka melihat aneh dengan pria tersebut, keberaniannya sungguh patut di acungi jempol.
" Hei Bil.. kamu ngapain? ". Seorang pria menghalangi langkah Billy, pria yang dari tadi sok akrab dengan Lyza.
" Hmm aku mau ke pantry ". Ucap Billy, ia melihat Lyza yang tidak memperdulikan nya dan pergi begitu saja.
" Sudah yah aku pergi dulu ". Ujarnya lagi dan langsung melesat Pergi mengejar Lyza. " Hei.. ". Meneriaki Lyza
" pasti sih Billy tidak tau siapa wanita cantik itu. Ah biarlah, pak Area juga orangnya ramah dan baik, semoga Billy tidak di apa-apakan ". Menatap nanar punggung Billy dan kemudian kembali ke aktivitas nya.
Lyza yang sudah sampai di pantry bersama Billy. " Kamu dingin banget. Irit bicara yah ".
" Ck berhentilah mengoceh! ". Ketus Lyza
'ah.. suaranya sama wajahnya di atas rata-rata, bikin melayang'. Batin Billy. Wah cinta pada pandangan pertama nih.
Lyza mulai mengambil gelas serta bubuk kopinya. Namun ia terhenti saat melihat alat pembuat kopi di depannya. 'ini cara pakainya bagaimana?'. Ingin bertanya namun gengsi masih tinggi.
Billy mengambil gelas yang di pegang oleh Lyza. " Seperti ini ... Nah kalau sudah kita seduh deh ". Tidak ada yang menyuruh, tapi ia melakukan nya dengan suka rela.
" Tidak perlu berterima kasih ". Memberikan kopi yang telah di seduh tadi dengan senyuman manis.
Lyza terdiam, namun ia mengambil kopi tersebut. " Sesuai permintaan mu aku tidak akan berterima kasih ". Seru Lyza dan duduk di salah satu kursi di sana. Ia berfikir sebaiknya dirinya mengakrab ka dirinya dengan karyawan suaminya agar tidak mencoreng nama baik sang suami. Ah.. pemikiran seperti itu tiba-tiba menyeruak dari dalam hati Lyza.
Billy ikut duduk di samping Lyza sembari meminum kopinya. " Oh yah namaku Billy. Kamu.. ? ". Menyodorkan tangannya
Lyza diam, ia masih berfikir apakah dirinya memang harus melakukannya atau tidak? Namun, melihat Billy orang yang cepat akrab dan menyenangkan. Membuat Lyza menerima sodoran tangan tersebut.
" Lyza ". Singkatnya dengan senyuman tipis. Lyza melepas tangannya.
'ah.. manis nya..'.
Dari awal pengenalan mereka. Kedua insan Tersebut asik bercerita dan bercanda. Walaupun Lyza hanya mendengarkan dan kadang menyahuti. Billy Memang tipe orang yang gampang akrab, makanya akan sangat menyenangkan berteman dengan Billy.
Tanpa mereka sadari, ada yang terus mengawasi kedua orang tersebut.
" Nih Res. Kamu harus menandatangani dokumen ini ". Egi Menyodorkan sebuah map.
Namun yang di berikan malah diam dan fokus dengan ponselnya. Ares menggeram, wajahnya nampak memerah. Entah perasaan apa yang timbul dalam dirinya melihat sesuatu di dalam ponsel. Apa mungkin inu Cemburu? Yah pasti itu cemburu, Ares tau itu.
" Sorry Gi. Aku pulang lebih cepat ". Berdiri dan langsung menyambar ponselnya.
" Eh! Kenapa? Iya sih kita memang tidak sibuk, tapi tumben ".
" Sorry, aku duluan yah. Assalamu'alaikum ". Kata Ares dan langsung pergi begitu saja.
" Wa'alaikum salam, sebenarnya ada apa sih? Ares sepertinya sangat kesal! Tapi kenapa? ". Menggaruk kepalanya yang tak gatal. Egi kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.
Dengan langkah tergesa-gesa, Ares berjalan menuju ke pantry. Di sepanjang jalan, banyak karyawan yang menyapa dan Tersenyum ke arah Ares. Namun Ares tak membalas, ia tidak memperhatikan mereka. Yang ada di pikirannya sekarang hanya sang istri yang bersama dengan pria lain.
" Kenapa dengan pak Ares? ".
" Pak Ares sepertinya marah ".
" Baru kali ini aku melihat pak Ares marah sampai tidak membalas sapaan Kita ".
Bisik-bisik para karyawan, namun mereka tidak ingin ikut campur. Walaupun sang bos sangat baik dan juga ramah, tapi ada saatnya sang bos marah dan bisa saja mengenai mereka.
Sedangkan Lyza dan juga Billy yang masih asik berbicara.
" Kamu tinggal di mana? ".
" Hmm Memang nya Kenapa? ". Lyza tidak ingin membocorkan begitu saja tempat ia tinggal. Ada begitu banyak musuh yang mengintainya, belum lagi sang adik tiri yang pasti akan selalu mencari masalah dengan nya.
" Ti..___ ".
" Sayang... Apa yang kamu lakukan ". Ares tiba-tiba datang dan menghampiri Lyza dan Billy yang asik bicara.
Huh? Sayang?
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘. Berikan hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya✌️