
Mentari menembus sela-sela jendela kamar yang dimana masih ada pasutri yang masih terlelap dalam tidurnya, setelah tadi subuh mereka bangun sholat dan kembali melakukan aktivitas panasnya.
Dengan keadaan masih telanjang tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, Perlahan mata Lyza membuka. Ia mengerjap berkali-kali untuk membiasakan matanya. Setelah terbuka maksimal, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah tidur sang suami. Tampan bukan? Pastinya, kalau tidak tampan mana mungkin Lyza tertarik dari awal mereka bertemu.
Bukannya memang seperti itu yah? Hal pertama yang membuat seseorang tertarik atau menyukai orang lain karena dari wajahnya? Benar bukan!.
Lyza tersenyum melihat wajah sang suami, ia masih tidak menyangka akan hidup normal seperti ini. Ah... Wajah Lyza langsung memerah mengingat adegan panas mereka tadi malam dan juga subuh tadi.
Lyza perlahan memegang hidung mancung sang suami, ia mengecupnya lalu dengan perlahan memindahkan lengan kekar Ares yang ada di pinggang nya, setelah nya Lyza bangkit dari tidurnya.
Lyza perlahan mengambil pakaian yang tergeletak di bawah tempat tidur dengan menyondongkan sedikit badannya. Setelah berhasil mengambil bajunya, Lyza segera memakai kembali baju tersebut dan perlahan turun dari kasur.
Perih? Tentu, di bagian inti tubuhnya terasa perih. Namun itu tidak akan membuat Lyza menjadi manja ataupun terbaring di tempat tidur begitu saja. Lyza sering berolahraga, tentu badannya cukup atletis dan kuat. Ingat bukan! Tidak ada lemak di bagian perut Lyza, sungguh perutnya sangat rata.
Lyza masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah mandi dan memakai baju, Lyza turun ke bawah tepatnya di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Bi Ija nanti akan datang saat jam makan siang sampai sore dan pulang kembali, namun gajinya masih tetap sama. Membuat Bi Ija tambah bersemangat bekerja.
Ares meraba-raba tempat tidur di sebelahnya. Atas bawah, tidak ada yang didapatinya. Membuat Ares terpaksa membuka mata yang masih berat. " Hmm Lyza kemana? ". Gumam Ares dengan suara serak.
Ares duduk dan celingak-celingukan mencari Lyza, namun tetap tidak ada Lyza yang sedang dicari.
Ares akhirnya bangun dari tidur dan membersihkan badannya. Setelah siap-siap dengan baju rumah, Ares turun kebawah mencari sang istri.
Dan benar saja, Ares melihat Lyza sedang asik berkutat dengan peralatan dapur. Lyza semakin seksi dan menggemaskan di mata Ares hanya dengan Lyza memakai baju terusan kaos sampai lutut berwarna putih, serta rambut Lyza yang di gulung ke atas, dan jangan lupa celemek nya.
Dengan senyuman menggoda, Ares melangkah mendekati Lyza dengan sangat hati-hati tanpa menimbulkan suara agar Lyza tidak menyadari kedatangan nya. Ingat! Lyza mempunyai kepekaan yang sangat tinggi.
Greb..
Ares memeluk pinggang Lyza dari belakang. " Morning sayang ". Mencium pipi Lyza, lalu meletakkan kepalanya di pundak Lyza.
" Astaghfirullah, by... Jangan bikin kaget ". Terlonjak kaget. Kalau tidak mengingat cinta Lyza, sudah dipastikan spatula yang di pegang Lyza sudah mendarat di kepala sang suami.
Ares terkekeh. " Masak apa sayang? ".
" Nasi goreng ". Singkat Lyza
" Kok kamu yang masak sih, seharusnya kan aku yang masak ". Ujar Ares dengan nada merengek.
Lyza melihat ke samping dimana kepala Ares yang tepat berada di pundaknya dan pipi mereka saling bersentuhan. alis Lyza menyatu. " Kamu tidak apa-apa 'kan, by? ". Heran Lyza melihat Tingkah sang suami.
" Aku tidak apa-apa. Apa bagian bawah mu masih sakit? ".
" Sedikit, memangnya kenapa? ".
Ares sedikit menghela nafasnya, yang membuat Lyza semakin bingung. " Ada apa sih, by? ".
" Seharusnya aku tadi pagi membantu mu bangun..___ ".
" Membantu ku bangun dengan menggendong ku ala tuan putri, terus kamu juga yang memasak karena aku tidak kuat bangun. Dan seharusnya kamu yang melayani ku, saat bangun tadi. Begitu? ". Cerocos Lyza
" Nah itu tahu ". Mencium pipi Lyza
Lyza geleng-geleng kepala. " Aku bukan wanita lemah, By. Jangan samakan aku dengan yang ada di novel-novel. Aki sering olahraga, hanya dengan sakit seperti itu tidak akan membuat ku menjadi manja dan lemah ". Tukas Lyza santai.
