My Wife The Mafia

My Wife The Mafia
Jawaban dari semuanya



Ares kembali ke kediamannya setelah acara pernikahan yang cukup panjang tadi. Jujur saja, Ares sama sekali tidak menikmati acara tersebut karena selalu terpikir dengan sang istri.


Ia menghela nafas panjang, melonggarkan dasi lalu duduk di sofa. Ares merogoh kantong celananya dan mengambil ponsel. Ia melihat wajah sang istri yang sedang tertidur di wallpaper ponselnya.


Ares mengelus foto itu dengan ibu jarinya. Sekali lagi, ia menghela nafas. Entah kenapa tapi ia selalu memikirkan sang istri seharian ini.


Sebenarnya ada apa dengan istrinya? Ia akan membesuk sang istri besok di pembinaan dan memastikan keadaan Lyza


Tak berapa lama, Ares tertidur di sofa karena kelelahan fisik dan juga batin. Hampir satu tahun ini ia tidak menemui sang istri, kepalanya serasa akan pecah setiap memikirkan nya.


" Lyza... Lyza.. sayang.." panggil Ares saat melihat Lyz sedang berdiri di sebuah taman dan memunggunginya. Ares sontak lari untuk menemui Lyza


" Sayang... Akhirnya kamu mau menemui ku juga." Ia sangat terharu, sampai tak bis menahan air matanya.


Lyza berbalik. " Kamu bicara apa sih, by. Mengigau yah?." Tanya Lyza sembari menimang bayi mungil


Ares terkejut melihat Lyza menimang bayi mungil. " Bayi ini, bayi siapa sayang?."


Lyza tersenyum " sepertinya kamu memang mengigau by. Kamu tidak bisa lihat dia Mirip siapa?."


Ares pun menatap lekat rupa bayi itu. " Ini.." ia tak dapat berkata-kata lagi.


Lyza tersenyum melihat wajah keterkejutan sang suami " Iya, ini putra kita by! Buah hati kita."


Ares tidak bisa lagi berkata-kata lagi, ia mengelus pipi bayi tersebut lalu mendaratkan kecupan di dahi sang bayi. Saat Ares hendak mengambil bayi itu, Lyza segera menahannya.


" Kenapa sayang?."


" Belum saatnya, by. Kamu masih harus sabar."


" Apa? Kenapa?."


" Kami harus pergi dulu by, jaga dirimu baik-baik."


" Tunggu... Lyza... Tidak.. jangan tinggalkan aku.." Teriak Ares. lambat laun bayangan Lyza dan bayinya hilang.


" Lyza.. Lyza.." Ares terbangun dengan nafas ngos-ngosan. Keringat sudah membasahi dahinya.


" Astaghfirullah...." Ia berdzikir. Setelah merasa tenang, Ares menatap sekeliling nya. Rupanya ia tidur di atas sofa dengan masih memakai pakaian nya di pesta pernikahan Zera. Ia kemudian alarm yang sedari tadi berbunyi dan rupanya alarm itu yang membangunkan nya. Alarm yang memang sudah terstel otomatis dan akan berbunyi sesuai dengan yang tersematkan. Terlihat masih pukul 03.45. Ares segera bangun dan bersiap untuk sholat subuh.


.........


Pagi harinya, Ares sudah siap untuk ke kantor dan sekalian akan mampir ke rutan pembinaan tempat Lyza.


Tak berapa lama mereka pun sampai di rutan, Ares segera menemui penjaga rutan tersebut.


" Maaf tuan, tapi Nona Lyza tidak ingin di besuk." Jawab penjaga itu. Ia sebenarnya merasa tak enak selalu mengatakan hal ini setiap Ares datang membesuk sang istri.


'sudah ku duga.' ada rasa kecewa dalam hatinya. " Hmm tapi, apa istri saya baik-baik saja?." Hal ini yang sangat ingin Ares pastikan. Egi yang berada di sebelah Ares hanya bisa pasrah dan menatap iba kepada sang bos.


" Ehmm i.. iya, nona Lyza baik-baik saja tuan." Jawabnya


" Alhamdulillah.. syukurlah..." Mengusap dadanya lega, walaupun masih ada sedikit kejanggalan dalam hati. " Tolong katakan pada saya, jika terjadi sesuatu kepada Lyza."


" Tenang saja tuan, kami memastikan setiap warga rutan pasti mendapat 'kan, pemeriksaan kesehatan yang rutin."


Setelah cukup lama di rutan dan memastikan keadaan sang istri baik-baik saja, Ares pun berangkat ke kantor.


