My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Ke Kantor



Ares datang dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman.


" Za.. ayo kita makan ". Ujar Ares saat melihat Lyza masih menjadi gundukan selimut.


Lyza bangun, namun masih memakai selimut nya. Lyza hanya duduk di ranjang. Ares membawa nampan itu ke atas ranjang.


Ares Tersenyum melihat wajah Lyza yang sudah tidak marah lagi, namun terlihat lebih antusias dan cerah. " Ayo kita makan ".


Lyza mengangguk, mereka pun mulai menyantap makanan nya. Keadaan kembali hening, kedua orang itu sedang menikmati makanan dengan pikiran masing-masing namun dengan perasaan bahagia.


Ares bahagia karena sang istri ternyata sudah memiliki perasaan untuk nya, sedangkan Lyza bahagia karena... Hmm entahlah.. hanya Lyza dan tuhan yang tau.


..........


Keesokan paginya....


Lyza bangun terlebih dahulu dari pada Ares. Sebenarnya Ares lah yang lebih dahulu bangun, hanya saja Ares kembali tertidur selepas sholat subuh, sepertinya Ares terlalu capek.


Lyza bangun dengan senyuman bangga. Lyza melirik melihat Ares yang masih terlelap, Ia tersenyum. 'orang tampan, kalau bangun pagi tetap tampan'. Batin Lyza.


Ia bangun dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi, Lyza keluar dari kamar mandi, ia tersenyum melihat sang suami yang masih tidur.


Lyza berjalan menuju walk in closet untuk memakai baju. Setelah nya ia kembali, namun sang suami masih nyaman dalam selimut.


Dengan langkah bangga, Lyza menghampiri Ares di ranjang. " Pak Ustadz... Bangun ". Ujar Lyza, namun Ares masih bergeming.


Lyza menggoyang-goyangkan bahu Ares. " Bangun pak ustadz ". Ares hanya menggeliat dan memunggungi Lyza.


" Ckckckc Dasar kebo!! ". Berkaca pinggang, sembari menggeleng-geleng. Ini nih, kalau tidak tau diri yah akan seperti Lyza. Ia terlalu sombong karena cepat bangun, apa dia tidak ingat pagi-pagi sebelumnya.


" Hei.. pak ustadz bangun... ". Menggoyang-goyangkan seluruh tubuh Ares. " Ck bangun, dasar kebo!!! ". Pekik Lyza.


Membuat Ares sontak terduduk karena kaget dengan pekikan Lyza.


" Astaghfirullah Lyza... ". Geram Ares melihat Lyza. Sedangkan yang dilihat memberikan tatapan dan senyuman mengejek.


Dalam senyumannya bisa di artikan kalau dialah pemenangnya pagi ini.


" Ayo bangun dasar kebo! ".


Ares hanya tersenyum, tingkah Lyza yang seperti ini malah membuat Lyza semakin menggemaskan di mata Ares.


" Baiklah... ". Ares bangun. " Oh yah ganti pakaian mu, kita ke kantor ". Ujar Ares dan langsung masuk ke kamar mandi sebelum Lyza menghujani nya pertanyaan.


" Hei.. apa maksud mu.. ". Suara Lyza sudah tidak terdengar karena Ares sudah menutup pintu kamar mandi.


" Ck sebenarnya apa maksudnya sih ". Berkacak pinggang, namun ia tetap mengganti pakaiannya.


...***...


Kini mereka sudah berada di depan pintu.


" Ayo masuk ". Ajak Ares kepada Lyza yang masih bengong di tempatnya


" Untuk apa aku ke kantor mu? ".


" Temani aku, kamu belum pernah lihat kantor ku 'kan, kamu juga tidak tau dimana aku bekerja. Jadi, Ayo ". Kembali mengajak.


" Benar juga. Tapi..__ ". Belum sempat Lyza menyelesaikan perkataannya, Ares sudah menarik tangannya masuk kedalam mobil.


" Jalan Gi ".


" Siap bos! ". Egi pun mulai melajukan mobilnya menuju kantor.


" Ck jangan asal tarik saja ". Gerutu Lyza


" Ahhaha makanya jangan banyak tanya ". Tawa Ares menggelegar saat melihat wajah Lyza yang cemberut.


" Cih ". Membuang muka ke jendela samping. Padahal belum menyetujui akan ikut atau tidak, namun ia sudah di tarik. Walau begitu ia tetap tidak membantah.


Sebenarnya Lyza juga penasaran dimana Ares bekerja, ia memang tau kalau sang suami adalah seorang CEO, namun hanya sekedar itu.


