My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Taruhan



Pria di depan Lyza tetap kekeh ingin menikahi Lyza. Entah apa yang sedang dipikirkan nya.


" Baiklah Lyza, kalo kamu diam seperti ini apa saya bisa menganggap kamu setuju dengan lamaran saya? ".


" Tunggu dulu! Kenapa kau melamar ku? ". Akhirnya terlontar pertanyaan yang membuntung di kepala. Lyza mulai curiga, bisa saja pria tampan di depannya ini adalah mata-mata musuh yang sengaja mengalihkan perhatian Lyza.


Ares menarik nafasnya. " Baiklah Lyza akan saya ceritakan. Dulu kakek Wilsen dan kakek Michel adalah sahabat. Mereka berjanji akan menikahkan anaknya namun saat lahir semua anaknya laki-laki. Perjanjian itu kemudian turun ke orang tua kita, namun ayah dari ibumu lebih dulu menikah kan nya dengan seseorang. Jadi, perjanjian nya turun sampai saat ini, sampai generasi kita. Itulah sebabnya saya datang melamarmu ". Jelas panjang lebar Ares


" What!! Tunggu dulu! Kau bilang generasi kita? Jadi maksud nya kamu cucu kakek Michel? ". Ares mengangguk menanggapi.


Lyza nampak berfikir. 'ahhh sial! Aku baru ingat jika dulu granpa selalu menyinggung tentang perjanjian ini. Shitt'.


" Apakah masih ada pertanyaan lagi? ". Ares Kembali membuka suara. Ia benar-benar terhibur melihat wajah frustasi Lyza.


" Tidak! Aku tidak ingin menerima lamaran ini. Perjanjian? Itu hanya tentang masa lalu, dan tidak ada hubungannya dengan ku! ".


" Maaf nona Lyza, namun perjanjian tetaplah perjanjian ".


Brakkk...


Lyza menggebrak meja didepannya. " Hei... Apa kau benar-benar bodoh. Aku ini seorang ketua mafia loh. Otak mu kau taruh dimana!!! ".


Ares kembali tersenyum. Ia hanya bisa beristighfar di dalam hati. Otak?! Yang benar saja, sebenarnya Ares sudah kesal dengan makian Lyza. Cuman ia mencoba untuk tetap tenang dan sabar. Orang yang sedang di hadapan nya ini adalah seorang ketua mafia yang memang dimanja.


Ares duduk tegap. Ia menyilangkan kakinya dan tersenyum licik. Auranya tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mengintimidasi, hal tersebut membuat ketiga orang disitu sedikit menciut, kecuali Lyza yang memang tak takut jika di intimidasi seperti itu. Ia bahkan membalas Ares dengan tatapan tajam. Walaupun Lyza sempat terkejut melihat perubahan hawa dan aura dari ustadz tampan di depannya.


'dia benar-benar seorang tuan muda dari keluarga Warrent'. Batin bersamaan Zean dan Pak Sam.


'woww apa-apaan ini. Apa pak ustadz ini bukan orang biasa!?'. Batin Sean. Sama halnya dengan ketiga orang disitu, ia juga terkejut.


" Ingat saya juga hanya di amanahkan janji ini dan saya harus menepati nya. Oh.. atau apakah nona Lyza takut? ". Mengangkat sebelah alisnya.


Lyza semakin mengunuskan tatapan tajamnya. " Takut? Kenapa aku harus takut! ".


" Iyya, bisa saja kau takut dengan pernikahan ini dan takut jatuh cinta dengan saya? ". Tersenyum manis.


" Heh! Kenapa aku harus takut. Tak ada yang perlu di takutkan dengan sebuah hubungan, oh.. apa jangan-jangan kamu sengaja mengatakan hal ini, karena sudah jatuh cinta dengan ku!? ". Sama, ia juga mengangkat sebelah alisnya. Gaya duduk Lyza dan juga Ares mirip. Cuman tatapan mata mereka yang berbeda.


'oh.. rupanya dia memang seorang ketua mafia'. Tidak di sangka Lyza sama sekali tidak bergeming melihat perubahan yang di berikan Ares.


" Hhhh kalo kamu tidak takut, kenapa menolak keras perjodohan ini? Dan untuk jatuh cinta. Entahlah bisa jadi saya memang sudah jatuh cinta dengan anda! ". Terkekeh dan tersenyum mengejek.


" Apa!!! Jangan bercanda seorang Lyza tidak akan takut apapun ". Lyza semakin tersulut emosi. Takut?! Heh kata-kata itu tidak ada dalam kamus Lyza.


" Jadi, kenapa kamu menolak perjanjian perjodohan ini! Bagaimana kalo saya beri usulan. Yah tergantung nona Lyza, mau menerima atau tidak ". Mengangkat kedua tangannya setinggi bahu, seolah tak tahu apa-apa. Namun senyuman yang di berikan nya tetap membuat Lyza emosi.


" Baiklah, katakan usulan mu ". Ujar Lyza dingin


'berhasil!'. " Bagaimana kalo kita taruhan? ".