Di dalam mobil


" Kira-kira, Ada apa yah dengan Lyza? Kenapa dia tidak ingin di kunjungi?." Satu pertanyaan yang selalu terngiang-ngiang di dalam pikiran Ares


" Hmm entahlah, tapi mungkin saja Lyza tidak ingin membuat mu kerepotan atau tidak ingin sampai mencoreng nama baik mu."


" Hmm maybe." Melihat ke luar jendela dengan tatapan sendu. Mimpinya semalam selalu mengganggu pikirannya. Semoga saja dengan bekerja ia bisa melupakan nya.


Mimpi adalah bunga tidur, para jin terkadang membuat manusia sesat dengan lewat mimpi. " Pasti gara-gara aku lupa baca doa semalam." Gumamnya mencoba berfikir positif.


.........


Tak terasa sudah satu bulan dari pernikahan Zean dan Ara. Anggaplah kedua pasutri itu sudah happy ending. Kini giliran tokoh utama nya.


Sudah satu bulan juga Ares tidak memimpikan tentang Lyza dan seorang bayi laki-laki itu. Ia mencoba melupakan nya, walaupun itu memang tak mudah. Namun entah bagaimana, Ares kembali memimpikan hal yang sama pagi tadi. Ia masih mencoba untuk berfikir positif.


Disaat rapat seperti ini, tiba-tiba ponsel Egi berbunyi. Egi mencoba mengabaikan nya, namun deringan ponselnya tak bisa berhenti, terpaksa ia keluar dari dalam ruang rapat.


Tak lama kemudian, Egi kembali kedalam ruang rapat dengan terburu-buru lalu membisikkan sesuatu ke telinga Ares. Semua peserta rapat tak ada yang berani membantah ataupun bersuara.


Setelah Egi berbisik seperti itu, Ares langsung berdiri.


Deg...


Sekali lagi ia kembali memikirkan sang istri. " Kita tunda rapat ini dulu, saya ada urusan penting." Ucap Ares dan segera pergi dari sana. Egi membisikkan sesuatu pada sekretaris Ares untuk menghandle rapat ini.


Dengan gerakan cepat Ares masuk kedalam mobil di ikuti oleh Egi.


" Cepat Gi."


" Oke!." Melihat Ares dari balik kaca spion depan mobil. " Tenang Res, pasti semuanya baik-baik saja." Ia tidak tega melihat wajah gugup Ares


" Memangnya apa yang di katakan oleh penjaga rutan itu?." Yah yang tadi menelpon Egi adalah penjaga rutan.


" Dia cuman bilang agar kita segera ke rutan, katanya ada yang ingin di berikan sama nyonya." Menjawab sejujurnya.


" Tapi apa yah? Kenapa aku jadi gelisah begini?." Gumam Ares. Ada rasa senang, gelisah, sedih bercampur dalam perasaan Ares.


Setelah memarkirkan mobil, Ares dan Egi segera masuk kedalam rutan dan menemui penjaga disana.


Deg...


Deg..


Deg...


" Tuan." Sapa penjaga disana


" Assalamualaikum." Salam Ares dan Egi


" Wa'alaikum salam, silahkan duduk tuan." Mempersilahkan Ares dan Egi duduk


Karena tak ingin basa-basi, Ares dan Egi langsung duduk. " Jadi, apa yang ingin di berikan oleh istri ku?." Ares langsung to the point


" Tunggu sebentar tuan, rekan saya sedang mengambil nya."


" Kenapa bukan Lyza yang memberikan nya langsung?." Suara Ares meninggi


" Maaf tuan, kami sudah memaksa Nona Lyza agar memberikan nya langsung pada anda. Tapi tetap saja nona Lyza menolak." Jawab Penjaga disana yang kembali merasa bersalah


Tak lama kemudian seorang polisi wanita datang sembari membawa keranjang bayi.


Deg...


Kini jantung Ares benar-benar terpompa dengan cepat. Keranjang bayi? Atau bayi? Bayi siapa? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu memenuhi pikiran Ares. Ia langsung berdiri.


" Silahkan tuan, ini bayi anda."


Duar...


Bagai di sambar petir, Ares bergeming. Ia tidak bisa berkata-kata mendengar perkataan polisi wanita itu. Bayi? Bayi dia dan siapa? Apa mungkin Lyza?


" A.. apa maksud mu?." Suara Ares bergetar, ia berat mengatakan nya.


Polisi wanita dan juga penjaga disana tertunduk merasa bersalah dan tak enak hati. " Nona Lyza di ketahui hamil saat ia sudah masuk kedalam rutan selama tiga bulan. Dan perkiraan umur kandungan nya waktu itu baru sekitar tujuh minggu." Jelas polisi wanita itu


Sekali lagi, Ares tak dapat berkata-kata. Ia mengambil keranjang bayi yang di bawa oleh polisi wanita itu. Ares memandang wajah bayinya yang sedang tertidur.


