My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Kegalauan Lyza



Ares mencium aroma sedap dari dapur. Ares berjalan ke arah dapur, ia tersenyum melihat sang istri yang sedang memasak dengan sangat lihai sembari bersenandung.


'cantiknya Istri ku'. Memandang Lyza tanpa berkedip. Ah.. sebenarnya sihir apa yang digunakan Lyza membuat Ares tidak bisa berpaling darinya.


Diam-diam Ares mendekati Lyza. Ia berjalan tanpa bersuara, agar Lyza tidak menyadari. Lyza yang sedang fokus memasak dan tidak merasa curiga sedikitpun membuat nya tidak menyadari kedatangan Ares.


" Hmm seperti nya enak ". Seru Ares dari belakang Lyza.


Lyza terperanjat, Sontak ia berbalik. Ares tersenyum melihat wajah keterkejutan sang istri. " Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu ". Salam Ares


" Haaaaah wa'alaikum salam ". Jawab Lyza


Lyza Melihat uluran tangan Ares, seperti biasa Lyza masih tidak mau mencium tangan Ares. Ares tersenyum dan..


Cup..


Ia mengecup pipi Lyza. " Gantinya ". Mengedipkan sebelah matanya


" Hei.. kau.. " geram Lyza. Ia memegang pipinya. " Jangan cium pipiku ".


" Memangnya kenapa? Tidak salahkan ".


" Cih ". Lyza berdecak lalu kembali berbalik untuk melanjutkan acara masaknya.


" Sepertinya enak, apa aku boleh mencobanya nanti? ". Tanya Ares memperhatikan Lyza memasak. Ia bertanya seperti itu karena selama ini mereka memasak makanannya masing-masing. Kecuali saat Ares cepat pulang dari pesantren, maka dirinya lah yang akan memasak.


" Hmm terserah, lagipula aku membuat cukup banyak ". Lyza nampak acuh tak acuh, padahal dalam hati ia sudah senang bukan kepayang.


" Alhamdulillah... Dapat masakan istri ".


Lyza yang mendengar perkataan 'istri' dari mulut Ares menjadi salah tingkah, senyumannya tak dapat ia bendung.


" Ehemm.. ". Mencoba menetralisir perasaannya. " Sudah sana bersihkan badanmu, jangan ganggu aku ". Mematikan kompor


" Baiklah ". Berjalan naik ke atas kamar


Setelah menata semua masakannya, Lyza naik ke atas kamar untuk membersihkan tubuhnya dari bau-bau dapur.


" Eh! Mau kemana? ". Tanya Ares saat iz berpapasan dengan Lyza di depan pintu kamar.


" Mau mandi ". Singkat Lyza. Ares hanya mengangguk.


" Aku tunggu di bawah, kita makan sama-sama ". Lyza hanya mengangguk menanggapi perkataan Ares.


..........


Kedua pasutri itu makan dengan khidmat, tak ada yang bersuara. Untung ada bunyi dari dentingan sendok dan piring yang saling beradu, kalau tidak sudah pasti keadaan sangat sepi bak kuburan.


Setelah makan...


Lyza tengah duduk di ruang tv sembari menonton TV ditemani oleh Ares. Yah memang seperti itu keadaan saat malam hari, Ares akan menemani Lyza menonton TV dan Lyza juga tak mempermasalahkan nya. Ya, walaupun tak ada adegan romantis-romantis seperti di dalam novel, meski begitu Sudah membuat Ares senang.


Ting... Tong...


Bunyi bell berbunyi, membuat Ares dan Lyza melirik ke arah pintu.


" Sepertinya ada yang datang, aku akan membukakan pintu ". Tungkas Ares. Lyza mengangguk.


Ares pun berjalan menuju pintu melihat siapa yang bertamu dirumahnya malam-malam seperti ini. Apa mungkin penghuni pohon beringin? Atau kah penjaga kuburan? Yang pasti bukan anak kecil yang hanya memakai kolor, akan pusing di buat kepalanya jika melihat kekayaan Ares.


Lyza tidak memperdulikan nya. Ia tetap fokus dengan benda persegi panjang di depannya yang menampilkan aktor dan aktris.


" Selamat malam nyonya ". Suara barinton itu membuat Lyza mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.


" Malam nyonya ". Sapa orang disebelahnya.


" Zean, Sean ada apa? ". Rupanya kedua twins tampan itu yang datang. Untung bukan seperti yang di bayangkan.


" Sepertinya ada urusan penting yang ingin di bicarakan oleh Zean dan Sean, makanya mereka datang ". Ujar Ares.


" Benar apa yang dikatakan pak ustadz ". Timpal Sean.


" Berbicaralah, aku juga ada sedikit pekerjaan. Kalo gitu aku permisi. Assalamu'alaikum ".


" Wa'alaikum salam ". Jawab Lyza, sedangkan Zean dan Sean hanya mengangguk.


" Duduklah ". Titah Lyza. Zean dan Sean pun duduk sesuai instruksi sang young ms.


" Jadi, hal penting apa yang ingin kalian bicarakan ". Lyza menuntut, ia sedikit tak rela kebersamaan nya dengan sang suami di ganggu.


Suami? Hehh! Padahal Lyza dulu sangat menentang yang namanya pernikahan ataupun bersuami, tapi lihatlah sekarang. Baru lima hari menikah, sudah membuat nya seperti ini.


" Sepertinya Langga sedang mempersiapkan rencana. Tapi kami masih belum bisa pastikan rencana apa itu dan tertuju untuk siapa ". Jelas Zean.


" Tapi tenang saja nyonya, kami tidak akan membuat adik tiri anda menyakiti anda dan juga pak ustadz ". Seru Sean dengan wajah serius.


