
Dan disinilah sekarang mereka. Zean sudah duduk di depan penghulu dan di sampingnya ada calon istri nya. Ah dia semakin di buat gugup, apalagi melihat tamu-tamu yang memandang ke arah nya.
Gedung yang mereka pakai untuk acar resepsi dan juga ijab qobul ini nampak di penuhi beberapa tamu. Kebanyakan dari mereka adalah teman bisnis ayah dan juga Ares, ada juga teman dosen Zean dan tak lupa teman-teman Ara.
Yang akan menikahkan mereka tentu ayah. Ia tidak akan melewatkan kesempatan yang hanya ada satu kali seumur hidup.
Ares duduk menjadi saksi. Entah mengapa sedari bangun tadi, ada rasa gelisah di hatinya. Bukan tentang pernikahan ini, malah ia selalu memikirkan sang istri. Ada rasa gelisah dan ia sangat ingin bertemu dengan Lyza sekarang juga.
Zean mulai menjabat tangan calon mertua. Bukan hanya Zean yang gugup disini, namun Ares juga terlihat tegang dan gugup, jantung nya berpacu dengan cepat. Ia selalu memikirkan sang istri.
Suara tegas sang ayah yang menikahkan putrinya terdengar, membuat jantung Ares semakin berpacu, apalagi saat Zean mulai mengucapkan janjinya.
" Saya terima nikahnya, AZZAHRA AKIFA WARRENT bin ABDULLAH ANGGA WARRENT dengan seperangkat alat sholat tunai ". Dengan sekali hentakan Zean mengatakan nya.
Deg...
Bukan hanya jantung Ara dan Zean yang baru menikah berdebar, namun Ares justru lebih kencang.
Sah..
Sah...
Sah...
Suara itu terdengar memenuhi ruangan.
Tes.. air mata Ares jatuh begitu saja. Ia juga tidak sadar air matanya keluar, ada rasa senang dalam hatinya. Senang karena akhirnya sang adik sudah menjadi istri, namun ia juga senang akan hal sesuatu yang ia sendiri tidak tahu.
" Eh! Res, kok kamu yang nangis? ". Pertanyaan dari ayah sontak membuat beberapa orang disitu melihatnya. Ares dengan cepat mengusap air matanya.
Setelah berdoa, Ara mencium tangan Zean sebagai bakti nya. Lalu Zean mengecup kening Ara dengan lembut. Mereka kemudian saling memakai 'kan cin-cin pernikahan. Setelah nya kedua pasutri baru itu sontak melihat Ares yang menangis karena mendengar perkataan ayah.
" Bang, ada apa? ". Tanya Ara
Ares tersenyum " bukan apa-apa. Abang cuman tidak menyangka adik kecil Abang yang dulu suka narik-narik baju abang sudah di persunting orang ". Goda Ares sekalian ia mendusta.
" Ishh bang.. "
Mereka disana tertawa. " Tidak perlu khawatir, semuanya pasti baik-baik saja ". Ujar Egi
'yah aku yakin semuanya baik-baik saja, tapi perasaan apa ini? Kenapa dari tadi aku selalu memikirkan Lyza.... Sayang, sebenarnya kamu kenapa?'. Ada perasaan aneh di dalam hati Ares namun ia segera menepisnya. Mungkin ia karena sekarang sang istri tidak ada disini merasakan semua kebahagiaan yang sedang di rasa semua orang. Pikir Ares mencoba positif.
Setelah acara ijab qobul, kedua mempelai sekarang berada di panggung untuk menjadi raja dan ratu untuk satu hari.
Sedari tadi senyuman yang tidak pernah di kembangkan Zean selalu terlihat, Ara yang melihatnya menjadi senyum-senyum sendiri. Jujur saja, ia tidak percaya akan di persunting oleh seorang mantan mafia plus dosennya tersebut. Dosen yang terkenal dengan kekejamannya.
Zean menggenggam sebelah tangan Ara, ia lalu mengecupnya. Membuat Ara tersipu dan menunduk malu, ini pertama kalinya ia seintim ini dengan lawan jenis kecuali sang ayah dan kakak.
Zean memegang dagu Ara dan mengangkat wajahnya " aku akan membahagiakan mu, percayalah padaku ". Ucap Zean sembari melihat mata Ara.
