
Saat pertama kali Lyza menginjakkan kakinya keluar dari mobil, ia sudah merasa ada yang janggal. Rasanya ada begitu banyak pasang mata yang mengintai mereka. Dari sebagian pasang mata yang mengintainya, terasa hawa membunuh yang cukup mencekam, namun juga ada yang tidak ada.
Apalagi saat Zean memberikan pengawalan 10 bodyguard kepada mereka, rasanya hal itu semakin ganjil. Apalagi semua pengawal itu rata-rata bawahan Lyza saat masih menjadi ketua mafia di Dark Blood, dan tentu saja mereka semua sangat ahli dan pro bahkan mungkin chetear
Lyza yang saat itu merasa aman, ia langsung buru-buru ke samping toilet dan menyekap seseorang disana.
Keren berbalik. " Bos.. masih mengerikan seperti dulu." Ia merasa merinding hanya dengan merasakan aura sang bos. Keren mengelus-elus lehernya yang hampir di gorok oleh sang bos. Ralat! Mantan bos.
" Hmm jika kamu disini. Apa ada hal yang berbahaya terjadi?." Tanya Lyza melihat Keren dengan intens
" Saya di tugaskan oleh bos Sean untuk menjaga anda bos." Jawabnya jujur
" Aku tidak menanyakan hal itu! Katakan!! Sebenarnya apa yang terjadi!!. Bagaimana bisa seorang seperti mu harus mengawasi mantan ketua mafia!! Itu tidak masuk akal!!." Tangannya bersedekap, kakinya ia ketuk-ketukkan di lantai menunggu Jawaban dari wanita di depannya ini. Jangan lupa tatapan tajam yang ia berikan membuat Keren bagaikan seekor kelinci yang di hadapkan dengan seekor singa.
Keren mengusap kening nya yang sudah bercucuran keringat. 'mana bos yang katanya sudah tobat! Seannn!! Ku bunuh kau!' Pekik nya dalam hati
Dihadapkan dengan keadaan seperti ini, ia merasa deja vu dimana dulu Lyza yang akan membunuh bawahannya yang mengkhianati nya.
" Keren!." Suara Lyza sedikit meninggi
Keren menunduk. " A.. anu se.. sebenarnya bos, kemarin sore di Mansion kediaman Warrent di serang oleh sekelompok mafia. Para Mafia di bawah kekuasaan keluarga Warrent masih menyelidiki siapa yang melakukan penyerangan. Dan Dark Blood di tugaskan oleh bos Zean dan Sean untuk mengawasi keluarga anda dan juga nona Ara." Ujar Keren menjelaskan. Ia menelan salivahnya.
Zean dan Sean sudah memperingati semuanya agar tidak mengatakan yang sebenarnya pada Lyza dan semua wanita dan anak-anak di keluarga Warrent. Tapi Keren lebih memilih membantah perintah itu sekarang jika harus di hadapkan dengan mantan bosnya.
Lyza terkejut mendengar hal itu. Tidak ada info yang ia dapatkan. " Bagaimana keadaan ayah dan ibu?." Hal itu yang pertama kali terpikirkan oleh Lyza
" Mereka baik-baik saja bos."
Lyza bernafas lega. " Apa musuh ku yang melakukan penyerangan itu?." Sebenarnya hal ini di ragukan oleh Lyza. Sebab rata-rata musuh Lyza sudah tau kalau Lyza telah masuk penjara dan diganti oleh Sean.
Keren menggeleng " Sepertinya ini dilakukan oleh saingan bisnis keluarga Warrent." Ucap Keren
Seperti yang di duga Lyza. Tapi, berani sekali orang itu melakukan penyerangan di mansion keluarga Warrent, apa mereka terlalu meremehkan kekuasaan keluarga Warrent? Heh! 'rupanya mereka sudah tidak sayang nyawanya'.
" Apa suamiku sudah tahu akan hal ini?."
" Sepertinya bos. Semuanya di beri tahu agar tidak kecolongan." Lagi-lagi Keren harus membeberkan sesuatu yang seharusnya di rahasiakan.
Biarlah, sungguh Keren tidak berkutik di hadapan sang mantan bos.
'kenapa Hubby tidak memberitahu kannya pada ku'.
" Jadi, pengawasan yang kamu maksud tadi. Adalah mengisi mall ini dengan semua orang-orang dari Dark Blood. Bahkan sampai penjual juga?." Sekali lagi Lyza memberikan tatapan tajam
Glek...
