
Hari-hari yang Lyza lalui sungguh dramatis semenjak masa kehamilan nya. Entah mengapa ia lebih memilih hamil dalam rutan dari pada sekarang. Mungkin Karena perilaku overprotektif dari orang-orang sekitarnya membuat ia tidak nyaman
Padahal bukan Lyza yang mual atau pusing, tapi ia yang lebih di manja. Dan bagaimana nasib yang kena mual? Oh jangan di tanya lagi, ia setiap hari tepar di atas kasur.
Sudah sebulan dari hari saat mereka mengetahui kehamilan Lyza, dan sebulan ini Lyza sama sekali tidak di izinkan untuk keluar rumah, bahkan Ares juga tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya keluar rumah.
Untuk Restoran di handle sementara oleh Gisell salah satu karyawan disana, sedangkan untuk perusahaan Ares, semuanya di handle di rumah
" Sayang..." Pekik Ares dan langsung menghampiri Lyza yang saat ini hendak turun dari kasur. Hari telah pagi, ia berniat untuk membersihkan tubuhnya sebelum Ares usai berolahraga pagi.
" Aku 'kan, sudah bilang jangan turun dari kasur kalau tidak aku gendong. Atau pakai kursi roda." Berjongkok di depan Lyza yang kini duduk di sisi kasur
Lyza menghela nafas kasar " Tapi by, kalau begitu apa gunanya kaki ku dong." Protes Lyza, walaupun sebenarnya ia sudah mengatakan hal ini berulang kali, sampai mulutnya ingin mengeluarkan busa sangking banyaknya
Ares menggeleng keras " Tidak boleh! Artinya tidak boleh! Ingat apa kata dokter, dalam usia kandungan mu yang masih hampir tiga bulan ini, sangat rawan. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada mu, sayang."
Lyza mencebikkan bibir nya " Baiklah.. baiklah.." pasrah nya. Ia mengalungkan tangannya di leher sang suami yang masih berjongkok di depannya
" Gendong~." Dengan nada merengek
Ares yang gemas mencium seluruh wajah sang istri sembari terkekeh " Ah.. kamu semakin cantik sayang." Katanya dan langsung mengangkat tubuh Lyza
Lyza terkekeh " Bagus dong aku semakin cantik, jadi kamu semakin tergila-gila dengan ku." I terkikik geli
" Aku sudah tergila-gila sama kamu sayang." Ares yang memang sudah tahu tujuan Lyza tadi, ia langsung saja membawa istrinya masuk kedalam kamar mandi
" Pesona ku memang tak terkalahkan." Ucapnya dengan bangga
Ares meletakkan Lyza di atas meja marmer di dalam kamar mandi tersebut. " Mau aku mandikan atau mandi sendiri, hmm?." Mulai membuka kancing piyama Lyza satu persatu
" Mandi sendiri!." Menghentikan aksi tangan nakal sang suami
Ares tertawa geli. Ia mencium gemas bibir sang istri sembari melumaat nya pelan, Lyza pun membalas ciuman dari Ares. " Kalau sudah selesai panggil aku." Ujar Ares setelah melepas pagutannya
Lyza tersenyum dan mengangguk cepat. " Iya, sudah kamu keluar sana." Mendorong pelan dada sang suami
Ares pun keluar dari dalam kamar mandi setelah mengisj air hangat ke dalam bathtub, dan juga kembali mengangkat Lyza masuk kedalam bathtub.
.........
Hari ini adalah hari Lyza periksa kehamilan. Kehamilan Lyza telah berusia hampir 3 bulan menurut dokter obygin yang memeriksa Lyza saat itu
Lyza dan Ares masuk kedalam ruangan dokter obygin tersebut. Keduanya duduk tepat di depan seorang dokter wanita yang ber-name tag Cantika.
Setelah pemeriksaan di berbagai kondisi Lyza, saatnya ia di suruh berbaring di atas tempat tidur. Ares dan Lyza ingin melihat perkembangan bayi mereka
Dokter Cantika mulai menggerakkan alatnya di atas perut Lyza. " Nah.. bisa di lihat ini perkembangan janin anda nona, karena masih tiga bulan, bentukannya masih belum jelas." Lyza dan Ares manggut-manggut mengerti.
" Wahh coba lihat tuan, nona. Ada dua terlihat disini. Kemungkinan besar ini kembar." Seru dokter Cantika dengan antusias
" Benarkah?." Tanya Lyza dan Ares bersamaan dengan wajah yang sama-sama berbinar
" In Syaa Allah.. disini terlihat ada dua. Tapi belum terlihat jelas, mungkin bulan depan sudah bisa di pastikan. Tapi tenang saja delapan puluh lima persen anak tuan dan nona kembar." Jelas sang dokter
Ares dan Lyza saling panjang. Tanpa banyak basa-basi Ares langsung mencium seluruh wajah sang istri " Terima kasih sayang." Ucapnya. Ia sama sekali tidak menghiraukan dokter dan perawat di dalam ruangan ini
" Ah maaf.. " Ujar Ares saat ia sadar dirinya sedang ada dimana
Dokter Cantika tersenyum " Jangan di pikirkan, saya mengerti perasaan tuan dan nona sekarang."