Ara tersenyum. " Terima kasih bang, aku percaya sama abang ". Balasnya. Ara senang karena Zean tidak lagi berbicara formal padanya.
" Ehem... ". Suara deheman yang tak asing itu mengalihkan dunia kedua orang tersebut. Mereka berdua sontak melihat sumber suara.
" Nanti saja mesra-mesraan nya, masih ada jomblo ngennes disini ". Sean berkata dengan percaya dirinya.
'ck, ganggu'. Akhirnya Zean merasakan hal yang selalu di rasakan Ares saat bersama Lyza, dan di ganggu oleh mereka. Ya karma is the real.
" Selamat Zean ". Menjabat tangan Zean lalu merangkulnya.
" Hmm makasih ".
Sean melepas rangkulan tersebut. Ia beralih melihat Ara. Lalu Sean mengatupkan kedua tangannya di depan dada dan di balas Ara sam persis yang di lakukan Sean. " Kalo kata orang, semoga Samawa ". Ia terkekeh mengatakan nya
" Aamiin ". Ucap kedua pasutri tersebut.
Sean kembali merangkul saudara kembarnya. " Ara kalo nanti kamu salah menyangka aku Zean, aku tidak keberatan kalau di peluk atau di cium sama kamu ". Ucap Sean terkikik.
Zean melihat tajam ke arah Sean yang ada di samping nya, sedangkan Ara Terkekeh mendengar hal itu. Benar apa yang di katakan Sean, wajah mereka sangat identik. Yang membedakan hanya tahi lalat yang berada di bawah mata kiri Sean dan juga sifat mereka yang bertolak belakang.
" Aku tidak akan salah bang Sean. Aku mana mungkin salah mengenali suamiku sendiri ".
" Ehem... ". Zean menetralisir perasaannya yang seakan akan meluap-luap mendengar perkataan Ara. Hanya dengan perkataan seperti itu, mampu membuat Zean salah tingkah dan panas dingin.
Bisakah sekarang ia membawa Ara ke kamar?
Sean tergeletak mendengar nya. Pasangan suami istri yang mempunyai ikatan batin memang beda. Pikir nya.
" Okelah, aku pergi dulu. Ingat! Nanti saja mesra-mesraan nya, masih ada antrian untuk salaman ". Ujar Sean. Zean dan Ara hanya geleng-geleng mendengar perkataan Sean. Walaupun sebenarnya itu ada benarnya juga.
Wajah yang sama persis dengan Zean itu namun ia mempunyai tahi lalat di bawah mata kiri tersebut pun turun dari sana.
Sedangkan di sisi lain, Ares terus saja terpikirkan dengan sang istri. Ia tidak henti-hentinya berdoa agar Lyza selalu dilindungi oleh yang maha kuasa. 'ya Allah, sebenarnya perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba aku merasakan perasaan bersalah kepada istriku. Berilah hamba mu ini jawabannya ya Allah'.
Ares beralih melihat kedua pasutri yang seperti ny sedang di landa cinta.
Beberapa relasi bisnis Ares memandang heran dengan Ares yang tidak membawa istrinya. Padahal mereka tahu kalau Ares sangat mencintai sang istri. Tidak mungkin 'kan, mereka bertengkar. Tapi karena tidak ingin mencari masalah mereka hanya diam dan tidak berani bertanya.
" Ares ". Egi memegang pundak Ares. " Jangan melamun seperti itu ".
Egi sedikit iba melihat kondisi Ares. Pasti sang bos sedang memikirkan istri nya. " Ayo kita beri selamat sama pasutri baru ".
Ares tersenyum, lalu berdiri. " Ayo ". Mereka pun pergi ke atas panggung untuk memberi selamat pada Zean dan juga Ara.
" Hai bro, yang sudah bukan jomblo ngenes lagi ". Egi tergelak sendiri mengatakan nya.
" Hai Gi, yang masih jomblo ngenes ". Timpal Zean. Ares yang mendengar perkataan Zean tergelak di belakang Egi.
" Hahaha kalian ini ada-ada saja ". Maju lebih dekat untuk memberi selamat pada Zean dan Ara.