Tak lama kemudian mobil berhenti tepat di sebuah gedung pencakar langit. Sangat tinggi.


Lyza keluar, ia meneliti bangunan tersebut. Dari lantai pertama hingga lantai paling atas. Matanya terbelalak melihat papan yang berada di paling atas lantai.


" Bagaimana? Sekarang kamu sudah tahu? ". Suara Ares membuat Lyza Terkejut. Sontak saja Lyza berbalik.


" I.. ini, jangan bercanda. Ini perusahaan terbesar di Negara ini. Dan keluarga yang memiliki perusahaan ini adalah keluarga yang sangat dihormati dan ditakuti di benua ini ". Menatap Ares lekat.


Ares Terkekeh. " Nah itu juga tau. Sekarang sudah tau kan siapa suami mu sebenarnya? ". Sangat lucu melihat sang istri yang menatap curiga padanya.p


" A.. apa... J..___ ".


" Itu memang benar nyonya, Ares adalah CEO dari perusahaan W Corp ini, dan dia juga tuan muda dari keluarga Warrent yang dihormati di benua ini ". Ujar Egi memotong perkataan Lyza


Lyza terdiam sesaat. 'Warrent?.. Warrent? .. ah! Aku tidak tau nama keluarga itu, yang penting nama dari W Corp berasal dari nama keluarga itu. Warrent? Hah!!'. Wajah Lyza nampak menegang


" Hahah jangan terlalu dipikirkan. Ayo masuk ". Ares berkata sembari jalan lebih dahulu meninggalkan sang istri yang masih terbengong.


" Hahah makanya nyonya... Seharusnya anda bisa menjaga Ares. Anda tidak tau saja ada berapa banyak wanita yang ingin mendekati Ares, bahkan ada yang rela membuang tubuhnya di ranjang Ares dengan suka rela ". Egi berkata saat melewati Lyza


Sontak Lyza berbalik melihat Egi yang sudah lebih dulu jalan.


Dengan perasaan yang tidak karuan dan tergesa-gesa, Lyza menyusul sang suami memasuki gedung tinggi yang notabet nya adalah kantor sang suami.


Namun terlambat, Ares sudah lebih dulu memasuki perusahaan nya. Lyza semakin berjalan tergesa-gesa. Entah mengapa perkataan Egi Sangat mengganggu pikirannya.


Ada banyak wanita yang mendekati sang suami! Bahkan ada yang rela melempar tubuhnya ke atas ranjang sang suami dengan suka rela??!!. Perkataan itu terus berdengung di telinga Lyza. Ia merapatkan giginya.


Dengan langkah anggun nya, Lyza berjalan mendekati Ares dan langsung merangkul lengan sang suami. " Honey.. ayo cepat kita keruangan mu, disini gerah ". Mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah, padahal masih pagi. Entah kemasukan setan apa Lyza, hingga ia berbicara seperti itu, mana nadanya sangat manja. Tapi yang pasti kini Lyza tersenyum puas melihat beberapa karyawan Ares Terkejut bahkan mata mereka seperti sudah mau keluar.


Bukan hanya para karyawan Ares yang terkejut dengan tingkah Lyza, bahkan Ares pun ikut Terkejut.


Kesambet apa Istri nya?


Ares bergeming, namun tatapannya menatap Lyza yang asik bergelayut manja di lengan kekarnya, sedangkan yang ditatap nampak memperhatikan para karyawan Ares.


Kedua sudut bibir Ares tertarik walau tipis. Cemburu? Kok pake gengsi! Pikir Ares.


Ares mengusap tangan Lyza yang bergelayut di lengan kekarnya. Ares tersenyum dan langsung mencium pucuk kepala Lyza, sontak semua orang disitu Terkejut.


Siapa yang ulang tahun nih? Tiba-tiba diberikan kejutan seperti ini?


Ares Memang terkenal ramah dengan setiap orang, bahkan karyawan yang sendiri, jangan lupakan OB yang juga seorang karyawan Ares. Namun, walau begitu Ares sangat membentengi diri dengan yang namanya berhubungan dengan seorang wanita. Disentuh seujung kuku saja, para karyawan wanita disitu tak berani.


Rasanya mereka ingin jadi laki-laki agar bisa berdekatan dengan Ares.


Lyza juga ikut Terkejut, sontak ia mendongak. Menatap Ares yang hanya tersenyum. Ini yang namanya mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Lyza mencebikkan bibir nya.


" Ayo sayang.. ". Lembut Ares dan melangkah menuju lift khusus para petinggi perusahaan.


Semua orang mengekor menggunakan mata melihat kedua pasangan yang nampak romantis itu.


