
Kini Lyza ikut nimbrung bersama tiga orang dewasa dan tiga anak kecil di ruang tv, setelah tadi ia dan Fatih di kaget 'kan dengan perkataan Egi.
" Jadi, apa yang tadi kamu katakan benar Egi?." Tanya Lyza
" Seperti yang aku katakan tadi nyonya." Jawab Egi
" Apa! Jadi, aunty Re akan menjadi istri uncle Egi? Kenapa? Padahal Fatih yang lebih dulu suka dengan aunty Re." Ujar Fatih tidak terima dengan nada lesu
" Hei bocah. Lap ingus saja kamu masih belum bisa, mau jadi sok-sokan suka sama perempuan." Ucap Egi dengan tersenyum sinis melihat Fatih
Sedangkan yang di tatap sinis cemberut dengan pipi yang menggelembung.
" Re, kamu tidak di paksa sama ayam ini 'kan." Memegang kedua tangan Re. Lyza masih tidak percaya dengan perkataan Egi tadi. Bukannya Lyza tidak merestui, namun ia hanya ingin mendengar pendapat langsung dari mulut Re
Re sedikit bingung saat sang bos mengatakan kata-kata ayam. Bukannya ayam nama hewan? Pikir Re
" Nyonya, sebenarnya anda memandang saya bagaimana? Bisa-bisanya anda menuduh saya memaksa Re. Itu tidak mungkin nyonya, hati saya sakit loh." Ujar Egi mendramatis
Lyza memutar bola matanya " Kamu benar tidak di apa-apakan 'kan? Atau jangan bilang ada anaknya di dalam perutmu!." Spekulasi Lyza sekarang menjadi tidak terkendali
" Astagfirullah.. bos, itu tidak mungkin. Saya ingin menikah dengan Egi karena saya..." Ucap Re " men.. cintainya." Lirihnya. Ia terlalu malu mengatakannya
" Apa!." Lagi-lagi Lyza dan Fatih dibuat syok. " Yang benar saja." Ujar Lyza
Bahkan Egi yang melihatnya memutar bola matanya. Entah bagaimana pendapat istri bosnya ini tentang dirinya. Sedangkan Ares tidak heran lagi, sebab Egi memang sudah pernah mengatakan hal ini padanya.
" Jadi kamu benar-benar akan menikah dengan Egi? Berhenti sekarang masih belum terlambat loh!." Canda Lyza
" Bos, saya benar-benar ingin menikah dengannya." Ujar Re
Lyza tersenyum, ia meletakkan tangannya di atas pundak Re " Aku sih tidak masalah asalkan kamu bahagia. Tapi, kamu sudah mengatakan nya oada Kill 'kan."
Re melirik sang kekasih, dan yang di berikan lirikan tersenyum.
" Jangan salah nyonya. Abang ipar sudah memberikan restu." Seru Egi dengan bangga
" Belum jadi suami Re tapi sudah sombong." Memutar bola matanya " Tapi aku acungkan jempol untuk keberanian mu. Jadi, kapan kalian akan melangsungkan acara pernikahan nya?."
Mereka semua tersenyum mendengar perkataan Lyza. Kecuali Fatih yang masih tidak rela, padahal ia berencana akan menikahi Re saat dewasa nanti. Ah.. sudahlah asalkan Re bahagia itu sudah bagus, pikir Fatih.
Setelah dua bulan persiapan, akhirnya acara pernikahan Re dan Egi berlangsung cukup meriah. Bukan karena tamu undangan nya yang terlalu banyak, namun karena anggota-anggota Dark Blodd yang memenuhi aula acara.
Semua anggota keluarga nampak berbahagia, namun sayang lagi-lagi Sean tidak menampakkan batang hidungnya. Lyza yang penasaran akhirnya menemui salah seorang anggota Dark Blodd yang ia lihat dengan sembari menggendong baby Tifa yang saat itu memang tidak ingin lepas dengan nya.
Sedangkan Ares bersama baby Kira dan Fatih sedang bersiap-siap untuk menyalami pengantin baru.
" Hei.. Detrick!." Ujar Lyza memanggil salah seorang anggota Dark Blodd kepercayaan nya dulu
Sontak yang di panggil menoleh " Bos Lyza..." Ia sedikit terkejut tiba-tiba sang mantan bos menyapanya.