Lyza tersenyum miring, jika berhadapan dengan Zean dan Sean, maka Lyza si polos akan hilang. Berganti dengan Lyza si licik. " Bagus.. buat mereka kelimpungan mencari keberadaan ku ".


" Baik nyonya ".


'Heh! Langga, bocah itu benar-benar tidak kapok'. Monolog Lyza dalam hatinya. " Bagaimana keadaan mansion? ".


" Semuanya aman terkendali nyonya, walaupun sempat ada penyerangan, tapi kami bisa menghadapinya ". Ucap Sean bangga


'bodoh'. Maki Zean dalam hati kepada Sean


" Penyerangan? ".


" Iya nyonya, kemungkinan besar penyerangan itu di lakukan oleh adik tiri anda ". Jelas Zean. Padahal niatnya ingin menyembunyikan hal ini, namun sang adik kembar yang dianggap no ori itu malah membocorkan.


" Bocah itu ". Geram Lyza. " Awasi saja mereka, dan juga untuk mansion, jaga agar tidak ada yang melakukan penyerangan ".


" Baik ".


" Oh yah, tidak ada korban jiwa kan dalam penyerangan itu? ". Entah mengapa tapi Lyza tiba-tiba peduli pada para pelayan yang ada di mansion.


" Eh? ". Zean dan Sean terkejut. Untuk apa sang young ms menanyakan tentang kabar pelayan?


" Kenapa kalian malah diam? ".


" Ah! Maaf nyonya. Tidak ada korban jiwa dalam penyerangan itu ".


" Dalam pihak kita memang tidak ada nyonya, tapi dalam pihak musuh, sangat banyak ". Lanjut Sean


Lyza hanya mengangguk menanggapi. " Baiklah terima kasih atas laporannya. Kerja bagus ". Kata Lyza lalu beranjak dari duduknya.


Dalam perjalan ke kamar, tiba-tiba ponsel Lyza berbunyi.


Tertera nama madam Choo disana. Iyya masih ingatkan dengan madam Choo, pemilik club xxx tempat Lyza menghabiskan waktunya bermain wanita.


Madam Choo menelepon Lyza untuk menanyakan apakah ia harus menyiapkan wanita untuk esok hari. Karena biasanya Lyza memang selalu menyuruh madam Choo agar menyiapkan wanita yang berbeda setiap saat untuk melayani nya.


Lyza melihat panggilan dari madam Choo, hanya menatap singkat dan enggan untuk mengangkat nya. Biasanya Lyza akan senang, namun kini ia malah merasa biasa-biasa saja. Apa mungkin ia sudah tidak tertarik dengan hubungan sesama jenis? Jika memang iya, hal itu akan menjadi kabar bahagia bagi Lyza.


Lyza kembali berjalan menuju kamar, ia merenung tentang kehidupannya. Lyza berbaring telentang di atas kasur sembari melihat langit-langit kamar.


Ia merasa nyaman dengan kehidupan normal yang ia jalani. Padahal dulu satu hari saja dia tidak ke markas, membuat Lyza jadi uring-uringan. Namun semenjak mengenal Ares, ia jadi lebih nyaman berada di rumah menunggu kepulangan Ares.


Hufffh


" Ada apa? ". Suara Ares menghentakkan Lyza.


Lyza langsung duduk. " Kapan kamu masuk? ". Tanya Lyza ia sedikit kaget karena tidak mendengar suara langkah kaki Ares.


" Hmm baru saja, apa kau tidak apa-apa? ". Tanya Ares lembut dan ikut duduk di samping Lyza.


" Tidak ada. Aku tidak apa-apa ". Elak Lyza. 'apa instingku sudah melemah'.


" Benarkah? ".


" Iya, aku mau tidur ". Lyza berdiri dan hendak ke kamar mandi untuk cuci muka dan kaki.


" Lyza... ". Panggil Ares, membuat Lyza menghentikan langkahnya. Ia berbalik " kalau kamu sudah siap mengatakan semuanya, aku akan bersedia mendengarkan ". Tersenyum


Lyza sempat terdiam, ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan sesuatu kepada sang suami. " Iya ". Singkat Lyza dan masuk kedalam kamar mandi.


Setelah Lyza keluar dari kamar mandi, Ares langsung berdiri dan menyodorkan sebuah kartu kepada Lyza. " Nafkah ku untuk mu ". Memberikan black card.


" Ini... Apa kau menghinaku? ". Tatapan Lyza berubah dingin.


Ares menghela nafas pelan. Memang susah berbicara pada orang seperti Lyza yang akan selalu berprasangka buruk pada apa yang dilakukan untuk nya.


" Aku tidak menghina mu. Aku ini suami mu sudah kewajiban ku untuk memberikan nafkah untuk mu ".


" Tidak perlu! Aku tidak kekurangan uang ". Ketus Lyza


" Terimalah... Itu nafkah ku untuk mu, jadi mulai sekarang gunakan kartu ini jika kamu ingin berbelanja ".


" Aku tidak maemmmmph ". Belum sempat Lyza melanjutkan perkataannya, bibir nya sudah di bungkam oleh bibir Ares.


Ares mencium Lyza agar tidak membantah lagi. Pelan-pelan Ares melumaat kecil bibir mungil Lyza. Lyza tak ingin tinggal diam, ia juga membalas ciuman dari Ares. Walau bagaimanapun ia memang menyukai ciuman, apalagi jika ciuman bersama suaminya yang terasa beda dengan ciuman bersama wanita-wanita malam yang selama ini ia cium.


TBC


kalo soal adegan actionnya gak bakalan banyak, othor cuman fokus sama kisah romantis babang Ares sama neng Lyza✌️


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