" Jaga mata kalian! ". Ujar dingin Egi. Ia memang terkenal dengan kedinginan nya.


" Wanita yang kalian lihat tadi, adalah istri dari pemilik perusahaan ini. Jadi jaga setiap tingkah kalian ". Sambungnya dan ikut masuk kedalam lift.


Semua orang yang mendengarnya lagi-lagi dibuat melongo. Mereka Terkejut. Istri? Hah? Yang benar saja, tidak ada pemberitahuan tentang pernikahan sang CEO! Kalau kekasih yah mungkin bisa di terima, tapi istri??!.


Setelah lift itu naik...


" What!! Ini kenyataan??! ".


" Waw... Aku kira selama ini pak Ares tak suka wanita! ".


" Siapa yang tidak suka lihat istri pak Ares tadi. Cantik banget ".


" Benar! Tadi aku kira itu bidadari yang kesaaar dan nyentol di lengan pak Ares ".


" Itu sih Barbie ".


" Ah.. pokoknya aku baru pertama kali lihat wanita secantik istri pak Ares ".


Para karyawan Ares mulai menghibah, dan yang lebih mengejutkan mereka berbicara secara estafet.


Ah... Hari ini adalah hari patah sedunia.


Sedangkan di dalam lift.


" Hahahha lihat wajah Terkejut mereka tadi. Aku yakin ada banyak yang iri ". Tertawa mengejek, Egi sebenarnya sudah sangat lama muak melihat wajah para karyawan wanita yang selalu mencoba menggoda Ares.


Ares geleng-geleng kepala. " Ada-ada saja kamu Gi. Masa begitu saja kamu tertawa ". Masih mengelus-elus punggung tangan Lyza yang masih melingkar di lengannya. Sepertinya Lyza enggan melepaskan tangannya.


" Yah kan selama ini kamu tidak menoleri mata mereka yang seperti ingin memangsa mu ".


" Iya benar, apalagi kamu juga suka tersenyum sembarangan ". Timpal Lyza membenarkan perkataan Egi.


" Haisss kan sudah aku bilang, kalau senyum itu ibadah ". Dan sebenarnya itu benar.


Ting..


Ketiga orang itu keluar dari dalam lift.


" Ck bilang saja kamu suka tebar pesona, pokoknya ingat perjanjian kita waktu itu ". Menatap tajam ke arah Ares.


" iya.. iya.. ". Janji tetaplah janji, maka mau tidak mau Ares tetap harus menuruti.


Lyza tersenyum senang mendengarnya.


Di sisi Lain


Semenjak young ms menikah, pekerjaan Zean menjadi lebih sedikit. Ia hanya sesekali ke markas atau ke rumah sang young ms untuk memberikan laporan.


Di markas, sudah ada Sean yang selalu mengontrol anak buahnya. Sedangkan kini dirinya seperti seorang pengangguran. Kerjaannya cuma kesana kemari tak jelas, buang-buang tenaga, waktu dan bensin.


Hingga sebuah surat datang kepadanya yang akhirnya akan mengakhiri masa pengangguran. Yap surat itu adalah undangan dari kampus ygy meminta Zean seorang lulusan S3 Harvad untuk menjadi dosen disana.


" Apa aku terima saja? Hmm mending nanti aku izin sama nyonya dulu ". Ucap Zean kepada dirinya sendiri.


Kini ia sedang ada di mansion, tepatnya di kamar. Ingat bukan, kehidupan Zean sekarang bagaikan seorang pengangguran kaya.


Zean membolak-balik surat tersebut. Sudah lama ia tidak dikirim 'kan surat undangan seperti itu, waktu Zean baru lulus dulu ia sering di kirimkan surat undangan untuk bekerja. Baik di perusahaan atau pun di kampus. Bahkan perusahaan Ares pernah mengirimkan Zean sebuah surat undangan untuk bekerja atau sekedar magang di perusahaan W Corp. Namun Zean menolak, karena ia harus bekerja dengan Lyza.


Memang pekerjaan yang ia pilih adalah pekerjaan berbahaya yang pasti tidak di inginkan orang lain, namun beda dengan Zean yang malah senang saat bekerja di bawah pimpinan Lyza.


" Kalau nyonya mengizinkan sebaiknya aku terima saja. Sekalian untuk menghindari musuh yang tidak pernah kapok ". Bangkit dari tempat tidurnya.


Ia ingin ke markas terlebih dahulu untuk bertemu dengan saudara kembar yang no ori menurutnya.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya, hadiahnya jangan lupa, biar othor tambah semangat nulis nya✌️