
" tunggu disini dulu yah Gi .. aku mau ke atas dulu ". Kata Lyza
" Aku juga ... Tunggu disini dulu ". Timpal Ares
Egi dengan santainya duduk di bar dapur. " Iya... Tapi jangan lama-lama... Oh yah.. biar aku yang masak saja, bagaimana? ". Ucapan Egi sontak membuat Ares melihat heran ke arahnya.
" Memangnya kamu bisa masak? ". Tanya Ares dengan wajah Heran
" Hei.. jangan merehkan ku ". Ucapnya percaya diri.
" Baiklah... Nanti aku akan membantumu ". Kata Lyza dan meninggalkan Egi dan Ares. Lyza percaya kalau Egi bisa masak, karena orangnya sendiri yang mengatakan bisa.
" Baik... Semuanya akan tersedia sebelum anda turun ". Lagi-lagi Egi berkata percaya diri.
" Jangan membakar dapur ku ". Ares masih belum percaya, namun karena sang istri sudah percaya yah Ares hanya mengikuti.
" Tidak akan... Sudah sana... ". Mendorong tubuh Ares dari belakang.
Ares pun naik ke atas kamarnya. Dan tinggallah Egi sendiri di dapur. Ia membuka ponselnya dan mencari resep makanan didalam serta cara membuat nya.
" Heh! Ini mah gampang ". Ucapnya enteng, dan mulai berkutat.
Sedangkan di dalam kamar.
" Memangnya Egi bisa masak yah, by? ". Tanya Lyza sembari melepas hijabnya
" Entahlah... Tapi seingat ku, aku tidak pernah melihat Egi memasak ". Memeluk Lyza dari belakang lalu mencium pipinya gemas.
" Eh! Kalau begitu aku harus turun cepat-cepat.... Bagaimana kalau Egi tidak bisa masak dan malah membakar dapur? ". Raut wajah Lyza mulai panik
" Tenang saja... Walaupun Egi tidak bisa masak, setidaknya dia tidak akan melakukan hal ceroboh ". Masih nyaman memeluk Lyza dari belakang.
Lyza berbalik. Ia mengecup singkat bibir sang suami. " Tapi aku tidak mau sampai Egi melakukan hal-hal yang bisa membuat dapur kesayangan ku rusak ". Kekeh Lyza dengan wajah cemberut.
Ares terkekeh lalu mencium bibir Lyza singkat. " Baiklah... Nanti aku susul ke bawah ". Melepas pelukannya, dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Sedangkan Lyza yang memang sudah membersihkan tubuhnya di kantor tadi, hanya mengganti pakaiannya dengan piyama bercelana panjang dan lengam baju yang panjang serta kembali memakai jilbab instan panjang nya.
Ia pun turun kebawah melihat apakah Egi benar-benar menyelesaikan masakannya.
Sesampainya di dekat dapur sama sekali tidak ada suara yang menyebabkan kebakaran dapur ataupun hal yang berbahaya, Lyza sedikit lega akan hal itu.
" Mungkin sih ayam memang bisa masak ". Masih suka menyebut Egi dengan ayam, walaupun biasanya Lyza mengatakan nya saat seorang diri.
Ia pun kembali melanjutkan langkahnya dengan perasaan sedikit lega. Sesampainya di dapur, dilihat Egi yang sedang menggunakan celemek tengah menghadap kompor serta wajan. Ia terlihat menaruh minyak di dalam wajan.
Lyza tidak bisa melihat wajannya karena terhalang tubuh besar Egi, hingga Egi sedikit menepi.
Mata Lyza seketika membulat. Dengan langkah cepat nya ia menuju ke arah Egi. " Astaghfirullah Egi... Apa yang kau lakukan sebenernya!! ". Pekik Lyza saat melihat di dalam wajan penuh dengan minyak, bahkan Lyza juga melihat ada sebungkus kantong minyak yang di perkirakan berisi dua liter di atas tempat sampah.
Lyza cepat-cepat mematikan kompor. Egi terkejut melihat Lyza yang sudah ada di samping nya.
" Nyonya... Kenapa anda mematikan kompor nya ". Hendak menyalakan kembali kompor tersebut, namun Lyza segera menepisnya.
" Sebenarnya apa yang kau lakukan. Dasar ayamm!!! Kau menghabiskan dua liter minyak dan memasukkan ke dalam wajan!! ". Memasang wajah garang.
