
Zean kembali masuk kedalam ruang persalinan. Ia langsung menggenggam tangan sang istri yang nampak menahan sakit.
" Tarik nafas nona.. perlahan, jangan angkat kepala anda. Saya akan beri aba-aba dan ikuti petunjuk saya." Ucap dokter wanita itu
Ara hanya mengangguk dan mulai mengikuti instruksi dokter. Ia mulai mengejan sekuat tenaga. Peluh membasahi keningnya.
Sementara Zean memegang tangan sang istri, lebih tepatnya Ara yang mencengkram erat tangan Zean.
" Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin ".
Artinya : "Tidak ada tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".
Setelah membacanya Ara pun mengejan dengan sekuat tenaga.
" Sedikit lagi nona, kepalanya sudah terlihat." Sang dokter menyeru
Tak henti-hentinya Zean mencium kening sang istri. Ia sungguh ingin menggantikan istrinya merasakan sakitnya.
Dengan penuh perjuangan, akhirnya terdengar suara...
Oekk.. oekk...
" Alhamdulillah... Bayi nya sudah lahir. Selamat nona Ara, tuan Zean." Ucap sang dokter sembari menggendong bayi mungil berwarna merah yang masih menangis tanpa mengeluarkan air mata.
Bayi itu kemudian di serahkan kepada perawat disana untuk membersihkan tubuh bayinya yang masih merah.
" Alhamdulillah De, putri kita sudah lahir." Mencium seluruh wajah Ara
Ara berusaha untuk tersenyum " Iya sayang. Alhamdulillah... Aku mau melihatnya." Ucap Ara dengan nada lemah
" Nanti yah, setelah bayi kita di bersihkan." Memberikan pengertian dengan suara yang sangat lembut. Sangat berbeda jauh jika Zean berbicara dengan orang lain, bahkan kepada mertua dan sang young ms Zean tidak berbicara seperti itu.
Ara hanya mengangguk lemah. Ia masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi nya.
" Sudah cukup yah. Tidak ada anak kedua lagi." Ujar tiba-tiba Zean yang sontak membuat Ara yang tadinya ingin memejamkan mata langsung kembali membuka mata.
" Kenapa?."
" Aku tidak sanggup melihat mu sakit sayang. Seandainya aku yang merasakan sakitnya it's okey, aku tidak masalah. Tapi aku tidak bisa melihat mu berjuang sendirian sayang." Ucapnya dengan wajah sendu
Ara tersenyum " Semua bergantung di tangan tuhan sayang, kita terima takdir kita saja yah." Ia mengelus tangan sang suami yang dari tadi tidak melepas tangannya
" Benar itu." Timpal Sean dan Egi di belakang. Semua anggota keluarga yang tadi menunggu di depan ruangan masuk.
Ibu langsung memeluk tubuh sang putri. " Kamu sudah berjuang nak. Selamat." Ucap ibu, ia tidak menyangka anak yang di lahirkan nya dulu sekarang sudah menjadi seorang ibu
" Iya bu."
Mereka semua kemudian memberikan selamat kepada Ara dan juga Zean. Sampai seorang perawat datang membawa bayi perempuan mungil yang sudah di bersihkan kepada Zean.
" Adzani dulu Zean." Titah ayah
Zean pelan-pelan mendekati telinga sang putrinya dan mulai mengadzani nya.
Sekali lagi Re dan Sean terkejut melihat Zean dengan khusyuk mengadzani sang putri. Setelah mengadzani putrinya...
" Apa kalian sudah menentukan namanya?." Tanya Egi. Ia benar-benar gemas ingin menggendong bayi perempuan yang sedang ada di gendongan Ara. Bukan hanya Zean, tapi semua orang yang di sana juga sangat ingin menyentuh bayi perempuan itu
" Kalian bisa taruh nama keluarga Warrent di belakang namanya." Ujar Ayah
" Kalian juga bisa taruh nama Anataran." Tawar Lyza juga. Ia ingin setidaknya ada yang meneruskan nama keluarganya, yah tetap saja ia tidak akan memaksa Karena walau bagaimanapun semua yang menentukan tentu harus Zean.
