My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Mafia Cantik VS Ustadz Tampan



" Astaghfirullah ". Dengan cepat Ares menundukkan pandangannya.


Lyza dengan santainya berjalan menuju sofa dimana ada Ares disana. Dengan pakaian tank top nya dan juga celana pendek sampai paha. Sepertinya Lyza hanya menggosok gigi dan cuci muka saja. Ia tidak mengganti pakaian.


Lyza duduk di sofa hadapan Ares.


" Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatu ". Salam Ares tanpa melihat Lyza. Walau bagaimanapun ia seorang lelaki tulen, Melihat pemandangan seperti itu membuat ia jeder jeder.


Lyza menyerngitkan dahi. " Hei.. apa kau tidak punya sopan santun. Setidaknya kalau ingin berbahasa planet mu, lihat orangnya ". Menyilangkan kakinya. Serta tangan yang ia lipat di bawah dada.


" Maafkan saya... Tapi bisa kah anda mengganti atau setidaknya menutupi pakaian anda terlebih dahulu? ". Ucap Ares dengan keadaan masih menunduk.


" Memangnya ada apa dengan pakaian ku? Ini tidak salah kan ". Memperhatikan pakaian yang di pakai, dan menurutnya tidak ada yang salah dari hal itu.


Lain halnya dengan pak Sam yang seperti mengerti dengan keadaan yang di alami pria bermata tajam namun mempunyai tatapan teduh.


" Maaf... Tapi saya tidak akan mengatakan maksud saya sebelum anda menutupi tubuh anda ". Masih menunduk


" Haisss.. baiklah-baiklah ". Entah mengapa tapi Lyza tidak marah saat Ares mengatakan hal tersebut, padahal biasa nya sudah berlubang kepala orang yang berani mengatakan hal seperti itu padanya. Bahkan pak Sam heran melihat young ms.


" Sam.. ". Panggil Lyza. Yang di panggil langsung maju ke mendekati sumber suara.


'ya Allah... Perempuan ini benar-benar tidak punya sopan santun.. sabar Ares..'.


" Iya nyonya? ".


" Ambilkan mantel ku ". Titah Lyza tanpa melihat Pak Sam. Ia fokus memandang pria ber-peci di depannya. Sungguh dirinya benar-benar penasaran dengan wajah pria tersebut.


" Baik ". Pak Sam pun segera Pergi mengambil mantel Lyza.


Zean dan Sean yang waktu itu kebetulan keluar dari kamar dan hendak ke dapur untuk makan, twins itu tak sengaja melihat pak Sam yang terburu-buru turun ke bawah.


" Ada apa pak Sam? Kau terlihat buru-buru. Dan bukannya itu mantel nyonya? ". Sean bertanya.


" Sean, aku disuruh ambil mantel untuk nyonya ". Pak Sam hendak pergi, namun suara Zean menghentikan langkahnya.


" Memang nya nyonya mau kemana? ". Tanya Zean.


" Tidak akan kemana-mana. Tamu nyonya sudah datang. Maaf aku buru-buru ". Dengan cepat Pak Sam pergi dari situ, kalau tidak pasti ia akan terlambat dan di marahi habis-habisan.


Zean dan Sean saling pandang. " Hei Zean.. apa mungkin ustadz yang mengirim surat cinta itu yang datang? ". Tanya Sean.


" Mungkin ". Setelah mengatakan nya, Zean langsung turun untuk melihat keadaan di ruang tamu.


Ares masih menunduk. Ia tidak akan berbicara dan mengangkat kepalanya sebelum wanita di depannya menutup tubuhnya yang sangat terbuka.


Sedangkan Lyza memperhatikan Ares sedari tadi, ia memang tidak melihat wajah Ares karena sedari tadi pria itu hanya menunduk. Ia bertanya-tanya dalam pikirannya. 'apa seorang ustadz harus mempunyai tubuh yang atletis? Tapi untuk apa!'. Yap yang sedari tadi di perhatikan Lyza adalah tubuh Ares yang sangat atletis.


