My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Ke Pengajian



" Assalamu'alaikum." Salam Lyza. Ia baru pulang dari mengajar anak-anak mengaji.


" Wa'alaikum salam." Jawab Nurul. " sama siapa kak?." Tanya Nurul curi-curi pandang di balik pintu


" Ustadz Fahmi, tidak sengaja bertemu tadi." Tutur Lyza dan duduk di sofa


Nurul ikut duduk di sebelah Lyza. " Cieeeee di antar doi. Terima saja kak."


" Haisss kamu 'kan tau kakak masih bersuami." Itulah alasan yang selama ini Lyza selalu katakan.


" Benar, cuman itu doang? Bukan yang lain?." Memicingkan matanya


" Emmm sebenarnya aku juga masih cinta sama suami ku." Ucapnya malu-malu


" Tapi suami kakak 'kan, sudah mengkhianati kakak." Sebenarnya Nurul heran sendiri dengan Lyza. Menurutnya untuk apa mempertahankan sebuah hubungan yang seperti ini?


" Sudahlah, aku masuk dulu." Pergi dari sana begitu saja. Lyza masuk kedalam kamar yang selama ini sudah menjadi kamarnya.


Ia duduk di pinggir ranjang. " Sampai kapan pun aku tidak akan bisa melupakan Ares." Lirihnya. Ia sudah seperti terpatri untuk satu hati.


Setelah membersihkan tubuhnya, Lyza keluar kamar untuk membantu umi Sarah memasak. Setelahnya mereka pun makan malam bersama. Setelah selesai makan malam...


Kini mereka duduk di ruang keluarga, mereka menonton dan kumpul-kumpul seperti ini membuat Lyza bahagia, ia merasa memiliki keluarga seutuhnya. Walaupun dalam hati ia sangat merindukan suami dan juga anaknya. Saat bersama abi Soumad, Lyza tetap memakai hijab. Walau bagaimanapun mereka bukan muhrim.


" Ada apa Abi? Kok kelihatan gelisah?." Tanya Umi saat abi baru saja dari luar untuk menerima telepon.


Abi duduk di samping umi. " Itu, Nina sedang sakit. Jadi dia tidak bisa mengaji besok malam di acara pengajian."


" Innalilahi.. semoga Nina cepat sembuh." Ucap umi. " Kalo tidak salah pengajian besok malam, ustadz Abdul akan datang 'kan?."


Abi Soumad mengangguk. " Iya, dia yang akan membawa ceramahnya."


" Hmm ustadz Abdul teman abi?." Tanya Lyza


" Iya, teman satu pesantren dulu." Jawab Abi


" Hmm bagaimana kalau cari pengganti yang lainnya saja?." Usul Nurul


" Tidak sempat untuk mencari santri yang akan bersedia sekarang." Ucap abi gusar. Umi mengusap punggung Abi


Nurul berdecak. " Kenapa harus cari yang lain. Itu kak Lyza, suaranya tak kalah merdu."


" Eh?!." Kaget Lyza, kenapa namanya jadi di bawa-bawa lagi?


Abi dan umi sontak melihat Lyza. Iyya memang benar suara Lyza sangat merdu dan mendayu-dayu saat melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.


" Bagaimana nak?." Tanya umi. Lyza hanya mengangguk.


" Terserah umi sama abi saja, kalau tidak keberatan." Lagi pula Lyza sudah pernah melakukannya.


" Alhamdulillah." Seru Abi dan umi sembari tersenyum.


Sedangkan di sisi lain


Ares buru-buru masuk kedalam rumah. Jam sudah menunjukkan pukul 20.15, ia mengkhawatirkan Fatih yang di tinggal sendiri.


" Assalamu'alaikum." Salam Ares


" Wa'alaikum salam." Ibu keluar menyambut Ares.


" Eh! Sudah lama bu?." Mencium tangan ibu


" Dari tadi sore. Dari mana saja?." Ia melihat wajah anaknya yang terlihat sedih dan kecewa.


" Masuk dulu bu, ada yang ingin aku ceritakan." Lirih Ares. Ibu hanya mengangguk dan mengikuti kata Ares.


Ares melepas jas dan juga dasinya, tiga kancing bagian atas ia buka. Ia duduk di sofa, yang rupanya sudah ada ayah dan juga Fatih di sana.


