My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Menebus Dosa



Dua Minggu pun berlalu...


Setelah Zean berfikir berulang-ulang tentang apa yang dikatakan Ares dua Minggu lalu, ia pun memutuskan untuk melamar Ara dengan baik-baik. Tidak perlu pacaran ataupun tunangan.


Dan disinilah sekarang, Zean. Di salah satu toko perhiasan yang sangat terkenal. Bahkan harganya juga sangat mahal dan tidak sembarang orang yang bisa masuk ke toko ini.


Zean mencari cin-cin untuk ia gunakan melamar Ara, setidaknya sampai mereka menikah, itu pun kalau Ara menerimanya.


" Ada yang bisa saya bantu, tuan? ". Tanya seorang wanita disana. Ia sempat terpesona melihat ketampanan Zean.


" Saya ingin mencari cin-cin yang bagus untuk lamaran ". Ucap Zean apa adanya. Ia memang tidak berpengalaman dalam hal seperti ini.


Pegawai wanita itu tersenyum. Ia mengambil salah satu cin-cin beserta kotaknya yang berada di lemari depan. " Ini tuan... Sepertinya kalau untuk lamaran, cin-cin ini yang paling pas. Tidak terlalu mewah namun tidak sederhana juga ". Ucap pegawai itu dengan yakin.


Zean melihat nya lekat. Benar apa yang di katakan pegawai itu, cin-cin yang seperti nya Cocok di pakai Ara. Karena cin-cin itu tidak mencolok, namun jika di perhatikan lebih dalam cin-cin itu sangat indah.


" Baiklah, saya ambil ini ". Kata Zean setelah beberapa penimbangan. Untuk urusan biaya, ia tidak terlalu memikirkannya. Memangnya untuk apa uang yang selama ini ia simpan jika tidak digunakan sekarang?


Pegawai wanita itu sedikit terkejut. 'orang kaya nih'. Batinnya. Ia sama sekali tidak melihat keraguan dalam mata Zean saat mengatakan akan membelinya. Padahal harganya sangat mahal.


Setelah membeli cincin itu, Zean pun keluar dari toko tersebut. Ia berencana nanti malam akan datang kembali ke kediaman sang young ms untuk meminta persetujuan nya dan memintanya untuk menemani dirinya.


Lain Zean lain halnya Lyza yang sekarang tengah menonton tv bersama sang suami.


Kehidupan rumah tangga Ares dan Lyza semakin dekat dan harmonis. Ibu, ayah dan Ara serta orang-orang terdekat mereka ikut senang akan perubahan yang signifikan ini.


Karena ini akhir pekan, Ares tidak masuk bekerja dan menemani sang istri di rumah. Seperti aktivitas yang selalu di lakukan Lyza, ia sedang menonton bersama sang suami.


Drtt.. drtt.. drtt..


Suara ponsel Ares yang bergetar membuat empunya mengangkat panggilan telepon tersebut.


" Halo.. ".


" Baiklah... ".


Setelah bercakap-cakap, akhirnya sambungan terputus. Ia melirik ke samping, dimana ada sang istri. " Aku ke ruang kerja dulu yah... Ada hal penting yang harus aku urus ". Ucap Ares


Lyza melihat suaminya. " Iya ". Singkatnya dan kembali menonton tv.


Ares tersenyum lalu membelai rambut Lyza dengan sayang. Ia menciumi nya beberapa kali. Entah mengapa hari ini Ares tidak ingin jauh-jauh dari sang istri. Ia mempunyai firasat yang sedikit tidak enak.


Ares pun berdiri dan meninggalkan Lyza ke ruang kerjanya. Setelah beberapa saat Ares pergi, seorang satpam datang menghampiri Lyza dengan nafas ngos-ngosan.


" Nyonya... ".


" Iya, ada apa? ".


" Di luar ada tamu nyonya... Tapi.. ". Ia gugup mengatakan nya.


Lyza menyerngitkan dahinya. Siapa yang mencarinya? " Siapa? Kenapa kamu tampak cemas seperti ini? ".


Satpam itu melap keringat nya. " I .. itu po.. polisi nyonya.. polisi itu mencari anda ". Kata Satpam tersebut.


Deg...


Bagaikan tersambar petir, Lyza tidak dapat berkata-kata lagi.