" Hei.. apa aku sejelek itu sampai-sampai kau tidak mau menatap ku ".


" Maaf nona... Bukan seperti itu, hanya saja sudah jadi peraturan dari agama saya agar menjaga pandangan dari lawan jenis yang bukan mahram ". Tutur Ares.


'mahram? Apa itu istilah dari planet lain lagi!'. Batin Lyza. " Hei apa itu mahram? Bahasa dari belahan bumi mana? ". Entah di taruh di mana gengsi nya.


Ares yang mendapati pertanyaan seperti itu, Terkejut. Belahan bumi! Yang benar saja. Oh tuhan Ares benar-benar ingin tertawa saai ini juga. Apa dia memang seorang ketua mafia? Dia terlalu polos, pikir Ares.


" Ehh ehemm bukan mahram itu artinya, wanita tersebut haram untuk di pandang atau di sentuh ". Jelas Ares masih menunduk. Sebisa mungkin dirinya tidak tertawa.


" Haram? Bukan mahram? Tadi aku tanya mahram, sekarang di jawab bukan mahram! ". Gumam Lyza. Ia geleng-geleng, entahlah dirinya tidak ingin memikirkan hal tak penting seperti itu.


Tak lama kemudian pak Sam datang. Dengan membawa mantel. " Nyonya, silahkan mantel anda ". Lyza menerima mantel tersebut lalu memakai nya, hingga menutupi seluruh tubuh baguan atasnya, sedangkan bagian bawah telah ter hadang meja jadi tak akan terlihat.


" Sekarang kau bisa angkat kepala mu ". Ujar Lyza.


Ares bernafas lega, dan mulai mengangkat wajahnya. Sebenarnya ia juga penasaran dengan tampang wanita di depannya ini, ia belum sempat melihat wajahnya tadi.


Ares tampak terkejut dan kagum melihat wajah Lyza. Sungguh sangat cantik. 'seandainya di tutup menggunakan jilbab pasti lebih cantik'. Ujarnya masih memandang wajah Lyza.


Sama, Lyza juga tak kalah Terkejut dan kagum dengan wajah Ares. Ia terbengong, ini pertama kalinya ia melihat wajah setampan dan sesempurna itu. 'apa semua orang yang berlebel ustadz semuanya setampan ini'.


Tanpa sadar mereka saling memandang dan mengagumi wajah masing-masing. Sampai...


" Wowww.. ada pria tampan ". Seru Sean tiba-tiba. Zean langsung menyiku perut Sean.


" Bodoh ". Bisik Zean.


Suara Sean membuat kedua orang yang sedari tadi saling pandang mengalihkan pandangannya.


'Astaghfirullah. Ampuni hamba mu ini ya Allah. Hamba sempat khilaf'. Batin Ares. Entah mengapa tapi wajah Lyza benar-benar mampu menyihir Ares yang selama ini tak pernah melirik wanita.


'cih dasar bodoh.. bodoh.. bodoh!! Kau Lyza. Kenala coba kau harus terpesona dengan wajah tampan nya. Cih kenapa bisa seorang ustadz bisa setampan dia'. Kembali memperhatikan Ares. Sedangkan yang di perhatikan melihat kearah Sean dan Zean.


Zean dan Sean mendekat ke arah sofa. " Wah.. apa kau yang bernama ustadz itu? ". Tanya Sean dengan antusias.


Ares tersenyum mendengarnya. Bernama ustadz? Yang benar saja. Apa semua penghuni mansion itu tidak waras!


Senyuman yang mampu membuat orang yang melihat tersihir, dan seperti selalu ingin melihatnya. Lyza bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya.


" Waw kau sangat tampan ". Ujar Sean kembali


" terimakasih ". Jawab Ares.


" Hei apa yang kau lakukan Zean! ".


" Ck diamlah ". Tegas Zean yang langsung membuat Sean terdiam.


" Sam... Apa kau tidak tau cara melayani seorang tamu. Cepat sediakan minuman!! ". Pekik Lyza.


