My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Nasehat



Mereka kemudian pulang setelah sidang Lyza. Lima tahun Lyza di fonis penjara, sebisa mungkin mereka akan bertahan sampai saat Lyza keluar dan mereka bisa memberikan senyuman hangat lagi pada nya.


Ares bersama Egi berdua di dalam mobil, kali ini Ares memilih untuk duduk di kursi penumpang, sedangkan Egi yang menyetir.


Sedari mobil jalan, Ares hanya melihat jendela dengan tatapan kosong. Baru saja ia berpisah dengan sang istri, namun ia sudah rindu.


Hufffhhhhh


Helaan nafas panjang berhasil keluar dari mulut Ares. Tidak ada pembicaraan dalam mobil itu, kedua pria itu berperang dengan pikirannya masing-masing.


Sesampainya di rumah...


Setelah mengucap salam Ares langsung naik ke atas kamar. Ia ingin menumpahkan kesedihan yang di tahanannya sedari tadi.


Tepat saat pintu tertutup, Ares langsung merosot ke lantai masih di depan pintu. Ia menutup wajahnya dan menyandar di balik pintu. Ares menangis dalam diam. Bisa apa dirinya sekarang? Ia hanya bisa ikhlas dan selalu mendoakan agar sang istri selalu di beri perlindungan oleh yang maha esa.


Hampir satu Minggu Ares tidak masuk kerja. Kerjaannya setiap hari cuman merenung di dalam kamar, lalu pergi mengunjungi Lyza di dalam binaan. Hampir setiap hari Ares pergi, bahkan Lyza sampai hapal di jam berapa sang suami akan datang mengunjungi nya.


Pekerjaan di perusahaan sementara di handle oleh Egi dan dibantu oleh ayah.


namun hari ini, Ares untuk pertama kalinya akan masuk kantor, itu pun akibat desakan dari sang istri. Tidak ada yang tahu kalau Lyza masuk penjara, semua berita di tutup dan tidak ada yang berani membuka atau mengorek informasi lebih jauh, kalau tidak ingin berurusan dengan keluarga Warrent.


Ares bersama Egi berjalan melewati lobby perusahaan, beberapa karyawan yang di lewati nampak menyapa. Ares hanya mengangguk dengan senyuman tipis.


Ia masih ingat bagaimana saat sang istri pertama kali cemburu padanya karena tersenyum pada lawan jenis. Dan ia berjanji tidak akan mengulanginya, mungkin saat inilah ia harus menepati janji tersebut. Ia juga tidak punya mood untuk membalas sapaan mereka.


Menghela nafas, Egi mengerti apa yang di rasakan oleh Ares. Padahal mereka baru saja merasakan yang namanya cinta! Padahal Ares baru saja mendapatkan cinta sang istri! Namun, sekali lagi jika takdir berkata lain, maka kita tidak bisa menolak nya.


Ekspetasi tak selalu sesuai kenyataan!


Sebulan berakhir....


Ares lebih banyak menghabiskan waktu nya di perusahaan, pulang pun ia cuman akan rindu akan sosok sang istri dan harus ke pembinaan lagi. Bukannya ia tidak mau pergi, hanya saja ia juga harus mematuhi peraturan bukan? Yah walaupun sekarang sudah terlambat mematuhi peraturan.


Sebelum berangkat ke perusahaan, Ares selalu menempatkan dirinya untuk mengunjungi sang istri.


" Assalamu'alaikum ". Salam Ares saat melihat Lyza sudah ada di depannya.


Lyza tersenyum. " Wa'alaikum salam ". Jawabnya. Ia senang sang suami selalu datang mengunjungi nya. Namun, kalau seperti ini sama saja Lyza cuman pindah rumah.


Bahkan sampai para penjaga disana heran sendiri melihat nya. Kalau memang seperti ini, seharusnya dari awal tidak usah masuk penjara saja. Pikir mereka, apalagi kuasa Ares tentu dapat melakukan nya.


Apakah mereka sedang bermain suatu permainan? Aneh!


Lyza dan Ares duduk di sebuah kursi panjang. Tempat biasanya para napi untuk beristirahat saat telah selesai mengerjakan tugas nya. Lyza di beri tugas di dapur.