Setelah pemeriksaan akhirnya kedua pasutri itu pun pulang. Lyza di gendong Ares untuk naik ke atas kursi roda lalu mendorong nya keluar dari rumah sakit
" By aku jalan saja yah. Aku meras aneh kalau harus pakai kursi roda." Ucap Lyza di atas kursi roda. Ia merasa tidak enak di dorong di atas kursi roda seperti ini
" Hmm tidak! Pokoknya kamu diam saja sayang." Tegas Ares dan akhirnya Lyza pasrah dan menuruti apa pun yang di lakukan Ares pada dirinya
Sesampainya di parkiran. Supir yang membawa mereka datang tadi langsung membukakan pintu mobil saat melihat majikan nya datang
Ares kembali menggendong Lyza dan mendudukkan nya di kursi mobil. " Bawah ke bagasi kursi rodanya pak." Titah Ares kepada supir yang membawa mereka
" Baik tuan." Ucap supir tersebut. Ia lalu membawa kursi roda yang sudah ia lipat ke dalam bagasi. Sedangkan Ares masuk kedalam mobil dan duduk di samping sang istri.
Mobil pun mulai melaju meninggalkan parkiran rumah sakit.
Saat mobil terus melaju di tengah padatnya kota. " Berhenti pak." Pekik Ares, sontak membuat supir tersebut menghentikan mobil dengan tiba-tiba
ckitttt
Ares langsung menahan sang istri agar tidak terhuyung ke depan. " Kamu tidak apa-apa sayang?." Ia jadi merasa bersalah menyuruh berhenti tadi
" Hm aku tidak apa-apa. Ada apa by? Kenapa berhenti?."
Ares kembali melihat ke aras jendel. " Itu.. aku ingin makan itu." Menunjuk ke arah luar jendela
" Kamu ngidam by?." Tanya Lyza. Ares memang biasa mengidam ingin sesuatu, di banding dengan Lyza yang bahkan sangat jarang
Ares mengangguk cepat menanggapi perkataan Lyza. " Hmm memangnya kamu mau apa di jalan raya seperti ini?."
" Itu di sana. Aku ingin makan bakso itu." Lyza ikut melihat apa yang di tunjuk oleh sang suami
" Apa itu sehat di makan by?." Bukannya Lyza ingin memfitnah, namun ia memang tidak pernah makan-makanan di pinggir jalan raya seperti ini. Saat ia menjadi Ustadzah di pesantren An-Nur juga ia sangat jarang keluar dari pesantren.
" Kalau tidak sehat. Pasti BPOM tidak akan mengizinkan nya berjualan sayang." Ucap Ares dengan wajah serius " Boleh yah sayang." Rengeknya
Lyza menghela nafas panjang " Baiklah." Pasrahnya.
Supir yang membawa mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Kenapa pemandangan seperti ini harus terbalik? Bukannya akan lebih bagus jika wanita yang mengidam dan merengek? Pikir supir itu. Tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa, lagi pula mau di apakan juga tidak akan ada pengaruh sebab memang seperti ini pengaturan dari othor
Wajah Ares Langsung berbinar " Kamu tunggu saja disini, biar aku yang beli."
" Bungkus saja, by."
Ada beberapa orang yang sedang makan di pinggir jalan bakso yang ingin di beli Ares. " Pak satu porsi bakso yang jumbo."
" Iya mas."
" Bungkus yah pak."
Pedagang bakso itu pun mulai membuat pesanan Ares.
" Wah.. masnya a sangat tampan. Seperti artis saja mas." Ujar pedagang bakso itu. Ia pangling melihat Ares, bukan hanya pedagang bakso itu tapi beberapa pelanggan apalagi kaum hawa ikut pangling melihat Ares
" Hahah bapak nya bisa saja. Ganteng-ganteng seperti ini mana mungkin belum ada yang punya." Ucapnya sengaja meninggikan suara agar semua orang yang pangling melihatnya bisa berhenti melihatnya
" Hahaha iya juga yah mas. Untuk istrinya Nih mas."