" Setidaknya bersikap lah seperti itu, agar jadi seperti lebih romantis ".
" Iya.. iya.. tapi lain kali ". Lyza Terkekeh di akhir kalimat. " Sudah By, mending duduk ajah deh. Kalo seperti ini terus aku tidak bisa bergerak leluasa ".
Ares sekali lagi mengecup sekilas pipi Lyza yang memang sudah basah akibat kecupan-kecupan yang sudah-sudah. Lalu melepaskan pelukannya dengan terpaksa dan duduk di meja makan yang tanpa sekat, jadi ia bisa memperhatikan sang istri yang sedang masak.
Setelah sarapan nya jadi, mereka pun makan dengan keadaan hening dan khidmat.
" Oh yah by, kamu tidak pergi kerja? ". Tanya Lyza sembari membersihkan piring kotor bekas sarapan mereka.
" Tidak, aku ingin menghabiskan hari ini dengan mu dirumah ". Ucap Ares santai.
Lagi dan lagi, Ares tidak menyadari perkataan nya dapat membuat siapa pun yang mendengarnya baper sendiri. Yap dan Lyza adalah korban nya.
" O.. oh.. ". Ber oh-ria
Ares berdiri dan mulai mengumpulkan beberapa piring yang kotor. " Biar ku bantu ". Mengangkat piring kotor yang sudah di kumpulkan Lyza.
" Eh! ". Yah Lyza hanya membiarkannya, lagi pula di larang juga tidak akan mempan. Untung lah, pekerjaan jadi lebih ringan.
..........
Kini mereka berdua berada di ruang tv untuk bersantai sembari menonton tv. Berbagai cemilan dan minuman ringan telah tersedia di atas meja. Anggap lah sekarang mereka sedang berkencan di dalam rumah.
Ares mengutak-atik lemari penyimpanan dvd. " Loh ini semua sudah kamu nonton sayang? ". Tidak melihat Lyza, namun masih fokus dengan dvd di depannya.
" Belum by, masih ada beberapa yang belum ku nonton. Memangnya kita mau nonton yang mana? ". Akhirnya Lyza berdiri dan mendekati sang suami.
" Ini ada kartun juga loh ". Mengangkat salah datu dvd.
" Bukan kartun by, tapi anime. Nanti para wibu emosi loh dibilang kartun ". Tukas Lyza dengan wakaah datar. Ia sedikit membungkuk 'kan, badannya.
" Apa bedanya? Hmm ini juga ada drama korea, eh! Disini ada banyak drama korea di banding anime tadi ". Menumpuk berbagai dvd
" Bukan cuman drama korea by, tapi disitu ada drama cina dan Thailand juga ". Lyza duduk di sebelah Ares, ia lelah membungkuk
" Tapi ini sama saja ". Melihat cover masing-masing dvd yang di anggap drama Korea.
" Terserah deh. Kita mau nonton yang mana nih? ".
" Bagaimana kalau yang romantis saja? Misalnya seperti ini ". Mengangkat salah satu dvd yang memperlihatkan cover pria dan wanita yang bergaya cukup dekat.
Lyza tampak berfikir sebentar. " Tidak! Jangan film romantis. Nanti kamu mau mengikuti adegan-adegan alay di film lagi ". Celetuk Lyza
Ares Terkekeh mendengarnya. " Baiklah, kita nonton film barat saja. Nah ini fast and furious ".
" Hmm iya itu juga bagus ".
Setelah perdebatan yang cukup mengambil waktu tadi, akhirnya mereka memilih menonton film barat action. Dan disinilah mereka sekarang menonton sembari berpelukan.
Memangnya hal ini bukan adegan romantis alay? Yah Lyza tidak menyadari itu.
Mereka berdua bagai abg yang sedang berkencan di dalam rumah sambil menonton film. Sesekali saling menyuapi cemilan yang di makannya.
Drtt.. drtt....drtt..
Ponsel Lyza yang berada di atas nakas berbunyi. Lyza mengambil nya. ia melihat siapa yang menelpon " Hmm? ". Mengangkat sebelah alisnya
" Siapa sayang? ".
Lyza kemudian mengangkat telepon dari Sean. " Halo Sean, ada apa? ".
" .... "
" Oh ... Baiklah ". Melirik melihat Ares yang sedang fokus dengan film yang di tonton.
" ... "
" Sebentar Sean " . Lyza menutup ponselnya menggunakan tangan.