" By, kamu tidak masuk kerja? ". Lyza melihat heran ke arah suaminya.


" Hmm kerja... Tapi nanti! ". Sekali lagi, jawaban Ares selalu seperti itu. " Apa kamu tidak jengah memakai pakaian seperti ini, sayang? ". Melihat pakaian Lyza yang berwarna oranye itu


" Kan memang seperti ini by... ".


" Sayang, kamu nampak pucat? Kamu tidak apa-apa 'kan ? ". Mengusap wajah sang istri yang terlihat pucat dari biasanya. Ares memegang dahi Lyza, namun sama sekali tidak panas. " Kita ke rumah sakit ". Menarik tangan Lyza


" Tidak apa-apa by... Pasti cuman kelelahan ".


" Apa! Bagaimana bisa mereka membuat mu kelelahan? ". Murka nya. Apa otak Ares sudah bermasalah?


Bahkan penjaga yang menjaga disana dibuat bingung dengan tingkah Ares. Iyya fiks ada masalah dengan otaknya!


" Astaghfirullah... Ini kan pembinaan by... Mau bagaimana lagi? Kamu yang tidak baik-baik saja disini loh ".


Ares mulai berfikir dan membenarkan perkataan Lyza. Akhir-akhir ini ia terlalu sensitif.


" Mending sekarang kamu berangkat kerja ". Memegang jas Ares.


" Kamu mengusir ku? ". Wajahnya berubah cemberut.


Lyza Terkekeh. " Tidak.... Aku mau lanjut kerja juga, tidak baik aku istirahat terus.. sedangkan yang lain kerja ". Ares membuang nafas kasar.


" Baiklah.. Assalamu'alaikum ".


" Wa'alaikum salam ". Mencium tangan kanan Ares, lalu Ares mencium kening Lyza. Pemandangan yang sangat romantis untuk di saksikan penjaga itu.


Setelah itu, Ares pun berangkat kerja sedangkan Lyza kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tiga bulan berakhir...


Seperti biasa, Ares akan mengunjungi sang istri hari ini. Namun, ia malah di hadang dan tidak di izinkan untuk melihat Lyza. Tentu Ares marah. Apa-apaan mereka padahal dia hanya ingin melihat sang istri!


" Maaf tuan... Tapi nona Lyza tidak ingin bertemu siapa pun ". Ucap penjaga itu berusaha menahan Ares.


" Jangan bercanda! Aku ingin bertemu istri ku ! ". Kekeh nya. Apakah salah ka ia bertemu sang istri? Tidak 'kan.


" Maafkan saya sekali lagi... Tapi nona Lyza sudah tidak ingin di kunjungi lagi ".


" Apa maksudmu..__ ".


Perkataan Ares terhenti saat salah seorang petugas memberinya surat, dan mengatakan bahwa surat itu dari Lyza. Ares mengambil surat itu, ia mulai membacanya.


Rahangnya mengeras, wajah nya sudah memerah. Apa-apaan isi surat ini! Ia tidak terima. " Tidak! Aku ingin bertemu istriku ". Ia ingin menerobos, namun kedua penjaga itu menghadang.


Ares berdecih ia lalu kembali dengan kesal. Lalu masuk kedalam mobil.


" Cepat sekali bos ". Biasanya bisa sampai dua jam. Ada apa dengan sang bos


Ares menghembuskan Nafas nya pelan. " Jalan Gi.. kita ke perusahaan ". Ia tidak ingin membahas hal ini lagi, dan Egi jug takut untuk berbicara jika sudah begini.


Ares membaca ulang surat itu. 'kenapa kamu kekeh begini sayang'. Batinnya. Apa ada yang salah dengan diri nya sampai sang istri tidak ingin bertemu lagi dengannya.


Isi surat..


Dear Suamiku...


Assalamu'alaikum....


Bagaimana kabar mu by? Semoga baik-baik saja. Maaf by, tapi aku tidak ingin di kunjungi lagi dan carilah pengganti ku. Aku tidak tahu bagaimana nasib ku mulai sekarang, dan pasti banyak yang akan mencemooh mu mempunyai istri seperti ku. Tidak apa-apa kalau kamu ingin mencari istri kedua, dengan begitu akan ada yang mengurusmu.