" Selamat yah Zean ". Merangkul Zean.
" Terima kasih tuan ". Jawab Zean
" Bukan tuan, ingat! Sekarang kita sudah jadi keluarga ".
" Ah! Baik! Bang ". Entah mengapa tapi Zean sangat canggung mengatakan nya.
Ares tersenyum " jaga adik ku satu-satunya, Zean. Dia Mutiara dalam keluarga kami ". Menepuk pundak Zean
" Pasti bang ". Tegas Zean. Ara yang berada di samping tak kuasa menahan tangisnya, ia berhambur memeluk Ares.
" Jangan menangis, nanti make up nya luntur loh ". Goda Ares
Ara mendongak melihat sang kakak. " Ihhh bang.... ". Ia semakin mempererat pelukannya. Setelah cukup lama mereka melerai pelukan tersebut.
Setelah mengucapkan selamat kembali, Ares pun turun dari sana.
" Selamat Ara.. adik abang yang paling gemes ". Ucap Egi
" Terima kasih bang. Semoga abang juga cepat nyusul ".
" Aamiin.... Samawa yah ".
" Hahahah in syaa Allah ". Egi pun turun dari panggung.
Zean kembali menggenggam tangan Ara, ia tidak ingin melepas nya. Zean baru melepas genggaman nya kalau ada tamu wanita yang datang untuk menyalam sang istri.
" Ara ".
Ara menoleh. " Ya, bang? ".
Zean merenggut mendengar panggilan Ara. Kenapa masih Abang? Itu sama saja dengan panggilan nya kepada Egi, Sean dan juga Ares.
Zean duduk dan di ikuti oleh Ara. " Ada apa bang? ". Tanya kembali Ara. Zean yang mendengarnya semakin geram. Bisakah panggilan nya di ganti?
" Ara, karena sekarang kita sudah jadi suami istri. Jadi, Bagaimana kalau kamu mengganti nama panggilan mu untuk ku? ". Tanya Zean menatap mata Ara.
" Hmmm Memang nya bang Zean mau yang bagaimana? ". Tanya Ara
" Terserah kamu ". Ia sedikit senang sebab Ara tidak membantah nya.
Ara sedikit berfikir. 'aduh, aku tidak berpengalaman dalam ini. Bagaimana ini? Panggil apa yah? Baby? Honey? Darling? Atau ayang? Ishh kok semuanya terdengar lebay'. Frustasi sendiri Ara memikirkan nya. Ia tidak berpengalaman dalam berhubungan, sebab ini yang pertama kalinya.
" Ara? ". Panggil Zean lagi saat Ara hanya diam
" Ah! Bagaimana kalau mas? ". Perkataan yang terlontar begitu saja.
Zean yang kembali berfikir. 'kalau mas, memang nya aku tukang bakso? Tidak.. tidak..'. batin Zean tak terima.
" Yang lain? ".
" Ehmmm ". Ara kembali berfikir. 'yang lain? Memangnya apa?'. Pekik Ara dalam hati. Ara melihat ada beberapa tamu yang akan naik memberikan selamat. " Nanti saja aku pikirkan, masih ada tamu yang datang ". Final Ara. Ia tidak bisa berfikir sekarang.
Zean nampak kecewa, namun ia tetap Senang sebab Ara akan memikirkannya.
" Ara... ". Panggil dua orang wanita dengan sedikit berteriak. Sontak Ara dan Zean menoleh ke arah kedua orang itu.
" Mira, Sinta ". Beo Ara lalu berdiri. Kedua wanita itu pun lari dan memeluk Ara.
Zean sedikit terkejut. 'bukannya kedua wanita itu teman-teman Ara yah'. Batinnya
" Selamat bestie ". Gadis berhijab tanpa cadar itu Mengecup pipi Ara.
" Samawa yah ". Timpal gadis berambut pendek di samping mereka.
" Iya, Aamiiin.. terima kasih Mira, Sinta ". Ucap Ara. " Ohh ya ". Ara sedikit berbisik. " Aku mau minta tolong, tapi nanti saja. Oke? ". Bisik Ara
Kedua wanita itu saling pandang lalu kembali melihat Ara. " Oke ". Jawab mereka serentak sembari menaikkan jaringan berbentuk O.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️