" Ada apa bos?." Tanya Detrick, sembari melihat baby yang ada di gendongan Lyza
" Ada yang ingin aku tanyakan." Jawab Lyza, ia menatap Detrick pria berusia kepala 4 itu sama sekali tidak menatap nya malah menatap baby Tifa yang ikut-ikutan menatap Detrick dengan tanpa senyuman
" Hei Detrick.. aku ada disini." Mengibaskan tangannya di depan Detrick
Detrick tersadar dari keteropesonanya dengan baby Tifa yang sangat menggemaskan menurutnya. Ia seperti melihat Lyza versi bayi. " Ah! Ma.. maaf bos. Apa yang ingin anda tanyakan bos?." Tanya Detrick mencoba mengalihkan pembicaraan
Lyza menghembuskan nafas kasar. Ia tahu anaknya memang sangat menggemaskan, tapi masa masih kecil sudah jadi perhatian bagaimana saat besar nanti? Haiss Lyza benar-benar tidak ingin jika anaknya jadi pusat perhatian, Bagaimana jika musuh-musuh nya menyadari keberadaan anak-anak Lyza!? Itu 'kan pasti berbahaya.
" Apa kau Melihat Sean? Sudah hampir 4 bulan aku tidak melihatnya. Bahkan sama sekali tidak ada kabar darinya, kecuali surat yang ia kirim sebulan lalu." Ujar Lyza. Ia masih mengingat surat yang di berikan Zean kepada nya dari Sean. Isisnya hanya mengenai misi yang di jalankan Sean
" Hmm sepertinya Sean masih menjalankan misi bos. Dia juga tidak memberikan kabar pada kami yang berada di tanah air." Jawabnya dengan jujur
Lyza hanya manggut-manggut. " Baiklah, terima kasih. Kalau begitu aku permisi." Ujar Lyza. Detrick hanya mengangguk.
Setelah itu Lyza beserta keluarga kecilnya memberikan selamat pada pengantin baru yang tidak di sangka-sangka. Sedari tadi terlihat Killua yang menatap tajam kepada adik iparnya.
Lyza tertawa dalam hati 'keposesifan Kill memang belum terobati. Tapi, bisa-bisanya dia memberikan restu kepada Re dan Egi untuk menikah.' monolog Lyza dalam hati. Setelah meberikan selamat dan goda-godaan kecil kepada pengantin baru itu, mereka pun turun.
Lyza beserta keluarga kecilnya berjalan mendekati Killua. Ares menepuk pundak Killua " Carilah pasangan hidup juga." Ujar Ares. Ia bisa melihat tatapan tajam Killua memperhatikan adik dan juga adik iparnya di atas pelaminan
Killua hanya tersenyum kikuk. Ares dan Keluarga kecilnya kemudian kembali ke tempat duduk untuk lanjut menikmati acara hingga selesai.
.........
Waktu berlalu sangat cepat..
Tak terasa 5 tahun berlalu...
" Lisya... Main yuk.." Seru Kira datang menghampiri Lisya yang saat itu membaca buku di sofa ruang tv.
Bocah lima tahun itu dengan wajah yang mirip dengan ayahnya mendongak dengan tatapan datar " Aku sedang sibuk. Ajak Dede Ifa saja." Ujarnya setelah itu kembali melihat buku yang di baca.
Kira cemberut " Tidak asik bermain dengan dede Ifa. Dia terlalu kaku." Ujarnya " ayolah Lisya.." rengeknya
Lisya memutar bola matanya malas melihat Kira, bocah yang hanya beda lima bulan dengannya " Sudah sana, tunggu bang Fatih datang." Ujarnya tanpa melihat Kira. Fatih sekarang sudah berumur 10 tahun, ia sedang ke pesantren untuk mengaji
Kira menghentak-hentakkan kakinya meninggalkan Lisya yang asik membaca buku. Entah buku apa yang Lisya baca, Kira sama sekali tidak tertarik. Kira mendekati adiknya yang sedang bermain game di gadget nya.
" Ifa main sama aku yuk.." ujar Kira
Tifa mendongak melihat sang kakak " Kak Ira yakin?." Tanyanya
Kira langsung mengangguk cepat. Tifa pun menghentikan acara main gamenya lalu mendekati Kira untuk bermain dengannya.