'apa ini sudah saatnya?'. Batin Lyza


" Ah.. iya ayo kita keluar ". Ucap Lyza tenang. Walaupun di dalam hatinya ia sudah ketar-ketir. Ada rasa tak rela yang tiba-tiba menghantamnya.


Satpam tersebut mengangguk dan melangkah keluar di ikuti oleh Lyza. Sampai di depan pintu, rupanya polisi itu sudah ada disana.


Satpam yang menjaga rumah Ares sedikit geram, sebab tadi kedua polisi dan satu polisi wanita itu belum di izinkan masuk kedalam halaman.


Saat melihat seorang wanita keluar, polisi wanita itu langsung maju. Mereka masuk begitu saja ke halaman rumah itu karena kasus yang sekarang mereka tangani benar-benar sangat berat. Mereka juga menjaga-jaga, Lyza adalah mantan ketua mafia. Itulah yang mereka tahu.


" Apa benar, ini kediaman nona Gerilya Lyza Anataran? ". Ucap Polisi wanita itu, ia yang buka suara sebab yang di carinya adalah seorang wanita.


Lyza mengambil nafas panjang. Sekali lagi ada rasa sesak di dadanya. Ingin sekali rasanya ia berbohong, namun ini semua juga rencananya sendiri. " Iya benar... Dengan saya sendiri ". Berusaha untuk tetap tenang.


Ketiga polisi itu terkejut. Seorang wanita berhijab dan lemah lembut seperti ini, adalah seorang ketua mafia? Hah!!? Ini tidak salah. Pikir mereka bertiga nge-blank sesaat.


Setelah mendapatkan kesadaran nya kembali, polisi wanita itu dengan name tag Melati Hastuti itu kembali angkat bicara. " Anda di tahan dengan tuduhan kasus pedagangan ilegal senjata dan beberapa kejahatan lainnya ". Mengangkat sebuah surat tangkap.


Deg...


Yah mungkin inilah akhir dari dirinya. Pikir Lyza.


" ada apa ini? ". Tiba-tiba Ares datang dari arah dalam. Ia terkejut melihat ada polisi di depan pintu, apalagi melihat surat penangkapan serta tuduhan kepada sang istri.


Sontak ketiga orang polisi itu tertegun. Kenapa ada tuan muda Ares di rumah itu! Dan apa hubungan keduanya!!?


" Ah by, ini.._ ".


" Tuan muda... ". Sontak ketiga polisi itu menunduk. Rata-rata dari mereka telah mengenal siapa Ares dan bagaimana kekuasaan nya. Bahkan kasus kali ini bisa selesai begitu saja dengan kekuasaan Ares.


" Ada apa kalian kemari? ". Tanya sekali lagi Ares. Ia mempunyai firasat buruk kali ini.


" Apa kalian ada urusan dengan istri saya? ". Lanjut Ares.


Ketiga polisi itu kembali di buat terkejut. Istri? Hah?? Tidak ada yang memberitahu mereka kalau tersangka adalah istri sang penguasa. Dan kenapa kasus nya tidak di tutup saja??! Pikir mereka.


Tapi karena sudah telanjur disini, mau tidak mau mereka tetap harus menjalankan tugasnya. Polisi wanita itu kembali mengangkat surat penangkapan. " Nona Lyza, kami tangkap atas tuduhan jual beli senjata ilegal dan beberapa kasus yang terkait ". Ujar polisi wanita itu dengan sedikit gugup. " Mari ikut kami untuk memberikan keterangan ". Lanjut polisi itu.


" Apa!! Kenapa..__ ".


Lyza Langsung memegang tangan Ares. Ia tidak ingin ada keributan disini, karena dirinya lah yang menyerahkan diri. " Bawa aku ". Ucap Lyza


Sontak semua orang disana terkejut. " Sayang... ". Sungguh Ares tidak ingin ini terjadi.


Lyza tersenyum. " Tidak apa-apa... Memang ini harus di selesaikan bukan? ".


" Tapi kamu akan kembali 'kan ". Ucap Ares dengan wajah sendu.


Lyza sempat terdiam. " Hmm aku tidak yakin... Tapi aku akan baik-baik saja ".


Jawaban Lyza sama sekali tidak membuat Ares tenang. Ia malah semakin khawatir. " Aku akan ikut menemani mu ".