Benar adanya, wajah bayi itu sangat mirip dengannya ketika masih kecil. Hanya mata, hidung dan bibirnya yang menuruni sang istri. Bayinya serasa gabungan antara dia dan juga Lyza.


Egi yang berada di samping Ares tak dapat berkata-kata. Namun melihat Ares yang bergeming ditempatnya sembari memandangi wajah bayinya, Egi pun inisiatif mengambil alih.


" Apa kami benar-benar tidak bisa bertemu dengan nyonya Lyza." Memberikan wajah memelas


Penjaga dan polisi wanita itu saling pandang. Mereka menggeleng. " Kami sudah berusaha untuk membujuk nya, namun nona Lyza tetap tidak ingin di besuk oleh siapapun. Ia hanya menitipkan bayinya dan juga surat yang ada di keranjang bayi itu." Ucap polisi wanita itu


" Bagaimana keadaan Lyza? Apa dia baik-baik saja setelah melahirkan?." Ares bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Putra nya.


" Alhamdulillah, nona Lyza merupakan wanita tangguh. Ia baik-baik saja dan persalinan nya juga lancar."


Ares tersenyum getir mendengar nya, ia merasa gagal menjadi seorang suami. Tidak! Bukan hanya suami, namun sebagai seorang ayah.


" Baiklah terima kasih, katakan pada nyonya Lyza bahwa kami sangat ingin membesuknya." Ucap Egi, kedua orang itu mengangguk.


" Baiklah kami permisi. Assalamualaikum."


" Wa'alaikum salam."


Egi segera menarik Ares dari sana. Ia tahu Ares pasti butuh waktu untuk menumpahkan kekesalan dan perasaan nya sekarang.


Setelah sampai di dalam mobil, Egi meletakkan tas bayi yang di berikan polisi wanita tadi di samping kursi kemudi lalu menaikkan sekat antara kursi kemudi dan kursi penumpang.


Ares menaruh keranjang bayi itu di sampingnya lalu perlahan mengangkat sang putra. Ia tidak berpengalaman dalam hal ini.


Ares mencium kening putranya dalam-dalam. Ia tak tahan menahan air matanya lagi, Ares menangis tersedu-sedu. Ia meratapi nasibnya kini. Ia harus biisa ikhlas dengan semua ini, karena yang paling tersiksa disini adalah Istri nya.


Hamil tanpa di dampingi oleh sang suami, malah tempat nya bukan di ranjang yang empuk dan lembut melainkan di rutan yang entah bagaimana kasur nya. Apa sang istri selalu merasa mual? Atau siapa yang menuruti semua keinginan Lyza saat masa ngidam? Dan bagaimana saat proses persalinan? Tidak ada Ares di sana yang menguatkannya.


Ia merasa kesal pada dirinya sendiri. Saat terakhir bertemu Lyza waktu itu, Ares memang merasa aneh karena wajah Lyza nampak pucat waktu itu. Seharusnya ia memaksa Lyza untuk segera ke rumah sakit. Kenapa dia tidak menyadarinya?


Ares masih menangis tersedu-sedu. Ia menatap sang putra lekat lalu mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke wajahnya.


Di ambilnya kertas yang terselip di keranjang bayinya. Ia perlahan membuka kertas itu.


Isinya..


Assalamualaikum by...


Ini hadiah dari ku, semoga kamu bisa menjaganya dengan baik dan penuh cinta. Maafkan aku yang tak bisa mengatakan nya lebih awal.


Aku sudah memberikannya nama sesuai pilihan nama yang pernah kamu katakan padaku.


~Al-Fatih Abdullah Warrent ~


Air mata Ares kembali jatuh membaca isi kertas kecil itu. Ia ingin berteriak.


" Hiks.. Fatih.. maafkan abi mu yang tidak becus ini.. hiks.. hiks..." Mendekap erat Fatih dan surat itu.


Apakah ini jawaban yang di berikan oleh yang maha kuasa atas segala doanya selama ini. Ia selalu bertanya-tanya dengan mimpinya waktu itu. Kenapa hanya anaknya saja? Bagaimana dengan sang istri? Sekali lagi, Ares hanya bisa pasrah dan ikhlas menjalankan takdir nya. Cobaan dalam hubungan dia dan sang istri.


.


.


TBC


Yang jawab Lyza hamil?


anda benar🤣🤣


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️