" Ifa jadi pangerannya yah. Terus aku yang jadi Putri nya." Ucap Kira memberikan boneka pangeran kepada sang adik
Tifa mengambil boneka tersebut. " Apa yang harus aku lakukan." Tanyanya bingung
" Kita pura-pura jadi mereka terus... " Kira menjelaskan nya panjang lebar
" Memangnya asik main seperti ini?." Finally yang di katakan Tifa membuat Kira mencebik.
" Hm sudah ku duga kamu terlalu kaku Ifa. Sudah ah.. aku main sendiri saja." Ketus Kira
Tifa hanya mengangkat bahu tidak perduli lalu lanjut bermain gadget.
" Ka Ila.. adli mau itut main boyeh yah." Ucap Fadli yang tiba-tiba datang dari arah dapur. Anak kedua dari Zera, yang baru hampir berusia 3 tahun. Memang tidak ada yang bisa melawan takdir, walaupun Zean tidak berencana untuk membuat Ara hamil lagi, tapi sepertinya takdir berkata lain.
" Boleh ayo kita main." Ujar Kira dengan bersemangat. Jujur saja Fadli lebih menyenangkan di ajak main daripada saudara-saudara perempuan nya.
Yah begitulah sifat mereka yang bertolak belakang semua. Dimulai dari Lisya yang menuruni sifat Zean yang dingin, bahkan untuk orang-orang terdekatnya. Mungkin ia akan lebih hangat saat mendapatkan pendamping hidup suatu hari nanti seperti ayahnya.
Sedangkan adiknya, Fadli lebih menuruni sifat Ara yang ramah dan murah senyum. Terkadang orang-orang melihat Fadli dengan versi Zean yang ramah senyum.
Kira dan Tifa juga mempunyai sifat Yang berbeda jauh. Dimana Kira yang lebih periang dan lebih menunjukkan perasaan nya secara terang-terangan. Berbeda dengan Tifa yang datar, pendiam dan sedikit kaku sama seperti Lyza. Ia juga hanya suka berfokus dengan satu hal, jika sudah seperti itu sudah tidak ada yang bisa mengganggu Tifa dengan apa yang ia lakukan.
" Assalamu'alaikum..." Seru dari arah pintu. Sontak anak-anak yang memang dekat sana langsung menengok.
Kira dan Fadli langsung berlari ke arah pintu " Rei.. El... " Seru Kira
" Kak Ira... " Kedua twins itu juga ikut berteriak
" Ka El.. bang Lei..." Ujar Fadli di belakang Kira
" Adli..." Seru twins tersebut
" Assalamu'alaikum... Kira.. Adli.." Ujar Re di belakang kedua anaknya. Yah Reiner dan Ella adalah anak twinsnya yang berumur 4 tahun.
" Wa'alaikum salam aunty.." kompak keduanya
" Uma sama ibu dimana?." Tanya Re
" Ada di belakang, aunty bisa langsung kesana." Ujar Kira
" Baiklah, aunty menyusul uma sama ibu dulu yah. Rei, El jangan nakal." Ucap Re. Kedua twins berbeda jenis kelamin itu mengangguk antusias. Setidaknya kedua twins itu masih mempunyai sifat yang tak berbeda jauh walaupun wajah mereka tidak identik
Re pun pergi kebelakang ke tempat Ara dan juga Lyza yang sedang menyiapkan makan malam. Yah hari ini mereka sekeluarga akan makan bersama. Re melewati ruang tv dan melihat Lisya yang asik baca buku yang sedang duduk di sofa sedangkan Tifa yang sedang bermain game di lantai beralaskan karpet berbulu.
" Assalamu'alaikum..." Ucap Re
Kedua anak itu melihat ke arah suara " Wa'alaikum salam." Ucap keduanya. Lisya memberikan wajah dingin sedangkan Tifa mengangguk.
Re yang memang sudah sangat hafal dengan sifat dua orang itu langsung pergi berlalu.
" Kakek sama nenek ada dimana?." Tanya El
" Masih beyum atang." Ucap Fadli dengan gaya cadel nya, walau begitu mereka tetap bisa mengerti apa yang dikatakan Fadli
" Kalo gitu kita main rumah-rumahan yuk." Ajak Kira bersemangat
" Ayukkk." Kompak mereka. Walaupun Rei seorang pria ia tetap suka menemani anak-anak perempuan bermain, tapi bukan berarti ia seorang waria
Mereka pun asik bermain di ruang tv. Keempat orang itu sungguh ribut, untung saja Lisya orang yang sabar dan sudah terbiasa dengan keadaan ini, sedangkan Tifa memang mempunyai sifat yang cuek dan bodo amat, dia tidak akan melirik sesuatu yang tidak terlalu ia sukai.
