My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Janji



Sean masih terduduk di lantai. Ia tidak punya muka untuk melihat Ares. Sedangkan Ares masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh polisi tadi.


Ares menenangkan dirinya, ia duduk kembali. " Bangunlah Sean.. jelaskan padaku ". Kata Ares.


Dengan perlahan Sean mendongak melihat Ares, ia kemudian duduk di samping Ares dengan masih menunduk. Sedangkan polisi yang tadi disana sudah di suruh Ares agar tidak mengganggu nya.


" Maafkan saya pak ustadz... ". Kata Sean sungguh-sungguh.


Ares terdiam sesaat. " Kenapa kamu meminta maaf? Apa benar kamu berkhianat? ".


Sontak Sean melihat Ares. " Tidak!... Saya tidak berkhianat!! ". Kilah Sean, karena memang itu benar.


" Jadi.. kenapa kamu memasukkan majikan mu sendiri ke balik jeruji. Kau terlihat seperti anjing yang menggigit majikannya sendiri ". Sungguh Ares Sangat marah. Bahkan tanpa sadar ia mengeluarkan kata-kata pedas seperti ini.


Deg...


Yah mungkin yang di katakan Ares ada benarnya. Sean juga tidak tahu harus berbuat apa saat sang young ms menyuruhnya. " Nyonya yang menyuruh saya mencari bukti atas kejahatannya ". Lirih Sean menunduk.


" Nyonya mengatakan ingin melunasi semua dosa-dosa nya ". Lanjut Sean semakin menunduk. " Tapi.._ ".


" Sean... ". Tiba-tiba Lyza keluar dari dalam ruangan interogasi. Ia langsung memotong perkataan Sean.


Ares berdiri. " Bagaimana? Ayo kita pulang! ". Menarik tangan Lyza. Namun Lyza menahannya, ia tersenyum.


" Aku harus tinggal, by... ". Ucap Lyza lirih, ia mencoba untuk tetap tenang dengan mengeluarkan senyuman nya. Sedangkan yang di beri senyuman menatap sangat sedih.


" Kenapa? Ayo kita pulang... Apa kau ingin meninggalkan ku? ". Memegang kedua tangan Lyza


Lyza menggeleng. " Aku harus menebus dosa ku ". Ucapnya kemudian.


" Kenapa? Kamu hanya perlu berubah sayang... ". Lirih Ares dengan suara parau. Sungguh ia ingin menangis sekarang.


Lyza kembali tersenyum. Ia melepas genggaman tangan Ares. " Maaf by, tapi aku tetap harus mempertanggung jawabkan semuanya ". Ucap kemudian Lyza. " Pulang lah... Disana sudah ada Egi yang menunggu mu... ". Melihat ke belakang Ares, dimana sudah ada Egi disana yang sudah sedari tadi berdiri namun tak tahu harus melakukan apa.


" Dan jangan salahkan Sean. Ini semua murni atas keinginan ku sendiri... Tidak ada yang salah disini, aku hanya ingin membuat diriku puas, by ". Tutur Lyza lembut.


" Baik nona.. mari ikut saya ". Polisi wanita yang sedari tadi disana berdiri melihat adegan di depannya akhirnya buka suara.


Menoleh melihat polisi wanita itu " Baik ". Kata Lyza kemudian kembali melihat Ares.


" Tidak.. jangan bawa istri ku ". Tegas Ares. Dan sekarang tidak ada yang bisa membantah, bahkan para polisi pun berkutik di hadapan Ares.


" By... Kumohon.. jangan membuat semuanya jadi rumit ". Pinta Lyza dengan wajah memelas. " Nona polisi... Ayo antar saya ".


Ares kembali menggeleng. Sumpah demi apapun, ia ingin sekali menggunakan kekuasaan nya sekarang. Persetan dengan keadilan... Tidak ada keadilan di dunia ini.


" Maaf tuan... Tiga hari lagi akan di adakan sidang tentang hukuman nona Lyza... Anda bisa membawa pengacara untuk meringankan hukuman nya ". Kata polisi wanita itu.


Lyza terkejut mendengarnya. Bukannya ia sudah di jatuhi hukuman seumur hidup penjara?


Sebenarnya polisi wanita itu juga tidak bisa berkutik di hadapan sang penguasa. Ia hanya mencoba untuk meloloskan dirinya dan juga kantor polisi ini dari kemarahan sang penguasa.