" Wah... B.. bos me.. memang hebat. Bisa langsung mengetahui nya." Seperti nya semua yang di rencanakan sudah terbaca oleh Lyza
Lyza memegang kepalanya. Bukannya ini terlalu berlebihan. Walaupun tidak semua, Lyza bisa tahu ada beberapa orang-orang di mall ini adalah orang dari Dark Blood. Dan mungkin salah satunya adalah penjual dari toko perlengkapan bayi tadi.
Ia menghela nafas kasar. Lyza menengadahkan tangannya ke arah Keren. Sedangkan yang disodorkan tangan mengkerut 'kan dahinya. Lyza yang tahu kebingungan Keren pun berkata..
" Pistol." Ujarnya dengan wajah antusias dan senyuman secerah matahari
" Y.. ya?." Entah mengapa Keren seperti melihat ada bunga matahari di belakang Lyza
" PIS.. TOL." menekankan kata-kata nya dengan masih tersenyum.
Glek..
Keren tanpa basa-basi langsung merogoh sesuatu dari belakang baju dan memberikan Lyza pistol.
Lyza tersenyum menyeringai dan mengambil pistol yang di berikan. Ia semakin senang saat di berikan pistol peredam suara. Inilah yang membuat Lyza khawatir dari tadi, dulu Lyza selalu membawa pistol kemana-mana bahkan sampai ia tidur, namun sekarang hal itu sudah tidak ia lakukan.
Ia memutar-mutar pistol itu, sudah sangat lama Lyza memegang pistol lagi. " Bukannya tahun ini Keyren sudah naik kelas 14 'kan?." Tanya Lyza, ia tidak melihat Keren namun pistol yang tadi di berikan padanya
" Iya bos. Keyren juga sudah baik-baik saja."
" Syukurlah. Jangan sampai Keyren mengenal dunia hitam." Tukas Lyza. Keyren adalah anak Keren yang pernah Lyza biayai pengobatan nya, jujur saja Lyza sudah menganggap Keyren sebagai adiknya. ( Ada di episode 'Demi Kebahagiaan ')
" Tapi bos, Keyren sangat mengagumi anda." Tentu Keyren akan mengangumi Lyza, bagaimana tidak! Keren selalu menceritakan tentang Lyza dan itu pun semuanya hal-hal yang keren. Apalagi saat Keyren mendengar Lyza masuk penjara, ingin rasanya Keyren untuk menggantikan Lyza namun tentu itu tidaklah mungkin.
" Apa!." Lyza hanya bisa geleng-geleng Melihat Keren yang tersenyum tanpa dosa sekarang. " Aku tidak ingin menghina mu tapi, jangan sampai Keyren mengikuti jejakmu."
" Tenang saja bos, saya sudah berusaha untuk membuat Keyren hidup normal."
Lyza tersenyum " Bagus." Menepuk pundak Keren. " Oh yah mengenai orang-orang yang mengikuti kami dari tadi. Apa kau sudah meringkus nya?."
" Tenang saja bos. Kami sudah meringkus nya, dan sekarang mereka sedang di bawa ke markas untuk di interogasi." Lyza manggut-manggut
" Oh yah jika kalian belum menemukan informasi mengenai orang yang menyerang mansion, temuilah Re." Ucap Lyza sembari menyembunyikan pistol itu di balik hijab nya
Keren terkejut " Re bos? Adiknya Killiua?." Memastikan
" Siapa lagi."
" Tapi, Re tidak akan mau jika bukan bos yang memerintahkan langsung." Benar apa yang di katakan Keren.
" Apa kau punya kertas dan pulpen?." Keren tidak banyak tanya dan langsung mengambil kertas dan pulpen. Lyza kemudian menulis sesuatu dan memberikan nya pada Keren.
" Berikan kertas ini pada Re, jika ia menolak." Menyodorkan kertas itu beserta dengan pulpen nya
Keren menerima kertas dan pulpen itu " Apa saya bisa membacanya bos?." Lyza mengangguk.
Keren kemudian melihat apa yang di tulis Lyza. Apa yang sebenarnya ditulis oleh sang mantan bos, dengan sangat percaya diri bahwa Re yang acuh itu akan berubah pikiran. Keren menyerngit, di kertas itu hanya ada satu hutuf L dengan gaya yang memang khas tulisan Lyza. Tapi, Keren tidak ingin memikirkan nya lebih jauh, sebab memang hanya Lyza lah yang bisa memerintah Re sesuka hati.