Lyza menyerngitkan dahinya. " Taruhan? Kau yakin, aku Sangat hebat dalam hal keberuntungan ".


" Iya.. kita tetap akan menikah sesuai janji tersebut. Tiga bulan! Jika dalam tiga bulan di antara kita ada yang menyatakan cinta terlebih dahulu, dia yang kalah. Dan jika aku yang menang, maka pernikahan kita akan tetap berlangsung walaupun melebihi tiga bulan. Tapi kalau kamu yang menang, kamu bisa menggugat cerai aku atau tetap mempertahankan pernikahan ini ". Menaikkan tiga jarinya.


Lyza tampak berfikir. Menikah? Ah.. sesuatu yang sangat di benci Lyza. Namun, jika ia menolak sudah dipastikan pria di depannya ini akan menganggap Lyza takut, mau di simpan dimana harga diri seorang Lyza.


" Baiklah aku terima! ". Tersenyum licik. 'menyatakan perasaan? Heh! Itu tidak mungkin bagi ku!'.


'berhasil. Maafkanlah hamba mu ini ya Allah hamba telah mempermainkan pernikahan seperti ini, semoga kedepannya akan berjalan lancar'.


" Namun, ada beberapa syarat yang harus di patuhi ".


" Syarat? Hei.. enak saja, aku sudah berbaik hati menerima tantangan mu, kenapa malah jadi ada syarat nya ". Lyza benar-benar dibuat kesal dengan ustadz tampan di depan nya.


Ares menarik ujung bibirnya. " Apa kau takut? ".


Lyza yang mendengarnya dibuat geram.


" Hei.. Nyonya Lyza tak akan takut! Terima saja nyonya ". Sahut Sean yang ikut geram melihat Ares. Siapa Ares boleh menghina dan merendahkan Nyonya nya.


Lyza tak melihat Sean, ia masih setia menatap Ares. Benar apa yang dikatakan Sean ia bukan orang yang dapat di hina dan direndahkan begitu saja. Walaupun sedikit tak terima, namun untuk mempertahankan harga diri Lyza pasti akan menerimanya.


Walaupun Lyza dan juga Sean sama-sama polos jika harus dihadapkan dengan situasi keaadan luat dunia, namun dalam hal menyiksa kedua orang itu jagonya.


Ares memperhatikan Sean dan Lyza, kedua orang ini bukannya terlalu polos dan gampang ter- provokasi?. Ares melirik melihat Zean dan Pak Sam. Zean yang tampak tenang bahkan memberikan wajah datar membuat Ares bertanya-tanya!.


Dari informasi yang di dapatkan Ares. Zean dan Sean merupakan anak yatim yang di adopsi oleh tuan Aran.


" Ck baiklah katakan syaratnya ".


Ares tersenyum menang. " Gampang. Saya akan memberikan tiga peraturan untuk nona Lyza, sebaliknya anda juga memberikan tiga peraturan untuk saya. Dan ingat! Peraturan itu harus di tepati. Jika tidak maka akan di anggap kalah, ohh dan tentu saja yang kalah adalah pecundang ". Mengangkat sebelah alisnya. Ia benar-benar terhibur Melihat tatapan tajam Lyza.


" Cuman seperti itu? Baiklah katakan apa syarat mu ".


" Baik yang pertama kamu dilarang melakukan transaksi ilegal selama tiga bulan. Yah selama kita menjalani kehidupan rumah tangga ". Ucap Ares.


" Baiklah. Lanjutkan ". Santai Lyza. Ia sama sekali tak keberatan, lagi pula transaksi yang biasa ia lakukan berjalan sekitar enam bulan sekali atau tiga bulan sekali, untuk menghindar dari anjing-anjing pemerintah.


" What!! Apa maksudmu aku tidak bisa minum wine! Hei... Orang bodoh mana yang bisa tahan tak minum wine ". Jika untuk tidak bermain wanita, akan dengan senang hati Lyza menurutinya. Lagi pula ia bermain wanita selama ini hanya karena kesepian dan melampiaskan hasratnya yang tak terpengaruh saat bersama pria.


Namun jika harus di larang minum wine?! Oh.. maaf saja Lyza tak akan terima. Wine adalah obat satu-satunya dia untuk melupakan hiruk pikuk dunia ini. Bagaikan sebuah obat terlarang, itulah fungsi wine bagi Lyza.


" Seharusnya itu gampang untuk seorang nona Lyza bukan? ". Tampang Ares sungguh membuat Lyza ingin menembak mati ia di tempat.


Lyza nampak berfikir. " Baiklah aku setuju ".


" Yang ketiga sangat gampang. Kamu hanya harus menjaga sopan santun mu di depan keluarga ku ".


" Kenapa aku harus melakukannya? Bukannya kalian yang memutuskan akan menikahiku. Jadi untuk apa aku harus sopan ".


" Tentu saja kau harus sopan, walau bagaimanapun kedua orang tua saya akan menjadi mertua mu. Yang artinya mereka juga akann menjadi kedua orang tua mu ".


" Ck terserah. Itu saja kan? ". Dan Ares mengangguk.