Tiba-tiba dari arah depan. " Assalamu'alaikum... Aku pulang." Seru Fatih
Lima orang anak disana dengan umur yang berbeda-beda walaupun tak jauh beda langsung menoleh ke arah sumber suara. " Wa'alaikum salam." Ujar mereka semua dan langsung berlari ke arah Fatih dan memeluk pinggang Fatih
Sedangkan Tifa dan Lisya juga ikut berdiri mendekat tapi tidak memeluk Fatih seperti keempat orang itu.
" Bang Fatih ayo kita main." Ajak Kira
" Iya ayo kita main bang." Seru Rei dan juga El bersamaan
" Adli uga mau itut." Sahut Fadli yang paling kecil
Fatih hanya tersenyum lalu mengelus kepala mereka satu persatu yang memeluknya kecuali dua orang yang dingin nan Datar itu karena terlalu jauh dari jangkauan nya. Fatih di sukai dengan adik-adiknya, ia seorang calon pria yang akan populer di masa depan
" Biarkan bang Fatih membersihkan tubuhnya dulu." Beo Tifa
" Iya benar, abang mau membersihkan tubuh dulu yah. Nanti kita main." Ujar Fatih lembut
Merek ber-empat tersenyum dan mengangguk antusias. Fatih melepas diri lalu berjalan ke arah kamarnya, saat ia melewati Tifa dan juga Lisya ia tidak lupa mengelus kepala keduanya yang tertutupi hijab instan.
.........
Tak lama kemudian Zean pun tiba. Kelas sorenya sudah berakhir jadi ia cepat-cepat pulang. Saat sampai ia melihat anak-anak yang sedang main boneka-boneka, kecuali anak sulungnya dan juga anak bungsu dari sang bos
Zean Sudah terbiasa dengan pemandangan itu. Ia langsung ikut nimbrung duduk di samping putri sulungnya yang entah sudah berapa ia baca buku. Zean tidak ikut main boneka-boneka karena ia sadar kalau itu tidak cocok dengan kepribadian nya. Walaupun Zean pernah mencoba, tapi anak-anak malah menolak nya dengan dalih
" Uncle Zean tidak asik." Itulah perkataan mereka saat itu, hal asil ia sudah tidak pernah bermain bersama mereka lagi.
Tak lama kemudian Ares dan Egi pun datang, keadaan rumah Semakin meriah dengan kedatangan Egi yang memang usil dan Ares yang selalu asik diajak main. Walaupun masih belum ada kabar mengenai Sean lima tahun ini, tapi mereka tetap berharap semoga Sean cepat pulang.
Setelah kakek dan nenek tiba, mereka pun memutuskan untuk makan malam bersama. Makan malam yang besar.
" Waktunya makan malam semuanya.." seru Lyza dan Re di belakang yang membawa spatula dengan panci lalu memukul-mukul nya
Ara hanya bisa geleng-geleng, ia mendekati Fadli dan menggendongnya. Walau bagaimanapun anak bungsu nya itu masih minum susu botol.
" Yeaay makan.." Seru anak-anak disana dan berlari ke arah meja makan yang sangat besar di ikuti dengan para orang tuanya di belakang.
Semua anak-anak itu duduk di tempat masing-masing dan bercerita.
Ares memeluk pinggang sang istri. " Semoga kebahagiaan ini selalu bertahan lama." Ujar Ares
" Aamiin... Aku yakin anak-anak pasti akan mempertahankan hubungan mereka." Ujar Lyza
Keduanya pun ikut bergabung dan duduk makan bersama....
~End~
gak terasa Udah selesai ajah nih manteman😌 Terimakasih buat kalian-kalian yang selalu mendukung othor✌️
Doakan semoga othor bisa buat karya yang lebih bagus lagi😘
Oh othor lupa ...
Like, komen, hadiah and vote nya manteman😆✌️
Follow ig othor🤭😅🙏 \=> HimaSun_05