My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Lamaran Zean



Mengencangkan dasinya, Zean merapikan penampilan nya di depan cermin. Untuk pertama kalinya ia gugup akan melakukan sesuatu dalam hidup.


Huffhh...


Ia menghela nafas panjang. Orang yang tidak pernah bercermin merasa aneh melihat pantulan dirinya di dalam cermin.


" Ah.. aku seperti orang bodoh! Payah! ". Kembali merapikan jasnya. Ia berbalik dan melihat kotak segi empat berwarna peach yang ada di atas nakas. Di ambilnya kotak itu lalu di masukkan di kantong bagian dalam jas.


Ia mengatur pernafasan nya sebentar. " Lancarkan lah jalan hamba mu malam ini ya Allah. Aamiin ". Setelah mengucapkan nya, Zean pun mengambil kunci mobil dan keluar dari apartemen.


Di dalam mobil Zean mencoba menelpon Sean untuk menemaninya, namun panggilan nya tidak di angkat walaupun tersambung. " Apa Sean sedang menjalankan misi? ". Gumam Zean mencoba fokus menyetir.


Ia mendesaah pelan. " Semoga Sean dapat pencerahan ". Katanya lalu mempercepat sedikit laju mobil, ada rasa tidak sabar ingin bertemu Ara namun sepertinya rasa gugupnya lebih mendominasi.


Saat di perjalanan, ia tidak sengaja melihat toko kue yang buka dua puluh empat jam. Refleks Zean menginjak rem. " Apa aku harus membawa buah tangan? ". Gumamnya. Walaupun saat ia bertanya pada Ares, namun saat itu Ares hanya mengatakan agar tidak perlu membawa apa-apa. Tapi " Sepertinya ada yang kurang kalo aku tidak bawa buah tangan ".


Zean keluar dari dalam mobil dan masuk kedalam toko kue tersebut.


" Selamat datang ". Sambut pegawai wanita yang tengah berdiri di belakang lemari kaca yang terdapat banyak macam kue. Pegawai wanita itu sempat terpesona dengan wajah Zean.


'aktor kesasar'. Pekik nya dalam batin.


Zean tidak memperhatikan pegawai tersebut, ia lebih memilih melihat-lihat kue yang tersusun rapi di dalam lemari kaca besar di depannya. 'hmm kira-kira yang bagaimana yah?'.


" Maaf tuan, kue untuk acara apa? Mungkin saya bisa membantu ". Ucap pegawai tersebut dengan segala keprofesionalnya. Zean mendongak.


" Hmm ". Ia nampak berfikir. Kata-kata apa yang pas untuk mengatakan nya.


" Maaf? ". Sentak pegawai itu karena tidak mendapatkan jawaban.


" Ah! Keluarga calon mertua ku ". Ia refleks mengatakan nya. Pegawai wanita itu hanya tersenyum.


" Oh.. maksudnya untuk keluarga kekasih anda? ". Pegawai tersebut mulai mengambil beberapa kue di dalam lemari.


" Ah! Bu.. bukan kekasih! ". Entah mengapa tapi Zean benar-benar gugup.


Sontak pegawai tersebut mendongak kembali melihat wajah tampan di depannya. " Ya? Oh maksud nya tunangan yah ". Tebak wanita itu.


Tidak ingin ambil pusing, Zean hanya mengangguk.


Setelah membeli kue dengan drama yang cukup melelahkan, Zean kembali melanjutkan perjalanan nya.


Tak cukup waktu lama, ia pun sampai. Di parkirkan mobil nya, setelah selesai ia keluar dan betapa terkejutnya Zean saat melihat Ares menunggu di depan pintu.


" Assalamu'alaikum tuan... ".


" Wa'alaikum salam... ". Jawab Ares sembari tersenyum. " Bagaimana? Sudah siap? Kalau tidak siap masih belum terlambat untuk putar haluan ". Goda Ares. Ia tidak bisa tidak menggoda Zean saat melihat wajah gugup seorang yang di cap sebagai kulkas berjalan.


Zean mengambil nafas lalu menghembuskan nya pelan. " In syaa Allah... Saya siap ". Jawab Zean tegas.


Ares tersenyum lalu menepuk pundak Zean. " Ayo kita masuk ". Zean hanya mengangguk dan mengikuti langkah Ares masuk kedalam.


Ares menuntun Zean untuk duduk di ruang tamu menunggu kedua orang tua dan juga calon yang akan di lamar keluar.


" Duduklah... ". Zean menurut dan duduk di salah satu sofa tunggal disana, Ares ikut duduk di samping kanan Zean di sofa tunggal juga.


" Bi, tolong panggil ayah, ibu dan Ara ". Ucap Ares kepada pelayan yang datang membawa minuman.


" Baik tuan ".


Ares beralih melihat Zean. Ia terkekeh " jangan gugup, tenang saja ".