" Hmm sebenarnya kami sudah menentukan namanya. Tapi.." Ara menggantung ucapannya, ia melirik kearah sang suami
Zean mengelus kepala sang istri dengan satu tangannya, sebab tangan yang lain ia gunakan untuk menggendong bayinya. " Karena ini putri kami, jadi nama belakang nya harus ada nama ayahnya." Ucap Zean
Mereka semua manggut-manggut. Sepertinya Zean tidak akan menaruh nama keluarga Warrent ataupun Anataran.
" Baiklah itu terserah kalian." Ucap ibu sambil tersenyum. Lagi pula tidak ada yang salah dari sana. Walaupun nama belakangnya beda, tapi tidak ada yang akan menyangkal darah yang mengalir di dalam tubuh anaknya.
" Alisya Ziangga Putri." Zean mengucapkan nama anaknya. Nama Ziangga di ambil dari nama asli dari Zean yaitu Zean Ziangga Putra. Sebenarnya nama asli Zean adalah Ziangga, tapi karena Lyza mengatakan itu terlalu panjang jadi Ia mengambil nama paling depannya saja.
" Nama yang cantik." Ucap ibu
" Hei Zean, apa aku boleh menggendong bayi Lisya. Boleh yah." Tawar Sean, ia sudah gatal ingin menggendong bayi mungil yang menurutnya sangat rapuh
" Hei.. aku duluan." Ujar Egi
" Eh.. eh... Eh..! Aku duluan dong." Seru Desi
" Tidak.. tidak.. Fatih dulu." Timpal Fatih tak kalah semangat dari mereka
Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala. Sedangkan Zean memutar bola mata malas melihat tingkah mereka. Padahal anak nya baru lahir tapi sudah jadi rebutan, bagaimana nanti kalau sudah besar? Oh.. tentu saja Zean tidak akan melepas begitu saja Putri nya yang wajahnya sangat mirip Dengannya.
" Eh! Tapi aku juga mau." Sahut Lyza
Sontak semua orang melihat kearah Lyza. Mereka takut kalau Lyza mengidam dan mengambil alih semua kebebasan Lisya.
Mendengar perkataan Ares mereka semua terdiam, tidak ada yang berani melawan perkataan Ares. Zean juga tidak keberatan akan hal itu.
Ia dengan perlahan memberikan putri nya pada Ares, dan dengan cepat Lyza mengambil baby Lisya di gendongan sang suami.
" Wah.. imut nya. Mukanya versi Zean perempuan. Hmm tapi matanya mirip matanya Ara. Kombinasi yang sempurna." Ia sangat gemas sampai-sampai ia tidak tahan untuk tidak mencium wajah baby Lisya keseluruhan.
" Iya sangat cantik." Ares ikut mencium wajah baby Lisya, lalu tangannya turun untuk mengelus perut sang istri.
Mereka yang menyaksikan nya hanya diam. Tidak ada yang berani bersuara sekarang. Setelah puas, Lyza pun memberikan baby Lisya kepada yang lain.
Baby Lisya di opor sana-sini, sampai membuat Zean kesal sendiri. Anaknya yang di opor-opor tapi ia yang sakit kepala melihat nya.
" Sudah.. sudah.. biarkan baby Lisya tidur di sisi ibunya." Ujar Zean. Apa mereka tidak bisa lebih pengertian lagi! Padahal Ara yang melahirkan tapi mereka yang mengambil alih anaknya!! Pikir Zean sedikit kesal
" Benar apa yang di katakan Zean. Taruh baby Lisya di samping Ara, biarkan baby Lisya nenyusu. Dan kalian yang pria silahkan keluar." Ujar ibu setuju dengan Zean
Akhirnya semua pria keluar kecuali Zean yang memang tidak ingin jauh-jauh dari sang istri. Sedangkan Desi dan Re pergi untuk membawakan pakaian ganti untuk Ara.
.........
Hari sudah gelap. Di perjalanan kembali ke rumah sakit. Tiba-tiba suara Adzan Maghrib berbunyi.
Desi melihat supir yang sepertinya harus sholat terlebih dahulu. " Berhenti pak." Ujar Desi saat mereka sampai tepat di depan sebuah masjid besar
" Ada apa?." Tanya Re " apa ada yang ketinggalan?."
