My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Rapat dadakan



Seperti tak pernah terjadi hal yang sempat membuat Ares dan Lyza terpisah beberapa tahun lamanya.


Lyza telah kembali menjalani hidup normal seperti saat sebelum masuk ke dalam rutan, yang membedakan nya sekarang ia tidak sendiri lagi namun ada anaknya yang menemani.


Lyza dan Fatih selalu menunggu kepulangan Ares bekerja. Keduanya menyibukkan diri dengan menonton atau bermain, apalagi Fatih yang masih belum genap 4 tahun itu belum bersekolah.


Lyza dan Fatih yang tengah asik menonton sebuah acara tv yang menampilkan para selebriti yang sedang membagikan makanan atau pun uang kepada pedagang-pedagang kaki lima atau para anak-anak pengamen.


Fatih yang saat itu sedang ada di pangkuan Lyza yang tengah duduk di lantai beralaskan karpet berbulu, ia mendongak melihat sang ibu. " Fatih sering melihat anak-anak sepelti meleka di jalan laya belnyanyi. Apa meleka cali uang sepelti abi?." Tanya Fatih. Ia sudah tidak memaksakan dirinya untuk mengatakan huruf R


Lyza menunduk melihat Fatih. " Iya sayang mereka mencari uang untuk membeli makanan. Fatih tahu tidak?."


" Apa Uma?."


" Di dunia ini tidak semua orang seberuntung Fatih dan uma, yang di berikan rezeki yang terlalu banyak. Kita tidak perlu pusing memikirkan akan makan apa kita besok, iya 'kan?." Fatih mengangguk


" Seperti yang ada di televisi itu, banyak orang-orang yang bertahan hidup hari ini demi keesokan nya. Mereka mencari uang hari ini untuk makan hari ini, dan baru mereka mencari Uang untuk keesokan nya lagi."


" Roda kehidupan di dunia selalu berputar. Ada kalanya orang yang berkuasa dan menganggap harta yang dimilikinya tidak akan habis tujur turunan, kemungkinan besar akan berada di titik paling bawah dunia. Dan juga kebalikannya." Lyza masih menjelaskan


" Karena itu, kita yang masih di berikan nikmat rezeki yang cukup tidak boleh sombong dan harus bersyukur. Rezeki yang kita dapat, bukan hanya berhak untuk kita saja, namun para fakir miskin dan anak yatim-piatu juga mempunyai hak disana. Terkadang rezeki mereka tidak langsung di berikan kepadanya, namun lewat tangan orang-orang baik." Tutur Lyza. Ia ingin memberikan penjelasan mengenai kehidupan dan bagaimana caranya hidup yang baik pada sang anak.


Jika Melihat anak-anak di jalan raya yang sedang mengamen, mengingat 'kan Lyza pada dirinya waktu masih kecil saat ia tinggal di kediaman ayah tirinya. Bagaimana ia yang harus banting tulang untuk bisa makan hari ini.


" Abi juga pelnah mengatakan hal yang sama. Abi mengatakan agal Fatih tidak boleh sombong dan selalu melasa di atas, Fatih juga halus belsyukur kalena masih banyak olang yang tidak sebeluntung kita." Kata Fatih dengan wajah polos dan lugunya. Perkataan yang sangat panjang itu dengan gaya cara bicara Fatih membuat Lyza menjadi gemas sendiri.


Ares memang selalu menanamkan kepada diri Fatih agar tidak terbuai dengan kenikmatan materi yang ada di Dunia. Ares memang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kekurangan materi, karena ia selama ini selalu hidup dengan tidak kekurangan uang atau pun materi bahkan kasih sayang juga.


" Itu benar sayang. Jadi Fatih tidak boleh sombong yah." Mengusap kepala Fatih


Fatih mengangguk antusias. " Iya uma!."


Lyza berfikir sejenak. Entah mengapa ia seperti mendapatkan ide. " Sepertinya bagus jika aku membangun sebuah warung dengan harga yang lebih murah." Gumam Lyza, hari-hari nya yang hanya diam dirumah bersama Fatih membuat nya bosan.


Fatih dapat mendengar gumaman sang ibu. " Uma ingin membuka warung makan?." Tanya Fatih yang menatap sang ibu


" Hmm sepertinya akan bagus. Lagi pula Uma juga tidak punya pekerjaan." Ucap Lyza.


Fatih terlihat berfikir, saat ingin mengutarakan sesuatu tiba-tiba mereka di kejutkan dengan suara deru mobil yang datang. " Sepertinya abi sudah pulang. Ayo kita sambut." Fatih langsung mengangguk semangat.