" Baik tuan, saya hanya merasakan hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya ". Ucap Zean. Ia mengeluarkan paper bag. " Maaf tuan ini... ".


" Apa itu, Zean? Aku 'kan, sudah bilang tidak perlu bawa apa-apa ". Dari dalam mulutnya ia mengeluarkan perkataan itu, namun tangannya tetap mengambil paper bag tersebut. Rezeki jangan di tolak.


" Saya hanya tidak enak datang dengan tangan kosong ".


Ares mengintip isi paper bag itu. " Bi ". Panggil nya pada salah satu pelayan disanaa. Yang di panggil pun maju mendengar titah sang majikan. " Tolong sajikan kue ini ". Katanya memberikan paper bag tersebut.


" Baik tuan ". Ia pun pergi ke dapur untuk menyajikan kue tersebut.


" Assalamu'alaikum ". Salam yang terdengar tidak hanya dalam satu mulut terdengar, membuat kedua orang disitu menoleh melihat sumber suara.


" Wa'alaikum salam ". Jawab Zean sembari berdiri. Ia tiba-tiba di landa kegugupan. Bagaimana jika lamarannya di tolak? Bukan! Bagaimana jika Ara tidak menerima nya? Kemungkinan-kemungkinan seperti itu tiba-tiba menyerang Zean. Apakah ia harus kalah sebelum berperang? Tidak! Ia sudah disini maka ia harus melanjutkan nya. Yah lebay(●__●)


Ayah, ibu dan Ara duduk di depan Zean di sebuah sofa panjang. Ayah dan ibu sudah di beritahu akan kehadiran Zean malam ini, tentu Ares yang memberitahu. Namun, Ara tidak di beritahu biarlah jadi kejutan.


Mereka berbasa-basi untuk menghilangkan kegugupan dan ketegangan di ruangan ini, sampai seorang pelayan datang membawa kue yang telah di potong dan di susun rapi di sebuah piring. Pelayan itu menyajikan kue tersebut di hadapan mereka semua.


" Kau beli kue, Res? ". Tanya ayah


" Bukan aku yah, tapi Zean yang bawa ". Ayah ibu dan Ara melihat ke arah Zean yang masih memberikan wajah datarnya. Entah apa yang di pikirkan Zean, yang pasti dia sangat gugup kali ini.


" Jadi, Zean... ". Ayah memberi kode kepada Zean agar mengatakan maksud kedatangan nya.


Mendapatkan kode seperti itu, Zean merubah cara duduknya lebih tegak. Ia berdehem untuk menetralisir kata-kata yang akan keluar dari dalam mulutnya, setelah di latih berkali-kali.


" Ehem... Mungkin tuan Ares sudah memberi tahukan niat kedatangan saya kesini ". Ucapnya. Ia mengambil nafas untuk memulai kata-kata nya lagi.


Ayah dan ibu saling pandang, mereka tersenyum. Sedangkan Ara di buat sangat kaget, tidak ada hujan tidak ada angin, kenapa sang dosen tiba-tiba datang melamar nya. Jujur saja, Ara juga tertarik dengan Zean. Karena itu ia sedikit senang dengan perkataan Zean. Namun, kalau Zean datang melamar hanya karena sebuah perasaan bersalah ia akan menolaknya.


Ayah mencoba untuk tegas. " Oh.. saya acungi jempol keberanian mu. Tapi, apa yang kau punya sampai mempunyai keberanian untuk meminta anak saya ". Memandang Zean tajam.


Zean mengangkat kepalanya. " Saya memang tidak mempunyai apa-apa, bahkan saya juga baru belajar agama Islam beberapa bulan ini. Masa lalu saya juga sangat suram. Dengan segala kekurangan saya ini, saya datang kesini untuk meminta anak tuan, ini memang sangat lancang dan yang saya bawa disini hanya cinta saya. Tapi! Saya yakin saya akan membahagiakan Ara dengan cinta saya dan menjadi iman yang baik untuk nya ". Jawab Zean panjang lebar. Ia menegaskan setiap ucapannya.


Mereka semua tercengang mendengarnya. Zean benar-benar serius. Ayah dan ibu tidak punya alasan lain lagi untuk menghalangi niat Zean.


Bahkan Ara sampai tidak bisa berkata-kata mendengar nya. Perkataan Zean secara tidak langsung mengatakan cintanya, bahkan di depan semua keluarga Ara sekaligus. Ia sama sekali tidak sadar akan cinta Zean selama ini.


" Bukan kami yang menentukan nya, tapi ". Melihat ke arah samping, dimana disana ada Ara yang sedari tadi menunduk di samping sang ibu. Ia juga gugup.


Ara masih diam, entahlah ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Apa ia harus menerima nya dengan mengatakan sesuatu. Ibu memegang lembut tangan Ara yang berada di pangkuan Ara. " Turuti kata-kata hati mu, nak " tutur ibu.


Ara memandang Zean sekilas tatapan mereka tidak sengaja bertemu, Ara cepat-cepat menunduk kembali.