" By, aku keluar dulu yah sinyal disini kurang bagus ". Kata Lyza
" Hmm oke ". Mengangguk dan menarik tangan yang sedari tadi merangkul sang istri.
Lyza akhirnya berdiri dan keluar, namun sebelum itu ia memakai jilbab panjang instan nya. Sesampainya di luar, Lyza sedikit celingak-celingukan. Mengawasi agar tidak ada orang. Setelah merasa cukup aman, Lyza kembali mengarahkan ponselnya ke telinga.
" Halo Sean, jadi bagaimana? ".
" Semuanya sudah saya siapkan bos ".
" Syukurlah, terima kasih yah, Sean ".
" Bos, apa bos yakin? ". Tanya Sean dengan nada suara yang sedikit lemah. Ada rasa tak rela saat Lyza menugaskan nya.
" Hmm aku yakin ".
" Tapi bagaimana dengan pak ustadz? ". Mencoba memancing Lyza agar membatalkan rencananya.
Lyza terdiam. Ia mengintip sang suami yang masih asik dengan film nya. " Aku sudah yakin Sean. Jangan membahasnya lagi! ". Tegas Lyza
" Tapi bos, kita bisa menyelesaikan semuanya tanpa harus menggunakan cara seperti ini. Apalagi pak ustadz itu..___ ".
" Sean! ". Meninggikan suaranya. " Kumohon, jangan membahasnya lagi! Kita sudah membahasnya bukan, dan keputusan ku tidak akan berubah ".
" Baiklah bos. Itu pilihan anda ". Pasrah Sean dengan nada lemah di seberang.
" Jangan katakan ini pada Zean, maupun orang lain "
" Baik ".
" Kalau begitu aku tutup. Assalamu'alaikum ".
" Iya bos ".
Lyza pun mematikan sambungan telepon nya. Ia memandangi layar ponselnya lalu beralih ke atas langit. Ia tersenyum miris. " Ini sudah benar 'kan? ".
Lyza mengehela nafas dan hendak masuk kedalam rumah.
" Assalamu'alaikum nyonya ".
Lyza berbalik. " Wa'alaikum salam. Eh! Zean ada apa? ".
" anu.. saya ada sedikit urusan dengan tuan Ares nyonya ". Wajah Zean nampak seperti biasa. Dingin dan tanpa ekspresi. Namun Lyza tahu kalau sekarang Zean sedang gugup
" Oh baiklah ayo masuk lebih dulu. Ares ada di dalam ".
Zean mengangguk dan mengikuti sang young ms untuk masuk kedalam. Zean nampak beberapa kali mengelus-elus tangannya.
Mereka pun sampai di ruang tamu. " Tunggu disini dulu, Zean. Aku panggil Ares di dalam. Kamu boleh duduk ".
" Baik nyonya. Terima kasih ". Zean pun duduk di salah satu sofa tersebut.
Sedangkan Lyza pergi memanggil sang suami. Tak lama kemudian Ares pun datang sendiri. " Assalamu'alaikum Zean ".
Sontak Zean berdiri. " Wa'alaikum salam tuan ".
" Ayo duduk ". Duduk tepat di hadapan Zean.
Zean pun duduk. " Jadi, begini tuan ".
" Tunggu dulu Zean, kita tunggu Lyza dan minumannya datang ".
" Apa?! Apa nyonya Lyza yang membuat minumannya tuan? ".
" Siapa lagi? ".
Sontak Zean berdiri. " Kamu mau kemana Zean? ".
" Saya tidak bisa membiarkan nyonya Lyza membuat minuman sendiri tuan. Seharusnya saya yang melakukan nya ".
" Duduklah Zean, kamu berlebihan ". Suara Lyza mengagetkan Zean. Ia mendekati Lyza dan mengambil nampan yang di bawa Lyza.
" Jangan melakukan ini lagi Nyonya ". Kata Zean
Lyza hanya geleng-geleng kepala. Namun beda halnya dengan Ares yang malah cemburu melihat perilaku Zean yang terlalu perhatian dengan sang istri.
" Ehem... Sudah 'kan? ".
Akhirnya Zean meletakkan nampan yang berisi minuman itu di atas meja dan duduk kembali ke tempatnya semula. Lyza juga duduk di sebelah Ares.
Ares memeluk pinggang Lyza posesif. " Jadi, ada apa Zean? ".
" Hmm begini tuan. Ini tentang... ". Gugup Zean
" Tentang apa Zean? Kau terlihat gugup ". Ucap Lyza yang baru pertama kali melihat Zean gugup seperti itu.
" Apa ini tentang Ara? ".
Sontak Zean mendongakkan kepalanya melihat Ares. " I.. iya tuan ".
" Ara? Memangnya kenapa dengan Ara? ".
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️