" Bukan, untuk saya. Lagi ngidam." Ucap Ares dengan bersemangat
Sontak saja perkataan Ares membuat semua orang disana menatap heran melihatnya, bahkan ada yang sampai menganga mendengarnya. Apa mungkin pria tampan di depannya ini belok? Pikir mereka
" Eh! Maksudnya istrinya yang ngidam mas?." Pedagang itu tetap berpikir positif
" Bukan pak. Istri saya yang hamil, dan saya yang ngidamnya." Jelas Ares. Air liurnya bahkan hampir menetas mencium aroma dari kuah bakso
" Wah.. kata orang-orang. Kalau Istri sedang hamil, terus suaminya yang mengidam. Katanya suaminya sangat mencintai istrinya." Ujar pedagang itu.
" Hahah saya memang mencintai istri saya pak."
" Ini mas, baksonya sudah jadi." Memberikan Ares kresek yang berisi bakso masih panas
" Terima kasih pak." Menyodorkan beberapa kertas warna merah
" Eh! Ini kebanyakan mas."
" Tidak apa-apa pak. Anggap saja rezeki bapak dari Allah dan di titipkan di saya."
" Terima kasih mas. Semoga rezeki nya mas semakin berlimpah. Dan semoga anaknya lahir dengan sehat." Ia begitu terharu. Rupanya masih ada orang baik di dunia ini
" Aamiin."
Setelahnya Ares pun kembali ke dalam mobil. Dari tadi Lyza menunggu Ares sembari bermain ponsel. Ia sempat menghubungi ibu untuk menanyakan keadaan Fatih yang ia titip sebelum pergi
" Assalamu'alaikum." Salam Ares masuk kedalam mobil
" Wa'alaikum salam, sudah by?." Menaruh kembali ponselnya
" Iya sudah." Menaruh baksonya pas di samping ia duduk.
Supir pun kembali melajukan mobil.
Glek..
Lyza menelan salivahnya mencium aroma bakso yang menggiurkan.
.........
Mereka telah sampai di rumah. Ares kembali menggendong Lyza dan mendudukkan nya di atas kursi roda lalu kembali mendorongnya masuk kedalam rumah.
" Bi, sajikan bakso ini untuk ku." Memberikan baksonya ke bi Ija
Menerima bakso tersebut " Baik tuan." Bi Ija pun undur diri. Sedangkan Ares kembali mendorong kursi roda menuju ke kamar yang telah ia pindahkan ke lantai bawah, jadi mereka tidak perlu naik turun tangga lagi.
Sesampainya di kamar " Mau mandi dulu sayang?." Lyza mengangguk. Ares kembali menggendong Lyza masuk kedalam kamar mandi.
" Kamu tidak lelah by, menggendong aku terus." Ia ingin agar kali ini setidaknya sang suami mengatakan lelah atau dirinya berat
" Tidak. Kamu sangat ringan." Balas Ares di luar perkiraan Lyza
Lyza mengerucutkan bibirnya. " Jangan bohong by. Ada tiga orang loh yang kamu gendong sekaligus."
Mendudukkan Lyza di meja marmer " Hmm Memangnya kenapa? Sama sekali tidak berat. Kalau seperti ini saja aku tidak bisa, apa gunanya dong aku olahraga tiap hari?."
Akhirnya Lyza diam, ia memang tidak akan bisa menang melawan sang suami.
Ares keluar dari kamar mandi dan memilih untuk membersihkan badannya di kamar mandi yang lain. Ia tidak sabar ingin memakan baksonya.
Rupanya bakso yang tadi sempat ia titipkan di bi Ija sudah selesai di panaskan kembali dan sekarang sudah berada di dalam kamar.
Lyza yang telah selesai mandi langsung saja keluar ketika tidak menemukan sang suami di dalam kamar. Ia langsung masuk kedalam walk closet. " Akhirnya aku bisa jalan dengan bebas juga." Ingin rasanya Lyza lompat-lompat, namun ia masih memikirkan kedua janinnya
Setelah memakai pakaian kembali, Lyza pun keluar dari walk closet. Ia mencari sang suami, namun rupanya suaminya masih belum ada di kamar.
" Apa mungkin hubby sedang mandi di kamar mandi lainnya yah." Ia tidak ingin terlalu memikirkannya. Lyza pun melangkah ke cermin rias, namun ia tidak sengaja melihat dan mencium aroma bakso yang ada di dalam kamar
Glek..
Ingin rasanya ia mencicipi bakso itu. Lyza menggeleng keras " Itu punya hubby." Ucapnya menetapkan hati, ia melewati begitu saja bakso yang menggugah selera itu dan menuju ke meja rias.
Lyza pelan-pelan menyisir rambut, ia selalu melirik ke arah bakso. Sekali sisir, sekali pula ia melirik. Sampai-sampai Lyza tidak fokus dengan rambutnya sendiri. " Astagfirullah Lyza, itu bukan punya mu." Ucapnya.
Slurrpp
Ia mengembalikan air liurnya yang sudah hampir menetes
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️