" Abi..." Memeluk Ares, dan di balas kecupan di pucuk kepala. Fatih mendongak " kok lama pulang abi?." Tanya nya


" Ada urusan tadi." Jawabnya sembari tersenyum. " Fatih masuk kamar ayo... Sudah malam, waktunya tidur." Fatih mengangguk lalu Pergi dari sana. Ares tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya lagi di depan sang anak.


Setelah Fatih benar-benar tidak terlihat, ayah pun mulai angkat bicara.


" Ada apa Res?." Tanya ayah yang bisa melihat wajah kegelisahan Ares.


Ares menghela nafas kasar. " Tadi , Ares pergi ke rutan. Lalu penjaga disana mengatakan, Lyza sudah di bebaskan. Dan itu dua Minggu yang lalu." Suaranya tertahan. Seperti tersendat di tenggorokan, ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak becus menjaga dan mengawasi sang istri.


" Apa!!? Kalau begitu, kenapa Lyza tidak kembali ke sini?." Tanya ibu khawatir, ia tidak tahu bagaimana kehidupan menantunya di luar sana


Ares menggeleng pelan, ia juga tidak tahu kenapa Lyza tidak pulang ke rumah. Apakah di marah? Atau apakah Lyza sudah tidak ingin bersama nya? Pikiran itu seakan datang begitu saja. Ares menggeleng cepat


" Tapi kenapa penjaga disana tidak mengatakan sebelum nya?." Tanya ayah.


" Penjaga itu bilang, bahwa Lyza lah yang tidak ingin kita tahu agar jadi kejutan." Meremaas rambutnya, Frustasi


" Bagaimana keadaan penjaga itu?." Tanya ayah. Ia takut anaknya tidak bisa mengendalikan diri dan memberikan bogeman mentah pada penjaga disana.


" Apa maksud ayah?." Tanya Ares bingung. Sedang membicarakan Lyza, kenapa malah penjaga itu yang di bawa-bawa.


" Aku sudah mengirimkan anak buahku untuk mencari keberadaan Lyza. Tapi belum membuahkan hasil, sepertinya Lyza sudah tidak berada di kota ini." Ucapnya lesu


" Karena itu kamu lembut?." Ares hanya mengangguk. Sungguh dirinya benar-benar frustasi sekarang.


Sebenarnya apa yang di pikirkan Lyza sehingga ia pergi meninggalkan nya? Tidak! Ares tidak akan melepaskan Lyza sebelum Lyza memberikan penjelasan yang masuk akal


" Apa yang ayah dan ibu lakukan kemari? Apa ada hal penting yang ingin ayah sama ibu sampai 'kan?." Tanya Ares. Tidak biasanya ayah dan ibunya berkunjung ke rumah, selain akhir pekan.


" Tadinya ada yang ingin ayah suruh sama kamu. Tapi sepertinya tidak perlu."


" Katakan saja ayah, kalau Ares bisa melakukan nya. In Syaa Allah Ares akan lakukan." Ucap Ares. Istrinya memang penting, tapi bukan berarti dia tidak harus mengindahkan perkataan orang tuanya.


Ayah dan ibu saling pandang. Ayah menarik nafas lalu menghembuskan pelan. " Ayah dapat undangan dari Saoumad. Katanya ayah di suruh memberikan ceramah di pengajian pesantren An-Nur. Tapi ayah ada urusan besok malam, jadi ayah ingin menyuruh mu untuk menggantikan ayah membawa ceramah." Jelas ayah


" Pesantren An-Nur yah?." Ayah mengangguk.


" Baiklah, biar Ares yang pergi." Dalam list kemungkinan Lyza sekarang, ada pesantren An-Nur disana. Dan entah mengapa kali ini Ares seakan yakin kalau istri nya ada disana.


Ayah tersentak " Kamu yakin res?."


Ares mengangguk. " Iya yah, lagipula ada anak buahku yang selalu mencari keberadaan Lyza." Jawab Ares sembari tersenyum


Ayah dan ibu ikut tersenyum melihat Ares. " Ayah juga akan menyuruh beberapa anak buah ayah untuk mencari keberadaan Lyza."


Ares tersenyum lalu mengucapkan rasa terima kasih nya kepada kedua orang tuanya yang selalu setia menemani Ares di setiap suka dan duka.


.........


Ares tidak henti-hentinya mencari keberadaan Lyza. Walaupun masih nihil. Ares tidak memantau di pesantren An-Nur, karena ia akan pergi kesana sore ini. Jarak dari kotanya menuju pesantren An-Nur cukup memakan waktu.


" Abi, Fatih juga mau ikut yah ke pesantlen." Rengek Fatih. Ares sudah siap dengan baju kokoh nya.