" Tidak perlu, by ".


" Tidak! Aku akan ikut! ". Tegas Ares, dan kali ini tidak bisa di bantah.


" Baiklah.. anda bisa ikut tuan ". Kata salah seorang polisi disitu.


Mau tidak mau akhirnya Lyza mengizinkan sang suami untuk ikut.


Lyza bersama Ares duduk di kursi belakang berdua. Polisi wanita yang ber name tag Melati Hastuti berada di samping pengemudi bersama satu polisi yang mengemudi. Untung nya polisi itu membawa dua mobil.


Di dalam perjalanan, Ares selalu menggenggam tangan Lyza. Ia selalu mengatakan. " Jangan khawatir ".


Lyza tersenyum miris. Bukan seperti ini yang di inginkan Lyza. Ia ingin agar tidak ada hambatan ia masuk ke jeruji besi untuk menebus hukuman dan dosa yang selama ini ia perbuat. Lyza telah siap mental dan fisik, jika ia harus mengabdi di jeruji besi itu selamanya, atau mungkin kepalanya yang harus di penggal.


Tak lama kemudian mobil pun sampai di kantor polisi. Mereka kemudian keluar. Sesuai peraturan, Lyza harus di kawal. Walaupun sebenarnya para polisi sedikit risau sebab sang penguasa ada di sana juga.


Lyza di Bimbing masuk kedalam sebuah ruangan untuk di interogasi. Ares ingin masuk namun Lyza segera menahannya. Mau tidak mau Ares harus menunggu di ruang tunggu dengan perasaan yang karuan.


Ares kemudian duduk dan merogoh ponselnya. Ia menelpon Egi agar segera datang ke kantor polisi.


Sedangkan di dalam sana, Lyza mengakui semua perbuatannya. Tidak ada yang di tutup-tutupi. Ia memang berniat menebus semua dosanya, walaupun mungkin masih belum cukup.


" Nona... Kenapa anda menyerahkan diri seperti ini? Padahal suami anda seorang penguasa... Dia bisa saja menutup semua kejahatan yang nona lakukan ". Tanya hati-hati polisi wanita itu. Di dalam ada satu polisi wanita dan seorang polisi.


Lyza tersenyum mendengarnya, senyum yang dapat menyihir seseorang agar tersenyum juga. Memang benar bahwa dengan kekuasaan sang suami, atau mungkin kekuasaan nya dia bisa menutupi kejahatannya namun hal itu tidak di lakukan Lyza. " Aku ingin menebus dosa-dosa ku ". Kata Lyza tenang.


Apa yang di tanam itulah yang di tuai. Mungkin sama dengan pepatah itu. Sekarang Lyza sedang menuai apa yang di tanam dulu di masa lalu.


Polisi wanita itu terdiam. Ia tidak menyangka akan ada seseorang seperti Lyza di dunia ini. Dimana semua orang berlomba-lomba untuk menghilangkan bukti atas kejahatan nya, namun Lyza malah mencari bukti atas kejahatan yang di perbuat.


Apakah dunia sudah mulai memperlihatkan keadilan?


Ares masih termenung. Hingga ia melihat sosok yang sangat di kenalinya keluar dari sebuah ruangan bersama seorang polisi.


Ares langsung berdiri. " Sean ". Seru Ares


Sontak yang di panggil melihat Ares. " Pak ustadz ... ". Lirih Sean. Ia tidak tahu harus memasang wajah apa di depan suami sang young ms.


" Apa yang kau lakukan disini Sean? ".


Belum sempat Sean menjawab. Polisi disitu yang angkat bicara. " Dia yang telah menyerahkan bukti atas kasus nona Lyza, tuan ". Kata polisi itu


" Apa!! ". Pekik Ares. Ia memandang tak percaya pada Sean. Sedangkan yang di tatap menundukkan kepalanya.


Bugh ...


Refleks Ares memukul wajah Sean hingga Sean tersungkur.


" Apa yang kau lakukan, Sean! Apa kau bodoh!! ". Kemarahan Ares sudah ada di ubun-ubun.


Apakah Sean mengkhianati Lyza?


Sean tidak membalas, ia hanya menunduk di lantai.


" Tenang tuan... Ini kantor polisi ".


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️