Mereka berdua pun berlalu pergi ke depan pintu untuk menyambut Ares.


Ares yang tengah lelah sebab di sibukkan dengan urusan kantor, sungguh membuatnya ingin segera merebahkan diri.


" Lebih enak berceramah di beberapa masjid dalam satu hari dari pada harus kerja seperti ini." Melonggarkan dasinya, sebelum keluar ia melihat Egi di samping yang manggut-manggut. Sepertinya ia juga sependapat


" Mau singgah Egi?."


" Tidak dulu deh bos. Aku ingin istirahat." Ia juga sama lelahnya


" Baiklah aku turun dulu. Assalamu'alaikum."


" Wa'alaikum salam". Ares pun turun dari dalam mobil dan segera menuju pintu rumah. Sedangkan Egi segera beralih ke mobilnya dan pulang.


Ares yang sudah sampai di depan pintu, tak bisa menyembunyikan senyuman kebahagiaan yang ia rasakan sekarang. Segala kelelahan dan kepenatan yang ia rasa tadi langsung sirna entah kemana melihat anak dan juga istri nya menyambut dia.


" Assalamu'alaikum istri tersayang ku dan putra Tampan nya abi." Salam Ares


" Wa'alaikum salam." Jawab keduanya. Lyza mencium tangan Ares tak lupa Ares mencium dahi Lyza. Fatih juga mencium tangan ayahnya dan di balas usapan di kepala Fatih.


" Ayo masuk by. Kamu terlihat lelah, apa tidak apa-apa?." Tanya Lyza khawatir


Ares tersenyum " aku baik-baik saja. Ayo kita masuk." Ajak Ares. Lyza segera mengambil alih tas dan jas sang suami untuk di bawa


Mereka pun masuk. Ares segera membersihkan badannya sedangkan Lyza menyusun makan malam.


Setelahnya keluarga kecil itu pun makan malam dengan khidmat. Memang tak ada pembicaraan disana, namun terkadang Fatih juga berceloteh.


Setelah makan malam..


Sebenarnya Lyza ingin menyampaikan niatnya untuk membuka sebuah warung setidaknya untuk mengisi hari-hari yang ia lalui di rumah saja. Namun sepertinya Fatih juga ingin ikut dalam pembicaraan ini.


Dan disinilah sekarang mereka. Duduk di ruang keluarga dengan melingkar. Mereka akan mengadakan rapat dadakan. Ares yang sama sekali tidak tahu apa-apa hanya bisa diam memperhatikan.


" Hmm sebenarnya ini ada apa?." Tanya Ares. Ia melihat sang putra yang nampak bersemangat, sedangkan istrinya hanya bisa tersenyum kaku melihat anaknya yang seperti itu.


" Sebenarnya ada yang ingin aku katakan by." Jawab Lyza membalas perkataan Ares


Ares mengerutkan keningnya " hmm ada apa sayang?."


" 'kan selama ini aku tidak punya pekerjaan. Aku hanya menganggur dan tidak mengerjakan sesuatu." Lyza memulai dengan basa-basi.


" Hmm terus?."


" Jadi, Bagaimana kalau aku juga bekerja. Tapi maksud aku yang bekerja bukan di kantor, tapi aku mau membuka warung makan. Bagaimana?." Ucap Lyza hati-hati. Ia meremaas-remaas daster yang ia gunakan.


Sungguh mungkin orang yang mengenal Lyza saat masih menjadi ketua mafia akan di buat tidak percaya dengan sikap Lyza sekarang. Tidak ada lagi Lyza yang suka ceplas-ceplos.


Ares tersenyum. Apa, rupanya hanya itu " terserah kamu sayang, aku tidak mau mengekang mu. Jadi lakukanlah apa yang kamu suka." Ucap Ares bijak.


Lyza langsung tersenyum cerah, ia sangat Senang sang suami mengizinkan. Berbeda dengan Fatih yang malah bersungut-sungut


'sudah ku duga Abi pasti akan menuluti semua keinginan uma. Abi telalu memanjakan uma, walau itu tidak buluk sih. Sepeltinya hanya aku halapan satu-satunya' batin Fatih bersemangat


" Tidak! Fatih tidak setuju." Ucap Fatih. Sontak keduanya menengok melihat Fatih


" Kenapa sayang?." Tanya Lyza. Sebenarnya ia sudah menduga ada yang ingin di sampaikan sang putra, tapi ia tidak menyangka putranya akan menolak


" Abi bagaimana sih. Bagaimana jika uma jadi lelah kalna itu?." Ucap Fatih


Lyza Terkekeh mendengar nya. Sepertinya Fatih terlalu posesif akan dirinya. Berbeda dengan Ares yang hanya tersenyum.