Sekali lagi maafkan aku by...


Dari Lyza....


Lagi dan lagi Ares tenggelam dalam pekerjaan nya, ia terlalu memikirkan sang istri.


Setiap hari Ares selalu mengunjungi Lyza, namun pasti selalu di tahan. Seminggu ini ia sudah tidak pernah melihat sang istri. Bukan hanya Ares yabg tidak bisa mengunjungi Lyza, namun Zean, Sean dan keluarga lainnya juga di larang mengunjungi Lyza.


Tengah malam seperti ini Ares baru selesai mengerjakan pekerjaannya. Ia ingin mengalihkan pikirannya ke pekerjaan. Dan tentu Egi harus selalu setia menemani.


Di dalam mobil, tidak ada pembicaraan. Hal ini sudah terjadi sejak seminggu yang lalu, entah mengapa Egi merasa aneh akan hal ini.


" Berhenti Gi ". Egi menginjak pedal rem. Lalu berbalik melihat sang bos.


" Ada apa bos? ".


" Aku mau singgah ke tempat Raka dulu ". Ucapnya.


" Baiklah... Tapi jangan lama-lama bos ". Hari sudah gelap, mereka harus cepat-cepat pulang


" Tenang saja... ". Menepuk pundak Egi. " Assalamu'alaikum ".


" Wa'alaikum salam ". Ares pun turun dari dalam mobil dan masuk kedalam toko buku Raka.


Ares menuju kasir. " Assalamu'alaikum ".


" Wa'alaikum salam... Oh Tuan Ares, cari mas Raka yah? ". Ares mengangguk. Sebisa mungkin ia memperlihatkan senyuman nya walaupun hanya senyuman tipis.


Pria itu tersenyum. " Mas Raka ada di ruangannya tuan, silahkan anda ketuk dulu ".


" Terima kasih ". Ucapnya dan di angguki penjaga kasir itu. Ares pun melangkah ke ruangan Raka.


Di ketuknya ruangan tersebut. Tok.. tok.. tok..


Sampai suara sahutan di dalam membuat Ares membukanya. " Assalamu'alaikum ".


Raka mendongak. " Wa'alaikum salam... Eh Ares.. ayo duduk ". Berdiri dan berjalan mendekati Ares.


Ares dan Raka duduk di sofa saling berhadapan. " Tumben kesini. Mau ambil buku lagi? ". Biasanya Ares datang saat ingin membeli buku atau ada urusan bisnis dengan Raka.


Ares menggeleng. " Tidak. Aku hanya ingin mampir saat melihat toko mu masih buka ". Ucapnya dengan nada lesuh


" Ada apa Ares? Kamu seperti nya punya masalah? ".


" Tidak apa-apa, aku baik-baik saja ". Jawabnya


" Jangan membohongi ku! Aku sudah kenal lama dengan mu! Katakan apa masalah mu, apa ini tentang Istri mu? ". Tanyanya. Raka memang tahu kalau Lyza masuk penjara.


Ares mengangguk lemah. " Lyza sudah tidak ingin di kunjungi lagi seperti biasa... ". Akhir kalimat, Ares menedesaah. Ia mengusap kasar wajahnya.


Raka menjadi iba dengan apa yang di alami sang sahabat. " Mungkin Lyza cuman butuh waktu. Berilah dia waktu, bisa saja dengan begitu semuanya akan kembali dengan semula ". Memberikan nasehat, hanya itu yang ia bisa


" Menurut mu seperti itu? ".


" Cobalah.. ". Ares nampak berfikir. " Baiklah... Terima kasih atas sarannya.. kamu selalu ada untuk ku selama ini ".


Raka tertawa pelan. " Tentu saja. Aku 'kan, sahabat mu. Sudah pulang sana, kamu nampak lelah ".


" Oh.. jadi ceritanya kamu mengusir ku ".


Raka kembali Terkekeh. " Anggap saja iya.. ". Ares di buat tertawa dengan jawaban Raka.


" Baiklah aku pulang. Assalamu'alaikum ".


" Wa'alaikum salam ".


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️