Egi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Panggilan ayam terdengar kembali setelah cukup lama ia tidak mendengarnya kembali. " Apalagi nyonya... Saya ingin menggoreng tempe yang sudah anda potong-potong ".
" Ya Allah, Gi... Kamu mau menggoreng tempe atau mau menggoreng minyak sih... Ini sangat banyak!! Apa kamu tidak tahu kalau harga minyak sangat mahal dan langkah!!! ". Gerutu Lyza
" Eh! Apa iya! Tapi 'kan, anda sangat kaya nyonya.. jadi..___ ".
" Apa!! ". Mengangkat spatula tepat di wajah Egi. " Ibu-ibu di luar sana pasti menangis melihat tingkah mu ". Gerutu Lyza. " Minggir ". Ia hendak memperbaiki kesalahan Egi.
Egi bagai sapi yang di cucuk hidungnya yang hanya menurut apa yang di katakan Lyza.
Ares turun dan hendak menghampiri Lyza dam Egi, ia sedikit mendengar Omelan sang istri. Akhirnya ada yang bernasib sama seperti dirinya. Baru selangkah ia masuk kedalam dapur, Ares langsung menghentikan langkahnya saat mendengar pekikan Lyza lagi.
" Astaghfirullah Egi... Kamu apakan minyak di dalam toples ini ". Mengangkat sebuah toples yang biasanya Lyza tarus minyak sisa.
" Oh.. saya buang nyonya... Hebat 'kan, saya membuang sampah yang tidak berguna ". Ucapnya percaya diri. Sedangkan Ares yang melihatnya menahan tawa sembari meneguk Saliva nya.
Lyza yang mendengar jawaban dari Egi terlihat sangat kesal. Sampah tidak berguna? Yang benar saja, bukannya dia yang tidak berguna disini. Pikir Lyza
Prangkk...
bugh..
bugh..
Lyza memukul Egi dengan spatula di tangannya. " Kamu benar-benar tidak berguna.... Sampah-sampah.. kamu yang sampah... Minyak itu masih bisa di gunakan ". Sungguh Lyza sangat ingin berbicara kasar kali ini, namun ia menahannya dan mengeluarkan semuanya dengan pukulan yang di berikan pada Egi.
" Aw ... Aw.. nyonya.. ampun.. Auch saya tidak tahu kalau minyak bekas yang penuh lemak itu masih anda gunakan ". Menahan spatula yang di pegang Lyza di atas kepala.
" Sudah sayang... Lagi pula Egi 'kan, memang tidak tahu ". Ares datang menengahi. Dan tentu kedatangan Ares bak sebuah harapan terang bagi Egi.
Lyza berbalik melihat Ares. " Haiss.. mending bawa asisten mu yang tidak berguna ini, by. Kalau dia Disni terus aku tidak akan tahan untuk tidak memukul nya ". Kata Lyza
" Siap bos ". Dengan cepat Egi berlari keluar dapur diikuti oleh Ares. Sangking cepatnya ia lupa melepas celemek nya.
Lyza kembali melihat minyak yang sudah di buang Egi. " Ibu-ibu di luar sana pasti akan mengeroyok Egi dengan tingkah nya ini ". Melanjutkan masakan Egi atau lebih tepatnya mungkin kekacauan yang di buat Egi.
" Celemek nya masih kamu pake loh, Gi ". Duduk di sofa ruang tv.
Egi melepas celemek nya dan menaruhnya di sandaran sofa lalu ia duduk di samping Ares. Ia menghela nafas. " Aku benar-benar takut dengan kemarahan istri mu, Res ". Ucapnya dengan nada lemah
Ares terkekeh. " Akhirnya ada yang senasib dengan diriku ".
Sontak Egi menatap Ares. " Maksud mu? Kamu juga pernah di pukul pake spatula? ".
" Hahah bukan pake spatula sih... Lebih tepatnya Lyza memberikan pukulan manjanya ". Dan di akhir kalimat Ares kembali Terkekeh.
Ia mengingat bagaimana marahnya Lyza saat tanpa sengaja Ares menumpahkan minyak di lantai. Untung saja waktu itu Lyza cuman memberikan omelannya untuk Ares, yah walaupun disertai dengan pukulan manjanya.
Egi memutar bola matanya. " Tapi aku memang pernah dengar sih, kalau sekarang minyak memang mahal ".