" Baik bos. Terima kasih sarannya."
" Baiklah aku akan keluar, saat kamu keluar nanti lepas tanda yang ada di depan toilet ini." Keren hanya mengangguk.
Setelahnya Lyza pun pergi dari sana. Setelah 5 menit Keren juga itu keluar, ia melihat tanda toilet sedang di perbaiki di depan pintu toilet. Keren sungguh takjub dengan keahlian sang mantan bos, hanya dalam sepersekian detik ia bisa langsung di ringkus bahkan sampai membuat plot seperti ini.
Lyza kembali kw tempat area bermain " Assalamu'alaikum." Duduk di sebelah Ara
" Wa'alaikum salam. Lama sekali kak."
" Toilet nya antri." Dusta Lyza, tidak mungkin ia mengatakan hal yang sebenarnya.
Setelah itu Fatih tiba-tiba datang " Uma Fatih sudah lelah." Kata Fatih di depan Lyza
" Baiklah bagaimana kalau kita pulang." Melirik Ara, ia tidak ingin adik iparnya itu kelelahan
Ara mengangguk menyetujui, lagipula semua perlengkapan sudah mereka beli semua. Setelah itu mereka bertiga beserta bodyguard nya pun pulang.
Sedangkan di sisi lain
Ares yang saat itu tengah sibuk memeriksa laporan yang baru masuk di kejutkan dengan suara ponselnya. Ia mengambil ponsel yang tepat berada di depan dan mengangkat sambungan telepon itu.
"Halo.."
"Apa!!" Ares langsung berdiri
"Bagaimana keadaan istri dan juga adikku."
Ia bernafas lega "Syukurlah, baiklah jaga istri, anak dan juga adikku sampai mereka benar-benar aman." Setelah mengatakan itu Ares memutus sambungan telepon
" Ada apa Res?." Tanya Egi yang sedari tadi melihat Ares menelpon, ia memang berada di dalam ruangan Ares untuk membantu memeriksa beberapa laporan
Ares kembali duduk " Katanya ada yang tiba-tiba menyerang Lyza dan Ara yang saat ini berada di mall. Tapi untung saja aksi mereka gagal karena di halang sama mafia Dark Blood."
" Apa mungkin ini ada kaitannya dengan beberapa orang yang menyerang mansion saat itu." Ucap Egi
" Bisa jadi. Apa aku juga harus turun tangan." Ia tidak ingin sampai keluarganya terkena masalah
Egi terkejut mendengar apa yang dikatakan Ares, tidak biasanya Ares akan turun tangan " Tidak perlu Res, Rin dengan kelompok Wallet serta Sean dengan kelompok Dark Blodd pasti bisa menangani ini. Kamu hanya tinggal duduk diam, dan menemani nyonya Lyza agar dia tidak khawatir. Bukannya kamu bilang sekarang Lyza sedang dalam proses ingin hamil lagi." Ujar Egi panjang lebar
Ares terdiam, ia membenarkan perkataan Egi. Ada dua kelompok mafia yang sekarang mendukung nya, apalagi ia tahu kedua kelompok mafia itu mempunyai kemampuan dan reputasi yang sangat baik di dalam dunia gelap
" Benar apa yang kamu katakan. Baiklah ayo kita pulang, untuk kali ini dan beberapa hari kedepan sebaiknya kita pulang cepat. Kita masih tidak tahu siapa yang melakukan penyerbuan. Tapi yang pasti mereka tidak main-main."
" Tentu saja. Memangnya siapa yang berani menyerbu langsung mansion kediaman keluarga Warrent." Timpal Egi
Siang itu mereka memutuskan untuk pulang lebih cepat. Keduanya takut terjadi sesuatu jika mereka harus pulang malam atau sore, di samping itu Ares juga khawatir dengan kondisi sang istri dan juga adiknya beserta anaknya.
Sedangkan siang itu Zean tengah mengajar di kelasnya. Tiba-tiba ada sambungan telpon yang masuk ke ponselnya. Ia keluar kelas sebentar untuk mengangkat sambungan telepon.
Setelah Zean mengangkat nya ia kaget serta panik bukan main. Bagaimana tidak! Istrinya yang sedang hamil 6 bulan hampir di serang oleh sekelompok orang, untung saja kelompok itu gagal menjalankan aksinya gara-gara kelompok mafia Dark Blood yang saat itu memang di tugaskan untuk menjaga sang bos dan juga istri kecilnya.