" Maaf Nyonya. Akan saya sediakan ". Pak Sam menepuk kedua tangannya, dan datang lah dua orang pelayan wanita sembari membawa sebuah botol wine dan juga gelas.


Kedua pelayan tersebut menaruhnya di meja hadapan Lyza dan juga Ares. Setelah nya mereka segera undur diri.


Lyza mengambil botol wine tersebut dan menuangkan ke dalam gelas. Ke gelas Ares dan juga dirinya. " Silahkan pak Ustadz ". Ujar Lyza. Sekarang ia benar-benar sudah tertarik dengan pria di hadapannya saat ini.


" Maaf nona.. bukannya saya ingin menolak, tapi saya tidak minum wine ". Tolak Ares


" Why? Apa kau tidak menyukainya? ". Bagaimana bisa ada orang yang menolak di beri wine. Minuman yang dapat menenangkan mu dalam hiruk pikuk nya dunia ini.


" Yah begitulah nona ".


" What!! Oh my God... Jangan bilang kau tidak pernah minum wine seumur hidup mu? ". Ares hanya tersenyum sembari mengangguk.


" Hahhh!! Pak ustadz apa kau dari dunia lain! Orang mana yang bisa menolak wine!! ". Pekik Lyza. Sean manggut-manggut membenarkan ucapan Lyza, sedangkan Zean dan Pak Sam hanya diam dan mengerti alasan di balik Ares yang menolak minum wine.


'hahahah wanita ini sungguh lucu. Ah menggemaskan. Rasanya ingin langsung ku bawa pulang, dia sangat lugu dan polos! Apa benar dia seorang ketua mafia!'. Batin Ares yang sedari tadi hanya bisa tersenyum di luar.


" Maaf nona ... Tapi saya tidak minum minuman haram seperti itu ". Akhirnya Ares mengatakan yang sebenarnya.


Sontak Lyza langsung melihat gelas yang berisi wine di tangannya. " Haram? Jadi yang seperti ini disebut haram? ". Tanpa sadar Lyza mengatakan nya. Sedari tadi dia memang bertanya-tanya dengan haram yang di maksud oleh Ares.


" Yah seperti itulah nona ".


" Jadi apa yang ingin pak ustadz katakan? ".


" Sebelum nya saya ingin memperkenalkan diri. Nama saya Muhammad Antares Warrent ". Ucap Ares. Dan diam-diam ia melirik ekspresi apa saja yang diberikan oleh keempat orang di situ.


Lyza nampak biasa saja. Ia memang tidak terlalu tahu dunia luar kecuali dengan dunia bawah. Yang ia tahu hanya perusahaan yang sangat besar dan di takuti di dunia bawah yaitu perubahan berlogo W.


Sama, Sean nampak biasa saja. Ia seperti Lyza yang tahu banyak hal seperti itu, selama ini ia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.


Sedangkan Zean dan Pak Sam nampak terkejut. Apa perkataan Ares sungguhan? Apa ia tidak memikirkan terlebih dahulu baru mengatakan nya? Dan jika memang benar, untuk apa seorang CEO dan tuan muda dari keluarga Warrent datang ke mansion Keluarga Aran.


'hahaha lihatlah wanita ini. Dia benar-benar polos, apa dia tak pernah keluar rumah, ahhh wajahnya sungguh menggemaskan. Astaghfirullah.... Khilaf lagi'. Sejenak Ares mengusap wajahnya kasar. Sebenarnya sihir apa yang digunakan wanita di depannya itu sampai-sampai dia tak bisa berpaling.


" Ohh.. Baiklah aku juga akan memperkenalkan diriku. Perkenalkan namaku Gerilya Lyza Anataran. Kau bisa memanggilku Lyza ". Balas Lyza santai.


" Baiklah Lyza ". Ares mengeluarkan map besar dari tas nya. Ia membukanya dan memberikan sebuah foto. Foto yang diberikan oleh ayah Angga kepadanya waktu itu.


Lyza menerima foto tersebut. Keningnya mengerut. " Hmm bukannya kakek buyut wilsen. Dan yang disampingnya kalo tidak salah kakek Michel ". Ujar Lyza setelah melihat foto tersebut.