" Yah katanya seperti itu ". Timpal Ares
" Memangnya harga minyak berapa? ". Apakah semahal itu sampai membuat Lyza yang suaminya seorang konglomerat marah seperti itu.
" Hmm aku juga kurang tahu ". Menaruh jaringa di atas dagu. ". Kalau tidak salah... Ada yang sampai lima puluh ribu untuk ukuran besar ".
" What!! Cuman lima puluh ribu, istri mu sampai marah-marah seperti itu? Kau tidak jatuh miskin 'kan? ".
" menurut mu? ". kembali bertanya
" yah jangan tanya saya bos... bos 'kan orang yang sangat kaya, jadi tidak mungkin jatuh miskin ".
Ares hanya geleng-geleng mendengar perkataan Egi " Mungkin bagi kita, lima puluh ribu memang hal yang sedikit... Tapi tidak bagi sebagian orang di luar sana.. makanya Lyza marah saat kau menghabiskan minyaknya ". Jelas Ares.
Yah.. Lyza sangat tahu perih dan susahnya mencari uang. Apalagi jika memang uang itu di dapatkan dengan cara legal, bukan seperti Lyza yang ilegal, dulu. Saat ia masih tinggal bersama ayah dan ibu tirinya, kadang Lyza tidak di beri makan... Karena itu, Lyza harus mencari uang ke kota. Mengemis, tidak! Lyza tidak suka meminta-minta. Lyza biasanya akan mengamen atau menjual tisu di jalanan.
" Benar juga.... Astaghfirullah... ". Mengusap wajahnya kasar. Sekarang Egi merasa bersalah.
Tak lama kemudian...
Lyza datang memanggil mereka untuk makan. Mereka bertiga pun makan dengan khidmat. Inginnya seperti itu, namun Egi selalu berbicara saat ia makan.
Dan tidak ada yang melarangnya. Kenapa? Yah karena Egi berceloteh dengan memuji masakan Lyza. Ares malah senang saat ada yang memuji masakan Lyza, sebab masakannya memang sangat enak.
Setelah makan...
" Nyonya... Seharusnya anda membuka restoran, bukan menjadi ketua mafia.. ". Menyandarkan punggungnya di kursi makan, ia terlalu kenyang.
" Ya.. ya.. ya.. sekarang angkat piring mu, dan bawa ke wastafel ".
" Eh! ". Sontak Egi mengangkat kembali tubuhnya. Ares yang melihat reaksi Egi hanya tertawa sembari mengangkat sendiri piringnya menuju wastafel.
" Cepat Gi ".
" Iya nyonya... ". Akhirnya berdiri lalu mengambil piringnya yang kotor. Ia melakukan hal seperti ini, sebab melihat sang bos yang mengangkat piring kotornya sendiri.
Setelah semuanya beres, mereka bertiga kembali ke ruang tv untuk duduk santai sembari mengobrol ringan. Sampai Egi pulang.
Lyza dan Ares kemudian masuk kedalam kamar bersiap untuk tidur. Namun sebelum tidur, kadang mereka mengobrol ringan di atas ranjang sembari berpelukan tanpa melakukan adegan panas. Seperti saat ini.
Sekarang Lyza sedang bersandar di dada bidang sang suami. Dan tak henti-hentinya Ares mencium rambut Lyza yang menurutnya sangat harum. " By hentikan... Aku geli ". Ucap Lyza dan akhirnya Ares menghentikan aktivitas nya.
Tangan Ares masuk kedalam selimut lalu mengelus perut Lyza. " Ahkk By ... ".
Ares terkekeh. " Maaf... Kapan yah hasil kerja keras kita setiap malam membuahkan hasil? ". Masih mengelus perut Lyza.
Awalnya Lyza bingung, namun lama-lama ia mengerti maksud Ares. " Semoga kita cepat di beri kepercayaan ".
" Aamiin... ".
" Memangnya kalau misalkan aku hamil, terus anak perempuan atau anak laki-laki... By, udah punya nama untuk mereka, tidak? ". Tanya Lyza. Ia juga ingin cepat-cepat di beri momongan.
" Hmmm iya sudah ada... ".
Lyza mendongak melihat sang suami. " Apa by? ".
" Kalau perempuan.....__ ". (Masih rahasia guys😌✌️)
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️