Ares tersenyum, ia jongkok mensejajarkan tingginya dengan sang anak " Tapi ini di luar kota loh. Malam baru kita pulang." Mencoba memberikan pengertian


" Tidak apa-apa, Fatih tetap mau ikut. Yah abi.. yah.." sekarang ia memberikan wajah memelasnya


" Baiklah, cepat pergi bersiap." Setelah Ares mengatakan nya, Fatih langsung berlari naik ke kamar untuk bersiap-siap. Kalau tentang mandiri, mungkin Fatih jagonya. Selama ini Ares selalu mengajarkan kepada sang anak agar selalu mandiri dan tidak manja.


Tak berapa lama kemudian Fatih pun muncul dan sudah lengkap dengan baju kokoh. " Ayo Abi." Melangkah lebih dulu keluar dan langsung masuk kedalam mobil di samping kemudi. Ia terlalu bersemangat.


Ares mengulum senyum melihatnya. Sifat Fatih yang seperti ini mengingatkan nya kepada sang istri. Ares memantapkan hati, ia tidak yakin apakah sang istri memang benar-benar ada di sana atau tidak? Ia tidak ingin terlalu berharap dan malah akan jatuh nanti. Kalau memang jodoh, walaupun mereka terpisah sampai ke ujung dunia pun, pasti akan bertemu lagi.


Ares pun ikut masuk kedalam mobil. Ia duduk di kursi kemudi. " Sudah siap?."


" Siap!."


" Bismillahirrahmanirrahim." Ucap kedua orang itu lalu menancap gas.


.........


" Aku sama kak Lyza pergi dulu yah." Teriak Nurul dari ambang pintu. Lyza hanya geleng-geleng kepala. Tingkah Nurul mengingat kannya dengan dirinya yang suka teriak-teriak pada sang suami dulu.


" Assalamu'alaikum." Salam kedua orang itu lalu pergi dari sana. Kedua wanita cantik itu lebih dulu ke masjid untuk mempersiapkan tempat untuk pengajian malam ini.


Di perjalanan. " Oh yah Nurul, kalau tidak salah yang akan membawakan ceramah nanti itu temannya abi 'kan?." Tanya Lyza


" Iya, tapi katanya ustadz Abdul ada urusan. Jadi anaknya yang akan menggantikan nya." Lyza hanya manggut-manggut.


Lyza memang tahu kalau ayah mertuanya seorang ustadz, namun ia tidak tahu di sebut apa sang ayah mertua. Bahkan Lyza pikir nama sang suami saat jadi ustadz tetap sama.


" Oh yah kakak tau tidak?." Tiba-tiba Nurul jadi bersemangat. Lyza menggeleng, belum di beritahu sudah bertanya lebih dulu. Apa dia Sean? Pikir Lyza


" Tidak."


" Anak yang akan menggantikan ustadz Abdul itu ganteng nya paripurna. Melebihi ganteng dari ustadz Fahmi." Ucapnya sembari berbisik. " Kakak pasti akan kaget melihatnya."


" Haha." Lyza hanya tertawa canggung. 'suamiku jauh lebih tampan. " Siapa namanya?." Ia sedikit penasaran


" Ustadz Ahmad." Jawab Nurul. Lyza sedikit kecewa, ia berharap agar suaminya yang datang. Lyza segera menggeleng kuat. Apa-apaan pikirannya itu!


" Tapi sayangnya dia sudah punya istri. Bahkan sudah punya anak. Sudah tidak ada kesempatan." Ucapnya lesuh. Lyza menoyor kepala Nurul.


" Jangan jadi pelakor! Ingat kata Rasulullah, Dari Abu Hurairah RA, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Bukan bagian dari kami, orang yang menipu seorang perempuan atas suaminya atau seorang budak atas tuannya. (HR Abu Dawud). Dari pengertian hadis tersebut jelas Islam menilai buruk perilaku laki-laki yang merebut istri orang. Atau pun sebaliknya. Dan orang-orang yang merebut suami atau istri seseorang tidak di akui Rasulullah sebagai umatnya Mengerti?."


" Iya.. iya.. ustadzah aku juga tidak sudih jadi pelakor. Kenapa harus cari yang sudah punya kalau masih banyak yang lajang di luar sana."


Lyza tersenyum mendengarnya. Itu benar, karena itu Lyza tidak ingin mengganggu Ares lagi. Ia masih meyakini bahwa Ares telah menikah lagi.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️