Lyza Memang tak pernah bertemu dengan kakek buyut nya, namun pengasuh dan granpa selalu membicarakan tentang kehebatannya, bahkan kakek buyut Wilsen ikut terbawa-bawa. Karena itulah Lyza bisa mengenali orang yang ada di foto tersebut.


" Apa pak ustadz bisa jelaskan? Tidak perlu basa basi seperti ini ".


Ares tersenyum. " Baiklah kalo kamu mau saya langsung to the point ". Menghentikan sejenak perkataan nya. Ares mengambil nafas. " Saya datang kesini untuk melamarmu dan mengajak mu menikah ". Lantang dan tegas Ares.


Ke-empat orang tersebut melongo. What!! Apa dia sudah tak punya otak melamar seorang ketua mafia!!?.


Detik kemudian. " Hahahaha ". Tawa Sean pecah. Ia tak sanggup menahan tawanya.


Zean langsung menjitak kepala adiknya. " Jangan berisik! ". Geram Zean. Sean langsung diam dan menunduk. Bagaikan seorang anak kecil yang dimarahi.


'apa maksud nya! Jika memang dia seorang tuan muda dari keluarga hebat itu, kenapa dia datang untuk melamar seorang ketua mafia'. Batin Zean bingung. Namun ia diam saja, mungkin dengan menikahnya Lyza dengan seorang ustadz mampu membuat Lyza berubah.


Lyza terkekeh, ia sedikit menunduk lalu detik kemudian Lyza mengangkat kepalanya dan melihat Ares lekat. " Hei... Pak ustadz apa kau bodoh? Oh tidak kau bukan bodoh lagi! Tapi sudah tidak waras! Ah aku tau kau dari planet lain kan. Your kidding me?! Kau tau siapa yang sedang kau lamar ini kan!! ". Ujar Lyza dengan wajah remeh dan senyuman mengejek.


Ares tersenyum ramah mendengar dan melihat tatapan mengejek dan merendahkan dari Lyza. 'walaupun dia polos tapi sangat hebat dalam mengintimidasi'.


" Saya serius. Saya memang datang baik-baik untuk melamar mu ". Memperlihatkan wajah seriusnya. Ia tidak ingin di anggap main-main.


Wajah Lyza kembali serius. " Apa kau bercanda denganku? Aku ini seorang ketua mafia loh ". Heran Lyza melihat pria di depannya, apa dia tidak takut!


" Memangnya kenapa kalo kamu seorang ketua mafia? ". 'lagipula dari dulu aku memang sudah sering berurusan dengan para mafia yang ingin membunuh ku'.


" A.. apa!!! Ohh kau sungguh bodoh! Sebenarnya apa mau mu! ".


" Saya sudah bilang bukan. Saya datang kesini untuk melamar mu nona Gerilya Lyza Anataran! ". Menekankan nama Lyza.


Lyza tersenyum miring. " Apa kau yakin? ". Kembali memperlihatkan senyum mengejek.


" Tentu! ". Yakin Ares


" Tapi aku seorang penyuka sesama jenis, apa kau yakin masih bisa menerimaku? Aku tidak akan bisa menghangatkan ranjang mu loh ".


Ares kembali tersenyum yang membuat Lyza kesal dibuatnya. Apakah pria di depannya itu tak bisa sekali saja berhenti tersenyum. " Tenang saja Lyza, aku sedang mencari istri bukan mencari penghangat ranjang ".


Lyza semakin heran, ia juga tak ingin menikah tak ingin terjerat suatu ikatan yang merepotkan. Namun bagaimana caranya ia menolak? Rasanya tidak ingin di tolak, Lyza ingin menembak mati orang di depannya tapi ada sesuatu dalam dirinya yang menghentikan Lyza. Eh!! Tunggu dulu.. 'kenapa pak ustadz ini mau menikah dengan ku!!'. Seharusnya sudah dari tadi Lyza menanyakan nya.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like Komen dan votenya