Zean kembali ke dalam kelas, ia segera menyusun barang-barang yang ada di atas meja. Sontak saja semua murid Zean bingung di buatnya. Padahal kelas belum selesai namun dosennya sudah mau pergi
" Maaf anak-anak, saya ada urusan penting. Kerjakan yang sudah saya tulis di papan tulis. Jika kalian ingin bertanya, tanyakan hal itu ke Kriss." Ucap Zean buru-buru. Ia menimpakan semuanya ke asisten dosennya, Kriss.
" Baiklah saya akhiri. Assalamu'alaikum."
" Wa'alaikum salam." Jawab Beberapa murid yang ada di kelas itu. Setelah mendapat jawaban Zean segera keluar kelas dan tancap gas menuju rumahnya. Ia tidak ingin meninggalkan sang istri hanya dengan seorang asisten rumah tangga.
Setelah beberapa menit melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lumayan tinggi, akhirnya Zean sampai juga di rumah yang sekarang ia tempati bersama sang istri. Dan saat ia sampai, mobilnya berpapasan dengan mobil yang mengantar Ara pulang.
Sontak Zean langsung turun dan masuk kedalam mobil. Supir yang saat itu mengantar Ara pulang, segera keluar saat Zean masuk.
Zean segera memeluk sang istri " Kamu tidak terluka 'kan?." Menangkup wajah sang istri
Ara sedikit memiringkan kepalanya. Kenapa ia harus terluka? Padahal tidak ada yang terjadi saat di mall tadi? Pikir Lyza
Zean melepas cadar sang istri. Ia tersenyum melihat wajah manis Istri kecilnya, wajah yang selalu terbayang-bayang saat ia berjauhan dengan istri tercintanya. Zean mengecup seluruh permukaan wajah Ara
" Ada apa sayang?." Tanya Ara
Zean menggeleng pelan, ia kembali memeluk Ara. Setelah beberapa saat ia melepas pelukan nya " Kamu Pasti lelah dek. Ayo kita masuk, biar nanti aku pijat." Ucap Zean
Ara tersenyum mendapati perlakuan manis dari sang suami. Sudah hampir 4 tahun mereka menjalani rumah tangga, tapi perlakuan Zean kepada nya tidak pernah berubah malah semakin mesra. Wanita mana yang tidak akan luluh?
Ara mengangguk " Oh yah tadi aku juga membeli banyak perlengkapan bayi." Ucap Ara dengan antusias
" Maaf yah, seharusnya aku yang menemani mu." Tatapan Zean kembali sendu
Ara menangkup wajah sang suami, di kecupannya pelan bibir yang sedikit tebal milik Zean. " Tidak apa-apa, lagi pula aku juga menikmati saat-saat bersama kak Lyza tadi."
" Oh.. jadi kalau bersama Ku kamu tidak menikmati nya, hmm." Menggoda sang istri
" Eh! Bukan seperti itu yank." Ara jadi kelabakan, dan itu merupakan hiburan yang sangat di sukai oleh Zean
" Jadi?." Mengangkat sebelah alisnya
" Yank.. issshh." Memanyunkan bibirnya. Zean Terkekeh, ia menagkup pipi Ara hingga bibir nya semakin monyong, dan Zean langsung mengecup bibir itu.
" Ayo kita masuk rumah." Ia kembali memakai 'kan cadar sang istri.
Tidak akan ada yang percaya, Zean yang bagaikan kulkas berjalan itu bisa bertingkah semanis ini di depan sang istri. Bahkan Zean tidak pernah memperlihatkan sisi yang ini ke siapapun bahkan ke Lyza atau Sean. Sisi nya yang manis, dan manja akan ia perlihatkan hanya untuk sang istri.
Dan Ara pasti sangat senang akan hal itu. Suaminya yang dingin akan bertingkah hangat dan manja hanya di depan dia seorang. Jika seperti ini, hati wanita mana yang tidak akan luluh?
.
.
TBC
Note: yang penasaran sama Re dan Killu nanti di jelaskan di episode yang akan datang. Sedangkan Rin dan kelompok mafia Wallet itu sudah di jelaskan di episode 26( berdamai dengan masa lalu). Nah Dark Blood itu nama kelompok mafia Lyza dulu, tapi sekarang Sean lah yang memimpin. Untuk Keren dan Keyren juga sudah di jelaskan di episode ( Demi kebahagiaan)
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️