'eh! Apa dia benci dengan ku'.


Ara mengangguk pelan tanda dia setuju. " Alhamdulillah... ". Sahut mereka semua. Zean sampai tidak bisa menyembunyikan senyumannya.


" Oh yah ". Merogoh kantong jas. Ia mengeluarkan sebuah kotak berwarna peach, lalu menaruhnya di atas meja.


" Apa itu Zean? ". Tanya ibu


" Setidaknya sebelum kami menikah, saya ingin agar Ara memakai cincin ini di jarinya ". Tentu hal ini bukan di lakukan Zean karena formalitas saja, namun agar orang-orang tahu kalau Ara sudah ada yang punya. Ia selalu geram saat melihat beberapa pria selalu mendekati Ara.


" Bagaimana Ara? ". Tanya ayah, yang di tanya hanya mengangguk.


" Karena masih belum muhrim, kalian tidak boleh saling sentuh. Jadi, biar ibu yang pasangkan cincin nya di jari Ara. Bagaimana Zean? ". Mengambil kotak peach di meja


" Silahkan nyonya, tidak masalah ".


Ibu membuka kotak tersebut, di dalamnya ada sebuah cincin berlian yang sangat cantik. Ibu memakai kannya di jari manis Ara, membuat Ara senyum-senyum sendiri di balik cadar.


" Cie.... Yang mau nikah ". Goda Ares. Ia sedikit iri melihat lamaran Zean, masih teringat jelas bagaimana dirinya saat melamar Lyza. Bukannya membawa cin-cin ia malah membawa surat ktp dan beberapa foto lama. Bahkan ia mengajak taruhan.


Ara semakin di buat malu dengan perkataan Ares " ihhh bang ... ". Semuanya tertawa melihat tingkah Ara yang langsung sembunyi di balik badan sang ibu.


" Tunggu dulu ". Tahan ayah, mereka semua sontak melihat ayah. Wajah ayah kembali serius.


" Karena sebentar lagi Zean akan menikah dengan Ara. Maka kamu, Zean bisa melihat wajah calon istri mu sekarang. Setelah melihat nya kamu bisa putuskan, apakah akan melanjutkan nya atau membatalkan semuanya ".


" Tidak perlu tuan ". Ucap Zean


" Kenapa? Apa kamu takut? ".


" Mana mungkin, saya hanya ingin ini menjadi kejutan. Lagi pula menurut saya, wajah istri saya lah yang paling cantik di dunia ". Ucap Zean tegas dengan tersenyum tipis.


Perkataan Zean membuat semua orang disana tersenyum senang. Apalagi Ara yang semakin di buat klepek-klepek dengan perkataan Zean. Dasar jago gombal!


.........


Acara pernikahan Ara dan Zean akan di laksanakan sebulan setelah lamaran tersebut. Mereka ingin agar Ara dan Zean saling mengenal lebih jauh satu sama lain. Dengan kata lain Ta'aruf.


Hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Tidak seperti saat Lyza dan juga Ares menikah, kali ini keluarga Warrent membuat pesta namun tidak terlalu mewah. Mereka membuat pesta sederhana, sederhana bagi sultan.


Zean memandangi dirinya di depan cermin. Lagi-lagi ia harus di buat gugup, malah sekarang gugupnya semakin parah. Ia sudah beberapa kali menghapal ijab qobul nya.


Huffhh...


Ceklek...


" Wisss pengantin pria kita yang sedang gugup ada disini pemirsa... Hahaha ". Pekik Egi di susul Sean.


" Kalian ini. Keluar dari sini kalau hanya datang menganggu ". Ketus Zean


" Ahhaha santai Zean, kami datang kesini kerena ingin menguatkan mu. Jangan gugup oke ". Sahut Sean


" Benar... Benar... Kamu juga sudah menghapal nya 'kan, jadi tidak perlu gugup. Yah asalkan saat ijab nanti, jangan kebalik. Nanti ayah lagi yang jadi istri mu ". Egi terkikik geli di susul oleh Sean


" Kalian ini ada-ada saja, katakan saja kalau kalian iri ". Tersenyum mengejek


" Ck ". Decih kedua orang itu bersama. Iyya jujur saja mereka sedikit iri. Padahal di antara ketiga orang itu, Zean lah yang sangat anti terhadap wanita. Namun bisa-bisanya dia yang lebih dulu menikah.


" Yah tapi kami juga senang, setidaknya kau masih normal Zean ". Kedua orang itu menepuk pundak Zean dengan perasaan yang lega. Membuat Zean geram akan tingkah mereka.


Dari dulu sampai sekarang Zean memang normal! Belum sempat Zean akan berbicara, seseorang datang dan mengatakan bahwa acara ijab qobul nya akan segera di mulai.


" Jangan khawatir Zean... Kalau salah pun, setidaknya ayah masih kaya ". Kata Egi dan di susul tawa Sean.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️