" tidak. Bukan aku tapi pak supir. Pak, bapak mau pergi sholat Maghrib 'kan." Katanya. Ia takut mereka sampai di rumah sakit dan waktu Maghrib sudah habis
" Eh! Iya nona. Apa saya bisa pergi sholat sekarang?." Tanyanya. Ia senang sebab di beri kesempatan untuk Sholat terlebih dahulu
" Iya silahkan pak." Ucap Desi. Tak tunggu waktu lama, supir tersebut pun keluar dari mobil dan langsung menuju ke masjid yang besar di seberang.
" Ayo. Kita juga turun." Ajak Desi. Re hanya mengangguk dan turun bersama dari mobil mengikuti Desi.
Saat turun Re bisa melihat ada banyak pelancong yang ikut singgah di masjid untuk melaksanakan kewajiban nya sebagai seorang muslim.
" Kau tidak ikut sholat?." Tanya Re
" Ah! Aku sedang datang bulan." Ucap Desi seadanya. Re manggut-manggut tanda ia mengerti. Walaupun ia seorang atheis Re bukannya tidak mengerti ia malahan sangat paham, sebab Lyza yang biasa menjelaskan nya.
" Hei Re kenapa kamu tidak percaya tuhan?." Tanya Desi
Re menatap Desi " Hmm tidak?." Ia sedikit ragu menjawab
" Kenapa?." Ia sedikit mendapatkan sebuah harapan dari Re. Mungkin saja Desi bisa memberikan pencerahan untuk Re yang selalu terlihat hampa di matanya
" Hmm yah karena dari kecil aku memang tidak pernah di perkenalkan dengan yang namanya tuhan. Sebelum bos Lyza memungut dan menyelanati ku, yang aku lakukan hanya mencoba untuk bertahan hidup." Ujar Re panjang lebar. Ia melihat orang-orang hilir masuk kedalam masjid
" Berarti bisa jadi kamu akan percaya tuhan, saat waktu kecil ada yang memperkenalkan mu padanya." Desi semakin gencar
Re mengedik " Maybe."
Desi tersenyum " Aku punya penawaran." Ia tersenyum licik
" Penawaran? Penawaran apa?."
Sudut bibir Desi semakin mengembang " Ayo ikut aku kesana." berjalan lebih dulu masuk ke pekarangan masjid besar di seberang. Re hanya mengikuti dari belakang.
" Apa yang akan kita lakukan disini?." tanya Re. Ia melihat Sangat banyak orang yang masuk kedalam masjid, ada juga yang seperti mereka hanya duduk di halaman masjid.
" Coba lihat kerumunan orang-orang yang masuk kedalam masjid. Menurut mu, bagaimana cara merapikan mereka?."
" hmm." Ia sedikit berpikir. Ada lebih dari seribu orang yang masuk kedalam masjid, dan sebagiannya masih berkeliaran di halaman masjid. " hm mungkin sedikit susah, ada banyak orang disini."
" Tidak susah. Tidak butuh satu menit mereka akan tersusun rapi."
Re menyerngitkan dahinya " Kau yakin? Ada sangat banyak orang disini. Mungkin sekitar 2 atau 3 jam barulah mereka akan rapi." Ujarnya sedikit Bingung
Desi semakin tersenyum licik " Hehe bagaimana kalau kita taruhan? kalau aku menang kamu harus mempertimbangkan ingin percaya tuhan atau tidak. Aku tidak akan memaksamu untuk masuk kedalam sebuah agama, setidaknya kamu harus percaya Tuhan terlebih dahulu. Bagaimana?."
" hmm baiklah. Tapi kalau jawaban mu salah?." ia tidak ingin rugi begitu saja
" Kamu bisa meminta apapun padaku." Ia mengatakan nya dengan sangat percaya diri
Re tersenyum menyeringai " Setuju." ia yakin kalau Desi pasti kalah. Tidak mungkin merapikan massal yang sangat banyak ini hanya dengan kurang satu menit.
.
.
TBC
Note: Nama Lyza di baca ( Layza ) yah guys bukan lurus ajah.🤭 Tapi Layza. tulisan nya Lyza 😊✌️
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️