
“Mas Dylan..” Sapaku
“Assalamu'alaikum.” Tak menghiraukan sapaanku, mas Dylan segera duduk di depanku sembari memberi salam yang bisa dibilang lebih bagus
“Wa... Wa'alaikum salam mas.” Jawabku sedikit canggung. Belum apa-apa saja sudah canggung. Ku buang nafas ku perlahan lalu beralih Melihat mas Dylan yang nampak memesan pada waiters yang baru datang membawakan minumanku. Setelah nya waiters itu pun berlalu Membawa pesanan mas Dylan
“Ada apa?” Mas Dylan langsung ke intinya
Tak ingin berlama-lama, segera aku mengutarakan tujuanku meminta bertemu Dengan nya
“Emm gini mas, misalkan.. ini misalkan yah, misalkan mbak Indah gak bisa ngasih keturunan, apa yang akan mas lakukan?” Inginnya aku langsung ke intinya namun entah mengapa sepertinya itu sangat sulit
Ku lihat mas Dylan Menatap ku dengan sebelah alis yang terangkat “Dia sudah memberitahu mu?”
“Ya?”
“Indah sudah memberitahu mu mengenai dia yang tidak bisa hamil?”
Aku tersentak, rupanya mas Dylan benar-benar sudah tau. Aku mengangguk menjawab pertanyaan mas Dylan
Terlihat mas Dylan menghembuskan nafas panjang, ia menyugar rambutnya ke belakang. Gila!!? Ganteng bengat!! Ehh! Sadar Ifa!!!!
“Jadi?” Ucapnya lagi
Aku berdehem “Sebenarnya mbak Indah menemuiku tiga hari lalu, di.. dia mengatakan hal yang sangat omong kosong. Jadi aku ingin mas Dylan menyadarkan mbak Indah.” Jawabku
“Omong kosong? Menyadarkan? Bisa kau perjelas.” Ia nampak tak puas dengan penjelasan ku
Aku terdiam, ingin aku menjelaskan nya tapi entah mengapa kok aku ada rasa sungkan yah? Tapi.. ah sudah gaskan saja lah..
“Mbak Indah menyu.. ehem menyuruhku agar mau jadi i.. istri ke.. kedua mas Dylan.” Sungguh aku sangat canggung mengatakan nya. Aku menunduk dalam, tak ada respon dari mas Dylan.
Ku angkat wajahku dan kulihat wajah mas Dylan yang menatapku lekat “Emm mas?”
“Benarkah itu yang dikatakan nya padamu?”
Aku mengangguk “Bahkan mbak Indah sampai memohon-mohon. Jadi, aku juga ingin memohon sama mas Dylan agar membujuk mbak Indah agar sadar.” Ku tunjukkan wajah memelasku. Mata ku yang bulat ku kedip-kedipkan.
Mas Dylan meringis. Tapi, meringis kenapa?
“Ya? Menerima apa?”
“Tawaran Indah.”
Keningku berkerut “Aku masih memikirkannya. Sebenarnya aku sudah menolak, tapi mbak Indah memohon sampai berlutut, aku gak tega melihat mbak Indah seperti itu. Makanya aku bilang akan memikirkan tawarannya.”
“Begitu yah.” santainya. What!! Setidaknya dia harus bereaksi sedikit mengejutkan bukan?
“Mas, tolong bu..__” Belum selesai aku bicara, tiba-tiba waiters datang membawakan pesanan mas Dylan. Ucapan ku terhenti sampai waiters tersebut pergi dari meja kami.
Aku ingin kembali melanjutkan Ucapan ku tapi ku urungkan saat melihat mas Dylan mengangkat gelas lalu meminum minumannya.
Setelah meletakkan kembali gelasnya, ku lihat mas Dylan merogoh dompet nya lalu mengeluarkan lima lembar uang merah dan menaruhnya di atas meja
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi bukan?” Ia nampak berdiri ingin meninggalkan tempatnya
“Eh?! Mas tunggu dulu mas, mas akan membujuk mbak Indah ‘kan.” Aku ikut berdiri
Mas Dylan hanya menoleh melihat ku sekilas lalu tanpa kata ia pergi meninggalkan ku
“Mas.. mas..” Aku sedikit berteriak.
“Agghhh..” Ku hempaskan bokongku kembali ke kursi “Apa sih maksudnya mas Dylan!!!” Ku gigit ujung kuku jempolku.
“Dasar! Laki-laki memang semuanya sama. Berengsek!!!! Aku yakin mas Dylan memang ingin punya istri dua!! Sialan!!” Umpatku
Ku lihat uang yang ditinggalkan mas Dylan. Ku ambil lima lembar uang tersebut. Tunggu, bukannya harga kedua minuman kami tidak sampai seratus yah? Pikirku
Senyum licik tertampil di wajahku “Aseekkk dapat uang gratis. Heheh gak ada juga sih yang beli uang.” cepat-cepat ku taruh empat lembar di dalam kantong celanaku sedangkan selembar nya ku taruh di atas meja
.
.
Langsung klik profil othor 😁