Egi yang sedari tadi melihat pun akhirnya maju. Ia memegang pundak Ares. " Benar bos... Kita bisa meringankan hukuman untuk nyonya Lyza... Jadi ayo kita pulang untuk mengurus semuanya ". Lebih baik mengambil jalan tengah seperti ini.


" Tidak perlu... Istri ku tidak perlu di penjara!! ". Kekeh Ares.


" By... Aku mohon dengan sangat... Baiklah aku setuju.. bawalah pengacara untuk meringankan hukuman ku ".


Dengan berat hati akhirnya Ares menyetujui permintaan sang istri. Lyza kemudian di bawa menuju sel sementara nya. Ares hanya bisa menatap nanar punggung Lyza yang semakin menjauh.


" Ayo Res.. kita pulang ". Ajak Egi setelah Lyza sudah tidak terlihat lagi, namun Ares masih memandangi nya selama hampir sepuluh menit.


Tanpa banyak bicara Ares berbalik, namun ia kembali menghentikan langkahnya lalu melihat Sean. " Kamu.. ikut aku ". Kata Ares pada Sean dengan tatapan tajam.


Sean hanya bisa mengangguk pasrah. Egi yang melihatnya tak bisa berkata apa-apa. Ia tidak bisa membela Sean, namun ia juga tidak bisa menyalahkan Sean begitu saja. Karena pasti, Sean punya alasan tertentu sampai ia melakukan hal seperti ini.


Ares dan Egi bersama dalam satu mobil, sedangkan Sean memakai mobilnya sendiri. Ia mengikuti mobil yang ditumpangi Ares.


" Kita kemana, Ares? ".


" Rumah.. ". Singkat Ares masih memandangi kamtor polisi. Sekali lagi, ia tidak rela meninggalkan sang istri di sana.


Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah. Ares langsung keluar bersama dengan Egi, sedangkan Sean mengikut dari belakang.


Belum sempat mereka masuk, sebuah mobil datang. Dan mereka tahu siapa itu, yah itu adalah ayah. Ares sempat menelepon sang ayah untuk meminta sarannya. Sekarang dirinya tidak bisa berpikir jernih.


Ayah pun turun dari dalam mobil, ia cuman sendiri.


Sekali lagi, sebuah mobil kembali datang. Zean keluar dari dalam mobilnya dengan wajah menyeramkan dan menatap tajam Sean. " Sean... ". Pekik Zean, lari lalu...


Bugh..


Bugh..


Bugh...


Zean memukul Sean membabi buta, sampai Sean tersungkur di bawah tanah. Ia sedang di kuasai amarah, untung saja Egi segera melerai Zean agar tidak berbuat lebih.


Sean hanya menerima pukulan yang di beri oleh sang kakak. Belum sembuh memar yang di beri Ares, sekarang malah tambah. Inikah karmanya?.


Ayah membantu Sean untuk berdiri. Ia sama dengan Egi yang tidak menyalahkan Sean atas perkara ini. Mungkin Sean punya alasan dia sendiri.


Setelah semuanya tenang, mereka pun masuk kedalam rumah. Mereka duduk di sofa ruang tamu dengan pemikiran nya masing-masing. Menunggu luka Sean di obati. Tak ada yang membantu, hanya dia seorang diri yang mengobati nya.


Setelah di lihat selesai, ayah mulai angkat bicara. " Apa sekarang kau bisa menjelaskan nya, Sean? Apa benar kau yang menyerahkan bukti-bukti itu ke polisi? ".


Sean mengangguk. " Iya, benar saya melakukannya, tuan ". Kata Sean


Sungguh ayah tidak bisa habis fikir dengan jalan pikiran Sean. Apa yang sebenarnya di pikirkan Sean? Ia mencoba tenang, sebab dialah yang paling tua disini.


" Tapi kenapa kau melakukannya? Apa henar kau mengkhianati Lyza? ".


Sean menggeleng keras. " Tidak! Saya tidak mungkin mengkhianati nyonya ". Ucapnya tegas " saya hanya mengikuti perintah nyonya."


" Lalu, kenapa kau menuruti nya? ". Tanya ayah lagi


Sean menunduk, ia tidak tahu harus menjawab apa bibirnya keluh.


" Jawab!! ". Bentak Ares dan Zean bersamaan.


Baru kali ini Egi dan ayah melihat kemarahan Zean dan Ares yang luar biasa, sampai mereka tidak bisa menahan amarahnya.


Apakah semenakutkan inikah jika seseorang yang selalu sabar dan orang yang jarang bicara marah? Egi sampai menelan salivahnya. 'aku tidak mau membuat mereka berdua marah'.


" Maaf... Ta.. tapi aku tidak bisa mengatakan nya ". Ucap Sean menunduk.


" Kenapa? ". Tanya ayah. Sekali lagi, ia mencoba untuk tenang.


Sean hanya diam, sampai ia bersimpuh di hadapan mereka. " Maaf.. maafkan aku yang tidak bisa mencegah nyonya melakukan semua ini ". Ucap Sean tulus, ia sampai mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


" Sekarang baru kau minta maaf!! ". Sungguh Zean tidak bisa berkata-kata lagi melihat tingkah sang adik. Apa ada orang yang mengancam nya? Tapi siapa? Dan setahunya tidak ada yang berani mengancam sang adik! Kecuali young ms sendiri.


" Sudahlah... Siapkan pengacara, kita bebaskan Lyza dari hukuman ". Kata Ares. Finally


" Tidak! Kumohon... Jangan lakukan itu ". Ucapn Sean langsung.


" Apa maksudmu!! ". Bentak Ares. Ia tidak tahan lagi.


" Aku mohon... Jangan lakukan itu ". Lirih Sean langsung berlutut. Mereka semua sampai kaget dibuatnya.


" Sean... Katakan lah yang sebenarnya... Kenapa kamu sampai melakukan semua ini? ". Tutur ayah


Sean bangkit, namun ia masih bersimpuh di lantai. Sepertinya kali ini ia harus mengatakan yang sebenarnya. " Nyonya sudah merencanakan hal ini sebulan yang lalu... Aku hanya tidak ingin sampai kita mematahkan tekad yang telah susah payah di bangun ". Ucap Sean, yah salah satu alasan nya memang ini.


" Jangan bercanda!! Masih ada yang lain 'kan ". Bentak Zean


" Katakan lah.. ". Lanjut ayah. Setiap mendengar suara ayah yang lembut, membuat Sean semakin berani untuk berbicara.


" Tidak ada yang tahu ini, selain aku dan nyonya ". Kata Sean. Mereka semua masih menunggu. " Dulu... Saat Nyonya masih menjadi ketua mafia.. ia pernah menyuruh aku untuk berjanji padanya ".


" Janji? ". Beo ayah


Flashback on


Saat ini tinggal lah Lyza dan Sean di gudang tua ini. Lyza sedang duduk di kursi yang telah di sediakan Sean. Di hadapan mereka penuh darah, bekas kekejam kedua orang ini. Zean pergi membawa jenazah yang sudah tidak utuh itu, dan menghilangkan jejaknya.


Lyza memandangi pisau lipat yang penuh darah di tangan nya.


" Apa ada yang menganggu pikiran mu, bos? ". Tanya Sean saat Melihat sang young ms hanya diam saja.


" Sean... ". Panggil Lyza


" Iya bos ".


" Apa semua ini sudah benar? ". Memainkan pisau lipat itu.


Sean hanya diam, ia juga tidak tahu harus berkata apa.


" Berjanjilah Sean ". Kata Lyza lagi. " Kau akan menuruti semua perintah dan keinginan ku ". Mendongak melihat Sean


" Tenang saja bos, tanpa disuruh pun saya pasti akan melakukan nya "


" Tidak! Kau harus berjanji... Apapun itu, walaupun itu akan membahayakan ku ". Ia berdiri dan menghadap Sean.


" Tapi.. ".


" Sean!! ".


" Baiklah bos.. saya Sean Siangga Putra.. berjanji akan menuruti semua perintah anda, walaupun itu akan membahayakan anda sendiri ". Tegas Sean


Lyza menepuk bahu Sean. " Bagus ". Katanya sembari menyeringai. Lyza sengaja meminta Sean bukan Zean. Sebab jika Zean, pastilah ia tidak akan menuruti begitu saja perinta Lyza. Apalagi, tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan.


Flashback off


Brak..


Zean menggebrak meja di depannya. " Dan kau menyetujui nya begitu saja?! Apa kau bodoh! ". Kesal Zean. Ia geram, rahangnya mengeras.


" Kenapa kau melakukan itu semua ". Ares mencoba untuk kembali tenang. Mungkin, jika Ares ada di posisi Sean sekarang, bisa jadi dia akan melakukan nya juga.


Sean hanya diam. Apa yang dilakukan nya sekarang salah?


" Egi, Siapkan pengacara untuk sidang Lyza tiga hari lagi... Lakukan apapun cara agar hukuman yang di dapat 'kan, ringan ". Ucap Ares tenang.


" Baik ". Egi langsung keluar dari sana untuk mengurus semuanya.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️