" Tenang saja, abi mengizinkan uma tidak dengan syarat." Ucap Ares memberikan pengertian.


" Syarat?." Beo Lyza dan Fatih bersamaan


Sekarang Ares yang Terkekeh. " Abi mengizinkan uma, asal bukan uma yang akan langsung melayani pelanggan. Abi akan mencari beberapa pekerja, uma cuman mengontrol hanya itu. Bagaimana? Tidak akan ada yang rugi 'kan?." Kata Ares


Mereka juga bisa membuka lowongan pekerjaan kepada orang-orang yang butuh pekerjaan.


Fatih langsung mengangguk cepat. " Fatih setuju!." Seru nya


" Aku terserah saja." Ucap Lyza, lagi pula ia juga harus menuruti perkataan sang suami 'kan.


" Baguslah. Nanti aku suruh Egi mencarikan tempat yang strategis." Ucap Lyza


" Kalau soal itu by. Aku ingin tempatnya yang ada di sekitar banyak orang-orang biasa. Misalkan sekolah atau pun universitas. Tapi jangan yang banyak pedagang kaki Lima nya." Ia tak ingin bersaing dengan pedang kaki lima


Ares nampak berfikir. Ia masih tidak bisa menangkap maksud Istrinya membuka sebuah warung makan, tapi Ares yakin pasti Lyza punya alasan sendiri


" Baiklah nanti aku akan mencari yang seperti itu?." Ucap Ares. Lyza hanya tersenyum


" Terima kasih by."


" Tidak perlu berterima kasih sayang. Oh yah besok aku mau ke pesantren, mau ikut tidak? Kamu belum pernah ke pesantren 'kan?." Tawar Ares. Pesantren yang ia maksud disini adalah tempat Ares biasa mengajar dan berceramah. Pesantren jabal nur namanya


" Iya Fatih juga mau ikut." Fatih langsung bersemangat. Pesantren Jabal-nur adalah tempat Fatih belajar mengaji


" Baiklah aku juga mau ikut." Sebenarnya sudah lama Lyza ingin pergi, hanya saja ia masih tidak mendapatkan waktu untuk pergi


.........


Seperti biasa, sebelum tidur. Ares dan Lyza selalu menghabiskan waktunya dengan mengobrol obrolan ringan. Saat siang waktu keduanya banyak tersita dan tidak memiliki waktu untuk sekedar berduaan.


Jadi, saat malam hari barulah mereka mendapatkan waktu itu.


Lyza menyandarkan kepalanya di dada Ares. Tangan Ares mendekap sang istri. Lengannya menjadi bantal untuk istrinya.


" Oh yah by, katanya 'kan dulu kamu pesantren?." Tanya Lyza


" Hmm iya sayang waktu smp sampai sma." Jawab Ares mengelus kepala sang istri


" Pesantren An-Nur?."


" Iya."


" Jadi kamu sudah kenal lama dengan bang Taufik dan ustadz Fahmi?."


Ares menyerngit. Kenapa tiba-tiba istrinya bertanya seperti itu? Mana bawa-bawa Fahmi lagi. Saingan yang gugur sebelum berperang.


" Hmm." Memejamkan mata


Lyza sontak mendongak " kamu marah by?." Tanyanya


" Tidak." Singkatnya masih memejamkan matanya


Lyza cemberut " by, kenapa marah lagi sih. Aku hanya penasaran."


Ares membuka matanya ia mendekap erat-erat sang istri. " Jangan mengatakan nama laki-laki lain." 'apalagi nama Fahmi'. Bukan Ares benci dengan Fahmi. Hanya saja ia masih tak terima istri nya di lamar orang lain. Lagi pula Fahmi juga tidak tahu apa-apa, jadi tidak ada alasan untuk membencinya


Lyza terkekeh " iya sayang." Mengelus dagu suaminya


Ares yang gemas mencium seluruh wajah sang istri. " Sudah ayo kita tidur. Aku tidak mau lepas kendali dan melahap mu." Ucapnya dengan memejamkan kembali kedua matanya dan memeluk Lyza semakin erat.


Lyza tersenyum lalu ikut memejamkan matanya. Ia heran melihat ustadz yang satu ini, kenapa malah tidak bisa mengontrol nafsunya sendiri.


Sebenarnya Ares sangat hebat dalam mengontrol nafsu nya, hanya saja jika harus di hadapkan dengan istrinya yang ia cintai mungkin hal itu sedikit susah.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️