" Sekarang giliran mu. Tapi ingat! Jangan pernah melarang saya menjalani peraturan agama saya apalagi menyuruh saya untuk tidak mengikuti kata-kata tuhan saya! ".


" Aku tahu ". Singkat Lyza.


Lyza nampak berfikir. Entahlah ia tidak tahu harus memberikan syarat apa pada pria di depannya ini. Informasi ustadz tampan di depannya terlalu minim, ia terlalu meremehkan nya.


" Aku akan mengatakan nya setelah kita menikah ".


" Baiklah terserah kamu ". Tersenyum manis


" Kau tidak keberatan? ".


" Tentu tidak, selama hal itu tak keluar dari ajaran agama saya. Maka akan saya terima ". Ujar Ares dengan senyuman manis


Lyza tersenyum sinis. " Heh! Sepertinya kau sangat percaya akan tuhan mu ".


" Tantu saja ". Mantap Ares, membuat Lyza memutar bola matanya.


Hanya orang-orang lemah yang percaya dan bergantung pada tuhan. Pikir Lyza, namun melihat orang di depannya membuat keyakinan ia menjadi sedikit goyah.


" Karena sudah tidak ada lagi, bagaimana kalau kita bahas masalah pernikahan kita? ". Kembali pada sosok nya yang pertama. Tak ada aura mengintimidasi dari Ares sekarang, semuanya damai.


" Baiklah lanjutkan ".


Ares tersenyum. Memang tidak gampang meyakinkan seseorang yang tak ingin terikat suatu pernikahan untuk bersama-sama membangun sebuah keluarga. " Besok saya dan keluarga saya akan datang kesini melamar mu? Bagaimana? ".


" Tidak! Hal itu tidak perlu. Langsung menikah saja, tidak usah banyak basa basi ". 'hahh pasti merepotkan'.


" Kenapa? Bukannya bagus jika kita menikah persis dengan orang-orang ".


" Hei... Sudah terlambat mengatakan seperti itu. Memangnya ada yang menikah dengan cara taruhan? ".


'benar juga yah'. " Baiklah kita akan langsung mengadakan acara ijab qobul. Bagaimana dengan resepsi? ".


" Tidak perlu ". Ketus Lyza. Tidak mungkin bukan jika dia akan menikah dengan acara besar-besaran, ingat! Lyza adalah seorang ketua mafia. Ada banyak musuh yang mengintainya.


Melakukan hal yang mencolok malah akan memancing para musuh agar menyerang Lyza. Pernikahan yang seharusnya menjadi ladang kebahagiaan, akan berubah menjadi lautan darah.


Ares menghela nafas. Sudah ia duga ini tidak akan mudah. " Baiklah asal kau ingin menikah saja itu sudah bagus ".


" Tunggu dulu! Bukannya jika agama berbeda maka pernikahan tidak dapat berlangsung? ". Celetuk Sean.


Zean melihat Sean. 'tumben yang di katakan nya benar'. Namun sayang, perkataan nya sekarang tak dibutuhkan.


Lyza nampak berfikir, ia membenarkan perkataan Sean. 'granpa pernah mengatakan hal yang sama'.


Ares lagi-lagi hanya tersenyum. Ia menyodorkan sebuah kertas. Lyza menyerngitkan dahinya. Kertas apa lagi ini! Sebenarnya ada berapa banyak kertas yang di bawah oleh orang ini!


Walau begitu, Lyza tetap mengambil kertas tersebut. Ia memperhatikan nya baik-baik.


" What!!! Jadi aku beragama Islam?!!!! ". Pekik Lyza


" Hah!? ". Sean bengong mendengar perkataan Lyza. Sedangkan Zean santai, karena ia memang sudah mengetahuinya. Pak Sam juga tak kalah santai, ia sudah menduga hal tersebut. Melihat tuan Aran beragama Islam tentu cucu nya juga pasti beragama Islam.


'untung aku sempat memasukkan kertas itu. Tapi, yang benar saja dia tidak tahu kalau punya agama! Sebenarnya apa yang selama ini dia lakukan?!'.


" Tidak akan ada masalah bukan? ". Sepertinya Ares menguasai jalan main perdebatan ini.


Lyza Melihat sekilas ke arah Ares, lalu kembali melihat kertas yang ada di tangannya. Kertas itu berisi fotocopy KTP nya. Sangat jelas bertuliskan beragama Islam. Lyza Memang tak terlalu memusingkan dengan KTP, ia adalah seorang ketua mafia. Hal-hal yang dilakukan Lyza semuanya ilegal tak perlu legal. Apalagi yang paling penting Lyza tidak percaya tuhan.


" Tiga hari lagi, saya akan menyuruh supir saya untuk menjemput anda, nona Lyza. Dan membawa anda ke masjid tempat ijab qobul dimulai ".


" Sebelum itu, akan ada paket untuk anda nona. Paket itu mohon agar memakai nya saat proses ijab terjadi. Bagaimana? ".


Lyza mengangguk, ia masih syok dengan kenyataan yang ada. Sebenarnya dirinya siapa? Bahkan ia sendiri punya agama tapi sama sekali tak mengetahui nya.


TBC


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya